Ilustrasi dari Hipwee.

Jangan Terburu-buru Khitbah, Bacalah Kisahku Ini

Ketika itu, tiga hari selepas lebaran idul fitri, dengan kepercayaan tingkat tinggi aku datang ke rumah seorang perempuan yang cukup aku yakini adalah perempuan yang tepat untuk aku jadikan istri. Kami sudah kenal lama. Kami dulu sekolah di SMA yang sama meski beda kelas. Aku di kelas III dan dia kelas I.

Satu tahun sebelum aku menghadap orangtuanya, aku mendapatkan kabar kalau dia sudah dikhitbah. Berita itu memang aku dapatkan bukan darinya langsung. Tapi dari sahabat dekatnya. Aku rasa itu sudah cukup membuat aku menghentikan harapan. Aku pun tidak melakukan pergerakan untuk menghubunginya. Sekadar mengkonfirmasi kebenaran informasi tersebut.

Berkat kabar khitbah tersebut, aku memutuskan untuk merantau bekerja. Ini caraku mengusir kekecewaan. Aku tak ingin lagi menyoalkan tentang dia. Toh, sebentar lagi undangannya akan datang ke rumah. Namun suatu waktu beberapa bulan setelah berita khitbah itu, tiba-tiba dia mengontakku. Tentu hal tersebut membuatku sedikit kaget. Ada apa? Aku menahan diri dari rasa antusias. Aku tak ingin kegeeran duluan. Mungkin saja ada perihal yang membuatnya menghubungiku lagi.

Dia menceritakan apa yang terjadi tentang khitbah itu. Ternyata khitbah itu tidak pernah terjadi. Sebab dia menolak laki-laki yang datang ke orang tuanya. Secara rinci dia tak menjelaskan perkara apa yang membuatnya tidak mantap menerima. Mendengar berita tersebut di dada muncul dua perasaan. Senang dan menyesal. Senang karena pintu harapan belum tertutup. Menyesal kenapa dulu aku tidak mengkonfirmasi langsung padanya tentang berita khitbah yang aku terima?

Dia menanyakan kabar dan posisiku berada di mana? Aku menjelaskan semua. Kabar khitbah itu membuat aku memutuskan untuk tidak berharap lagi dan menerima tawaran pekerjaan di tempat yang jauh. Ini sebagai usahaku untuk terlepas dari harapan. Jika masih berada di kota yang sama dengannya, tentu peluang untuk berpapasan dengannya sangat besar. Aku tak mau itu terjadi. Jika melupakan agak sulit, mungkin menjauh menjadi alternatif lain.

Komunikasi kembali terjalin. Begitu baik. Keadaan ini semacam bunga yang telah layu untuk hidup karena tidak pernah bersentuhan dengan air. Kemudian secara tiba-tiba ada manusia peduli yang menyiramkan air dan membuat semangat hidupnya kembali membara lagi.

Kutetapkan padanya bahwa aku akan datang menjemputnya. Menyempurnakan keislaman kami sebagai sepasang kekasih yang halal. Ini mimpinya, juga menjadi mimpiku untuk bersanding pada pilihan masing-masing.

***

Saat mendengar kabar khitbah itu, aku memutuskan berhenti menyebut namanya dalam usahaku merayu Tuhan. Ini terdengar sombong memang, menjadi hamba yang berhenti berdoa pada Tuhan adalah sebuah kemunduran iman. Dengan atau tanpa tendensi, kita tetap harus meletakkan harapan pada Tuhan semata. Dikabulkan atau tidak itu persoalan lain. Toh, kegagalan akan selalu diganti dengan hal yang paling baik menurut-Nya. Hanya saja posisi kita sebagai manusia terlalu terpaku pada hal yang diinginkan. Jika hal itu tidak tercapai, kita langsung mencap Tuhan gagal menggembirakan kita.

“Saya tidak ada masalah, Nak. Jika anak Ibu menerima. Tentu Ibu dan Bapak hanya bisa memberikan restu bagi kalian berdua.”

Jawaban atas lamaranku itu berbuah hasil yang sangat menggembirakan. Tentu ini progres paling baik dari harapanku selama ini. Setelah sempat layu, kini ia bangkit lagi. Kali ini rasa optimisku berada di puncak paling tinggi. Perempuan yang kuidam-idamkan untuk bisa menemaniku hingga hari tua sebentar lagi akan menjadi halal bagiku.

“Bapak sama Ibu tunggu keluarga kamu untuk lamaran resminya.”

