apa itu hoax

Jangan Baper Deh, Itu Cuma Hoax!

Pagi ini aku berangkat ke sekolah, sama seperti kemarin-kemarin. Masih mengenakan seragam putih abu-abu. Masih naik bus untuk sampai. Masih sendiri. Entah kenapa sampai sekarang aku tidak tertarik, emm … mungkin belum tertarik untuk merasakan apa itu cinta.

Aku duduk di sisi paling dekat dengan jendela. Asyik saja mengamati orang-orang, barisan pepohonan serta beberapa pasang pelajar saling berboncengan. Si cewek memeluk dari belakang, dan yang cowok sesekali memegangi tangan pasangannya yang menempel di perutnya. Aku geli sendiri melihatnya.

“Permisi.”

Aku menoleh sebentar. Kudapati ada cowok duduk di samping. Aku tidak peduli, lalu memalingkan kembali pandangan keluar. Tercium wangi parfum beraroma cokelat membuatku nyaman. Karena pada dasarnya aku penggila cokelat. Ingin rasanya bertanya padanya, tapi entah kenapa rasanya sulit sekali.

Bus berhenti.

Aku melongo begitu melihat cowok yang sejak tadi ada di samping berdiri bersama penumpang yang mau turun. Aku hanya bisa pasrah. Enggak mungkin kan, aku harus menahannya hanya sekadar mau tahu parfum apa yang dia pakai. Apalagi ada kisah barangnya tertinggal, terus suatu saat aku ketemu dia lagi, ah itu hanya ada pada cerita-cerita klise.

Merlin mengangguk-angguk mendengar ceritaku. “Waah, sayang sekali. Pantesan—”

“Pantesan apa? Mau bilang aku jomblo?”

Dia menatapku tajam sambil menunjuk-nunjuk ke arahku, seakan menuntut sesuatu.

“Aku cuma mau tahu dia pakai parfum apa. Bukan yang lain.”

“Iya, iya … percaya. Kenapa enggak cek aja sih di internet, ribet amat.”

“Ini, nih manusia milenial banget. Apa-apa cek internet.”

“Lah, biarin. Kamu berani tanya aja enggak.” Dia mengejekku sambil menjulurkan lidahnya. “Eh, tahu enggak, salah satu tanda orang jatuh cinta itu, dia akan merasa kehilangan ketika seseorang itu sudah pergi.”

Aku berdiri, meninggalkan Merlin begitu saja di meja kantin. Dalam hitungan detik, aku yakin dia akan menyusul. Tepat, kini langkahnya menyamakan dengan kakiku.

“Orang lagi ngomong malah ditinggal,” gerutunya begitu sampai di sebelahku.

Aku menoleh. “Terus?”

“Lulu ….”

Aku berhenti, menoleh ke sumber suara. Ada Dwi datang dengan beberapa berkas di tangannya. Apa ada revisi lagi? Menyadari Dwi hanya butuh aku, si Merlin dengan sengaja melangkah menjauh. Sangat menyebalkan.

“Iya, Dwi. Gimana?”

 “Ini proposal sudah di-acc sama Pembina OSIS.”

Senang mendengar kabar baik itu, pasalnya sudah seminggu ini waktuku ‘terganggu’ karena banyaknya revisi. Aku menerima berkas darinya. Lalu kami saling diam, bingung mau membahas apa lagi. Syukur ada seseorang yang memanggilnya, dia pun pergi meninggalkanku.

“Semangat, ya!” teriaknya begitu balik badan untuk melihatku, sambil mengangkat tangan kanannya ke udara.

Otomatis aku tersenyum. Lucu aja. Aku sangat yakin, nanti begitu sampai di kelas, si Merlin tidak berhenti untuk menggoda.

Apa yang kukhawatirkan terjadi. Begitu memasuki kelas. Cewek yang suaranya tidak terkontrol pun langsung teriak, “Cieee … yang habis ketemuan.” Pandangannya mengiringi langkahku sampai aku duduk di sampingnya.

“Ini keperluan acara seminar minggu depan, Mer. Jangan gosip, deh.”

“Semangaaat, ya!” Dia mengangkat tangan kanannya meniru apa yang dilakukan Dwi barusan.

Aku menepuk jidat. Malas meladeni cewek satu ini.

“Emang seminar apa?”

“Seminar tentang Remaja Anti Hoax.”

Dia membulatkan bibirnya, sambil mengangguk-angguk.

***

Pada pagi yang lain, aku berangkat sekolah lagi. Masih menggunakan bus. Duduk paling dekat dengan jendela. Setelah pertemuan kemarin, entah kenapa aku berharap bisa menghirup aroma cokelat itu lagi. Setiap bus berhenti untuk menaikkan penumpang, aku selalu melihat ke arah pintu masuk. Ya Tuhan. Ada apa dengan diriku?

Ya, buah dari harapan yang tidak terkabul adalah kekecewaan. Itu yang kurasakan ketika bus berhenti di depan sekolah, namun tidak juga bertemu dengannya. Ah, kebetulan saja dia kemarin naik bus itu, pikirku.

Salah satu tanda orang jatuh cinta itu, dia akan merasa kehilangan ketika seseorang itu sudah pergi.

Ucapan Merlin kemarin melintas begitu saja di benakku. Apa benar aku merasakan hal itu? Aku berjalan menuju kelas dengan perasaan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Begitu melintasi majalah dinding. Tidak sengaja aku membaca sebuah catatan kecil pada kertas berwarna hijau. Di mading kami memang ada kolom khusus semacam quote, kata-kata motivasi, atau kata mutiara setiap harinya.

Hanya zikir, obat untuk hati yang terserang GEGANA –Gelisah Galau Merana-

Kali ini aku merasa ditusuk oleh kalimat itu. Astaghfirullahastaghfirullahastaghfirullah. Kenapa aku sampai berharap banget dia naik bus yang sama denganku, duduk di sebalahku lagi, dan menghirup aroma parfumnya. Ya Allah.

Sudah ada Dwi berdiri di pintu kelasku. Aku mendekatinya sembari membuka isi tas, lalu mengambil proposal yang sudah terjilid rapi. Dia tersenyum melihatku. Aku menyerahkan dua bundel proposal padanya.

“Tahu aja kalau mau ambil proposal,” ucapnya.

“Iyalah, mau apa lagi memang? Nyariin Merlin?” godaku.

Dia justru tertawa, kemudian melangkahkan kakinya. Aku masuk. Tapi belum juga sampai di mejaku. Dwi memanggil, mengingatkan kalau nanti harus menyebarkan undangan ke SMA-SMA lainnya.

Pada jam istirahat, aku bersama teman-teman berkumpul di ruang OSIS. Kami diberi pengarahan oleh bapak pembina dan doa bersama sebelum pergi menyebarkan undangan. Aku pergi bersama temanku yang lainnya, bukan Dwi. Dia harus stay di ruangan untuk memantau jika nanti ada kabar apa pun dari kami.

***

Hari ‘H’ pun tiba. Aku pergi ke sekolah tidak seperti biasanya. Hari ini aku dijemput oleh seorang teman karena harus lebih pagi untuk sampai di sekolah. Kabar buruknya lagi, orang yang seharusnya jadi MC kemarin memberi kabar sakit, dan aku yang menggantikannya.

Begitu sampai, kami langsung briefing dan berdoa bersama. Karena kurangnya persiapan, sepagi ini aku harus mengatur detak jantungku lebih keras untuk tetap tenang. Aku menerima kertas berisikan susunan acara, semakin deg-degan rasanya. Tarik napas, embuskan. Tarik napas, embuskan.

Semakin siang, tamu undangan perwakilan dari sekolah lain pun sudah berdatangan. Sedangkan untuk seluruh murid di sekolahku sampai jam 10 diwajibkan untuk mengikuti seminar. Terlihat Merlin memberikan semangat untukku, sebelum dia memasuki gedung aula.

Waktu menunjukkan hampir jam delapan, tanda acara segera dimulai. Aku harus sudah ada di atas panggung. Pembicara kali ini yakni Pak Wawan salah satu staf IT dan juga seorang programmer andal.

Aku membuka acara pagi ini dengan semangat. Rasa gugupku hilang ketika sudah berada di atas panggung dan melihat mereka teman-temanku berada di depan sebagai audiens. Setelah acara pembukaan dan kata sambutan, masuk ke acara inti.

Aku memanggil nama Pak Wawan disambut riuh tepuk tangan dari peserta. Pak Wawan naik ke panggung sambil melambaikan tangan. Tersenyum ramah melihat dari sisi ke sisi lainnya. Setelah cukup menyapa para peserta, Pak Wawan dipersilakan duduk di kursi yang tersedia.

“… kepada Pak Wawan, kami persilakan.”

Lelaki itu mengambil mikrofon. Setelah pembukaan dan perkenalan singkat darinya, dia memulai dengan sebuah pertanyaan. “Apa yang kalian ketahui tentang hoax?”

Dari barisan belakang ada yang mengangkat tangan. Dia pun dipersilakan oleh Pak Wawan. “Saya Dwi, dari SMK Nusa Bangsa. Hoax yakni suatu kabar, berita atau pernyataan yang dipalsukan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab.”

Sangat teoritis, pikirku.

“Bagus, sekali. Sekarang ada yang bisa memberikan contoh seperti apa itu hoax?”

Kali ini tangan muncul dari barisan tamu undangan. Setelah ditunjuk oleh pembicara si pengangkat tangan pun berdiri. Aku kaget, setelah seminggu ini aku harapkan kehadirannya di bus, kini cowok itu ada di hadapanku. Ya Allah. Senyumnya.

Cek … cek!

Dia terlihat berbeda. Jarak sejauh ini, aku merasakan aroma cokelat dari parfumnya menari-menari di indera penciumanku.

Assalamu’alaikum. Saya Habil dari MA Wahid. Seperti apa itu hoax? Menurutku seperti mereka pacaran. Jadi jangan percaya jika pacar kalian bilang, aku sangat cinta sama kamu. Atau rela diapa-apain hanya ucapan aku bakal tanggung jawab. Karena bisa saja itu pernyataan yang dipalsukan seperti yang disampaikan teman kita sebelumnya. Kalau memang cinta, menikahlah. Kalau belum siap, persibuklah memperbaiki diri. Sekali lagi jangan percaya pacaran, itu hoax. Terima kasih.”

Ruangan ramai oleh riuh tepukan tangan.

Saking takjub dan kagum, aku sampai tidak bisa mendengar lagi suara tepukan itu. Pandanganku hanya terfokus padanya. Pantas saja, dia berbeda. Tidak salah jika aku mengaguminya, bukan? Ya. Aku percaya dan sepakat sama kamu, Habil, kalau pacaran itu memang hoax.

Oleh: Nurwa R.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan