Hari Senin tiba, beberapa orang sudah siap untuk mewujudkan mimpinya, tapi enggak sedikit juga yang masih terjebak oleh masa lalu yang kelam. Kalau aku memilih untuk menyambut dunia baruku dan meninggalkan masa lalu tetap berada di belakang sana.

Kemarin aku ditemani Merlin—sahabatku—mencari jilbab. Ya, meskipun kami berbeda keyakinan, dia mendukung dengan keputusanku untuk menutupi mahkota terindahku. Awalnya dia khawatir, jika aku semakin mendalami ilmu agama yang kuanut, aku akan meninggalkan, bahkan enggak mau berteman dengannya.

Kami sahabatan sudah dari kelas dua SD, sejak masih main masak-masakan. Sekarang sudah kelas dua SMA saja, tapi malah akunya enggak bisa masak beneran. Bisa sih, tapi untuk kelas menggoreng, dan merebus mi instan.

“Mer, kok aku deg-degan, ya?” Aku memindahkan ponsel ke telinga kiri. Tangan kananku mencoba mengecek isi dalam tas, barangkali ada buku yang tertinggal.

“Ya wajarlah, penampilan baru. Aku juga enggak sabar melihat kamu pakai seragam sekolah dengan berjilbab, Lu.”

Aku menarik napas, lalu mengembuskannya pelan. “Tapi—”

“Lu, mau berangkat jam berapa? Nanti ketinggalan bus, lho,” teriak Ibu dari luar.

“Udah dulu, ya. Jumpa di sekolahan, daaa.” Aku menutup pembicaraan, lalu meletakkan ponsel di lemari televisi.

“Masyaa Allah, cantiknya anak Ibu,” ucap Ibu begitu aku keluar rumah. Aku mendekatinya bermaksud untuk berpamitan. “Kalau dari kemarin-kemarin begini kan, Ibu jadi lebih tenang.”

“Hee,” aku menyelempangkan helai jilbab ke bahu kiri, “maafkan Lulu ya, Bu, sambil doakan Lulu supaya bisa istiqamah dengan jilbab ini.”

Ibu mengaminkan. Aku mencium kedua pipinya lalu punggung tangannya, berpamitan.

***

Selain hari Senin, hari ini merupakan hari pertamaku ke sekolah dengan memakai jilbab. Ya meskipun bukan anak satu-satunya yang memakai jilbab, sih. Beberapa teman juga sudah lebih dulu memakai jilbab, bahkan ada yang sejak masuk SMA. Aku benar-benar salut sama mereka.

Ketika aku menunggu bus, tiba-tiba ingatanku membuka memori saat pertama kali aku berjumpa dengan Habil. Apa kabar ya, dia? Kini seakan aroma cokelat yang menyegarkan kembali terhirup.

Bis ke arah sekolahku sudah sampai. Aku pun naik, kali ini enggak ada kursi kosong di sisi jendela. Tak apalah, aku tetap memilih barisan paling depan. Beberapa murid SMK Nusa Bangsa yang ada di dalam bus, tampak terkejut ketika melihatku. Mereka juga enggak sungkan memberiku selamat dan pujian, aku membalas seperlunya.

Jujur, aku malu banget. Apalagi nanti di sekolah, ya? Perubahan drastisku ini akan menyita perhatian beberapa hari kedepan, sebelum semuanya akan berjalan seperti biasa kembali karena sudah terbiasa.

***

Sudah hampir sampai sekolahan. Jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Anak-anak terlihat sudah bersiap untuk turun dengan mencangklong kembali tas mereka. Bus pun berhenti tepat di depan gerbang. Senyumku mengembang begitu ada Merlin berdiri di luar sana. Aku melambaikan tangan kepadanya.

“Ya ampun, kamu cantik banget, Lu,” puji Merlin begitu aku turun dan mendekat ke arahnya.

“Sudah ah, biasa aja bisa enggak?” bisikku dengan tekanan.

Merlin justru berkacak pinggang, lalu menggeleng. “Memang salah ya kalau memuji sahabatnya sendiri.”

Aku justru menarik pergelangan tangan Merlin, mengajaknya untuk masuk. Benar dugaanku, beberapa pasang mata menatapku. Aku hanya bisa tersenyum kikuk melihat semuanya. Terlebih Merlin yang ada di samping melambai-lambaikan tangan, bak miss world di atas panggung.

Bener-bener deh teman satu ini.

“Mer! Merlin!”

Kami berhenti. Aku mengenali suara ini. Kami menoleh, ada Dwi sedang berlari kecil mengarah ke kami. Tahan, Lu, tahan, kendalikan dirimu.

“Kamu lihat …” kalimatnya terhenti begitu melihatku, “Lulu! Ini beneran Lulu, kan?” Dwi kembali menatap Merlin, memastikan.

“Iya, ini aku Lulu,” ujarku sedikit kesal. Masa iya dia enggak mengenaliku.

“Kamu cantik banget, Lu.”

Merlin menutup mulutnya, aku yakin Merlin merasakan apa yang aku rasakan—enggak nyangka.

“Oh, iya, ada apa, Dwi?” tanyaku memecah perasaan canggung di antara kami.

Dia menggaruk kepalanya. “Petugas pembawa acara untuk upacara enggak masuk, kamu gantiin, ya?”

“Aku?” tanyaku ulang saking groginya mendengar hal itu. “Yang benar saja, udah Merlin aja, ya.” Aku menatap dengan memohon kepada Merlin.

“Yee, aku kan bukan anggota OSIS, ogah la yaw, bye-bye ….” Cewek berambut panjang itu malah melenggang, menjauh dari kami.

Dasar Merlin. Huh, mau enggak mau, aku pun menuju ruang OSIS untuk mengambil map berisikan susunan upacara.

“Mau ke mana? Mapnya sudah ada di lapangan, dekat sound system,” ucap Dwi membuatku putar haluan.

***

Aku menuju lapangan dengan perasaan yang sulit untuk kuutarakan. Terlihat ekspresi orang-orang memandangku dengan berbeda, enggak seperti biasanya. Ya, aku menyadari perubahanku pasti akan menarik perhatian. Tapi sungguh, ini sedikit membuatku enggak nyaman. Bukan jilbab yang kukenakan, tapi mereka.

“Itu Lulu?”

“Masa sih itu Lulu?”

“Anak baru, ya?”

Bunyi bel berhasil menghentikan riuh di lapangan. Setiap ketua kelas sudah mulai merapikan barisan anggotanya. Ada Dwi di barisan paling kanan bersiap sebagai pemimpin upacara. Para guru juga sudah berbaris di depan lapangan.

Aku menyalakan mikrofon. “Upacara Bendera, Senin 3 Desember 2018 siap dimulai.”

***

“Kamu kayak bidadari di depan tadi.”

“Halah, enggak usah gaje, deh.”

Untung yang muji itu si Merlin, kalau cowok mungkin aku sudah melayang.

“Ya sudahlah kalau enggak percaya.”

“Eh, aku mau ke toilet bentar, ya,” ucapku sambil menahan bahu Merlin.

“Mau ditemani enggak?”

 “Enggak usah … emang kamu. Duluan aja, nanti aku nyusul,” ucapku langsung meninggalkan Merlin.

Hari pertama berjilbab di sekolah ternyata enggak seburuk yang kubayangkan. Orang-orang kaget karena perubahanku yang terbilang mendadak juga, aku memakluminya. Aku ke kamar mandi untuk membenarkan peniti jilbab yang terasa kurang nyaman. Perlahan aku memasang peniti di bawah rahang.

Ceklek!

Pintu terbuka, sontak aku kaget dan sedikit membuat ujung peniti mengenai kulitku. “Aww!”

“Ya ampun! Maaf-maaf.” Seseorang langsung mengecek keadaanku.

Ternyata dia Mbak Bandiah, biasa disapa Diah. Dia salah satu kakak kelas favoritku, karena aku salut sama komitmen dia mengenakan jilbab. Dengar dari teman-teman sih keluarganya memang dikenal taat. Terlihat juga jilbab yang dikenakannya lebar sampai menutup dada, enggak seperti yang lainnya, enggak seperti aku.

“Enggak apa-apa kok, Mbak.”

“Kamu Lulu, ya? Yang tadi mandu upacara?”

Aku tersenyum mengangguk. Kemudian keluar dan menunggu Mbak Diah menyelesaikan urusannya di kamar mandi. Aku masih merasakan nyeri di bagian ujung bawah rahangku. Pintu terbuka, Mbak Diah keluar lalu memegang kedua tanganku, menuntun untuk duduk di kursi panjang enggak jauh dari sana.

“Masyaa Allah, kamu hebat, Dik.”

Dahiku berkerut. Hebat apanya?

“Kamu berhasil kembali pada perintah-Nya, di tengah zaman seperti sekarang, di mana banyak pakaian hits katanya, dengan bahan yang sangat minim. Kamu memilih menutup auratmu.”

Mata teduh Mbak Diah benar-benar enak dilihat, suara yang lembut juga enak didengar. Enggak salah memang kalau aku sejak masuk sekolah ini suka memperhatikannya dari kejauhan. Ada rasa mau menyapa duluan, tapi malu.

Ternyata karena jilbab ini bisa menjadi jembatan antara aku dan Mbak Diah. Apa ini juga kelak akan menjadi jembatan aku dan ….

“Eh, sudah dulu ya, Dik. Mbak harus ke ruang guru soalnya, kapan-kapan kita ngobrol, ya. Assalamu’alaikum.” Mbak Diah mengusap punggung tanganku sebelum dia berdiri.

Aku tersenyum lalu menjawab salam darinya.

***

“Lulu! Sini, buruan!” Merlin melambai-lambaikan tangannya ke arahku yang masih cukup jauh dari kelas.

Ya ampun, anak itu. Ternyata dia clingak-clinguk di depan kelas dari tadi mencari aku. Ada apa, sih? Aku sedikit mempercepat langkah.

“Ada apa?” tanyaku begitu sampai di depannya.

“Itu, coba cek di kolong mejamu.” Merlin menunjuk di mana mejaku berada.

Aku memasuki kelas dengan rasa penasaran yang tinggi. Aku duduk dan mengambil sesuatu yang ada di sana. Lolipop?

Merlin mendekat ke arahku.

“Dari siapa?” Aku mengangkat permen bertangkai itu.

“Ya, mana kutahu. Coba deh cek lagi di kolong.”

Aku membungkuk, supaya bisa melihat seisi ruangan persegi itu. Ada selembar kertas. Aku segera meraihnya, kemudian membaca dalam hati tulisan pada kertas itu.

Makasih ya, kamu tadi sudah mau bantu jadi pemandu upacara.

Itu untukmu. Lolipop yang menggambarkan kamu sekarang.

Manis, dan tertutup.

Aku melipat kertas itu sejenak. Kenapa jadi gini ….

Bukanya di rumah aja ya. Biar permennya enggak malu.

Dwi.

Ya Allah, aku tersenyum membaca kalimat ini. Si Merlin pun berusaha mau tahu dengan mencoba menarik kertas yang kupegang. Alhasil kertas putih itu sudah pindah tangan. Aku menenggelamkan wajahku di tangan.

“Oh, so sweet,” komentar Merlin.

“Enggak usah dilebih-lebihkan, cuma ucapan terima kasih itu.”

Ya, meskipun ada sesuatu yang beda di hatiku saat ini. Tapi aku enggak mau terlalu jauh meladeni perasaan yang belum pasti. “Kamu mau?” Aku menyodorkan lolipop ke arahnya.

Merlin mengangguk.

Oleh: Nurwa R.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: