Jadikan Masalahmu Sebagai Tangga Kesuksesanmu

Imam Abu Ja’far ath-Thahawi menuturkan bahwa pada masa remaja, ia tak pernah belajar fikih mazhab Syafi’i kepada Imam al-Muzani. Pada suatu hari, Imam al-Muzani berkata kepadanya, “Demi Allah, kamu tidak akan berhasil.”

Maka ia marah dan pergi dari mejelisnya. Lalu beralih mendalami fikih Abu Hanifah sehingga ia pun berhasil menjadi seorang imam. Seusai mengajar dan menjawab berbagai permasalahan, ia selalu berkata, “Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Abu Ibrahim (al-Muzani), seandainya ia masih hidup dan melihatku, niscaya ia akan membatalkan sumpahnya.”

Luar biasa! Ath-Thahawi mengubah “sumpah gurunya” menjadi spirit untuk bangkit. Bangkit untuk membuktikan, “Aku yakin aku bisa.” Imam ath-Thahawi menjadi imam dan menjadi ulama besar karena telah berhasil mengubah motivasi dalam diri untuk belajar. Motivasi menjadi jantung kegiatan seluruh aktivitasnya, tak terkecuali tafaqquh fiddin.

Beliau mengubah sumpah negatif menjadi pendorong inspiratif untuk terus belajar dengan sungguh-sungguh tak kenal lelah. Barangkali aneh ya, orang sedang punya masalah kok malah disodori pekerjaan besar berupa peluang?

Ketika kita melakukan sesuatu karena Allah, maka apa yang kita lakukan akan bernilai ibadah. Kita tidak lagi galau untuk melangkah karena segala sesuatunya telah diatur dalam Qur’an dan hadits. Ketika hati sudah meniatkan sesuatu karena Allah, maka seharusnya kita lakukan yang terbaik dalam usaha, amal, dan doa kita.

“Setiap amal tergantung niatnya dan setiap orang mendapatkan apa yang diniatkan.” (HR. Bukhari)

Misalnya, seorang pelajar yang meniatkan dirinya bersekolah karena Allah. Maka dia harus mendengarkan penjelasan guru dengan baik, berusaha menyelesaikan tugasnya dengan baik. Jadi niat baik harus diiringi dengan segenap ikhtiar.

Kita harus berani melangkah dengan cara-cara yang luar biasa, karena itulah cara mengalihkan kelemahan menjadi fokus pada kekuatan.

Bila Imam ath-Thahawi mendapatkan sengatan kalimat yang dahsyat oleh kata-kata “sumpah” gurunya, Imam Bukhari pun tergugah oleh harapan inspiratif gurunya untuk menulis kitab hadits sebagaimana Zaid bin Tsabit termotivasi oleh pertanyaan Nabi Saw.

Begitu pula Steve yang minder segera bangkit jadi wonder karena ada penghargaan gurunya, jadilah ia seorang Steve Wonder. Temukan penentu sejarah dalam hidup kita. Jadi tiap masalah sebagai pijakan kesuksesan!

Lalu tawakal karena kekuatan Allah swt yang nantinya akan bekerja.

Ketika kita bertawakal kepada Allah swt atas segala urusan, maka sesungguhnya kekuatan Allah-lah yang akan bekerja. Karena, dengan bertawakal kepada-Nya saja, berarti kita melibatkan Allah swt dalam setiap urusan kita.

Kita mengharapkan pertolongan-Nya agar urusan kita berhasil dengan baik dan berkah. Dan, sungguh Allah swt tidak akan menyia-nyiakan niat baik, usaha dan tawakal hamba-Nya. Allah Maha Kuasa untuk memberikan apa yang kita harapkan.

Maka, jadilah sutradara bagi diri kita sendiri. Tuliskan scenario hidup kita. Perankan diri sebagai aktor utama dalam hidup ini. Kalau memang sudah ada niat, kita akan semangat untuk segera action. Apa pun masalahnya, solusinya ada pada niat memperbaiki keadaan.

Sebenarnya kita niat tidak untuk memahami masalah dan mengatasinya? Benar. Kalau benar-benar ada niat keluar dari penjara masalah, kita sebenarnya sudah menemukan solusinya. Masalah yang sesungguhnya adalah sudah tahu cara untuk sukses dan keluar dari masalah, tapi tidak niat dan tidak ada kemauan untuk bertindak! Nah.

Ingat ya, jatuh itu biasa lho. Namun, bangkit dan bergerak itu baru luar biasa. Tidak ada orang yang belajar tanpa kesulitan. Mustahil. Semua orang pastilah punya hambatan masing-masing.

Sejak kita kecil, Allah swt sudah melatih kita untuk belajar dan berjuang. Kita tahu bahwa seorang anak belajar berjalan, pada awalnya dia akan sering jatuh. Tentu saja bukan keinginannya untuk jatuh. Namun, tulang-tulang di kakinya memang belum kuat dan terbiasa untuk menopang tubuhnya. Lalu apakah dia menyerah? Tidak, dia akan terus mencoba dan mencoba lagi.

Setiap akan berjalan pun bisanya setahap demi setahap. Awalnya dia berdiri dengan berpegangan, lama-lama dia pun bisa berdiri tanpa pegangan. Tapi lihatlah, dia sama sekali tidak puas dengan hanya berdiri saja. Kemudian dia pun mencoba melangkahkan satu kakinya. Jika berhasil dan tubuhnya masih seimbang, dia akan melangkah lagi dengan sangat pelan-pelan. Seandainya dia jatuh setelah melangkah pertama, dia akan bangkit lagi dan mencoba lagi. Ya kan?

Oleh: Tim Trenlis.co.

Referensi:

Suwiknyo, Dwi. 2017. Ubah Lelah Jadi Lillah. Surabaya: Genta Hidayah.

Solikhin dan Kang Puji. 2010. Spiritual Problem Solving. Yogyakarta: Pro-U Media.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan