Jangan Lupa Atur Waktumu, Raih Suksesmu!

Keunggulan itu pasti sangat dekat dengan orang yang paling efektif dalam memanfaatkan waktunya. Sementara itu, Islam adalah agama yang paling dominan mengikat para pemeluknya mengenai waktu. Bukankah Allah Swt sendiri berkali-kali bersumpah dalam al-Qur’an berkaitan dengan waktu.

Wal a’shri. Innal insaana lafii khushrin. Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian.” (Qs. al-Ashr [103]: 1-2)

Wadhuhaa. Wallaili idza sajaa. Demi waktu, matahari sespenggalah naik (waktu dhuha). Dan demi malam apabila telah sunyi.” (Qs. adh-Dhuhss [93]: 1-2)

Allah pun telah mendisiplinkan kita agar ingat terhadap waktu minimal lima kali dalam sehari semalam, yakni waktu Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan ‘Isya. Belum lagi tahajud di sepertiga akhir malam dan shalat dhuha pada saat matahari terbit sepenggalah. Allah mengingatkan hamba-hamba-Nya untuk selalu terkontrol dengan waktu yang ada.

Genggam waktumu, raih prestasimu!

Dua puluh empat jam adalah waktu sehari semalam yang sama diberikan kepada setiap orang. Dengan rentang waktu sepanjang itu sebagian ada yang mampu mengurus dunia. Sebagian yang lain malah bisa mengelola perusahaan raksasa dengan sukses. Bahkan sebagian yang lainnya lagi sanggup mengurus berjuta-juta manusia.

Akan tetapi, ternyata ada juga sementara orang yang selama dua puluh empat jam tersebut mengurus diri sendiri saja tidak sanggup. Padahal, bukankah jatah waktu yang dimilikinya sama? Bila demikian halnya, maka jangan salahkan siapa pun kalau kita tidak pernah merasakan gemilangnya hidup ini.

Dalam hal ini, maka hal pertama yang harus dicurigai adalah bagaimana komitmen kita terhadap waktu yang kita kini jalani. Hendaknya ikhtiar mengevaluasi diri menjadi bagian yang sangat dipentingkan di dalam kerangka agenda aktivitas hidup keseharian kita. Kalaulah kita termasuk orang yang sangat menganggap remeh atas berlalunya waktu, tidak merasa kecewa manakala episode pertambahan waktu itu tidak menjadi saat peningkatan kemampuan diri, maka berarti kita memang akan sulit menjadi unggul dalam kencah pertarungan hidup ini.

Ingat, kita ini telah, sedang, dan akan senantia berpacu dengan waktu. Satu desah nafas adalah satu langkah menuju maut. Alangkah besarnya kerugian yang akan menimpa diri kita manakala bersamaan dengan banyaknya keinginan, melambungnya angan-angan dan cita-cita, serta meluapnya harapan untuk dapat menggapai sesuatu, namun tidak seraya meningkat kemampuannya.

Setiap detik, menit, dan jam adalah peluang bagi peningkatan kemampuan dalam hal apa pun yang secara sunnatullah kita memang berpetualang menggalinya. Adakah itu kemampuan dalam biang keilmuan, kemampuan dalam hal pengembangan kepribadian diri, kemampuan dalam hal peningkatan kualitas ibadah, kemampuan mengelola qolbu, dan seterusnya.

Barang siapa yang di setiap waktu yang dilaluinya selalu “tamak” dengan upaya meningkatkan kemampuan diri, niscaya tidak usah heran kalau Allah akan memberikan yang terbaik bagi pelakunya. Insya Alllah!  Dialah Pemilik Segala-galanyanya.

Sebaliknya, bagi siapa pun yang di dalam dirinya tidak sedikit pun gejolak ingin peningkatan mutu hidup. Ibadah tidak semakin khusyuk dan ikhlas. Hati tidak semakin baik. Ilmu tidak semakin bertambah. Jangan heran, kalau yang tersisa hanyalah angan-angan belaka!

Tidak lebih dari itu. Sesungguhnyalah bahwa yang terlebih penting itu bukan hanya keinginan, melainkan kemampuan untuk menggapainya. Itulah yang menjadi jawaban terbaik dalam mengarungi kehidupan ini.

Singkat kata, kita harus berbuat lebih baik dari pada yang dilakukan orang lain. Hendaknya kita tidak sekadar bekerja keras, tetapi yang jauh lebih baik adalah bahwa kita harus mampu bekerja keras sekaligus efektif!

Sebab, betapa banyak orang yang sibuk bekerja, namun dengan itu pula dia pun sibuk dengan barang yang tertinggal, sibuk lupa, dan sibuk mencari sesuatu yang seharusnya tidak lagi dilakukan karena semuanya harus sudah siap. Tegasnya, banyak orang yang tampak sibuk, tetapi ternyata tidak efektif.

Milikilah kunci efektivitas waktu

Untuk menjadi seorang yang efektif dalam mengatur waktu, kita memang harus adil dalam membaginya. Ada hak untuk belajar, hak membantu orang tua, hak untuk beribadah, hak untuk peningkatan kemampuan diri, hak untuk untuk evaluasi, hak untuk melakukan rekreasi, hak untuk beristirahat, semua harus dibagi secara adil.

Sibuk dan hebatnya belajar misalnya, tetapi tanpa dibarengi dengan istirahat, bahkan tanpa diiringi dengan mantapnya ibadah kepada Allah, semua itu hanya menunggu waktu yang suatu saat akan menjadi bumerang yang berbalik menyerang kita. Karenanya, Allah Azza wa jalla berfirman, “Fa idza faraghta fanshab. Wa ilaa rabbika farghab!” (Qs. Alam Nasyrah [94]: 7-8)

Sebagai contoh, seorang mahasiswa yang akan menghadapi ujian. Waktunya tinggal tiga bulan lagi. Maka, sudah seharusnya dia membuat perencanaan. Sehari belajar berapa jam? Katakanlah dua jam. Seminggu mau berapa kali belajar? Enam kali. Berarti 6 x 2 = 12 jam per minggu dan satu bulan ada sekitar 48 jam.

Jadi dalam tiga bulan dia sudah harus belajar sekitar144 jam. Lalu mata kuliahnya ada 10, satu mata kuliah rata-rata lima bab, berarti 50 bab. Satu bab ada 10 halaman (50 x 10 = 500 halaman).  Sedangkan waktu yang dimiliki hanya 144 jam. Berarti satu jam kita harus menguasai minimal tiga lembar.

Jadi kuncinya adalah petakan dulu potensi dan masalahnya, kemudian bekerjalah secara stabil dengan peta itu.

Namun, tentu saja jangan cuma membuat perencanaan tanpa melatih kedisiplinan untuk menjalankannya. Betapa banyak orang yang hanya pandai membuat rencana. Dan sebuah rencana tidak perlu muluk-muluk. Si rencana itu sendiri harus proporsional agar mudah menjalankannya.

Kunci efektivitas waktu adalah manakala kita selesai menuntaskan suatu urusan, segera bersiaplah untuk mengerjakan urusan lainnya. Siap?

Oleh: Tim Trenlis.co

Referensi: Gymnastiar, Abdullah. 2007. Demi Masa. Bandung: MQ Publising.

Tinggalkan Balasan