Mentari bersinar dengan terang. Terik sinarnya menyilaukan. Panasnya menyengat tubuh lelahku tanpa ampun. Hampir usai perjalanan panjangku siang itu. Kurang dari 10 kilometer lagi aku akan sampai rumah. Perjalanan panjang hampir 100 kilometer akan segera berakhir. Pekerjaan sebagai supervisor produk minuman kemasan memaksaku melakukan “touring” setiap hari. Lelah itu pasti, tetapi kebutuhan keluarga haruslah terpenuhi. Maka aku selalu berusaha ikhlas menjalani profesi ini.

Tidak sampai 15 menit lagi aku sampai rumah. Senyum Fadhil tentu sudah menungguku. Aku berkata dalam hati.

Fadhil anak semata wayang buah cintaku bersama Vania, istriku. Mereka adalah pelepas lelah ketika aku sampai rumah. Mereka pula motivasi keduaku setelah Allah Swt hingga aku mampu menjalani pekerjaan berat ini. Padaku, harapan mereka kepada Allah bertumpu. Aku pun selalu berusaha keras agar harapan-harapan mereka terpenuhi.

Lamunanku seketika buyar ketika traffic light menyala hijau. Motor segera kupacu bersama para pengendara lain. Tiba-tiba pandanganku terhenti pada sebuah konter HP. Laju motor aku kurangi perlahan. Lampu sign ke arah kiri aku nyalakan.

Pandanganku kemudian fokus pada kaca spion, berharap tidak ada kendaraan lain dari arah kiri belakangku. Aman. Motor aku hentikan tepat di depan konter itu. Motor aku pinggirkan, lalu kulangkahkan kaki ke dalam konter yang sepi itu.

“Mas, bisa nyervis HP saya nggak, ya?” kataku membuka percakapan.

“HP-nya apa, Mas? Bisa tak lihat?” balas penjaga konter ramah.

Aku perlihatkan HPku, aku berikan kepada penjaga konter itu.

“Hanya muncul logo terus begini ya, Mas? Saya cek dulu ya!” Kemudian penjaga konter itu menuju bilik kecil kira-kira berukuran satu meter persegi.

Aku menunggu sembari melihat-lihat dagangan di tempat itu. Beberapa kartu paket data, berbagai merek HP dengan segala kondisi terpampang di balik etalase. Aksesoris juga tergantung memenuhi ruangan berukuran 3×3 meter itu. Aku diam, menanti kabar baik tentang HP kesayanganku. HP tersayang, sungguh sayang jika tidak bisa diservis dan harus keluar uang untuk membeli ganti. Saat aku menanti penjaga konter dengan berharap ada informasi baik darinya, tiba-tiba datang seseorang ke arahku.

“Mas, mau mengisikan lagu. Dangdut ya. Tapi jangan Via Vallen. Aku tidak suka.”

Seorang ibu-ibu atau mungkin lebih tepatnya nenek-nenek masuk ke konter langsung bermaksud menyerahkan sebuah flash disk kepada penjaga konter. Penjaga konter lalu keluar dari bilik kecilnya.

“Adanya Nella Kharisma, Bu, mau tidak?”

“Ya, nggak papa, Mas. Kalau ada dangdut lawas saja. Monata, apa Palapa ya, Mas. Kalau Via Vallen aku beneran nggak suka. Ini yang minta suamiku. Seneng banget kalau mendengarkan dangdut koplo tuh.”

“Dangdut lawas itu Mansyur S., Elvi Sukaesih, atau A Rafiq, Bu. Bukan Monata atau Palapa.” Aku ikut nimbrung.

“Kalau itu terlalu lawas, Mas. Maksudku lawas tapi agak baru.” jawabnya sambil tersenyum.

Aku diam tidak membalasnya lagi. Seorang ibu-ibu atau tepatnya nenek-nenek, meski belum tua amat, dengan pakaian yang tidak pas menurutku. Mengenakan kaos oblong hitam, celana tiga perempat, tanpa kerudung. Potongan rambut semi cepak, disemir pirang lagi. Di pergelangan tangan, leher, dan telinganya terpasang benda “mirip” perhiasan emas. Aku tidak yakin itu emas asli, paling juga barang KW, sekadar buat gaya saja. Pikiranku tentang orang itu sungguh tidak baik. Aku tidak bersimpati sama sekali. Sebuah sikap yang tidak baik sebenarnya, namun itu adalah hal yang terlihat oleh mataku.

Beberapa saat kami terdiam. Aku masih menunggu HPku yang masih dalam pengerjaan. Di sampingku ada nenek-nenek yang menanti flash disknya terisi lagu dangdut dari penyanyi pujaan hati. Tiba-tiba, si nenek berbicara kepadaku.

“HP-nya rusak kenapa, Mas?” tanyanya sok ramah.

“Biasa, Bu, dipakai mainan anak. Tidak kontrol, akhirnya ngehang dan rusak deh.” Balasku sok ramah pula.

“Suamiku itu seneng banget kalau mendengarkan lagu dangdut koplo, Mas. Mulai dari Bojo Galak, Kanca Mesra, sampai Sayang Satu, Dua seneng semuanya. Padahal aku dulu tidak suka sama sekali, tapi sekarang kok jadi ikutan suka. Mungkin karena keseringan ikut mendengarkan apa, ya?”

Emang gue pikirin.

“Tapi kalau Via Vallen beneran deh, Mas. Aku maupun suamiku, nggak suka sama sekali.”

“Kenapa Bu? Via Vallen kan cantik,” jawabku sekenanya.

“Ya, nggak tahu juga ya, Mas. Pokoknya nggak suka aja. Kadang suka atau tidak suka itu kan nggak butuh alasan to?”

Mulai kacau nih obrolannya.

“Jadi orang itu kalau kalau bisa semeleh (pasrah) hidupnya enak, Mas. Tapi yang bisa seperti itu ya seribu satu. Hidup kita ini kan sudah diatur sama Yang Maha Kuasa, tinggal kita mau bersyukur atau tetap merasa kurang. Kalau bahasa agamanya ponaah itu lho.”

“Qonaah, Bu.”

“Iya, itu. Kita harus mau menerima apapun pemberian Gusti Allah. Aku ini lho, Mas, orang miskin tapi hidupku bahagia. Barang-barang di rumah itu biasa aku letakkan sembarangan. Bukan kok tidak memerhatikan rejeki Gusti Allah lho ya, tapi aku tuh percaya, kalau barang hasil kerja jujur kita pasti nggak bakal hilang meski kita letakkan sembarangan. Kalau toh misal kok hilang aku malah mikir, berarti aku itu kurang sedekah. Atau sedekahku kurang banyak berarti. Gitu, Mas”

“Sebelum gempa, aku merantau ke Singapura. Tanpa pendidikan yang tinggi tahu kan Mas apa pekerjaan di sana. Ya, jadi pembantu. Beruntungnya, majikanku orangnya baik. Aku diperlakukan dengan manusiawi. Bahkan sering aku diajak jalan-jalan ke mall. Nginep di hotel beberapa kali. Aku disewakan kamar sendiri lho, Mas, jangan dikira aku diajak nginep sekamar sama majikanku, hahahaha.”

“Berapa lama tinggal di Singapura, Bu?”

“Nggak lama kok. Cuma dari 2003 sampai 2006. Aku pulang karena Bantul ada gempa itu, Mas. Suamiku termasuk salah satu korbannya. Dia harus kehilangan kaki kanannya karena menyelamatkan anakku yang waktu itu masih berusia 2 tahun.”

“Semoga Bapak dan Ibu selalu diberi kesehatan,” aku mulai tersentuh.

“Padahal tahu tidak? Pas aku merantau, suamiku pernah berlaku buruk kepadaku. Mosok dengan terang-terangan dia meminta ijin mau selingkuh selama aku di perantauan. Nanti kalau aku sudah pulang, dia akan berhenti selingkuh dan kembali kepadaku. Bayangkan, Mas. Tapi aku pikir ya silakan saja. Toh itu urusan dia nggak cuma sama aku, kan? Urusan sama Gusti Allah juga tentunya. Yang penting di perantauan aku tidak berlaku seperti yang dia perbuat kepadaku. Dan tentunya, aku tidak akan mengirimkan uang hasil kerjaku kepadanya, ha ha ha. Biar tahu rasa dia!”

Njenengan bisa ya, Bu seperti itu. Kuat banget. Kalau saya yang ada di posisi itu pasti sudah marah besar pastinya.”

Semeleh dan qonaah itu, Mas kuncinya. Aku ya masih belajar sampai saat ini tuh. Tak lanjutkan ceritaku, ya. Pas dikabari Bantul ada gempa, aku akhirnya memutuskan pulang. Majikanku sedih, Mas. Mereka melepasku dengan derai air mata. Wah, pokoknya trenyuh (terharu) banget waktu itu. Yang aku pikirkan adalah simbok (ibu) dan anakku. Suamiku ya, aku pikirkan juga sih meski aku jengkel.”

“Oh di sini suaminya tinggal bersama anak dan simbah putri (nenek), ya Bu?”

“Iya. Ibuku sudah tua. Tiga tahun lalu beliau meninggal dunia. Tapi aku salut sama suamiku lho, Mas. Ketika aku pulang, dia benar-benar sudah menghentikan hubungan gelapnya lho. Ini nyata, Mas. Dan aku juga dengan ikhlas memaafkannya. Bukan karena iba dengan keadaannya yang cacat, tetapi karena aku cinta dia.”

“Luar biasa, Bu. Jarang orang bisa menjalani kehidupan seperti itu. Kesetiaan dan kepasrahan njenengan sulit untuk diikuti. Saya harus banyak belajar dari jenengan, Bu.”

“Saya begini hanya mengikuti aliran arus kehidupan kok, Mas. Istilahnya ngeli ning aja keli. (Mengikuti arus tetapi jangan hanyut terbawa arus). Ikuti kehendak Yang Maha Kuasa tetapi jangan mau terhanyut dalam arus masyarakat yang sering membuat kita tersesat. Pokoknya kita harus bisa memilah dan memilih bagaimanakah seharusnya kita bersikap terhadap dinamika masyarakat yang ada saat ini. Jangan mudah tergoda.”

“Yang jelas tidak semua cerita saya ini baik. Njenengan bisa mengambil hikmahnya jika memang ada. Kalau toh hanya omong kosong, ya anggap saja hiburan. Itu pun kalau menghibur, hehehe.”

Tiba-tiba mas penjaga konter keluar dari bilik kecilnya. Datang ke arahku dengan senyum anehnya. HP kesayanganku tak tampak di genggaman tangannya. Malah sebuah benda kecil warna merah yang ia bawa.

“Maaf, Mas. Ini HP-nya tidak bisa diflash. Memorinya lemah, harus diganti.”

“Aduh. Terus berapa lama kira-kira pengerjaannya?”

“Kalau benar mau diganti, saya usahakan 3 hari jadi, Mas. Soalnya saya harus belanja spare part dulu. Belum lagi antrean servisan juga agak banyak ini. Dipikirkan dulu nggak apa-apa, Mas.”

Flash diskku sudah belum, Mas?” Si Ibu menyerobot pembicaraan kami.

Sampun (sudah), Bu. Ini saya isi lagu-lagunya Nella Kharisma full album, Sagita, Palapa dan Monata lengkap. Masih perlu tambah lagi?”

Uwis (sudah) lah, Mas. Uwis banyak itu. Terus ongkosnya berapa ini?”

“Gratis, Bu. Silakan dibawa saja. Ini kan cuma ngopy dari laptop ke flash disk.

“Wah, rejeki istri salehah ini namanya. Terima kasih ya, Mas. Oh ya, ayo mampir rumahku. Nanti tak kasih jambu. Pohon depan rumah sedang berbuah lebat lho,” kata si Ibu sambil melirik ke arahku.

“Terima kasih, Bu. Lain waktu saya sempatkan sowan (berkunjung) ke rumah Ibu. Salam untuk Bapak dan putranya, Bu.”

Si Ibu telah berlalu dari hadapanku. Kesan yang tertinggal sungguh berbeda dengan kesan pertamaku melihatnya. Apa yang tampak dari pandangan mataku, ternyata salah. Cerita-ceritanya bahkan sulit aku pahami. Bukan sulit memahami isi ceritanya. Lebih sulit memahami, bagaimana bisa seorang wanita mampu bersikap tegar menghadapi berbagai cobaan hidup?

Terlepas itu tadi sekadar bualan atau nyata, namun aku mendapatkan hikmah yang mahal harganya. Aku termenung. Aku tertegun lama.

“Mas, bagaimana jadinya? Ini jika jadi diganti, biayanya 400 ribu. Lusa saya usahakan jadi.”

“Apa … 400 ribu?” lamunanku buyar.

Gaji bulan ini tinggal separuh. Uang bensin harus keluar 3 hari sekali. Jatah uang jajan Fadhil sampai akhir bulan entah akankah terpenuhi. Belum lagi jika istri meminta jatah membeli nasi.

Ah, padahal jika dibanding kisah si Ibu tadi, kisahku ini hanya recehannya belaka. Apakah mungkin aku memang kurang berderma, seperti kata Si Ibu tadi? Entahlah.

Oleh: Wawan Murwantara.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: