Impian duniawi umumnya manusia milenial ialah berkecukupan harta dan materi. Hal-hal yang berbau duniawi dihajatkan sedemikian tingginya. Bahkan menjadi tujuan utama hidupnya. “Pusat eksistensinya”.

Lalu mereka berjuang keras dan gigih untuk mencapainya. Banting tulang menjadi doktrin utamanya. Siang dan malam. Time is money, tiada waktu tanpa kerja keras.

Berhasilkah semuanya?

Tidak. Sebagian berhasil merengkuh kegemilangan duniawi. Sebagian lainnya biasa saja, dan sebagian lagi berkekurangan.

Mereka umumnya lupa, lalai, dan abai pada pemberitahuan yang telah dituturkan Allah dalam al-Qur’an bahwa semua karunia adalah milik Allah, dari Allah, dan Allah jugalah yang menentukan kepada siapa dilimpahkan atau tidak.

Mereka mengabaikan, lalu meminggirkan, dan meninggalkan ajaran dasar iman itu. Mereka menjadikan kerja keras, pikiran cerdas, dan kekuatan otot sebagai berhalanya.

Tersebab mereka meninggalkan ajaran iman tersebut, walhasil, mau sukses atau gagal, rawanlah mereka terjungkal ke dalam liang kekufuran dan kefasikan. Jika sukses, mereka makin tenggelam dalam keyakinan akan kehebatannya. Jadinya pongah.

Jika gagal, mereka mengeluh sedemikian pekiknya dalam bentuk kalut, stres, depresi, bahkan bunuh diri. Sebagian lagi menuding Tuhan tidak adil!

Surat al-Hasyr ayat 19 mendedahkan tentang orang-orang yang abai dan lalai kepada Allah, lalu oleh Allah mereka dibalas dengan cara yang sama: dilupakan, dilalaikan, dan diabaikan. Mereka itulah orang-orang yang berbuat kerusakan atau kemaksiatan (fasiq).

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.”

Seyogianya, ayat ini telah cukup untuk membuat kita mafhum dengan seutuh kesadaran bahwa lantaran semua karunia adalah milik Allah dan Allah lah yang memutuskan kepada siapa kelebihan diberikan dan kepada siapa disedikitkan, maka hanya kepada Allah kita mesti merujukkan semuanya. Termasuk urusan harta, tanpa kecuali.

Sayangnya, kebanyakan kita tidak begitu. Kebanyakan kita babak belur dimamah kepongahan rasionalitas dan materialitas. Sukses dan gagal adalah mutlak karena diri kita, buah mutlak usaha kita, dan hasil dari kualitas kecerdasan, modal, kreativitas, jaringan, dan kegigihan kita.

Ini murni tentang tangan kita. Muncullah slogan “Life is in your hand“, “No gain without pain“, dan “Besaran kesuksesanmu tergantung sebesar apa usahamu.” Sama sekali tak ada rujukan kemahakuasaan Allah di situ. Sama sekali. Allah sepenuhnya dilupakan.

Mau sampai kapan kita biarkan hidup kita didera semua absurditas dan anomali yang ujungnya hanya membuat kita sakit jiwa sendiri?

Sakit jiwa, ya, itulah efek dari meninggalkan dan melupakan Allah dalam konteks ini. Inilah makna dari frase “Allah menjadikan mereka lupa pada diri mereka sendiri”.

Bagaimana itu terjadi?

Kita renungkan dua hal prisipil di sini. Pertama, sumber rezeki. Perbedaan yang sangat hakiki antara kamu yang mencari rezeki dengan menyandarkan diri pada Allah dan tidak ialah pada ada/tidaknya keyakinan bahwa ada Tangan yang Maha Kuasa di balik tercapai/gagalnya suatu usaha (ikhtiar).

Peniadaan peranan besar Allah menjadikan kita sepenuhnya bertumpu pada kekuatan diri sendiri.

Wujudnya kemudian ialah kesombongan atau keputusasaan. Allah telah menerakan dalam al-Hadid bahwa dirahasiakannya perkara rezeki dari pengetahuan kita ialah demi membuat kita tak sombong jika berhasil dan tak putus asa jika gagal.

Inilah yang menjadikan nilai hidup kita bisa selalu tenang di hadapan keberhasilan ataupun kegagalan. Adanya rujukan akan kemahakuasaaN Allah pada hidup kita, termasuk rezeki, membuat kita selalu menyadari sejak dini dan siap hati untuk menjadi sukses ataupun gagal.

Keduanya dari Allah, oleh Allah, dan untuk Allah pula. Keduanya adalah mutlak keputusanNya. Adapun peran dan tugas kita hanyalah mendekatkan diri padaNya dan berikhtiar. Sudah. Titik.

Kedua, orientasinya. Mereka yang mengimani kekuasaan Allah dalam pembagian karunia-karuniaNya akan menyikapi keberhasilannya dengan bersyukur dan kegagalannya dengan bersabar.

Syukur menjadi rem pakem bagi hati kita untuk tak pongah dan bangga hati di antara kegemilangan dunaiwi kita. Hadza min fadhli rabbi liyabluwani, ini dari karunia Tuhanku untuk mengujiku.

Jikapun sedang gagal, hati kita menyadari betul bahwa ini dari Allah dan kita harus bersabar atas ujianNya. “Dan Kami akan menguji kalian dengan sesuatu yang berbentuk rasa takut, lapar, dan kekurangan harta dan kematian ….”

Kedua kondisi yang dirasakan dalam babakan rezeki ini, yang disikapi dengan syukur atau sabar, akan menghantar kita senantiasa menjadikan Allah sebagai porosnya. “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un ….”

Adalah bekal batin yang lebih kekar ketimbang sayap syukur dan sabar itu?

Tak ada.

Maka wajar saja kaum yang meninggalkan Allah dalam urusan rezeki ini tak mampu memiliki fondasi batin yang kokoh dan kekar tersebut. Mereka akan mudah saja terpelanting dalam keterombang-ambingan jiwa, psikis.

Bahkan, kita mudah menemukan, dalam kegemilangan sukses pun mereka mudah retak, kalut, dan rontok. Apalagi dalam keadaan gagal.

Itulah risiko sakit jiwa yang diderita oleh mereka yang mengabaikan, melalaikan, dan meninggalkan Allah.

Allah pun mengabaikan mereka, hingga mereka sampai pada kondisi jiwa yang tak lagi mengerti siapa diri mereka dan apa tujian hidup mereka.

Mereka terasing di hadapan diri mereka sendiri.

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: