Sore itu, kubuka tumpukan dokumen pribadiku. Mencari-cari selembar kertas berisi Penilaian Angka Kredit untuk Surat Keputusan Kenaikan Pangkat menuju III d. Banyak memang dokumen fileku. Bingung sebelah mana dulu yang harus kubongkar.

Tibalah pada tumpukan terakhir. Sebendel map yang sudah usang dan sobek. Berwarna coklat tua yang telah pudar dimakan usia. Ah ini dokumen sejak TK sampai kuliah. Akte kelahiran pun ada. Satu demi satu kubuka. Terasa menyingkap tabir memori. Perjalanan sekolahku.

Getir. Pahit. Tapi semangat dan gelora belajar tak pernah usai. Sampai saat ini pun S1 saja belum cukup untukku. Ijazah TK, SD, SMP dan SMA masih tersimpan di sana. Kemudian kubalik lagi. Ada panggilan dari beasiswa UMPTN dan koran pengumuman lulus UMPTN tahun 2001.

Pikiranku mengembara. Jam 6 pagi kucari surat kabar. Tertulis di Kedaulatan Rakyat yang sudah kecoklatan, Selasa Wage 6 Agustus 2001. Itu 17 tahun yang lampau. Terduduk di depan sebuah toko di Pasar Gotong Royong Magelang. Menelusur satu demi satu nama yang tertulis.

“Dek, jeneng lengkapmu sopo?” mas Jono, karyawan saudaraku yang pengusaha daging sapi bertanya.

“Rahayu Puji Astuti,” jawabku tak mengalihkan dari menyusuri tulisan di koran.

“Iki ono,” lanjutnya.

Segera kuminta koran ditangannya. Kubaca pelan pelan. Iya benar ada namaku. Tertulis di situ. 101-45-12011 Rahayu Puji Astuti 460741. Yesss aku mendaftar dengan nomer itu. Kode untuk Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Gadjah Mada. Tak percaya rasanya. Aku diterima kuliah. Aku? Kuliah?

Di antara bimbang dan semangat menggebu. Bimbang karena aku kuliah bukan karena orangtuaku mampu. Ibuku hanya menjual getuk. Ayahku telah meninggal saat aku SMP. Niatku kuliah karena didukung saudaraku yang istrinya pedagang daging sapi. Saat ini pun aku ikut bekerja sambil menunggu keputusan kuliah.

Bayangan mahalnya biaya hidup dan biaya kuliah. Bukan dibiayai oleh orangtua. Berapa lama kuliah. Dan mengapa kuambil jurusan yang terkenal mahal ini. Ahhh… tapi bagaimana dengan beasiswaku? Kalau aku tidak mengambilnya, beasiswa akan hilang. Dan mungkin tak ada kesempatan lagi.

“Tapi kalau aku tidak kuliah, aku tak bisa meraih cita-citaku menjadi dokter,” galauku memuncak. Ya Allah, aku harus bagaimana?

Kuputuskan menelpon ibu yang berada di rumah kakak di Purwokerto. Kubilang kalau aku diterima kuliah di FKG UGM dan aku bingung diambil tidak. Ibuku menjawab, “Sakkarepe, kowe sing nglakoni (Terserah, kamu yang menjalani).”

Tak puas dengan jawaban itu. Kumeminta ijin pulang menemui ibuku. Di bis sepanjang Magelang Purwokerto, galau menerjang mimpi mimpiku. Sesampainya di rumah kuceritakan semua. Ibu pun bertanya “UGM ki opo? (UGM itu apa?)”

“Universitas Gadjah Mada,” jawabku. “Oh Gama? Nek gama ibu ngerti,” sambung ibu.

 “Alhamdulillah nduk, wis bismillah, lillahi ta’ala dilakoni wae (dijalani saja). Gusti Allah sing Kuasa.”

Jawaban ibu menguatkanku. Tapi masih ada ragu di hatiku. Sampai aku curhat dengan teman SMAku, dia lebih dulu diterima di STAN, Titis namanya. “Apa aku dadi bakul sapi wae ya Tis? Ben ketularan sugih (Apa saya jadi pedagang sapi saja biar bisa kaya?).” tanyaku pasrah.

“Eh, kowe nek dadi dokter iso nyambi bakul. Ning nek dadi bakul ora iso nyambi dokter. (Eh kamu kalau jadi dokter bisa menyambi jadi pedagang, tapi kalau jadi pedagang saja tidak bisa jadi dokter),” jawabannya sontak menampar relung raguku. Ahhh iya, memang cerdasss kamu Tis.

Selanjutnya kuputuskan untuk mengambil beasiswaku. Perjalanan kuliahku dimulai dari situ. Tangis. Tetesan keringat. Kembang kempis berjalan. Berliku. Mendaki. Akhirnya kulewati. Tujuh tahun berlalu. Perlu banyak lembaran kertas tuk menuangkan satu demi satu ceritaku. Mungkin di lain waktu.

Kini setelah 17 tahun berlalu. Kubisa mengamalkan ilmu kuliahku. Bertugas menjadi dokter gigi di puskesmas. Aku menapaki tugas demi tugas Negara, berusaha memberikan pelayanan untuk masyarakat.

Ah, andai dulu keputusan itu tak kuambil. Aku pun tak tahu kini ke mana langkahku. Di mana ku berada. Menjadi siapa. Kuhanya yakin bahwa: RencanaNYa selalu lebih baik, dari rencana terbaik kita.

Oleh: Rahayu Puji Astuti.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: