Bagi seorang muslim dan muslimah sejati, nggak zaman lagi pacaran. Yang lagi ngetrend itu, kalau kamu sudah siap menikah tapi belum ada calon, langkah yang bisa ditempuh adalah ta’aruf. Tujuan akhirnya lebih jelas, sekaligus lebih ‘aman’ dari risiko patah hati. Karena ta’aruf tidak menuntut kamu untuk menyukai atau jatuh cinta terlebih dahulu.

Ta’aruf merupakan proses perkenalan laki-laki dan perempuan yang relatif berlangsung cepat. Bila ta’aruf berhasil, pernikahan harus segera direncanakan. Namun dalam proses ta’aruf, berbeda sekali dengan pacaran. Ada batas-batas, aturan yang harus kamu taati dan tidak boleh dilanggar. Bila batas-batas tersebut kamu langgar, dapat memberikan dampak negatif terhadap proses ta’aruf maupun terhadap rencana pernikahan yang awalnya mulia. Berikut ini tujuh hal yang tidak boleh kamu lakukan ketika ta’aruf:

Berdua-duaan dan terlalu intens berkomunikasi

Sebagaimana sudah ditegaskan sebelumnya, ta’aruf berbeda sekali dengan pacaran. Kalau pacaran biasanya orang cenderung berdua-duaan, komunikasi tidak perlu dan hal-hal yang menjurus pada zina. Sedangkan ta’aruf tidak lebih dari sekadar perkenalan.

Berusaha mengenal kepribadian dan visi-misi masing-masing, watak, serta latar belakang keluarga. Tidak lebih dari itu. Kalau sekiranya cocok, ta’aruf bisa dilanjutkan pada proses khitbah lalu menikah. Dalam proses ta’aruf, tidak boleh ada aktivitas berdua-duaan maupun terlalu intens berkomunikasi. Sebab setan selalu bekerja secara halus untuk membuat panca indera berzina.

Membicarakan sesuatu yang bersifat intim

Pada proses ta’aruf, komunikasi tetap diperbolehkan. Tapi hal yang dibicarakan dalam komunikasi tidak boleh melenceng dari tujuan utamanya, saling mengenal satu sama lain secara psikologis. Jadi sebaiknya hindari pembicaraan yang bersifat intim. Kecuali informasi yang sangat penting misalnya terkait dengan bisa tidaknya memiliki keturunan. Di luar itu, usahakan tidak dibicarakan. Karena khawatir akan menimbulkan syahwat yang tidak seharusnya muncul pada proses ta’aruf.

Membicarakan aib keluarga

Kamu boleh-boleh saja buka-bukaan soal pengalaman kelam yang pernah terjadi dalam hidupmu secara pribadi. Sebab kejujuran di awal, lebih baik daripada kamu tutup-tutupi dan akhirnya si dia tahu dari orang lain. Tapi kalau menyangkut aib keluarga, sebaiknya tidak perlu kamu ceritakan.

Misalnya, orang tuamu broken home. Cukuplah si dia tahu kalau kedua orang tuamu bercerai. Tidak perlu tahu alasan mereka bercerai. Fokuslah untuk memperkenalkan diri secara pribadi dan mengetahui kepribadiannya. Persoalan latar belakang keluarga memang penting. Tapi bukan berarti kamu harus memberitahu aib keluargamu kepada dia yang belum pasti menjadi bagian dari keluargamu.

Merahasiakan informasi diri yang dianggap penting

Dalam proses ta’aruf, kamu memang harus memperkenalkan diri secara detail. Mulai dari nama, nama panggilan, alamat, latar belakang pendidikan, hobi, cita-cita, pekerjaan, aktivitas sehari-hari, hingga statusmu saat menjalani proses ta’aruf. Jangan sampai ada informasi yang kamu rahasiakan.

Misalnya kamu pernah menikah namun gagal. Atau mungkin kamu memiliki pekerjaan yang mengharuskan kamu harus sering berada di luar kota. Intinya, katakan informasi yang sekiranya penting. Jangan sampai dia nantinya merasa dibohongi setelah mengambil keputusan.

Terlalu lama dalam proses ta’aruf

Proses ta’aruf itu tidak perlu terlalu lama. Cukup dalam hitungan beberapa minggu. Mengapa harus dipercepat? Pernikahan adalah sunnah Rasulullah saw yang sarat kebaikan. Dan kebaikan tidak boleh ditunda-tunda. Dari proses ta’aruf hingga khitbah lalu perencanaan pernikahan sebaiknya tidak lebih dari 3 bulan. Setelah beberapa minggu ta’aruf, sebaiknya segera diputuskan mau lanjut atau tidak.

Memberitahukan rahasia masing-masing kepada teman

Dalam proses ta’aruf, pasti kamu mendapat informasi secara detail seputar orang yang sedang berkenalan denganmu. Boleh saja kamu cerita kepada teman soal proses ta’aruf yang tengah kamu jalani. Tapi ingat, komitmen untuk saling menjaga rahasia masing-masing harus tetap terjaga. Jangan sampai kamu menceritakan sesuatu tentang dia yang bersifat rahasia, apalagi berupa aib.

Kamu juga sebaiknya tidak perlu menunjukkan kepada orang lain bila kamu mendapat kesan negatif tentang dia. Cukup kamu yang tahu dan memutuskan langkah selanjutnya. Kamu boleh curhat hanya untuk hal-hal yang sekiranya membutuhkan pertimbangan orang lain, atau sulit kamu putuskan sendiri.

Terlalu berharap hingga lupa meminta petunjuk kepada Allah

Ta’aruf dilakukan memang sebagai jalan untuk menuju pernikahan. Namun yang harus kamu ingat, ending dari ta’aruf bukan pasti menikah. Tak sedikit juga proses ta’aruf yang berakhir kegagalan. Kamu dengan dia hanya sebatas menjadi orang yang saling mengenal satu sama lain. Oleh karena itu, jangan terlalu berharap.

Dalam proses ta’aruf, tetaplah menggantungkan harapan kepada Allah. Karena Dialah yang mengatur kehidupan kita, termasuk urusan jodoh. Jangan sampai kamu berpikir bahwa ta’aruf sudah pasti menjadi jalan menuju pernikahan. Kuncinya adalah sabar, tawakkal dan serahkan semua kepada Allah.

Bila kamu sedang menjalani ta’aruf, tujuh hal di atas harus kamu hindari. Karena bila itu dilakukan, bisa saja merusak proses ta’aruf. Atau menodai niat suci yang sebelumnya sudah mantap tertanam di hatimu. Oke?

Oleh: Gafur Abdullah.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: