“Pripun Bik? Mau?”

“Ndak lah Bu. Saya sudah betah di sini.”

“Tapi kan Bibik di sini hanya seminggu dua kali. Gaji Bibik sudah banyak berkurang,” ucapku membujuk. “Gajinya gede loh Bik kerja di sana.”

“Ndak Bu. Ndak mau.”

Beberapa hari yang lalu ada orang datang ke rumah. Mereka pasangan muda yang dua-duanya berkarier di bank. Sang ibu baru saja melahirkan anak pertama dan butuh tukang momong. Jadilah bibik yang membantu di rumahku diminta oleh pasangan muda tadi. Kebetulan ketika pasangan itu datang si bibik sedang tidak jadwal kerja.

“Nanti aku gaji satu juta jika mau,” ucap si ibu memberi tawaran.

“Nggih, nanti saya tanyakan sama bibik.”

“Nanti tiap bulan akan saya kasih sembako juga,” tambahnya lagi.

Aku tersenyum. Pengalaman momong bayi selama dua puluh tahun dan keterampilannya dalam urusan pekerjaan rumah, membuat si bibik terkenal di mana-mana. Banyak orang memuji kalau bibik adalah ibu-momong terbaik. Bayi yang dimomong selalu nurut dan cepat besar kalau dimomong bibik.

Sejak satu tahun lalu, ketika dedek yang dimomong bibik masuk TK, aku memang meminta bibik hanya datang dua kali seminggu. Hanya membantu setrika dan beres-beres rumah. Selebihnya aku bisa lakukan sendiri.

Satu tahun itu telah ada tiga orang yang meminta bibik untuk bekerja di rumah mereka. Tapi, tiga kali pula bibik menolak dengan alasan masih ada ikatan kerja di rumahku. Padahal sudah sering kujelaskan tidak masalah jika bibik tidak lagi membantu. Toh hanya setrika, nanti bisa gotong-royong dengan suami. Tapi bibik tetap saja menolak tawaran kerja di rumah orang.

“Dikasih apa tho si bibik sampai nggak mau pindah kerja?” tanya tetangga suatu ketika.

“Dikasih apa ya? Tak jampi-jampi!” jawabku bergurau.

“Idih, ngeri!” si tetangga tertawa dan mengalihkan pembicaraan.

Masih sangat jelas kuingat awal bibik kerja di rumah. Sebuah kebetulan yang Allah berikan. Saat itu, satu minggu menjelang waktu cuti habis aku kebingungan. Memilih antara terus mengajar atau resign demi bayi mungil yang baru berumur dua setengah bulan.

Semua ini terjadi karena calon ibu-momong yang sudah berjanji akan membantu mendadak pergi ke Jakarta demi gaji yang lebih besar. Dan Allah kirimkan bibik untuk datang ke rumah meminta tolong suami membetulkan listrik di rumahnya. Saat itulah pertama kali aku mengenal bibik dan berlanjut pada pembicaraan tawaran kerja. Kebetulan, bibik juga baru tiga hari berhenti kerja.

Saat ini sudah lima tahun bibik bekerja. Tidak ada hal istimewa yang keluargaku berikan selain gaji bulanan yang masih minim dan pemberian sembako ala kadarnya. Hanya saja, aku sering mengingat kesaksian Anas bin Malik atas diri nabi. Beliau yang tidak pernah mengatakan kenapa kamu melakukan ini dan kenapa kamu tidak melakukan itu.

Lima tahun bersama bibik, sepanjang ingatan, tidak sekali pun aku menanyakan perihal pekerjaan rumah kenapa kok begini dan kenapa kok begitu. Biar semau-maunya dan senyamannya bibik saja. Begitu niatku dalam hati.

Sebelum berangkat kerja aku selalu berpesan, “Yang penting dedek, pekerjaan lain gampang.” Meskipun pada kenyataannya, pekerjaan rumah pun bibik lakukan dengan rapi.

Satu lagi, untuk masalah cucian, aku selalu usahakan memisahkan ‘pakaian dalam’ satu keluarga dan kucuci sendiri. Hal ini penting dan ternyata menjadikan bibik betah. Ini pun baru kuketahui belum lama setelah bibik bercerita.

“Aku pernah Buk kerja di sana. Orangnya baik tapi pas nyuci baju aku sering mual.”

“Loh kenapa?”

“Soalnya pakaian dalamnya kayak gimana gitu.”

“Kayak gimana itu kayak apa to Bik?”

“Ya kadang nyampur sama pakaian lain padahal suka ada bekas datang bulan.”

Satu minggu setelah perbincangan itu, pasangan muda itu datang lagi. Kali ini bibik ada di rumah karena memang aku yang memberi tahu jadwal kerja bibik pada mereka.

“Bagaimana Bik?” tanya si ibu muda. “Mau ya?”

“Maaf Bu, bukannya nolak tapi saya sudah kerja di sini,” jawab bibi.

“Loh, kemarin udah dibolehin kok kalau mau pindah tempat saya.” Si ibu muda memandangku meminta dukungan, “Nggih to Bu?”

“Iya, boleh,” jawabku dengan tersenyum.

“Tuh boleh kan ….”

“Maaf sekali lagi Bu, maaf banget.” Bibik berucap sambil memandangi keramik. “Ibu hamil lagi, jadi saya mau bantu di sini sambil nunggu dedek bayi lahir.”

Ya, tiga hari yang lalu saat bibik datang untuk setrika aku tes urin dan ternyata hamil anak ketiga. Berita gembira itu jelas langsung kukabarkan pada bibik. Dan betapa girangnya si bibik, tak henti-hentinya dia bilang akan mendoakan agar adek bayinya laki-laki. Aku sampai terharu, sikap bibik itu sudah lebih dari seorang asisten rumah tangga. Ia sudah seperti orangtua bagiku dan simbah bagi anak-anak.

“Loh, kan lahirnya masih lama.” Si ibu muda masih saja membujuk. “Selama belum lahir boleh kan ya Bu, bibik kerja di tempat saya dulu?” Lagi-lagi Si ibu muda memandangku meminta dukungan.

“Monggo Bu, monggo,” ucapku sembari memandang suami si ibu berharap dia ikut bicara.

“Mah! Udahlah, bibiknya nggak mau kok.” Akhirnya lelaki gagah, suami si ibu ikut bicara. Alhamdulillah kode senyum yang aku berikan sukses.

Akhirnya pasangan muda itu pamit. Ia memberikan bibik satu bungkus plastik berisi sembako dan aneka makanan.

“Saya kan ndak jadi kerja di rumah ibuk,” ucap bibik ketika menerima bungkusan plastik itu.

“Ndak apa-apa sebagai tanda parsaudaraan,” jawab suami si ibu.

Sepeninggal mereka, bibik dengan sigap membereskan bekas minum tamu.

“Bik,” panggilku

“Ya, Bu.”

“Maaf ya Bik, lima tahun kerja di sini aku nggak bisa kasih apa-apa.”

“Ibu ini jangan bilang begitu! Aku seneng keja di sini.”

Insya Allah nanti kalau dedek lahir, gaji bibik aku tambahi ya, tapi nggak bisa sebanyak tawaran ibu tadi.”

“Lah ibu kayak gitu! Aku nggak masalah Buk! Gaji besar juga kalau nggak betah ya percuma. Nanti malah aku sakit-sakitan.” Wanita seusia ibuku itu bergegas ke belakang mencuci gelas bekas tamu.

Setelah punggung wanita yang membantuku itu hilang di balik tirai ruang tamu, aku merenung. Ya Allah … ini juga bagian dari nikmatMu. Rezeki bertemu dengan orang-orang baik yang membantu urusan hamba. Sehatkan ia juga keluarganya dan barokahkan rezekinya. Aamiin ….

Oleh: Sri Bandiyah.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: