Salatiga, 2016

Tahun merantau yang membuat berat saat itu ialah tak adanya kendaraan pribadi. Angkot sih banyak, tapi harus ekstra sabar nungguin mangkal yang cukup lama. Pun, datangnya angkot yang tidak pasti pada jam-jam tertentu. Sering sekali telat masuk kuliah hanya karena angkot. Apalagi kalau terburu-buru, aku jadi memutuskan jalan kaki lebih dulu sembari nunggu angkot.

Dulu sekali, aku memiliki kenangan tak terlupakan tentang angkot. Aku dilema karenanya, bukan tentang nunggu ketidakpastian, tapi tentang keadaanku yang sedang mengalami kantong kering. Hahaha. Memilih jalan kaki untuk bisa minum, atau naik angkot tapi harus kehausan?

Aku tinggal di asrama anak-anak SD. Tentu saja tinggal di sana gratis, pun makanan sehari-hari tidak perlu dirisaukan. Sudah ada jatah dari asrama, meski harus masak sendiri.  Biaya angkot untuk bolak-balik kampus itu lumayan. Yah, sebenarnya enggak mahal juga, sih, tapi aku pernah jalan kaki karena enggak punya jatah uang lagi untuk bayar angkot. Biasa, tanggal tua waktu itu. Jatah bulanan dari asrama belum cair. Pun sisa uang beasiswa yang menipis.

Hari Senin kuliah jam tujuh, aku pergi ke kampus buru-buru, enggak sempat sarapan, dan enggak biasa bawa air minum juga. Eh, di tengah perjalanan pulang, aku merasa haus dan lapar sekali. Aku sadar, bahwa hari itu adalah hari Senin, bisa saja aku niat puasa sebelum matahari setinggi tombak. Namun, aku ragu jika nanti niatku puasa karena menahan lapar dan haus sebab enggak punya uang.

Sebelum pergantian angkot saat perjalanan pulang, aku turun dan jalan menuju ATM, berharap masih ada sisa uang beasiswa di sana. Ternyata, saldo sudah tidak mencukupi. Padahal, kemarin Bapak nanya apakah aku masih ada simpanan uang atau tidak. Ya aku jawab masih punya lah. Kan, enggak mikir makan dan bayar tempat tinggal. Sudah dapat jatah uang saku dari asrama dan kampus juga. Malu kalau masih minta uang.  

Aku meraba isi dompet, kantong, tas, dan semua celah yang memungkinkan terselip uang. Yes! Ada uang tiga ribu rupiah. Ini mah cukup buat bayar angkot selanjutnya untuk sampai asrama, tapi, kali ini dahaga benar-benar enggak bisa ditahan lagi. Kalau lapar sih masih bisa ditahan. Akhirnya aku memutuskan cari warung, lalu beli es teh. Alhamdulillah, segar sekali rasanya minum es pakai uang terakhir kala itu. Aku tak peduli jika nanti harus jalan kaki menuju asrama, meski jauh sekali.

Usai menghabiskan es teh di tengah terik mentari itu, aku melanjutkan perjalanan menuju asrama dengan berjalan kaki. Lumayan lebih semangat karena dahaga sudah terobati, tidak lemas seperti tadi.

Tadi aku transfer uang tambahan untuk biaya perjalanan bolak-balik kampus. Cek ATM, yaa.

Pesan masuk dari Bapak mengejutkanku. Masih di tengah perjalanan, aku mempercepat langkah menuju ATM. Ah, Bapak, tahu saja keadaan anaknya di sini.

Salatiga, 2018

Sejak Bapak memberiku motor, aku sering berani ikut kegiatan luar kota. Misalnya di Jogja, apalagi di Jogja ada paman, aku sering pulang ke rumah paman juga. Aku enggak tinggal di asrama lagi. Aku tinggal di indekos, sedangkan untuk mencari hasil tambahan uang saku, aku dapatkan dari tempat ngajar les.

Motornya jangan lupa diganti olinya, ya. Sudah waktunya. Ini aku transfer tiga ratus ribu.

Meski jauh di sana, perhatian Bapak tak pernah surut. Beliau hafal kapan waktunya harus servis motor, ganti oli, dan sebagainya. Aku sendiri enggak terlalu peduli sama motor yang sudah nemenin perjuanganku selama ini. Alasannya sih, karena enggak punya waktu banyak untuk nunggu antrean servis. Pastinya lama banget nunggunya, paling cepat sih antara empat sampai lima jam.

Mendapat amanah dari Bapak untuk servis motor itu, akhirnya aku pergi ke bengkel. Tak disangka, ternyata bagian-bagian motorku banyak yang rusak. Entah apa saja namanya, aku enggak hafal. Kata tukang servis, paling tidak biaya pembenahan keseluruhan sekitar lima ratusan. Yah, jelas saja aku enggak punya uang lebih untuk itu.

“Mas, apa enggak bisa disiasati gitu? Diganti apanya kek, yang enggak sampe habis tiga ratusan,” rayuku.

“Oh, bisa sih, Mbak, tapi ntar enggak awet. Paling ya enggak sampe satu minggu motornya bisa bertahan hidup.”

“Ya sudah, deh, enggak apa-apa gitu. Nanti saya servis lagi kalau sudah benar-benar enggak bisa hidup.”

Katanya bapak bengkel, ada bagian mesin motorku yang berlubang, enggak lama lagi pasti remuk. Jujur, aku enggak paham apa nama bagian motor yang rusak itu. Ah, yang penting sekarang bisa lancar dinaiki dulu. Setidaknya besok bisa pergi ke Jogja lancar sampai kembali ke Salatiga lagi.

“Mbak, ini sepedanya sudah bisa dipakai lancar.”

“Habis berapa, Mas?”

“Seratus dua puluh ribu rupiah, Mbak.”

Alhamdulillah, akhirnya enggak mahal juga. Aku pulang dengan perasaan lega. Uang kiriman dari Bapak masih ada sisa. Besok aku bisa pergi untuk ikut kegiatan rutin di Jogja.

***

Hari Minggu yang berbeda dari biasanya. Jalanan lengang, aku naik motor dengan kecepatan lebih dari biasanya. Krak! Terdengar suara dari bagian dalam motorku, tiba-tiba motor berhenti, enggak bisa melaju lagi. Ya Allah, kenapa ini?

Aku menuntun motor itu sepanjang jalan. Tak ada bengkel yang buka. Semua kulihat tutup. Maklum saja karena hari libur. Sesekali aku berhenti karena capek menuntun motor. Jam berputar cepat, sedangkan jarak tempuh sampai tujuan masih jauh. Aku menghela napas panjang, berusaha tangguh dan tidak menyerah.

Aku menuntun motor itu lagi, masih enggak ada bengkel yang buka. Ya Allah, bimbing hamba-Mu ini. Aku pergi ke Jogja untuk kebaikan, maka permudahlah perjalanan ini.

“Mbak, kenapa motornya dituntun?” tanya seorang lelaki yang tiba-tiba berhenti di sampingku.

“Ini, Mas, motornya enggak bisa jalan.”

“Coba sini aku benahin.”

Dia mengecek motorku, ternyata ada bagian yang remuk katanya.

“Mbak naiki motornya, aku dorong pakek kaki, ya.”

“Eh, jangan. Aku tuntun saja sampai ada bengkel yang buka.”

“Enggak apa-apa, Mbak. Cepat naiki saja!”

Aku nurut, ah lumayan bisa istirahat dari lelah, tapi kasihan dia juga, jelas lebih capek daripada aku.

“Sampai sini saja, Mas. Semua bengkel tutup. Mas lanjut perjalanan saja enggak apa-apa.”

“Ya jangan, Mbak. Enggak apa-apa, sebentar lagi ada bengkel, kok.”

Kami melewati beberapa bengkel, tapi semua bengkel tutup.

Aha! aku ada teman yang bisa servis motor nih, Mbak. Dia punya bengkel, tapi kalau pagi gini sih belum buka. Aku antar ke rumahnya saja, ya.”

Rumah teman dia masih tertutup rapat. Lelaki itu menggedor berkali-kali sampai akhirnya temannya terbangun. Motorku langsung dibenahi, hatiku berdebar-debar, khawatir jika uang sisa servis kemarin enggak cukup buat servis lagi hari ini. Berkali-kali aku berdoa, supaya uangnya cukup, pasti malu banget kalau nanti uangnya enggak cukup.

“Mbak, ini motornya sudah bisa dipakai,” ujarnya.

“Alhamdulillah, habis berapa, Mas?”

Dia terlihat bingung, lalu masuk ke rumahnya. Entah apa yang dia lakukan. Enggak lama kemudian, lelaki yang tadi mendorong motorku keluar rumah.

“Mbak cukup ganti uang rokok saja, ya.”

“Loh, kok uang rokok, kan saya nyervisin motor.”

“Enggak apa-apa. Lagian tadi vanbel-nya enggak dibeliin baru. Tokonya masih tutup soalnya. Jadi, diganti pakai vanbel temenku tadi, masih bisa dipakai kok.”

“Yah, tapi jangan gitu lah, Mas. Ya sudah meski enggak baru, kira-kira aku ganti berapa?”

“Sudahlah, Mbak. Ganti uang rokok saja dua puluh ribu. Mbak mau ke mana? Keburu telat loh.”

Aku melirik jam di tanganku. Sudah jam sembilan! Ya Allah, aku pasti telat datang ke pertemuan. Padahal perlu waktu satu jam lagi untuk sampai Jogja. Akhirnya aku nyerahin uang pengganti rokok itu. Aku masih punya sisa uang seratus enam puluh ribu rupiah. Jatah lima puluh ribu untuk bayar kas di pertemuan nanti masih ada.

Sampai di Jogja jam sepuluh. Aku bisa lega, tak menyangka Allah mengirimkan malaikat-Nya. Sampai akhirnya aku harus kembali ke Salatiga. Di antara langit mendung, aku berharap semoga hujan tidak turun dulu sebelum aku sampai tujuan.

Krak! Tiba-tiba motorku berhenti. Di Magelang lagi! Tempat yang enggak jauh dari awal aku berhenti tadi pagi. Masak iya, vanbel-nya sudah remuk lagi? Iya sih, memang bekas yang dikasih masnya, tapi kan enggak mungkin secepat ini rusaknya.

Alhamdulillahnya kali ini aku berhenti di tempat yang enggak jauh dari bengkel. Aku langsung putar balik dan bertanya kepada tukang servis. Ternyata yang rusak kali ini bukan vanbel, tapi bagian lainnya. Aku lupa apa namanya.

“Mbak, ini harus diganti, yaa.”

“Kira-kira biaya berapa, Pak?”

“Sekitar dua ratus ribu saja, kok.”

Ya Allah, sisa uang yang aku bawa hanya seratus sepuluh ribu rupiah.

“Kalau misal enggak saya ganti dulu bagaimana, Pak? Apakah ada jalan lain yang bisa dibenahi selain mengganti bagian yang rusak tadi? Setidaknya saya bisa sampai Salatiga dulu. Sudah sore sekali, saya enggak berani lewat Kopeng kalau malam dan sendirian.

“Ok, baik, Mbak. Ini aku tambal dulu saja. insyaallah cepat, kok.”

Dalam hatiku, tak berhenti merapal doa supaya uangnya tidak kurang. Ya Allah, kali ini benar-benar kehabisan uang untuk biaya perawatan motor. Dulu saja aku tenang, enggak mikirin biaya perawatan motor. Cukup biaya angkot untuk pergi ke mana-mana, dan itu murah. Enggak seperti sekarang, aku harus isi bensin motor yang sangat boros. Namun, aku cukup bersyukur, dengan adanya motor itu, jangkauanku untuk mencari pengalaman bisa lebih luas. Allah … bimbing hamba-Mu ini untuk selalu bersabar dan bersyukur.

“Sudah selesai, Mbak. Totalnya seratus sepuluh ribu rupiah.”

Mataku terbelalak. Ya Allah, alhamdulilllah, ya Allah. Benar-benar pas sekali. Aku enggak peduli nanti mau makan pakai uang apa. Pasti ada rezeki lain. Bagiku sekarang, aku bisa kembali ke Salatiga selamat, itu yang terpenting.

Esok Harinya

“Ini untuk uang ganti bensin ya, Mbak.” Ibu anak-anak yang aku les-in memberi sebuah amplop, kali ini lebih tebal dari biasanya.

“Loh, Bu, kok sudah diberi lagi?”

“Kan, sudah jatahnya, Mbak. Sudah, terima saja. Enggak seberapa, kok. Hanya cukup untuk ganti uang bensin saja.”

Alhamdulillah, rezeki selalu datang tepat waktu. Asal kita terus bersabar. Enggak ada tanggal pasti nerima jatah bulanan dari hasil ngajar les. Soalnya aku enggak mematok harga, dan beliau—ibu anak-anak, memberiku semaunya dan seikhlasnya. Aku membuka amplop itu, kuhitung jumlahnya. Tujuh ratus lima puluh ribu rupiah. Masya Allah, alhamdulillah, jatahnya lebih banyak daripada bulan-bulan sebelumnya.

Yes! Besok bisa servis motor secara total.

***

Oleh: Sayyidatina Az-Zahra.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: