Setiap orang mempunyai lagu favorit untuk didengarkan. Entah karena liriknya yang bagus, menyukai penyanyinya, atau lagu tersebut mewakili perasaannya. Ya kan?

Dengan begitu mereka akan mendengarkan berulang-ulang, bahkan berhari-hari. Rasa suka itu bisa menurun bahkan hilang seiring berjalannya waktu karena manusia mempunyai rasa bosan. Mereka jemu mendengarkan hal yang sama terus-menerus. Namun tidak dengan Al-Quran.

Semua muslim/ah diharuskan membaca Al-Quran sebagai bukti kecintaannya kepada Allah. Dengan membaca atau mendengarkan Al-Quran, serasa sedang bercakap-cakap dengan Allah. Sampai usia senja pun tak akan ada orang yang bilang bosan membaca Al-Quran.

Malahan semakin sering membacanya, kecintaan terhadap Al-Quran akan semakin bertambah. Jika semua lagu ada masanya, tapi Al-Quran tetap abadi sampai akhir masa.

Ada seorang teman yang mengirimkan terjemahan satu ayat Surat Maryam kepadaku. Ini penggalan ayat tersebut:

Dia (Zakaria) berkata, “Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa berdoa kepada-Mu, ya Tuhanku. (Qs. Maryam ayat 4)

Dalam hati aku mengagumi kalam Allah ini. Aku takjub tata bahasa Al-Quran yang begitu bagus. Tidak ada satu pun yang lebih indah dari sastra Al-Quran. Untaian kalimatnya indah dan dari sini aku semakin tahu bahwa Allah itu Maha Romantis dengan kalam-kalam-Nya.

Aku penasaran, ada kisah apa di balik ayat indah tersebut. Kubuka kisah Nabi Zakaria dan aku sisir setiap perjalanan hidupnya. Ternyata, Zakaria saat itu memohon kepada Allah untuk diberi anak. Padahal Zakaria sudah berusia senja, dia dan istrinya telah lemah dan beruban, apalagi istrinya mandul.

Jika dilogika keadaan tersebut mustahil untuk memiliki anak. Dengan kemantapan hati Nabi Zakaria selalu berdoa memohon kepada Allah agar diberi anak untuk melanjutkan perjuangannya menyebarkan agama Allah. Allah Maha Besar dan Pengabul Doa. Dengan kuasa-Nya, dianugerahilah mereka anak bernama Yahya.

Lalu kenapa kisah Nabi Zakaria ini termaktub dalam Surat Maryam?

Aku baru tahu, ternyata Maryam adalah anak gadis seorang janda Imran yang diasuh oleh Zakaria.

Rasanya aku ingin kembali ke masa kecilku, di mana kisah-kisah Nabi masih sering digemakan bahkan menjadi santapan setiap sore menunggu senja di TPQ. Tapi dongeng tetap menjadi dongeng lalu terlupakan.

Padahal seharusnya aku menyesapnya seperti kopi yang bisa kunikmati setiap seduhannya, lalu kurasakan hebatnya perjalanan hidup orang-orang sebelumku.

Sekitar beberapa hari lalu, aku membaca terjemahan surat Ali-Imran ayat 33. Tiba-tiba penasaran dengan ayat ini:

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (pada masa masing-masing).

Setiap ayat yang turun mempunyai asbabun nuzulnya. Dan setiap nama yang diabadikan di Al-Quran tentu mempunyai kisah penting di dalamnya. Siapa sebenarnya Ali-Imran ini? Kenapa namanya bersandingkan dengan nama Nabi?

Setelah menelusuri jejak hidup Ali Imran, akhirnya aku tahu kalau Imran itu masih ada hubungan darah dengan Maryam. Baru aku sadar, pantas saja ibunya Maryam disebut janda Imran. Karena saat melahirkan Maryam, Ali Imran telah meninggal.

Jadi awal mulanya itu seperti ini:

Ali Imran dan istrinya tak kunjung memiliki anak setelah beberapa lama pernikahannya. Mereka merasa sepi karena di rumahnya belum terdengar suara bayi menangis yang terlahir dari kandungan sang istri.

Hingga mereka rela untuk mengorbankan apa saja untuk mempunyai anak. Usaha dan doa tak pernah lelah mereka panjatkan kepada Allah yang menuliskan takdir manusia.

Saat berdoa, mereka memohon untuk diberikan seorang anak. Jika anak itu laki-laki, direlakannya anak tersebut untuk diserahkan ke Rumah Suci Baitul Maqdis, sebagai abdi Allah dan pengawal Rumah Suci itu.

Tidak lama kemudian, istri Ali Imran merasakan ada yang bergerak di rahimnya dan ternyata istrinya hamil. Mereka menyambut kehadiran janin tersebut dengan suka cita. Namun, malang tak dapat ditentang. Sebelum janin itu lahir, Ali Imran sudah dipanggil Allah untuk berpulang. Jadilah istri Ali Imran hidup bersama janin tersebut.

Setelah lahir, anak mereka berjenis kelamin perempuan, bukan laki-laki seperti yang mereka harapkan. Meski begitu, anak mereka tetap diserahkan ke Baitul Maqdis. Itulah mengapa dinamakan Maryam yang mempunyai arti pelayan Tuhan.

Setelah diserahkan, banyak orang berebut untuk mengasuh bayi Maryam, begitu juga dengan Nabi Zakaria. Agar adil, mereka membuat undian. Pena siapa yang bisa mengapung di air, maka dialah yang berhak mengasuh bayi Maryam. Atas kehendak Allah, pena Nabi Zakaria lah yang mengapung. Hak mengasuh jatuh di tangan beliau.

Selama berada dalam asuhan Zakaria, Maryam tinggal di salah sebuah bilik, yang besar di tingkat atas dalam Rumah Suci itu, sedang di bawah bilik itu adalah Mihrab Nabi Zakaria sendiri—ialah tempat di mana Nabi Zakaria setiap waktu beribadah dan mengajar agama kepada setiap orang yang datang belajar.

Tidak ada satu pun orang yang pernah datang ke mihrab Maryam untuk menemuinya, kecuali Zakaria.

Dari situlah ada kejadian aneh. Zakaria sering mendapati makanan di mihrab Maryam dengan menu yang bergantian setiap harinya. Kisah ini tertulis dalam Al-Quran surah Ali Imran ayat 37:

Maka Dia (Allah) menerimanya dengan penerimaan yang baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik, dan menyerahkan pemeliharaannya kepada Zakaria.

Setiap kali Zakaria masuk menemuinya di mihrab (kamar khusus ibadah), dia dapati makanan di sisinya. Dia berkata, Wahai Maryam! Dari mana ini engkau peroleh? 

Dia (Maryam) menjawab, Itu dari Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.

Maryam adalah satu-satunya wanita yang suci di muka bumi ini. Dialah wanita yang dijaga oleh Allah dan tidak pernah ada laki-laki yang pernah menyentuhnya.

Setelah mengikuti kisah perjalanan mereka, aku takjub dengan orang-orang terdahulu yang begitu yakinnya kepada Allah. Kecintaan mereka kepada Allah begitu besar. Begitu juga, Allah memperlihatkan kuasa-Nya untuk hamba-hamba yang selalu bersungguh-sungguh dalam berdoa.

Sampai tulisan ini dibuat, kekagumanku pada surat Maryam ayat 4 itu belum juga pudar, bahkan tak akan memudar. Kalimat itu begitu indah dan membuatku yakin bahwa setiap doa selalu dikabulkan oleh Allah Swt. Entah persis dengan apa yang kita minta atau dengan hal lain yang lebih baik. Insyaallah.

Oleh: Anik Cahyanik.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: