Ada kisah fiksi inspiratif tentang cara pandang seseorang terhadap rezeki. Satu keluarga kaya hampir setiap hari memakan buah segar. Buah mangga menjadi salah satu buah kesukaan mereka. Hanya mangga kualitas terbaik. Salah seorang anak dari keluarga kaya itu sering makan mangga di teras rumahnya. Tentu saja tetangganya hanya bisa melihat saja. Sampai anak tetangganya yang miskin bertanya kepada bapaknya, “Bapak, kapan kita bisa makan mangga seenak itu?”

“Kita tidak punya banyak uang untuk makan mangga seenak itu, nak.” Jawab si bapak sembari memeluk anaknya.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan tahun pun telah berganti tahun. Apa yang terjadi sungguh diluar dugaan orang-orang. Keluarga yang kaya raya itu bangkrut. Bisnis mereka gulung tikar tersebab krisis ekonomi yang melanda negeri. Mereka hidup pas-pasan seperti para tetangganya. Untuk bertahan hidup, sebagian halaman rumah di bagian depan, dibangun kios kecil untuk berjualan sembako, pulsa, dan bensin.

Namun anehnya, pada saat kondisi ekonomi yang memburuk, tetangga yang miskin itu justru meraup banyak keuntungan. Kabar itu pun sampai di telinga si mantan pengusaha kaya itu. Sebab sering terlihat juga mobil yang mengangkut barang dari halaman rumah si keluarga miskin itu.

“Apa yang kalian jual itu?” tanya mantan pengusaha itu.

Si miskin pun menyambut kedatangan tetangganya yang dulu kaya itu dengan senyuman. “Mari pak, mari …” ajak si miskin, “mari kami tunjukkan kebun kami di belakang rumah ini.”

Dengan penuh rasa penasaran, si mantan pengusaha itu melangkah ke belakang rumah si miskin. Betapa terkejutnya ia begitu melihat kebun milik si miskin itu penuh dengan pohon mangga!

“Luar biasa sekali,” katanya, “saya baru tahu kalau selama ini bapak punya kebun mangga di sini.”

“Iya pak. Silakan mencicipi buah mangga ini pak,” si miskin menawarkan mangga yang baru saja dipanennya.

“Astaga …” si mantan orang kaya itu tertegun, “rasanya aku tidak asing dengan mangga ini.”  

Si orang miskin pun tersenyum, “Benar pak, ini adalah mangga kesukaan keluarga bapak.”

Orang yang dulunya kaya itu pun tak henti-hentinya menggelengkan kepalanya. Terasa tak percaya. Kini pada saat susah, ia dan keluarganya mendapatkan hadiah mangga dari tetangga yang miskin itu.

“Bagaimana bisa?” tanya si mantan pengusaha itu penasaran.

Si miskin pun bercerita, pada saat anaknya ingin memakan buah mangga yang enak itu, mereka tidak memiliki uang untuk membelinya. Akhirnya ia putuskan untuk mengais biji mangga yang sudah dibuang ke tempat sampah. Setiap hari ia mengais biji mangga itu, lalu ditanamnya di belakang rumah. Dengan menanam biji mangga-mangga itu, setidaknya bisa menyenangkan hati anaknya.

“Kita tanam biji mangga ini ya,” kata si bapak miskin itu kepada anaknya, “nanti kalau pohon mangganya sudah besar dan berbuah, kita bisa memakan buahnya.”

Dan benar saja, kini biji mangga itu telah tumbuh menjadi pohon-pohon mangga yang rindang dan buahnya lebat sekali. Pada saat keluarga yang dulu kaya itu sudah tidak bisa lagi membeli dan memakan mangga itu, kini giliran keluarga si miskin yang memakannya.

“Bapak juga bisa menanam pohon mangga ini di halaman depan rumah bapak,” saran si miskin.

Sangking terharunya, si mantan pengusaha ini pun memeluk orang miskin itu sembari berkata, “Terima kasih pak. Dalam kondisi kami yang terpuruk ini, kami masih bisa makan buah mangga kesukaan kami. Saya banyak belajar dari bapak.”

***

Itulah rezeki. Rezeki tidak melulu soal uang. Rezeki tidak hanya dipahami dari seberapa banyak barang yang bisa kita beli. Rezeki haruslah kita pahami dalam pengertian yang lebih luas. Yakni kita mulai dari mengenal lafadz ar-rizq yang berasal dari bahasa Arab razaqa-yarzuqu-rizq yang artinya a’tha-yu’thil’tha’ atau pemberian. Maka ar-rizq berarti pemberian.

Sesuai arti ar-rizq tersebut, kita bisa memaknai rezeki sebagai semua pemberian Allah swt kepada semua makhluk yang ada di dunia ini. Tidak hanya pemberian kepada kita—sebagai manusia, tetapi juga kepada tumbuhan maupun binatang. Tujuannya jelas, bahwa rezeki itu diberikan untuk memelihara kehidupan kita. Seperti tanah, air, udara, sinar matahari, kekayaan alam dan bahkan semua yang menempel di tubuh kita adalah rezeki.

Jadi setiap bangun tidur, kita merasa sangat bahagia dan hati kita lega sebab Allah swt telah mencukupi kebutuhan kita. Air bisa menyegarkan badan kita dan bisa kita minum. Sinar matahari mampu menghangatkan tubuh kita, dan sinarnya membantu pertumbuhan tanaman. Semua keperluan kita sudah Allah berikan kepada kita setiap hari, tinggal bagaimana cara kita memanfaatkannya? Sebagaimana cerita tersebut, bila tidak mampu membeli buah mangga, maka kita bisa menanam bijinya.

***

“Dan Dia telah memberikan kepadamu keperluan dan segala yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah kamu dapat menghitungnya.” (Qs. Ibrahim [14]: 34)

Oleh: Dwi Suwiknyo.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: