“Cinta sejati itu bukan perihal tentang menunggu, tapi upaya mempersilahkan atau mengambil kesempatan,” kata salah satu pemateri kajian minggu ini yang disamput tepuk tangan riuh dari para audiens. Ya maklumlah, kebanyakan para audiens adalah para remaja. Kalau masalah cinta-cintaan sudah jelas bapernya kemana-mana.

Entah kenapa kata-kata itu mampu menarik perhatianku. “Sederhana sih, tapi langsung ngenah gitu dan terus terngiang-ngiang dalam kepala,” ucapku dalam hati.

“Lelaki baik tidak akan ada waktu untuk membuat kita baper hingga akhirnya membuat kita sakit hati. Karena dia akan sibuk memperbaiki diri untuk menjemputmu, jodoh terbaik yang telah Allah persiapkan untuknya,” lanjut si pemateri.

“Benarkah demikian? Lantas kenapa sebagian besar laki-laki seperti itu. Setelah menaruh rasa, eh dengan mudahnya pergi dengan meninggalkan luka,” sanggahku dalam hati.

Entah sebab apa dan kenapa, tiba-tiba terbayang akan dia yang sedang jauh di sana. Yang dulu pernah mengungkapkan rasa, tapi dengan tegas aku menolaknya.  

“Maaf, aku masih belum mau pacaran.” Ah, kenapa kata-kata itu yang masih kuingat hingga saat ini. Bagaimana mungkin aku menolaknya, jika pada akhirnya jatuh cinta juga. “Uh… bodohnya aku, kenapa dulu kutolak sih,” gerutuku dalam hati. Maklumlah, dia adalah cinta pertamaku, bahasa kerennya sih cinta monyet gitu.

Dia memberanikan diri untuk mengungkapkan rasa ketika aku baru menginjak kuliah di semester dua. Masa-masa di mana aku ingin merasakan namanya cinta. Saat di mana aku mulai menyadari dan ingin merasakan apa itu cinta atau mungkin sudah berani bermain-main dengan yang namanya cinta.

Lamunanku buyar ketika seorang perempuan menepuk pundakku untuk menawarkan minuman. “Air mbak,” tawarnya dengan menyodorkan sebotol kecil air mineral. Aku pun mengiyakan tawarannya dengan senyum simpul sebagai tanda setuju.

“Jangan mendamba, jadilah dambaan,” jelas sang pembicara untuk kesekian kalinya. Lagi-lagi kata-kata itu masih berhasil mengambil alih sebagian pikiranku. Kata-kata yang sebenarnya sederhana, tapi sungguh sangat dalam maknanya.

***

Lelaki yang dulu pernah mengungkapkan rasa padaku itu adalah salah satu mahasiswa yang cukup berpengaruh di kampus tempatku juga menimbah ilmu. Berpengaruh karena prestasinya yang luar biasa. Serta tentang ide-ide dan penemuannya dalam bidang sains dan teknologi yang tak diragukan lagi. Aku memanggilnya kak Ari.

Salah satu mahasiswa berprestasi yang berkali-kali menjadi juara setiap kali mengikuti event mahasiswa, baik dalam maupun luar negeri. Dan tentu saja dia juga berhasil menjadi pusat perhatian perempuan-perempuan di kampus atau mungkin di luar sana. Begitupun denganku yang juga pernah menaruh rasa. Pernah berharap jika dia juga membalasnya.

“Da, Ari menang lomba lagi loh,” jelas Dina, salah satu temanku yang juga mengagumi sosok bernama Ari itu.

“Beneran?” sahutku meyakinkan diri berharap aku mendapat informasi lebih tentangnya, tentang laki-laki yang sering kali menjadi topik pembicaraan mahasiswa ini.

“Iya. Barusan aku dengar dari Dira teman sekelasnya Ari. Katanya juara pertama lomba apa gitu namanya, duh lupa aku,” dengan ekpresi seakan mencari jawaban tersulit dalam hidupnya.

“Yang jelas dan yang pasti lombanya  di Cina. Uh… keren bangetkan,” tambah Dina dengan ekspresi berbunga-bunga.

 “Ih… apaan sih Din. Biasa aja kali. Nggak usah segitunya. Kamu suka ya sama Ari,” teletukku tiba-tiba melihat ekpresi Dina yang seperti biasa. Ya, seperti biasa. Setiap kali melihat laki-laki yang sedikit bening langsung deh keluar bunga-bunga yang menari-nari di atas kepalanya.

“Emang kamu nggak bangga punya teman seperti dia? Sudah keren pinter pula. Andai saja aku punya pacar sepertinya,” tambah Dina.

“Em…,” jawabnya dengan mengukir senyum di bibirnya yang sudah dipoles dengan lipstik soft pink.

Coba deh kamu pikir, perempuan mana sih yang mau jadi pacarnya Ari. Secara nih ya, Ari itu udah ganteng, pinter, sopan, alim lagi,” jelas Dina panjang lebar dengan ekspresi yang kian menjadi bersemangat. Aku hanya mengiyakan penjelasannya dengan senyum yang tak bisa kutahan.

“Jujur nih ya, yang namanya laki-laki alim itu nggak akan pernah mau yang namanya pacaran kecuali pacaran setelah nikah,” jelasku panjang lebar dengan ekspresi meyakinkan.

Sepanjang perjalanan kami menuju kantin hanya dia yang menjadi topik pembicaraan. Sejujurnya, laki-laki itu juga pernah mengambil separuh hatiku dan sebagian besar  perhatianku. Namun, saat ini rasa itu mulai luntur dengan sendirinya. Entah kenapa. Mungkin aku sudah mulai sadar dan tahu diri kali ya. Sadar jika rasa itu hanyalah bagian dari nafsu setan yang akan menjadi malah petaka jika terus aku lanjutkkan.

***

Aku masih ingat kisahku setahun lalu. Awal pertemuanku dengan kakak tingkat yang satu ini. Dia dulu adalah ketua panitia OSPEK saat aku menjadi mahasiswa baru. Mungkin saat itu aku dan dia berbeda dua tahun atau empat tingkat semester.

Parasnya rupawan. Hidung mancung layaknya Salman Khan, kulit putih hingga mampu menarik perhatian, mata tajam layaknya burung elang dan tubuhnya yang gagah dan tinggi kian menambah pesonanya. Dan benar saja berhasil menjadi pusat perhatian kami saat menjadi mahasiswa baru. Ditambah lagi kesan wibawa yang dia tonjolkan. Uuhh… gemeskan jadinya. Begitupun dengan ku yang sejak pandangan pertama kesemsem dibuatnya.

Gaya berbicaranya tidak seperti panitia lainnya yang kadang terkesan keras dan berparas garang. Tapi dia berbeda. Nada bicara yang ramah tanpa kesan meremehkan atau merendahkan lawan bicaranya. Tak pernah marah-marah dan terkesan nyaman saja ketika di sampingnya. Dan hatiku berdesir untuk pertama kalinya. Lagi-lagi anak ingusan ini dibuat baper dengan yang namanya cinta. Mungkinkah ini cinta atau hanya ilusi semata. Entahlah.

Hari-hari kulalui dengan perasaan berbunga-bunga. Setiap masuk dan keluar kampus seakan ingin melihatnya meski dari jauh. Melihat dirinya dari jauh saja rasanya sudah cukup membuatku berbunga-bunga. Apalagi ketika dia datang dan menyapa.

Jujur saja, aku adalah tipe perempuan yang tidak banyak tingkah dengan masalah ynag satu ini. Ketika teman-teman perempuan lainnya secara gamblang mengungkapkan rasa padanya. Aku hanya bisa duduk diam memperhatikan dari kejauhan. Diam-diam mencuri pandang saja.

Sepanjang perjalanan menuju tempat parkir kulangkahkan kaki dengan hati riang gembira. Bagaimana tidak, jika laki-laki yang sudah lama kukagumi tiba-tiba menghampiriku dan mengucapkan selamat atas keberhasilanku yang telah berhasil menyambet juara pertama lomba pidato antar mahasiswa se-Jabotabek. Ya, ucapan selamat disertai dengan sebuah coklat berpita merah muda dengan bunga-bunga cantik yang telah terangkai indah dalam satu wadah. Uu… tambah berbunga-bunga kan jadinya.

Tapi tiba-tiba… selang tak berapa lama dia asyik berbincang dengan seorang wanita.

“Deg,” tatapanku mengarah pada sosok laki-laki dan perempuan yang sedang berbicara di sana. Tepat di sebelah mobil putih yang aku tahu itu adalah mobil kak Ari. Sosok lelaki yang aku kenal. Ya kak Ari. “Tapi… siapa perempuan berjilbab di sampingnya itu,” telisikku dalam hati.

“Alisya…” jawabku meyakinkan.

“Apa… gandengan tangan,” tatapanku makin nanar dibuatnya.

Pendanganku fokus pada mobil putih yang mulai meninggalkan gerbang dan penumpang yang ada di dalamnya. Kak Ari dan Alisyah.

Rasa cemburu itu mulai muncul dan terselip di sana. Kenapa harus Alisyah. Dengan segera aku mencari tong sampah dan membuang rangkaian bunga yang sedari tadi kupegang. Dan coklat ini,..

“Mel, ada coklat nih dari kak Ari,” ucapku pada Meli yang kebetulan lewat di depanku. Dan aku segera meninggalkanya yang mungkin sekarang sedang berbunga-bunga.

Alisyah, gadis Jakarta yang terkenal dengan paras ayu-nya di kalangan mahasiswa. Dan tidak semua perempuan bisa menjadi temannya. Karena memang dirinya terkenal sangat pilih-pilih dalam hal yang satu ini.

***

Ketika rasa kagum mulai berubah menjadi benih-benih cinta. Seakan aku tak mampu menahannya dan ingin segera membuangnya. Ya membuangnya. Jika menurut desas-desus kak  Ari adalah tipe laki-laki yang tidak terlalu suka jika bergaul dengan perempuan. Namun, fakta lebih penting dari sekedar desas-desus. Nyatanya aku melihat dengan mata kepalaku sendiri dia bersama perempuan dalam satu mobil.

Marah ia. Kecewa sudah pasti. Dan rasanya aku telah memberikan hatiku pada orang yang salah. Dan terlalu berharap lebih padanya.

“Bagaimana mungkin aku membiarkan dia mengambil hatiku begitu saja. Andai saja aku tak mendambahkannya dan berharap padanya. Bodohnya aku,” gerutuku dalam hati.

Rasa sakit itu seakan menyadarkanku. Bahwa tak ada yang mampu mencintai ketidak sempurnaan hamba-Nya dengan sempurna, kecuali Allah sang Maha Cinta.

Oleh: Indah Astutik Wulan.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: