Jangan Khawatir, Rezeki Itu Lebih Tahu “Alamat” Tuannya

Pengalaman saya kali ini mungkin juga pernah dialami oleh siapa pun yang tinggal di lingkungan masyarakat. Ketika tetangga punya hajat ataupun acara tasyakuran kita sering mendapat undangan untuk hadir.

Misalnya, saja hajat pernikahan, tasyakuran naik haji, tasyakuran kelahiran anak dan yang lainnya. Kita diundang untuk memberikan doa, di sana masyarakat berkumpul dan berdoa bersama-sama.

Pada suatu hari saya mendapatkan undangan tasyakuran dari salah seorang tetangga. Akan tetapi saya berhalangan hadir karena pada waktu yang bersamaan ada acara penting dan tidak bisa ditinggalkan. Akhirnya saya melewatkan tasyakuran tersebut dan melakukan acara saya sendiri.

Ketika pulang ke rumah, saya menemukan sebungkus makanan di atas meja. Ternyata makanan itu dari acara tasyakuran yang saya lewatkan. Walaupun tidak bisa hadir tetangga saya tetap mengantarkan makanan ke rumah.

Dari kejadian itu menunjukkan bahwa jika sesuatu sudah menjadi rezeki kita maka ia akan datang dengan sedirinya.

Rezeki itu tidak akan tertukar antara orang satu dengan yang lain. Ia juga datang di waktu yang tepat tidak akan terlewat ataupun berkurang. Semua sudah diatur oleh Allah. Dan segala sesuatu yang terjadi tidak ada yang kebetulan melainkan Allah sudah mengaturnya.

Begitulah rezeki. Ia akan tahu siapa dan di mana pemiliknya. Kita terkadang tidak menyadari kedatangannya sehingga kurang bersyukur. Menganggap yang terjadi adalah kebetulan.

Seperti saat musim rambutan ketika saya sedang di rumah tiba-tiba ingin makan rambutan. Kemudian tak lama ada tetangga datang memberikan buah rambutan yang baru saja ia panen. Dalam hati saya berkata kebetulan sekali. Padahal kejadian tersebut sesungguhnya sudah diatur oleh Allah dan buah rambutan itu memang rezeki saya.

Sejak kita lahir Allah sudah menetapkan rezeki kita. Yang perlu kita lakukan adalah berikhtiar dan berdoa. Terkadang kita sudah bekerja keras, berikhtiar dan berdoa tapi rezeki yang kita harapkan tidak kunjung datang.

Tapi yakinlah jika memang apa yang kita harapkan tersebut adalah rezeki kita. Rezeki itu pasti akan datang. Bukan sekarang, karena mungkin waktunya yang belum tepat. Dan Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk kita.

Rezeki yang ditakdirkan untuk kita belum tentu semuanya halal. Di dalamnya ada rezeki yang halal dan ada juga rezeki yang haram. Itulah yang menjadi cobaan untuk kita.

Apakah kita mampu mengendalikan hawa nafsu dan godaan setan agar tidak mengkonsumsi rezeki yang haram tersebut. Seperti firman Allah dalam Al-Qur’an surah Al Baqarah ayat 57, yang artinya:

“Dan Kami perintahkan, ‘Makanlah rezeki yang baik yang Kami anugrahkan kepadamu.’” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 57)

Allah sudah memerintahkan makan rezeki yang baik dan halal. Namun terkadang manusia masih saja memakan rezeki yang haram karena terpengaruh oleh godaan setan.

Di mana pun dan kapan pun kita berada setan selalu berbisik pada kita untuk melakukan hal yang dilarang termasuk makan rezeki yang haram. Setan terus mengganggu manusia bahkan menakut-nakutinya. Dan itulah tugas setan, seperti yang tercantum dalam firman Allah berikut ini:

“Itu hanyalah cara setan menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang musyrik Quraisy). Janganlah takut kepada mereka tetapi takutlah kepada-Ku.” (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 175).

Dalam ayat yang lain Allah menegaskan tentang rezeki yang merupakan janji Allah kepada makhluknya. Oleh karenanya, kita tidak perlu merasa takut tidak mendapatkan rezeki atau takut rezeki kita diambil orang.

Karena yang mampu mendatangkan rezeki dan yang mampu menghilangkan hanya Allah, seperti dalam firmannya:

“Aku sendiri tidak mampu mendatangkan kemudharatan dan kemanfaatan untuk diriku sendiri, kecuali atas izin Allah.” (Q.S. Yunus [10]: 49).

Dengan demikian kita tidak perlu menyalahkan orang lain atau berburuk sangka jika rezeki kita belum seperti yang diharapkan. Juga jangan sampai merasa sombong apabila mendapatkan rezeki yang berlimpah.

Sesungguhnya apa yang disebut rezeki bukanlah soal materi saja. Kesehatan, kemudahan, akal, pikiranan juga merupakan rezeki. Karena dengan kesehatan, akal dan pikiran kita mampu bekerja untuk mencapai apa yang diimpikan.

Kita sebagai manusia harus senantiasa bersyukur dan menjaga atas rezeki yang diberikan Allah Swt.

Oleh: Rindang Nuri.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan