Iri Hati Itu Jelek, tapi Ada Iri yang Bagus Lho. Kamu Suka Iri yang Mana?

Entah kenapa saya ini orangnya suka iri. Kamu yang tahu dan atau pernah berteman dengan saya pasti tahu dengan sifat saya itu.

Apakah kamu jengkel, kesal, dan ingin menjauh dari saya? Saya mohon, maafkan saya. Tapi jujur saya tidak bisa hidup tanpa kalian. Kalian adalah sumber semangat dan inspirasi saya. Tanpa kalian, saya mungkin akan jalan di tempat dan tidak dapat menjadi seperti sekarang ini.

Dulu waktu di pesantren, saya iri dengan teman satu kampung. Mereka apabila diberi soal latihan selalu mendapat nilai tinggi.

“Ran tuh orang sekampungmu, Abdurrahman dan Daromi, mereka selalu dapat nilai seratus bila mengerjakan soal latihan,” kata salah satu teman kepada saya.

Kalimat itu terus mengiang di telinga saya. Kalimat itu membangkitkan sifat iri di hati saya. “Saya ingin seperti mereka,” saya tancapkan azam yang kuat di hati.

Kemudian setelah itu mulailah saya giat belajar dengan membaca, menghafal, dan bertanya setiap ilmu yang kami pelajari. Pelan tapi pasti saya akhirnya dapat mengikuti jejak mereka.

Ketika hasil ulangan diumumkan dan nama-nama yang berprestasi dibacakan, Alhamdulillah saya bersyukur, nama saya turut disebut di peringkat tiga besar. Inilah wujud nyata dari sifat iri saya pada mereka.

Saya wujudkan rasa iri itu dalam bentuk pestasi. Oleh karena itu saya ucapkan terimakasih kepada dua teman satu kampungku itu, karena kalian lah saya dapat berprestasi.

Hai teman, tahukah kalian sifat iri itu ternyata tidak semuanya jahat. Sifat iri yang saya ceritakan di atas adalah di antara sifat iri yang dibolehkan. Untuk mengetahui iri yang baik dari iri yang buruk, silakan baca ulasan berikut ini:

Iri itu fitrah

Iri ialah suatu sifat yang menginginkan suatu nikmat yang dimiliki orang lain. Saya kira semua manusia memiliki sifat iri ini.

Pernahkah kita melihat anak kecil yang melihat temannya memiliki sesuatu. Mainan misalnya. Pasti dia juga menginginkan mainan tersebut. Itu sudah fitrah. Karena kita manusia memiliki nafsu. Hanya makhluk yang tak bernafsu saja yang tidak ingin dengan apa yang dimiliki temannya.

Dan Allah tidak menghukum si pelaku iri yang semacam ini. Yang dilarang itu mengikuti hawa nafsu yang iri tersebut. Seperti dalam sabda Nabi Muhammad Saw berikut ini:

Ada tiga sifat yang membinasakan seseorang: sifat bakhil yang dipatuhi, hawa nafsu yang diikuti dan merasa bangga dengan diri sendiri.

Iri yang dianjurkan

Berbeda halnya jika keinginan itu diikuti dengan suatu tindakan. Jika tindakan itu baik, misalnya dengan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan kenikmatan seperti yang dimiliki temannya tersebut, maka iri yang jenis ini masih dibolehkan.

Dengan iri yang semacam ini hidup menjadi lebih bergairah dan bersemangat. Hidup terus bergerak menjadi lebih maju dan maju. Kita merasa bahagia dan bangga ketika kita dapat memiliki apa yang dimiliki oleh teman kita.

Bahkan jika yang kita inginkan itu adalah kenikmatan akhirat. Misalnya ketika kita melihat seseorang yang memiliki harta kemudian dia menginfakkan hartanya pada kebaikan, kemudian kita menginginkan seperti dia karena dengan perbuatannya tersebut dia banyak mendapat pahala yang akan dia nikmati di akhirat kelak, maka keinginan semacam ini bukan saja boleh tetapi sangat dianjurkan.

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah Saw bersabda:

Tidak ada iri kecuali pada dua orang. Pertama dengan lelaki yang diberi Al-Quran (paham maksud dan kandungannya) kemudian dia beramal sesuai dengannya siang dan malam, dan kedua dengan lelaki yang diberi harta kemudian dia menginfakkannya pada kebaikan siang dan malam.

Dalam riwayat lain disebutkan tidak boleh iri kecuali dengan seorang lelaki yang diberi ilmu kemudian dia beramal dan mengajarkan dengannya siang dan malam.

Iri yang dibolehkan

Namun jika yang kita iri dan inginkan itu adalah kenikmatan dunia yang dimiliki teman kita. Misalnya ketika kita melihat teman kita punya mobil mewah dan rumah mewah kemudian muncul dalam hati ingin juga memiliki mobil dan rumah seperti dia. Lalu kita berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkan keinginan kita itu, maka keinginan seperti ini boleh-boleh saja, namun kita harus waspada dan berhati-hati.

Jangan sampai karena mengejar keinginan kita itu lalu kita lalai serta melupakan kewajiban, baik kepada Allah Swt atau kepada sesama manusia. Dan jangan sampai kita menghalalkan segala cara untuk mencapainya.

Dalam hal ini Rasulullah Saw mengingatkan dengan sabdanya; Demi Allah bukan kemiskinan yang aku takutkan pada kalian, tetapi aku takut dunia dibentangkan pada kalian sebagaimana dibentangkannya pada umat sebelum kalian.

Lalu kalian berlomba-lomba mencari dunia, sebagaimana mereka berlomba-lomba lalu dunia membinasakan kalian sebagaimana halnya dunia telah membinasakan mereka.

Iri yang dilarang

Iri yang ketiga ialah iri yang dilarang, bahkan iri ini akan menghanguskan segala pahala amal kebaikkan kita. Semoga Allah menjaga kita dari jenis iri yang ketiga ini.

Iri ini biasanya disebut dengan iri dengki atau hasad. Yaitu suatu sifat yang tidak senang melihat temannya mendapat nikmat dan dia ingin memiliki nikmat itu serta menghilangkannya dari temannya.

Dosanya akan bertambah besar jika keinginanyan ini diwujudkan dalam bentuk tindakan nyata. Misalnya ketika melihat bisnis temannya maju, dia tidak senang dengan itu, kemudian dia berusaha meruntuhkan bisnis temanya tadi. Mulailah dia menyebarkan fitnah-fitnah dan menghasud sana-sini.

Orang yang semacam ini nantinya akan ditempatkan bersama Iblis di Neraka Jahannam. Karena sifatnya sama dengan Iblis yang tidak senang ketika melihat Allah Swt memulikan Adam dengan menyuruh malaikat sujud padanya.

Dalam sebuah hadis Rasulullah Saw bersabda: Sifat hasad itu memakan pahala kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.

Solusi supaya tidak hasad

Ingat semua nikmat di dunia ini telah Allah bagi menurut kehendak-Nya. Termasuk juga nikmat yang ada pada temanmu. Maka jika kamu tidak senang nikmat itu ada pada temanmu berarti kamu tidak senang dengan keputusan Allah yang telah membaginya.

Ketidaksenanganmu dengan keputusan-Nya adalah sebesar-besar maksiat dan dosa. Karena kamu adalah makhluk-Nya tidak pantas tidak ridha serta ikut mengatur kehendak-Nya. Dengan demikian kamu layak mendapat murka dari-Nya.

Oleh karena itu, kita sebagai hamba tidak ada pilihan lain selain ridha dengan setiap keputusan dan kehendak-Nya.

Jika pun kita ingin juga mendapat nikmat seperti teman kita itu, maka caranya dengan mendekat pada yang membaginya. Sering-sering mengetuk pintu rahmat-Nya dengan doa-doa. Kuatkan keyakinan bahwa Allah Maha Adil dan Maha Cepat mengabulkan segala doa.

Oleh: Imron Abu Farhan.

Tinggalkan Balasan