Aku mengiyakan dan memberi janji akan datang 2 minggu lagi bersama keluarga dalam rangka lamaran. Ini tentu kabar gembira untuk orang-orang di rumah. Hampir setahun ini pertanyaan kapan nikah selalu aku hindari dengan beraneka ragam alibi.

Sebelum rencana melamar itu aku sebarkan ke semua keluarga, terlebih dahulu aku menyampaikan perihal tersebut kepada adikku. Selama ini dia tempat terbaik bagiku untuk meminta pendapat jika aku mengalami kebuntuan jalan keluar setiap masalah yang aku hadapi.

“Sudah benar-benar yakin?”

“Aku sudah mantap. Tak ada rasa ragu yang membuatku berpikir ulang.”

“Ya sudah kalau begitu. Tapi satu saran dariku, sebelum ada lamaran resmi Abang lebih baik bertemu lagi dengan orang tuanya, bicarakan tentang mahar. Itu penting. Putuskan di awal, jangan sampai ketika keluarga kita ke sana malah semuanya batal karena kesepakatan mahar tidak ada titik temu.”

Aku paham maksud adikku. Beberapa tahun lalu tetanggaku sempat gagal menikah akibat nilai mahar yang diminta pihak perempuan yang hendak dinikahinya tidak bisa ia penuhi. Kegagalan itu membuatnya lari dari rumah dan tak pernah kembali lagi hingga hari ini.

Aku berdiskusi dengan perempuan yang sebentar lagi akan menjadi istriku.

“Kira-kira berapa permintaan ibu kamu?”

“Nggak tahu, Kak. Lebih baik bicara langsung sama ibu. Bukan saya penentunya.”

Aku memintanya untuk mengatur pertemuanku dengan ibunya. Persoalan adat di kampungku memang agak sensitif. Jika tak dipenuhi, maka tak ada perayaan. Itu sebabnya tak terhitung jumlahnya para pemuda kampung memilih merantau untuk mencari harta berlebih agar bisa pulang mempersunting kekasih hatinya.

Tapi banyak juga yang gagal dan tak pernah kembali. Jika pun kembali tentu sudah membawa istri dan anak dari perantauan. Cinta dan materi adalah dua hal yang tak bisa saling berjauhan. Jika salah satunya tidak terpenuhi, maka keduanya tidak bisa berdiri.

Seperti disidang, aku telah berhadap-hadapan dengan Ibu dan Bapak perempuanku tercinta itu. Sementara ia memilih bersembunyi di ruang lain. Ini tahapan negosiasi paling terumit yang pernah kuhadapi.

“70 juta, Nak.”

Seperti terhantam peluru tepat di kening. Angka 70 juta cukup mengagetkan. Nilai tersebut seperti longsor di dada. Kemungkinan selamat dari terjangannya begitu tipis.

“Terlalu besar, Bu. Sebegitu, jujur saja saya tak mampu.” Aku mencoba tampil apa adanya. Cinta juga butuh pikiran yang rasional. Jangan sampai buta cinta tapi semuanya serba dipaksakan.

“Apa-apa sekarang naik. Beras, daging, sewa baju baju pengantin. Semua ada harganya. Tak ada celah untuk dinegosiasi lagi.” Selama ini ibunya selalu menjadi juru bicara. Sementara Sang Bapak lebih banyak mendengarkan.

“Saya hanya bisa setengah dari itu, Bu. Itu pun tabungan saya akan terkuras hingga titik nol. Saya tak akan melampaui batas kebisaan saya.”

“Jadi bagaimana, Nak? Semua bisa kita lanjutkan jika nilai tersebut bisa kamu iyakan. Jika tidak mungkin kita bicara lagi di lain kesempatan saja.”

Rasa yang sempat bermekar itu layu kembali. Sebentar lagi akan mati. Harapan yang pernah ada, kembali pupus. Sebentar lagi akan hilang. Tak ada lagi kemungkinan yang bisa aku perjuangkan. Ini persoalan materi yang dibungkus rapi oleh adat. Mengatasnamakan kesesuaian adat istiadat adalah sebuah hal yang cacat logika.

Aku pamit pulang dan tak pernah kembali lagi untuk bernegosiasi.

***

Tepat tiga bulan setelah harapan itu habis, sebuah chat masuk ke ponselku. Dari adikku di kampung.

Ada undangan dari dia. Minggu depan menikah.

Hanya kubaca dan tak pernah kubalas. []

Oleh: Rahmat Suardi.

Tinggalkan Balasan