Jangan Takut Menikah, Meski Hidupmu Masih Susah

Bagi kamu yang masih lajang, mungkin kamu akan bertanya, mengapa pernikahan menjadi sesuatu yang begitu penting? Dan mengapa pernikahan harus menjadi bagian dari kehidupan setiap muslim? Untuk menjawab semua ini, simaklah dulu sabda Rasulullah saw berikut ini:

“Barang siapa yang dikaruniai seorang istri yang shalehah, berarti dia telah membantunya menyempurnakan setengah dari ad-diennya. Maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah swt pada setengah lainnya.” (HR. Ath-Thabrani, Al-Hakim dan Al-Baihaqi dari Anas bin Malik)

Ya, pernikahan merupakan jembatan seseorang untuk meraih kesempurnaan separuh diennya. Sedangkan separuhnya lagi akan teraih dengan ketakwaannya kepada Allah swt. Jadilah ia seorang yang sempurna dalam beragama Islam.

Saya akan mengisahkan beberapa kisah para sahabat ra yang mulia, lembaran sejarah kehidupan yang telah mereka ukir merupakan contoh utama yang tidak tertandingi. Meneladani sikap mereka akan menjadikan kita ikut mulia di hadapannya-Nya.

Kisah pernikahan Ali bin Abi Thalib ra dengan Fatimah. Kemiskinan tidak membuat Ali takut untuk menikahi putri Rasulullah saw ini. Didorong keinginannya untuk menikah pula, Zubeir bin Awwam berani melangkahkan kakinya untuk meminang Asma’ putri Abu Bakar ra. Beginilah kondisi mereka dikisahkan:

Ibnu Abbas ra., berkata, “Ketika Ali ra. menikah dengan Fatimah ra, Rasulullah saw berkata kepada Ali ra, ”Berikanlah sesuatu (sebagai emas kawin) kepadanya.”

Dia menjawab, “Saya tidak punya apa-apa.”  

Beliau bertanya, “Mana baju besi Huththamiyyahmu?”

Dia menjawab, “Dia ada padaku.”

Beliau bersabda, “Berikan dia kepadanya.” (HR. An-Nasai)

Bahkan ada juga seorang sahabat yang begitu miskin memberanikan diri meminang seorang wanita. Karena saking miskinnya, Rasulullah saw sempat kesulitan menentukan mahar bagi calon istri. Bayangkan! Cincin dari besi pun ia tak punya. Mengenai kisahnya, dengarlah apa yang dituturkan oleh sahabat Sahal bin Sa’ad as-Sa’adiy ra.

Pada suatu hari datang seorang perempuan kepada Rasulullah saw seraya berkata:

“Ya Rasulullah! Saya datang untuk menyerahkan diri saya kepada engkau.”

Lalu Rasulullah saw, memandang kepadanya, memandang ke atas dan ke bawah. Kemudian beliau menundukkan kepalanya (menekur). Setelah melihat perempuan itu, beliau tidak memberiku suatu keputusan apa pun (menerima atau menolak). Dia segera duduk.

Seorang di antara sahabat Nabi berdiri dan berkata, “Adakah engkau mempunyai sesuatu (untuk emas kawin)?”

Dia menjawab, “Demi Allah swt, tidak ada ya Rasulullah!”

Nabi berkata, “Pergilah menemui keluargamu dan perhatikan, apakah engkau bisa memperoleh sesuatu?”

Laki-laki tadi pergi dan kemudian kembali, lalu mengatakan, “Tidak ada, demi Allah swt! Saya tidak memperoleh apa pun.”

Rasulullah saw berkata lagi, “Perhatikanlah (carilah) walaupun hanya sebentuk cincin besi!”

Laki-laki itu pergi dan kembali lagi. Dia mengatakan, “Tidak ada, demi Allah swt, ya Rasulullah!  Cincin besi pun tidak ada! Melainkan hanya sarung ini.”

Rasullullah saw berkata, “Apa yang bisa kau perbuat dengan sarung milikmu itu? Kalau sarung itu engkau pakai, untuk perempuan itu tidak ada lagi. Kalau perempuan itu yang memakai sarung, tiada lagi untuk engkau.”

Laki-laki itu duduk, tapi setelah lama duduknya lalu ia pergi. Dia (perempuan) menyuruh supaya orang itu dipanggil. Setelah ia datang kembali, beliau bertanya, “Apakah yang engkau hafal dari Al-Qur’an.”

Dia menjawab, “Saya hafal surat ini dan surat itu.”

Nabi bertanya, “Semua engkau hafal di luar kepala?”

Dia menjawab, “Ya.”

Nabi berkata, “Pergilah, sesungguhnya perempuan itu aku berikan kepadamu dengan emas kawinnya (mengajarkan kepadanya) apa yang engkau hafal dari Al-Qur’an.” (HR. Muslim)

Dari keteladanan beberapa sahabat di atas, kamu tentunya semakin penasaran mengapa dalam kondisi mereka yang semiskin itu, mereka tetap bersemangat untuk menikah. Yang perlu kamu ketahui, mereka adalah pemuda-pemuda Islam di masa Rasulullah saw.

Pertimbangan mereka tentang masalah pernikahan lebih mereka titik beratkan pada kemaslahatan yang akan dicapai. Dengan menikah, Allah swt akan menyempurnakan setengah dien mereka. Dengan menikah juga akan lahirlah generasi-generasi mujahid yang tangguh untuk membela Islam.

Alasan lainnya adalah ketakutan mereka apabila mati dalam kondisi masih lajang. Bukankah kematian itu bisa datang setiap saat, kepada semua orang dengan tidak mengenal umur. Jika sudah dikehendaki Allah swt, tidak ada yang tidak mungkin dan tidak ada yang bisa mencegahnya.

Kematian adalah rahasia Ilahi yang tidak seorang pun tahu kapan ia akan datang. hal inilah yang memacu mereka untuk bersegera menikah. Dan Allah swt sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah swt Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan. (Lihat surah al-Munaafiquun ayat 11)

Dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkanmu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh (Qs. an-Nisaa’ [4]: 78).

Untuk itu sebagai seorang muslim, janganlah kamu memandang sebelah mata tentang arti pentingnya pernikahan dan rumah tangga. Janganlah kamu urungkan niatmu untuk menikah hanya karena khawatir dan takut kalau-kalau direpotkan oleh permasalahan rumah tangga yang pasti akan dialami oleh kehidupan berumah tangga.

Nah, dari berbagai uraian tersebut, saya ingin mengajakmu untuk semakin tertantang menghadapi keputusan yang sudah Allah swt tentukan untuk kita, jauh di saat kita masih di dalam rahim ibu, yaitu masalah jodoh.

Selain itu kamu perlu mengetahui pula bahwa manusia dianugerahi Allah swt dua macam kekuatan, yaitu kekuatan biologis dan kekuatan ruhani. Salah satu dari keduanya tidak boleh diabaikan. Kekuatan biologis yang datang kepada seseorang, menyebabkan jiwanya menjadi resah, gelisah, bahkan akan semakin melemah manakala tidak ada jalan yang halal untuk menyalurkannya.

Begitu juga mengenai kekuatan ruhani (yang dibimbing syari’at Islam), jika kehidupan seseorang tanpa dilandasi kekuatan ini, maka hidupnya tidak akan berbeda dengan binatang. Bagaimana, kamu sudah siap untuk menikah?

Oleh: Tim Trenlis.co

Referensi:

Mas Udik Abdullah. Kuliah Kerja dan Nikah. Yogyakarta: Pro-U Media.

Dwi Suwiknyo. Jomblo Jatuh Tempo. Yogyakarta: Revive!

Tinggalkan Balasan