“Ada hal yang tidak bisa kita paksakan,” katamu waktu itu. Awalnya, aku tidak bisa menebak apa sebenarnya yang ingin kamu sampaikan lewat telepon di subuh buta itu. Membuatku sedikit kaget bercampur heran. Terkesan sangat mendesak. Sebelum-sebelumnya kamu tak pernah melakukan ini. Apa kamu berpikir dan menimbang semalaman untuk menyampaikan ini padaku?

“Maksud, Mas Atar apa?” sambarku tak sabar mendengar kelanjutan ucapanmu yang mengandung teka-teki itu.

Hening.

Hanya terdengar desahan napasmu. Berat.

“A-a-aku ingin hubungan kita berakhir sampai di sini saja, Mai. Aku tidak bisa mencintaimu dan kamu tidak perlu menemuiku lagi,” lanjutmu terbata. Suaramu terdengar parau dan dalam.

Mendengar ucapanmu rasanya seolah sebuah tombak ditancapkan tepat di dadaku. Nyeri. Persendianku melemas. Tenggorokan tercekat.

Senyap lagi.

Terasa lebih menyakitkan dari sebelumnya. Kamu tak bersuara. Entah apa yang sedang berkecamuk di kepalamu. Andai aku tahu.

“Tapi kenapa? Apa ada yang salah?” Suaraku memelas. Berharap kamu menarik kata-kata itu. Tapi tidak.

Kamu tidak merespon. Berdeham samar. Kueratkan jemariku pada ponsel yang masih kugenggam. Diammu menjelaskan bahwa tak ada lagi yang perlu di bahas.

Beberapa menit berjalan lambat. Memerangkapku dalam kebisuan. Napasku tersengal Ponsel terlepas dari tangan. Kakiku lunglai lalu tersungkur di lantai yang dingin. Sempat terdengar suaramu menyeru namaku dengan nada cemas di ujung sana. Kemudian semua menjadi gelap.

***

Empat bulan menjadi waktu-waktu yang berat. Kulewati tanpa tahu kabar tentangmu. Semua akses komunikasi kita terputus total. Kamu benar-benar tidak ingin aku mengusikmu, dan aku belajar untuk tahu diri.

Secepat itukah kisah kita usai? Lalu apa arti kebersamaan kita selama lebih dua tahun ini? Betapa mudahnya kamu memangkas jalan cerita yang kita rangkai sedemikian rupa?

Atau aku memang tak pernah ada, apalagi berarti di hatimu?

Atar ….

***

Setelah subuh itu, kamu menghilang bak ditelan bumi. Tapi, aku tak begitu saja menyerah berusaha mencari cara untuk bisa menemuimu. Mengesampingkan rasa malu, kudatangi rumahmu namun kamu tidak pernah ada. Hanya ada ibumu dan dua makhluk lucu yang selalu sumringah menyambut kedatanganku. Shaila dan Shaili—anak-anakmu yang juga aku harapkan kelak menjadi anak-anakku. Tak lantas putus asa, tempat usahamu yang jaraknya harus kutempuh dengan dua kali naik angkutan umum kusambangi. Akan tetapi, seperti yang sudah kuduga, kamu tetap tak ingin menemuiku. Seorang karyawanmu mengatakan bahwa kamu tidak ada di tempat.

Sekeras aku berusaha mengejarmu, sekeras itu pula kamu menghindar dariku.

Hari-hariku muram. Tak lagi cerah seperti dulu saat perhatianmu begitu tertumpah padaku. Bagiku yang hanya seorang gadis perantau, kamu pernah menjadi segalanya. Tempatku mengadu, berkeluh kesah, tempat berbagi cerita tentang mimpi dan keletihan-keletihanku selama hidup di tanah seberang. Kamu adalah penunjuk arah agar aku tak lagi tersesat seperti dulu, ketika aku baru datang ke kota ini dan sedang mencari alamat kos temanku. Hal itu selalu mengingatkanku bagaimana awal perkenalan kita. Menjadi momen yang tidak terlupakan sampai detik ini.

“Mau ke mana, Mbak?” tegurmu waktu itu. Memberhentikan mobil yang sedang kamu kendarai tepat di hadapanku. Saat itu aku yang sedang kebingungan berdiri di atas trotoar, menatapmu ragu. Tak langsung menjawab. Menanggapi reaksiku kamu mencoba tersenyum ramah. Membuat keraguanku perlahan menguap.

“Saya  cari alamat kos teman saya. Katanya di daerah sini. Tapi, dari tadi berputar-putar belum ketemu juga,” jawabku sembari meringis menahan letih. Kamu menatap iba lalu menawarkan diri mengantar ke alamat sesuai petunjuk temanku lewat pesan singkat.

Sejak itu perkenalan kita berlanjut. Deru mesin mobilmu menjadi sesuatu yang aku tunggu setiap pagi. Kamu mengantar aku ke tempat kerja yang ternyata searah dengan tujuanmu. Dan seiring berjalannya waktu kita bertambah dekat. Pelan namun pasti kita mulai membuka diri, menceritakan tentang diri masing-masing. Awalnya, aku sedikit risi saat tahu mengenai kehidupan pribadimu yang ternyata  seorang duda dengan dua putri. Namun, perasaan nyaman saat bersamamu membuatku mampu menerima situasimu.

Di lain waktu kamu mengajak aku ke rumah. Memperkenalkan aku pada ibu, adik dan putri kembarmu. Tak butuh waktu lama aku dan si Kembar juga ibumu menjadi begitu akrab. Seolah aku sudah menjadi bagian dari keluargamu.

Kini hari-hari tak lagi sama menjadi cerita yang hanya bisa aku kenang dalam ingatan.

***

Pagi-pagi, Randy adikmu menelepon, mengabarkan bahwa Shaila sakit dan sangat ingin bertemu denganku. Ada perasaan sedih sekaligus haru  meruak di dada mendengar kabar itu. Aku pun selama beberapa bulan ini sama memendam rindu pada mereka. Tanpa di sadari antara aku dan kedua anakmu sudah terjalin ikatan batin layaknya ibu dan anak meskipun mereka tidak terlahir dari rahimku.

Pagi itu juga Randy menjemputku. Ada sedikit bahagia menyelinap, bahwa ada kesempatan untuk bisa bertatap muka denganmu. Namun, tidak seperti itu yang terjadi. Kamu pergi sebelum aku tiba di rumah dan itu sungguh menyesakkan.

Aku tidak mengerti begitu kerasnya usahamu menghindar dariku. Kesalahan fatal apa yang sudah kuperbuat? Aku hanya ingin melihat wajahmu, apa itu berlebihan?

Malam itu aku menginap di rumahmu. Shaila tidur tenang dalam pelukanku. Demamnya sudah reda setelah meminum obat dari dokter. Ibumu ikut menemani. Aku menyangka kamu akan pulang meski sudah sangat larut. Tapi ternyata tidak juga.

“Maafkan sikap Atar, Nak Mai,” ucap ibumu dengan nada bersalah. Menatapku iba. Aku mengangguk samar. Mengulas senyum. Tapi kenapa aku menangkap ada sesuatu yang ganjil dari sorot mata wanita yang selalu bertutur lembut itu. Seperti ada yang disembunyikan namun aku tak berani menebak.

***

Dua bulan berikutnya, apa yang tersembunyi itu akhirnya terkuak. Ibumu, Randy  beserta si Kembar bertandang ke kosku. Tepat saat aku baru pulang bekerja. Meski agak kaget namun aku bahagia mereka berkunjung. Seolah mewakili kehadiranmu. Beberapa saat selanjutnya tahulah aku bahwa maksud kedatangan mereka untuk menyampaikan sesuatu yang tak pernah terlintas sedikit pun di pikiranku sebelumnya mengenai kamu. Namun, tak pelak mendengar kabar itu membuat langit yang membentang di atasku seakan ambruk tiba-tiba.

“Maaf, kami terpaksa merahasiakan ini dari, Kak Mai. Karena, Bang Atar melarang aku memberitahu, Kakak.”

Randy, yang  usianya tiga tahun lebih muda dariku tertunduk dalam. Pun ibumu. Aku memandangi mereka bergantian. Orang-orang yang kamu cintai. Dadaku sesak menahan isak. Dua bocah yang kini berusia hampir empat tahun sibuk menyeka air mata yang jatuh perlahan di pipiku dengan selembar tisu.

“Sudah berapa lama?’ tanyaku lirih.

“Sajak setahun terakhir.”

Aku menggigit bibir.

“Tante Mai jangan menangis. Nanti tidak cantik lagi. Papa suka karena Tante Mai cantik. Kita juga suka,” ucap Shaili polos. Mata beningnya berkerjap-kerjap menatapku penuh simpati.

Aku mengangguk. Tersenyum di antara isak. Memeluk dua malaikat kecilmu. Keberadaan mereka terkadang membuatku ingin hidup seribu tahun lagi.

Impotensi, kata-kata Randy terus berputar di kepala. Itukah alasanmu menjauhiku. Bukan karena kamu tidak mencintaiku tapi kamu tidak ingin aku menderita  menikah dengan laki-laki yang tidak sempurna seperti kamu.

***

“Kamu masih muda. Carilah laki-laki yang sempurna, Mai.” Kalimat pertama yang kamu ucapkan saat kita saling berhadapan setelah delapan bulan menjeda. Akhirnya kamu bersedia  menemuiku atas permohonan ibumu.

“Aku hanya ingin menikah denganmu,” sahutku dengan bibir bergetar. Menunduk. Jantungku seolah diiris sembilu. Ingin rasanya menatapmu berlama-lama. Kuberanikan diri mengangkat wajah menoleh ke arahmu. Kita sama berdiri kamu menatapku tak berkedip. Ada rindu yang sama di sorot matamu yang redup. Mata yang selalu membuatku bersemangat menyongsong hari.

“Masih ada jalan yang bisa kita usahakan untuk kesembuhan kamu, Mas. Ada banyak pilihan pengobatan. Kita cari yang paling cocok.” Aku menyemangatimu. Tapi kamu menggeleng. Bagimu tak ada lagi harapan. Dokter telah memvonis kamu impoten permanen. Penyebabnya karena kamu sering stres dan kelelahan semenjak istrimu meninggal.

“Itu tidak akan membantu,” tukasmu putus asa. Gurat sedih tergambar jelas di wajahmu.

“Kita ikhtiar dulu, Mas. Kalaupun tidak berhasil, aku tetap bersedia menikah dengan kamu.”

Kamu mendekat. Hingga jarak kita hanya beberapa senti saja.

“Kamu tidak perlu mengasihani aku, Maikana,” desismu. Ekspresi wajahmu mengeras.

Air mataku melesat. Kuseka tergesa. Tak ingin suasana ini membuat kita kian putus asa. Rasanya aku ingin tenggelam di dadamu. Mendekapmu erat. Membisikkan padamu bahwa aku akan selalu ada untukmu apa pun yang terjadi.

Dua hari setelahnya kamu menghubungiku. Mengatakan kamu bersedia menjalani pengobatan. Mendengar itu rasanya aku ingin terbang tinggi ke udara. Di dadaku seakan bunga-bunga bermekaran. Rupanya bujukan ibumu kembali meluluhkan hatimu.

Singkatnya, setelah beberapa bulan menjalani pengobatan pada seorang dokter ahli. Kamu dinyatakan sembuh. Kita sama terharu dengan kabar baik itu. Tak lama setelah itu kamu beserta keluargamu datang pada orang tuaku dan melamarku secara resmi. Aku tidak tahu saat itu rasanya aku berpijak di nirwana. Semua yang tampak di mata  amat indah. Hingga sulit kujelaskan dengan kata-kata.

Tetapi aku lupa, ya aku lupa. Ada ketetapan-Nya yang tak bisa kita ubah.

Kebahagiaan yang sejengkal lagi akan kuraih. Berubah menjadi malapetaka yang tak mampu dielakkan. Kamu mengalami kecelakaan. Mobil yang kamu kendarai bertabrakan dengan sebuah truk di jalan layang sewaktu kamu pulang bekerja. Kamu mengalami pendarahan di otak dan patah tulang.

Jangan tanya bagaimana perasaanku saat kabar duka itu sampai ke telinga. Aku merasa susunan tulang igaku retak berderak, dadaku remuk redam. Lalu  semua yang ada di sekitarku hanya gelap gulita.

Tiga hari kamu kritis di ruang ICU. Selama itu pula tak sekejap pun aku memejamkan mata. Meski Randy berkali-kali mengingatkan untuk beristirahat sejenak, tapi tak kuhiraukan. Terus mengamati keadaan tubuhmu yang terbaring. Andai mampu, aku tak ingin berkedip. Takut ada yang terlewat dari penglihatanku. Berharap ada keajaiban di detik-detik tak terduga. Aku berharap kamu tiba-tiba membuka mata dan mengatakan sepatah kata untukku. Tak apa sekalipun itu sebagai pesan terakhir. Namun, semua harapan itu menguap di udara seiring munculnya garis lurus pada monitor alat medis yang terletak dekat kepalamu. Menandakan kehidupanmu telah berakhir begitu pula dengan rencana-rencana kita.

Atar ….

***

Waktu bagai desing peluru melintas cepat di hadapanku. Melesat meninggalkan hari-hari. Merangkai bulan menjadi tahun. Namun, tak peduli musim dan masa terus berganti, aku akan tetap menjadi orang yang sama yang mencintaimu dengan segenap jiwa. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tetap menjadi bagian keluargamu, menjadi ibu untuk anak-anakmu, menjadi menantu untuk ibumu. Meski yang di sampingku kelak bukan kamu tapi Randy, adikmu.

Ditulis oleh: Arachis Verania Ve.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: