Jadi Anti Nyesel Udah Berubah Jadi “Akhwat”?

Awal masuk kos dengan label pesantren mahasiswi, aku dibuat kagum pada seorang teman, sebut saja namanya Devi.

Sungguh dia sosok yang sangat angun. Tutur katanya, cara berpakaiannya, bahkan cara tersenyum dan sikapnya terhadap lawan jenis sungguh sangat memesona.

Beda sekali denganku (yang meskipun sama-sama berjilbab lebar) tapi masih sulit tertawa lepas walau pun di depan lawan jenis. Aku juga masih suka sak-sake (suka-suka) dalam interaksi dengan makhluk berkromosom Y.

Pernah saat Ramadan, di kampus ada acara buka bersama yang diadakan BEM. Selayaknya acara di organisasi umum, maka kegiatannya campur antara laki-laki dan perempuan.

Nah, selepas adzan maghrib dan kita siap berbuka puasa dengan jaburan yang sudah disiapkan panita, eh si Devi ngambek dan memaksa minta pulang. Padahal sehabis berbuka, kita mau salat jamaah dilanjut makan besar dan persiapan tarawih.

Ternyata oh ternyata, si Devi nggak mau buka puasa di acara itu karena posisi tikar yang disiapkan panitia saling berhadapan laki-laki dan perempuan. OMG! Sungguh aku terkesima.

Sebegitu hati-hatinya dia dalam menjaga pandangan. Huf! Aku harusnya terimakasih loh ya, diajakin pulang sehingga nggak mengumbar pandangan. Hehehe …

Waktu berjalan dan Devi masih saja anggun di mataku.

Kadangkala, aku bertanya pada diriku sendiri, “Apa bisa aku seperti Devi? Angun, lembut, dan sangat menjaga sikap.”

Pada akhirnya pertanyaan itu hanya kujawab dengan tersenyum dan melakukan pembenaran. “Ah, yang penting aku enjoy dengan penampilanku. Nggak perlu harus pakai gamis dengan warna gelap yang penting syar’i.”

“Emm … aku belum bisa kalau harus nunduk terus saat komunikasi dengan laki-laki, tapi insyaAllah aku nggak jelalatan kok.”

“Kalau masalah ketawaku yang suka lepas kontrol, itu bawaan deh kayaknya.”

Dan blablabla … banyak banget pembenaranku pada diri sendiri.

Suatu hari di saat kampus sibuk melakukan penyambutan mahasiswa baru, berita kurang enak tentang Devi kudengar.

“Gamis-gamis Devi dijual second di Bazar,” ucap seorang teman.

“Anti yakin?”

“Iya, orang aku tadi nanya sama penjualnya, katanya iya itu gamis si Devi.”

Informasi itu jelas membuatku bertanya-tanya, ada apakah gerangan? Sebagai teman yang tinggal satu atap, aku sungguh merasa bersalah jika ada teman yang punya masalah dan aku sama sekali tidak tahu.

Hari itu juga, sekembali dari kampus, aku masuk kamar Devi dan menanyakan hal itu padanya.

“Aku pengen ganti suasana aja kok,” jawab Devi saat kutanya kenapa gamis-gamisnya dijual. “Hasil penjualannya aku belikan baju potongan.”

“Serius anti nggak sedang ada masalah?” tanyaku mendesak.

“Dua rius malah!”

Dan benar, beberapa hari kemudian Devi berganti style. Yang tadinya selalu memakai gamis panjang dengan jilbab lebar warna gelap, sekarang tampil dengan baju potongan dengan atasan tidak menutup pantat.

Duh … si Devi kenapa sih ya?

Sebenarnya tidak masalah juga sih memakai baju potongan toh masih menutup aurat. Aku pun kadang lebih suka memakai baju potongan. Yang jadi masalah adalah perubahannya yang drastis. Dari gamis gelap menjadi baju potongan cerah yang baju atasannya di atas pantat.

Lagi-lagi aku coba mengobrol dan menyediakan diri jikalau ia mau curhat. Tapi, seperti sebelumnya, temanku yang anggun itu bilang tidak sedang punya masalah.

“Hanya ingin ganti suasana, itu saja!” ucap Devi memberi penegasan bahwa ia tidak sedang bermasalah.

Oke, pada akhirnya sebagai teman aku coba bersikap wajar. Syarat menutup aurat juga masih terpenuhi kok, hanya beda style saja.

Beberapa waktu berlalu, lagi-lagi aku kaget. Devi sudah tidak memakai potongan atasan dan rok. Tapi sekarang dia pakai potongan atasan dan celana. What? Celana? Berkali-kali aku yakinkan penglihatanku.

Tentu tidak jadi soal jika memang sejak awal Devi memakai pakaian sperti itu. Keheranan dan rasa tidak percaya akan perubahan pakaian Devi dikarenakan stylenya berubah secara cepat.

Ya Allah … sebenarnya, ada apa ya dengan Devi?

Belum juga rasa kaget itu menemukan jawaban, Devi kembali membuatku dan teman kos yang lain semakin heran. Dia sekarang tidak lagi memakai kaos kaki jika bepergian. Nah! Ini sudah tidak memenuhi syarat menutup aurot. Kakinya sudah terlihat.

Barangkali karena merasa sudah tidak sejiwa lagi dengan para penghuni kos, akhirnya Devi pindah ke kos umum.

“Kamu yakin Dev?” tanyaku.

“Biarkan aku menikmati perubahan ini, nanti kalau aku mau, aku akan kembali,” ujarnya disertai senyum yang entah tak dapat kuterjemahkan apa artinya.

Beberapa bulan berselang, aku mengunjunginya di kos yang baru. Aku menemuinya, menawarkan hal yang sama padanya.

“Jika kamu butuh curhat, aku siap.”

Dan Devi tertawa, ia tampak bahagia dengan perubahan dirinya. Bahkan saat itu, rambutnya sangat trendy. Diwarnai dengan warna kombinasi.

Lama berada di kamar kos barunya, aku mendapat cerita yang dulu tidak mampu ia ceritakan.

Devi patah hati. Seorang lelaki (ia sebut ikhwan, tapi kalau kataku sih ikhwan gadungan!) telah mencampakkannya (menikah dengan wanita lain) setelah apa yang sudah Devi lakukan.

Sejak SMA Devi menurut apa yang dikatakan si lelaki. Mengubah dirinya seanggun mungkin, seshalihah yang ia bisa. Devi mengorbankan kesenangannya akan model-model baju dan style gaya rambut. Demi lelaki yang ia cintai, lelaki yang menjanjikan pernikahan tanpa pacaran.

Sampai pada cerita itu, aku sungguh dibuat geram. Bagaimana mungkin menikah tanpa pacaran tapi keduanya berhubungan melebihi seorang teman.

Lelaki macam apa yang meminta seorang wanita untuk lebih shalihah melalui jerat nafsu cinta?

Uh! Rasanya aku ingin melabrak lelaki itu.

“Jadi anti nyesel udah berubah jadi akhwat?” tanyaku pada akhir ceritanya.

“Iya,” jawabnya mengambang.

“Sejujurnya sih, nggak juga. Tapi ….” Kata-kata Devi terputus, ia memandangku dengan tatapan aneh.

“Anti dendam?”

“Ya.”

Dan hari itu, kupunguti satu hikmah dari kisah ini. Sungguh benar, tidaklah layak manusia menggantungkan ingin pada sesama manusia. Tidaklah pantas seorang hamba melakukan ketaatan demi seorang hamba lainnya.

Sungguh sangat rapuh jika niatan kita berhijrah hanya agar mendapat perhatian, pujian, atau pun cinta dari manusia. Pada akhirnya, semua yang illa insan/karena manusia akan menuai kecewa.

Adapun pesanku padamu wahai ikhwan gadungan! Janganlah lagi kau obral janji apalagi berkedok dakwah. Kau tahu bukan, hati wanita sangat lembut?

Sekali saja kau menanam mawar di hatinya, saat kau cabut, duri mawar itu akan menggores hatinya, membuat luka yang sulit terobati.

Oleh: Sri Bandiyah.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan