Jangan Berburuk Sangka Sama Keputusan Allah

Tama memacu laju kendaraan dengan kecepatan tinggi. Degup jantungnya berkejaran sedari tadi. Pikirannya mengawang ke mana-mana. Kelebatan bayangan buruk datang silih berganti, menghantui, membuat dirinya bertambah kalut.

“Kamu nggak apa-apa, kan?” Wajahnya ditolehkan ke sebelah kiri, pada perempuan berjilbab hijau. Ia khawatir, kecepatan kendaraannya semakin memperburuk kondisi sang istri.

“Aku nggak apa-apa.”

Tama kembali fokus menatap jalanan yang ramai. Lampu lalu-lintas yang berganti merah di depannya, membuat Tama mengerang kesal. Ia sedang sangat buru-buru, darurat! Akhirnya, ia memutuskan untuk melanggar aturan. Mobil tetap ia lajukan kencang.

“Mas!” hardik Rahma, menepuk pundak suaminya. “Kalau dicekal polisi gimana?”

“Nggak apa-apa. Aku bisa bilang lagi urgent! Kamu harus secepatnya sampai dokter obbgyn.” Tama mengacuhkan pengendara yang membunyikan klakson panjang, karena tadi ia menyalipnya.

Setelah menempuh perjalanan dua puluh menit lamanya—hasil ngebut—akhirnya mereka berdua sampai di dokter spesialis obsiteric dan ginekelogi yang memang biasanya memeriksa kandungan Rahma. Tama mencelos ketika mendapati antrean telah mengular panjangnya. Dibimbingnya perempuan berbaju hijau mint agar duduk di sebelah pojok, jauh dari keramaian. Dia butuh suasana tenang saat ini.

“Masih sakit?” Tama mengusap-usap perut sang istri yang masih rata. Gelengan diberikan Rahma sebagai jawaban. Dia tak ingin suaminya terus-menerus panik, walaupun sejujurnya, hatinya sendiri sangat tak tenang saat ini.

Mereka lebih banyak menghabiskan waktu dalam diam, bergelut dengan pikiran masing-masing.

“Nyonya Rahma Pratiwi ….” Tama bergegas berdiri saat nama sang istri diserukan petugas. Rahma menerima uluran tangan sang suami, kemudian berjalan memasuki ruangan dokter.

Rahma menjelaskan keadaannya saat dokter berjilbab biru bertanya. Alat ultrasonografi tertempel di perut, menampilkan bayangan hitam kecil pada layar monitor di samping bangsal periksa.

“Usia kandungan Ibu hampir memasuki empat, berat bayi seharusnya sudah bertambah dari jadwal kontrol terakhir. Ini, kenapa kok malah jadi mengecil ukuran janin?” Dokter Aruni terus menggerak-gerakkan alat USG, keningnya mengerut. Sementara Rahma dan Tama saling berpandangan. Mereka takut, sesuatu yang buruk terjadi pada calon buah hati.

“Bu Rahma sebaiknya rawat inap, bedrest total, ya? Tidak boleh banyak beraktivitas, agar flek berhenti. Juga agar diobservasi keadaan bayinya. Sekarang, saya suntik dulu. Silakan, Ibu miring ….” Rahma mengikuti instruksi dokter. Digigitnya bibir saat rasa pedih menusuk kulit.

***

Ruangan berukuran 8 x 5 meter bercat kuning redup yang tampak bersih dan beraroma pinus (karbol) dengan dua ranjang pasien dan satu pendingin udara terpasang di sisi sebelah kanan atas, menjadi tempat Rahma berbaring. Sudah tiga hari lamanya ia tergeletak di ranjang rumah sakit, tanpa diperbolehkan turun. Segala aktivitas dilakukan di tempat, dengan pengawasan ketat perawat, tetapi, flek belum juga berhenti, malah semakin banyak. Rahma dan sang suami, tak henti berdoa, agar calon bayi dilindungi dan dijauhkan dari hal buruk. Telah lama mereka menantikan kelahiran anak kedua. Putra pertama mereka yang berusia lima tahun, sangat antusias menyambut kehadiran sang adik.

“Bu, hari ini USG, ya?” seorang perawat berbaju coklat muda mengkilap memberi tahu. Rahma mengangguk, sementara Tama dengan sigap membantu sang istri beranjak dari ranjang. Kursi roda menyambut tubuh Rahma. Kemudian, mereka berlalu menuju ruang Melati di lantai satu, tempat USG khusus.

Sesampainya di dalam ruangan, seorang dokter obbgyn perempuan telah menunggu dan siap melakukan pemeriksaan. Untuk kedua kalinya, alat ultrasonografi mengusap perut Rahma, menampilkan bentuk janin di layar. Dokter memperbesar hasil tangkapan gambar, sehingga baik Rahma maupun Tama, dapat melihat jelas bayi mereka yang sedang melingkarkan badan, kepala menyuruk ke arah lutut.

“Kok tidak terdengar denyut nadinya ya, Bu?”

Deg! Dada Rahma seolah dihantam palu godam saat mendengar ucapan dokter. Apa maksudnya? Ada apa dengan si bayi? Kenapa….

“Ini, gambar bayinya ada kan, Bu, Pak?” Dokter mengarahkan kursor ke gambar janin yang masih belum berubah posisi. “Tapi, bayinya nggak bergerak. Seharusnya, dia sudah mulai lincah. Duh, De, kamu kenapa sih? Ayo, dong, De …, kamu yang sehat.”

Pelupuk Rahma memanas. Meski dokternya begitu baik dan halus dalam berkata-kata, tetapi hati Rahma tetap teriris sakit mengetahui kondisi sang jabang bayi.

“Saya masukkan alat USG Transvaginal boleh, Bu?” Dokter meminta ijin sambil mengangkat benda berbentuk bulat dan memanjang berukuran dua puluh senti. Rahma hanya bisa mengangguk menanggapi ucapan dokter. Tak diperdulikan rasa ngilu yang tiba-tiba menyeruak, dia bernapas panjang-panjang sesuai instruksi.

“Ini, bayinya, ya, Bu, Pak? Lebih dekat, kelihatan. Tapi, detak jantungnya masih belum terdeteksi juga.”

Satu tetes cairan bening lolos dari sudut mata, menyusul yang lain. Rahma sudah berusaha menahan perasaan sekuat tenaga, tetapi ia tetap kalah. Perasaannya luruh.

***

Tubuh yang sedikit gempal itu bergetar hebat. Isakan tak lagi dapat disembunyikan. Air mata ia tumpahkan banyak-banyak, sebagai refleksi kesedihannya. Kain putih dengan garis sulur merah-biru khas rumah sakit, tertarik ke atas, hingga menutup hidung. Berulang kali, Rahma menyeka cairan yang membanjir menggunakan selimut tersebut.

“Sudah, De, sudah. Kamu yang ikhlas. Jangan meratap ….” Belum selesai Tama berkata, Rahma sudah menyahut ketus.

“Aku tahu!” Rahma mengusap pipinya kasar, menggunakan sisi lain selimut yang masih kering. “Beri aku waktu untuk meluapkan kesedihan, Mas! Please?”

Tama menghela napas. Ia melanjutkan mengusap-usap pundak sang istri. Sudah hampir setengah jam lamanya, Rahma berbaring menyamping, memunggunginya. Sebelah tangannya mencengkram besi pembatas ranjang, sementara tangan yang lain menutup separuh wajah.

***

“Mama …, Azzam kangen!” teriak bocah berusia lima tahun yang sudah lima hari terpisah dari ayah dan ibunya. Tangan mungilnya mendekap erat leher sang Ibu yang sedang berbaring di tempat tidur. “Gimana keadaan adek bayi, Ma? Sudah sehat?” Kepala bocah laki-laki itu ditempelkan di perut, sambil jarinya mengusap-usap sayang, seperti kebiasaannya selama hampir empat bulan ini.

“Mas Azzam main dulu ya, sama Eyang Uti. Mama harus istirahat, biar cepat pulih. Ya, Cah Bagus?” Tama mengelus rambut putranya yang hitam dan tebal. Awalnya sang bocah menolak, tetapi setelah dirayu main odong-odong yang sebentar lagi lewat, dengan berat hati akhirnya ia beranjak.

“Kenapa Allah tak mengabulkan doa kita, Mas?” Rahma mengusap pipinya yang basah. “Kenapa Dia tega mengambil apa yang telah dititipkan? Kenapa, Mas? Kenapa ….”

“Istighfar, De. Ikhlas. Sabar. Nanti pasti kita dititipi lagi. Mungkin, sekarang belum waktunya. Kita disuruh fokus jaga Azzam dulu. Sabar, ya….” Tama meremas jari istrinya lembut.

Sejujurnya, kondisi hatinya tak lebih baik dari Rahma. Ia pun hancur, buah hati yang ia nantikan, gugur sebelum sempat berkembang. Menurut dokter, Rahma sebaiknya memeriksakan diri ke lab, cek apakah mengidap virus TORCH, virus yang sangat berbahaya jika menyerang janin.

***

Beberapa minggu berlalu dari kejadian tersebut, tetapi masih ada saja yang mengucapkan belasungkawa. Luka yang dipaksa mengering, perlahan terkuak kembali. Kali ini, ucapan dari teman semasa sekolah Rahma yang mengatakan bahwa ia masih lebih beruntung dari kakaknya yang sudah tiga kali mengalami abortus, belum sekali pun berhasil menimang buah hati.

Setidaknya, Rahma dan Tama sudah memiliki satu putra yang sehat. Rahma meng-aamiin-kan doa yang diberikan temannya, sekaligus merasa tertampar. Beberapa hari ini, ia sibuk meratapi kehilangan buah hatinya. Padahal, ia masih punya satu buah hati yang tumbuh sehat dan menggemaskan, juga penurut. Sudah hampir seminggu Azzam diacuhkannya. Rahma sibuk meratapi kehilangan calon buah hatinya, tanpa mau bersyukur dan menjaga titipan yang telah ada. Kesedihan telah berhasil menutup akal sehatnya. “Astagfirullahaladzim. Maafkan iman hamba yang sempat melemah Ya Allah. Sunguh Engkau Maha Pengampun, maafkan kekhilafan hamba.”

Rahma sempat berbincang dengan temannya di dunia maya yang pernah terkena virus tokso juga ketika kehamilan pertamanya. Dia ikhlas. Allah sangat menyayanginya, karena jika bayi tersebut lahir dengan tertular tokso, belum tentu ia akan tabah dalam menerimanya. Virus tersebut dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan mental atau kecacatan pada anggota tubuh. Maka, Allah begitu baik, lebih memilih menyimpannya di surga.

Rahma tergugu, menyesali pikiran buruknya beberapa waktu yang lalu pada Allah. Ternyata, Allah tidak sejahat itu. Dirinyalah yang pikirannya sempit, berburuk sangka.

Oleh: Ranti Eka Ranti Kumala.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan