jangan berikan cinta sebelum akad

Jangan Berikan Cinta Sebelum Sah Diakadkan

Jatuh cinta itu fitrah dan sudah tentu menjadi kodrat manusia untuk memiliki rasa yang satu ini. Rasa yang hanya Allah berikan pada makhluk-Nya yang paling sempurna, yaitu manusia. Namun, adakalanya rasa cinta itu juga berakhir dengan rasa kecewa dan juga luka. Luka yang mungkin akan membuat kita trauma untuk merasakan kedua kalinya. Itulah yang pernah aku alami, kecewa dan dikecewakan.

***

Aku Liana, gadis biasa yang baru menginjak usia 23 tahun. Jujur, aku adalah tipikal perempuan yang sulit untuk bisa memberikan rasa pada seorang laki-laki. Namun, sekali aku sudah menaruh hati, aku akan dengan setia menjaganya. Aku tidak bisa jika harus menduakan atau bahkan mengecewakan cintanya. Entah, karena kepolosanku atau memang aku bodoh tentang hal yang satu ini. Mungkin, karena kepolosanku pula, aku sering kali sakit hati dan kecewa dibuatnya.

Aku bukan seorang perempuan yang dengan lantang mengungkapkan rasa pada lelaki yang kukagumi. Mungkin lebih tepatnya, lebih sering menyimpan rasa suka dengan diam-diam rasa itu tumbuh merekah semakin harinya.

Aku masih ingat kisah cintaku setahun lalu. Jatuh cinta pada dia yang jauh di sana. Jatuh cinta pada seseorang yang sama sekali aku pun tak pernah mengenalnya. Mungkin bagi sebagian orang itu tak masuk akal. Namun, itulah kuasa Allah yang mampu menyatukan dua hati yang jauh, meski terbentang luasnya samudra.

Ya, aku jatuh cinta seorang laki-laki itu. Laki-laki yang mampu membuka hati dan pikiraku akan kebesaran Allah. Aku mencintainya karena agamanya. Jatuh cinta karena baik perangainya. Jatuh cinta pada dia yang selalu menetramkan hatiku dengan kata-kata indahnya. Kata-kata yang mampu menjadikanku semakin dekat dengan Sang Pencipta. Jatuh cinta karena dia terlihat berbeda dari laki-laki pada umumnya. Entahlah, apa itu namanya.

Mungkinkah hanya sebatas rasa kagum? Atau rasa bangga? Bangga karena bisa mengenal sosok lelaki hebat seperti dirinya. Jika itu hanya sebatas rasa kagum, menurutku tidak.

“Aku pernah kagum dengan seseorang, tapi tidak seperti ini rasanya.” Mungkin jika rasa ini muncul dari rasa kagum, aku tak akan bisa mengelaknya. Rasa kagum yang kini mungkin sudah berubah menjadi cinta. Ya, aku mulai jatuh cinta setelah sekian lama memendam rasa itu. Memendam rasa, karena aku takut kecewa dan patah hati.

Sungguh bagiku, dia adalah lelaki yang Allah pilihkan untukku. Seakan Allah sudah mengatur skenario terbaiknya. Semua harapan itu mulai tumbuh satu per satu seiring dengan semakin tumbuh rasa cintaku padanya. Bahkan terbesit harapan agar dia menjadi imam bagi keluarga kecilku kelak. Sering kali aku meminta dalam seperti malam dengan menyebut namanya dalam untaian doa. Entah kenapa rasanya aku mulai tergila-gila dan lupa diri.

Seakan duniaku mulai penuh warna. Mulai terangkai cerita satu per satu bersamanya. Aku merasakannya, mraskan indahnya cinta yang sesungguhnya untuk pertama kalinya.

Aku masih ingat saat itu. Saat ketika dia akan datang ke pulau Jawa, lebih tepatnya ke Surabaya. Dengan gigihnya aku memberanikan diri untuk menemuinya. Mungkin lebih tepatnya dia ke Surabaya karena harus menjadi narasumber di sebuah acara seminar ya … Dan aku hanya sebagai audiens saja. Entah kenapa aku dengan lantang meyakinkan hatiku, “Mungkin Allah takdirkan kami untuk bertemu, di acara itu.”

Benar memang, dia adalah laki-laki yang sempurna menurutku. Laki-laki yang bisa membawaku bangkit dari kegagalan dan rasa sakit itu. Laki-laki yang dengan lantang mengatakan, “Kamu adalah makhluk Allah yang paling sempurna. Maka jangan kecewakan Allah karena kamu menjadi makhluk yang tak berguna.”

Ah, rasanya aku makin berbunga-bunga dibuatnya.

Pandanganku seakan tak ingin menjauh darinya. Perhatikanku seakan hanya terfokus padanya. Kuikuti setiap gerak-geriknya yang tepat berada di depanku sana dengan hati yang berbunga-bunga. Serasa setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya adalah motivasi yang langsung membuatku terpana. Ah, bagaimana aku tak semakin cinta jika sudah seperti ini, batinku.

Lagi-lagi aku menjadi diriku yang baru. Yang mulai berani keluar dari zona nyaman. Yang mulai berani mengenal dunia dengan beragam cerita di dalamnya. Yang mulai yakin dengan semua mimpi-mimpiku dulu. Dan dia berhasil membuatku tak mampu menenangkan hatiku yang makin tak karuan. Perasaanku serasa makin girang tiap harinya. Seakan ada sebuah energi baru yang datang dari dia, lelaki yang aku kagumi hingga saat ini. Lelaki sederhana yang bisa menjadikan diriku yang luar biasa.

Aku tersentuh cinta untuk pertama kalinya.

Bahkan sebelum keberangkatanku ke Surabaya, aku meminta pada Allah. “Ya Allah, jika dia memang jodohku izinkanlah kami saling bertegur sapa. Atau mungkin aku bisa foto berdua dengannya. Namun, jika memang dia bukan jodohku, maka jauhkanlah ya Allah.”

Ya apalah daya, namanya juga sedang jatuh cinta. Ya, pasti apa-apa sudah tentang dirinya.

Lagi-lagi Allah memberiku kejutan yang sungguh membuatku yakin jika dia adalah jodohku. Seakan Allah merestuiku untuk bertemu dengannya. Semua doaku itu Allah kabulkan satu persatu. Bukan hanya bertegur sapa. Aku pun bisa menatapnya langsung karena kami sempat satu meja bersama. Dia tersenyum padaku, begitupun sebaliknya. Kami bertegur sapa, bahkan bisa foto berdua. Ah, rasa bahagia itu seakan tak mampu kuungkapkan dengan kata-kata. Bahkan sempat beberapa kali kami saling mengisi hari dengan saling ngobrol ringan di media sosial.

Semenjak pertemuan singkat itu dan beberapa kali saling ngobrol di media sosial. Aku ikhlaskan separuh hatiku untuk menjadi miliknya. Menjaganya agar tak ada lagi cinta-cinta lain yang bisa merebutnya.

Entahlah, seakan diriku menjadi perempuan bodoh hanya karena cinta. Aku sadar, jika diriku terlalu naif. Terlalu naif dengan harapan untuk bisa memiliki cintanya. Aku lupa, jika dia juga memiliki dunianya sendiri. Dunia yang aku pun tak pernah mengetahuinya. Dunianya yang mungkin saja berbeda dengan duniaku di sini. 

***

Hingga kabar yang aku khawatirkan selama ini benar-benar terjadi. Kabar buruk yang langsung meremuk-redamkan semua harapanku tentangnya. Kabar yang mengatakan jika dia sudah memiliki kekasih. Kabar jika dalam hitungan hari, dia akan melangsungkan pernikahan. Entah apa yang aku pikirkan saat itu.

Dengan bodoh dan mudahnya kuberikan cinta padanya. Kecewa, marah, dan patah hati terulang kembali. Rasanya aku tak terima dengan takdir Allah yang mempermainkan perasaanku sedemikian rupa. Rasanya Allah itu terlalu kejam padaku. Bagaimana mungkin dia memberikan rasa cinta jika pada akhirnya harus kandas dan membuatku terluka.

Awalnya memang aku tak bisa menerimanya, rasa itu masih jelas rasa sakitnya. Aku makin meragukan hal yang bernama cinta. Makin tak percaya, jika cinta itu memang benar-benar ada. Kenapa harus ada cinta, jika pada akhirnya tersakiti dan terkhianati.

Seakan Allah memberiku teguran nyata. Jika saja aku tahu jika ‘Allah ingin menyadarkanku. Jika saja aku tahu Allah sedang cemburu padanya.’ Bagaimana mungkin aku lebih mencintai makhluk-Nya, ketimbang pada Dia yang Maha memiliki Cinta.  Bagaimana mungkin aku menduakan Dia yang mampu mencintai ketidaksempurnaanku dengan sempurna. Bagaimana mungkin aku bisa berpaling darinya. Sungguh, bodohnya aku, gerutuku dalam hati

Salah satu ustad pernah berkata, “Jangan dulu berikan hati kita sebelum diakadkan. Karena akad adalah baiat cinta. Kalau hatinya baik yang lain ikut baik, kalau hatinya buruk yang lain ikut buruk.

Jangan berikan hati kita kepada dia yang belum halal untuk kita. Kalau dia sudah halal kasih seutuhnya. Karena dialah yag paling berhak mendapatkan hati kita. Makanya dalam diam nggak usah baper dulu. Tertarik wajar, selama belum berlebihan.” 

Ya, aku akui jika diriku terlalu baper menerima perasaan yang bisa jadi dibenci Allah. Aku terlalu mengikuti hawa nafsu dan tipu daya setan. Aku sadar semua terjadi atas izin dari-Nya untuk menjadi pembelajaran bagiku. Sungguh Allah itu Maha Baik. Allah tak ingin jika aku jatuh dalam kumbangan maksiat. Jika saja aku paham akan hal, jika cinta-Nya lebih besar dari cinta umatnya.

***

Bayangan akan rasa bersalah masih ada hingga saat ini. Bagaimana mungkin aku menyukai seseorang yang akan menikah. Bagaimana mungkin aku berani memberikan separuh hatiku pada seseorang yang jelas-jelas sudah memiliki separuh jiwanya. Bagaimana mungkin aku menyakiti hati perempuan lain hanya karena keegoisan. Biarlah, kan kujaga rasa cintaku dalam diam dan doa terbaik untuknya di sana.

Oleh: Indah Astuti W.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan