kisah mengenal tuhan

Izinkan Aku Mengenal-Mu

Aku masih berdiri di atas panggung dengan perasaan yang sulit untuk kujelaskan. Ada rasa bangga dan takjub jadi satu. Ini merupakan pertemuan kedua kami, ya aku dan Habil. Pertama kali berjumpa di bus saat hendak berangkat ke sekolah. Awalnya aku merasa biasa saja, sampai aroma cokelat melintasi indera penciumanku.

Ternyata waktu masih mempertemukan kami kembali, memberikan kepercayaan untukku agar bisa menatapnya, meski dengan jarak terbentang. Aku berada di panggung dan dia ada di barisan tengah peserta. Tidak pernah terbayangkan akan bertemu di sini. Pasalnya saat mengantarkan undangan ke MA Wahid, aku tidak melihatnya.

Riuh tepuk tangan menyadarkanku. Astagfirullah. Aku mengusap wajah dan berharap dia tidak sadar dengan keberadaanku. Maksudnya dia tidak ingat pernah bertemu denganku sebelumnya. Duh. Aku langsung membacakan acara selanjutnya yakni berdiskusi atau tanya jawab.

Tema Hoax ternyata cukup diminati, terlihat dari aktifnya para perserta. Memang sih zaman sudah modern, segala informasi cepat menyebar dengan sekali klik saja. Terkadang banyak orang yang percaya dan menelan mentah-mentah informasi yang melintas pada timeline-nya tanpa ada tindakan mencari tahu terlebih dahulu kevalidan informasi tersebut.

Kalau dianalogikan dengan pacaran seperti kata Habil, kita tidak bisa langsung mau atau menerima orang yang tiba-tiba hadir lalu bilang cinta. Ada proses perkenalan, saling memahami satu sama lain, baru deh terus pacaran. Eh, menikah maksudku, karena pacaran itu hoax.

Tiba di penghujung acara. Aku melihat ke kursi di mana Habil duduk, kosong. Ke mana dia? Acara selesai, dan dia sudah menghilang sebelum waktunya untuk pergi. Aku memperluas jangkauan pandanganku, mencari dia di tiap sudut ruangan ini.

Pluk!

Bola kertas mengenai dahi, ada Merlin berdiri di depan panggung. “Kamu nyariin siapa?” tanya cewek itu, kepalanya menoleh ke kanan dan kiri.

“Aku enggak nyariin siapa-siapa kok,” ucapku lalu menggigit bibir. Aku balik badan meletakkan mikrofon lalu turun menghampiri Merlin yang ada di bawah.

“Kamu pasti dengar kan jawaban anak dari MA Wahid tadi, siapa namanya?” Dia berpikir, terlihat dari ekspresi wajahnya ada banyak lipatan pada dahinya.

“Habil,” jawabku. Seketika itu juga aku menyadari, betapa cepatnya aku merespon pertanyaan dari si Merlin. Omong-omong ke mana ya dia? Padahal kan acara belum selesai. Tapi kenapa aku harus mencarinya coba, entahlah. Aku menarik tangan Merlin keluar dari aula.

“Aku tidak menyangka dia bakal menjawab itu. Pasti anaknya taat beribadah. Udah ganteng, tinggi, ….”

Merlin terus memuji-muji cowok itu. Dia tidak tahu apa kalau orang yang dibicarakannya itu orang yang aku ceritakan tempo hari. Bisa gawat ini kalau dia tahu aku juga kagum sama orang yang dia ceritakan sekarang.

“… kalau sama kamu, bumi dan langit deh!” ucap Merlin.

Aku langsung menatapnya tajam.

Kepada Panitia Seminar Anti Hoax, segera berkumpul kembali di aula.

Suara pengumuman dari speaker yang terpasang di sudut sekolah menghentikan langkahku. Aku yang berniat ke kantin pun harus pamit sama Merlin kemudian putar arah menuju aula. Dengan berat hati pun dia mengizinkanku pergi.

Rambut ini berkibar seiring lari kecilku. Terlihat ruang OSIS terbuka, aku pun mampir, ya siapa tahu ada seseorang yang bisa diajak bareng.

Begitu berdiri di depan pintu dengan napas putus-putus. Ada Habil yang saat ini sedang menatapku, sekilas. Ya, hanya dengan hitungan detik dia langsung memandang kembali lawan bicaranya, Dwi.

Ya Allah, kenapa ada dia di ruangan ini? Aku masuk dengan perasaan malu-malu.

“Eh, Lulu.” Dwi seoalah menyambut kehadiranku.

Aku berhenti di tempat, sempat melayangkan senyum ke Habil, namun cowok itu tidak membalasnya. Ugh, sombong!

“Kenalin … dia Lulu, sekretaris OSIS di sini,” ucap Dwi kepada Habil. Cowok berambut ikal itu hanya angguk-angguk, menatapku sekilas lagi.

“Iya, sudah pernah ketemu kok sebelumnya.”

Aaaaa, apa? Dia ternyata masih mengenaliku.

“Kapan? Waktu antar undangan, ya?” tanya Dwi.

“Bukan, tapi di bus. Waktu itu aku terpaksa naik bus, karena ban motornya ayah kempes.”

“Oh! Pantesan!”

Buset! Aku keceplosan. Secepat kilat aku menutup mulut, sambil merutuki diri sendiri.

“Pantesan kenapa?” Dwi memandangku penuh curiga.

“Bukan, bukan apa-apa. Eh, Dwi, bukannya kita harus kumpul di aula, ya?” Aku mencoba mengalihkan pembicaraan. Syukur ucapanku didengar. Dwi berdiri diikuti oleh Habil. Dia lalu menuliskan sesuatu pada secarik kertas di meja.

Cowok itu bersalaman dengan Dwi untuk berpamitan, kemudian menghampiriku. Jantung ini rasanya sudah tidak kuat untuk berdetak. Waktu seakan berjalan begitu pelan, sehingga aku bisa menikmati parasnya yang semakin mendekat ke arahku.

Aku mengulurkan tangan.

“Ini,” ucapnya memberikanku secarik kertas.

Tengsin! Aku pikir dia mau mengajakku salaman, ternyata dia memberikan kertas ini. Ya Allah, kuatkan hamba dari rasa malu ini. Cowok itu keluar, hilang dari pandanganku lagi. Entah kapan bisa bertemu kembali. Aku menarik napas. Begitu mau membuka lipatan kertas di tangan, suara Dwi mengharuskanku memasukan kertas itu ke saku baju.

Kami berjalan menuju aula. Aku berjalan dengan langkah yang terasa ringan. Bahkan sesekali tangan ini memegang saku. Tidak sabar untuk mengetahui isi tulisan ini. Firasatku sih paling nomor hp dia, atau nama akun media sosialnya. Kalau itu benar, berarti dia mau berteman denganku.

Aaaaa … aku jadi gemas sendiri.

Acara evaluasi yang membosankan. Tahu enggak sih mereka kalau aku sudah tidak sabar untuk pulang seperti teman-teman lainnya. Beginilah risiko menjadi anggota OSIS, datang lebih awal, pulang pun belakangan.

Akhirnya, evaluasi dari pembina OSIS memasuki bagian akhir, setelah ucapan terima kasih disusul oleh salam, kami sudah diizinkan untuk pulang. Aku keluar dengan semangat, beberapa langkah dari aula, aku mengambil lipatan kertas dari saku bajuku.

Aku menarik napas, membenarkan anak rambut yang menghalangi pandangan, kemudian membuka kertas itu.

Hai, dapat salam dari Al-A’araf: 26.

Apa maksudnya ini? Bukan deret angka atau nama akun yang kudapat. Dari penulisannya ini seperti nama surat dalam Alquran. Aku terdiam, dengan kaki berjalan perlahan tetap mengamati kertas yang ada di tangan.

Untuk memastikannya aku buru-buru menuju musalah. Ya Allah, dua tahun sekolah di sini, bisa dihitung berapa kali aku masuk musalah ini. Kudekati rak yang bertumpuk beberapa Alquran, lalu kucari yang ada terjemahannya.

Aku membuka lembaran suci itu sama malunya ketika memasuki musalah ini. Selama ini Alquran yang ada di kamar hanya sebagai pajangan saja. Terbuka begitu bulan Ramadan tiba, itu pun tidak rutin. Jemariku merayap pada barisan daftar nama surat. Sesekali memastikan, menyamakan dengan tulisan yang ada di kertas.

Sekali percobaan tidak ketemu. Dua kali mengurutkannya tetap tidak ketemu. Duh, aku mencoba lagi dengan lebih pelan dan teliti. Telunjukku terhenti pada kotak ke tujuh. Memastikan lagi. Al-A’araf, benar. Kemudian aku mencari ayat ke 26.

Perlahan aku mulai membaca kalimat terjemahan dari ayat tersebut. Tiba-tiba aku merasakan ada keharuan dalam hati ini. Entah kenapa kini kalimat itu perlahan memudar, bersamaan dengan rasa panas di bola mataku.

Hai, Anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, muda-mudahan mereka selalu ingat.

Satu tetes basah jatuh pada lembar suci itu. Ya Allah … Aku mendongak, kemudian mengelap pipi yang kini basah. Baru dua kali bertemu, dia sudah berani mengingatkanku akan menutup aurat. Aku memegang ujung rambutku. Ya Allah … izinkanku mengenal-Mu lebih dekat.

Oleh: Nurwa R.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan