Panaroma di kafe yang tak pernah sepi ini memang membuat semua pengunjung enggan untuk segera undur diri. Terlebih dengan banyak teman bacaan yang terpampang rapi di rak buku-buku dan kita bebas untuk meminjamnya. Entah sejak kapan pertama kali lelaki berperawakan tinggi dengan hidung mancung ala-ala arab itu memperhatikan kelompok belajar kami.

Ia datang dengan penuh keraguan, diam tanpa kata seraya menyodorkan sesobek kertas di hadapan Rury. Masih tanpa kata dan menunduk. Ia membalik tubuhnya lalu lenyap bersama langkah demi langkah yang ia lalui.

Canda tawa yang semula hadir dari meja persegi ini seketika sunyi sejak kehadiran lelaki itu. Menimbulkan banyak pertanyaan dari setiap orang yang membaca sikapnya, terlebih isi surat ringan dari sesobek kertas yang sempat ia tinggalkan di hadapan Rury.

“Sorry, this is the only way i can do, i was too shy to approach directly.”

Rury membaca tulisan yang tergores di atas kertas tersebut dengan suara perlahan. Tiba-tiba ia terdiam, bibirnya kelu, tak mampu berkata-kata lagi hingga kertas itu terjatuh dari genggamannya.

Aku yang sedari tadi duduk di samping Rury hanya menjadi penonton setia dari drama sederhana yang telah hadir di episode kisah hidupnya. Aku meraih selembar kertas yang terkulai jatuh di bawah meja, selembar kertas dari sosok misterius yang sama sekali belum pernah kami lihat sebelumnya.

Kubaca lagi tulisan itu dalam hati. Selain ungkapan dalam Bahasa Inggris, ia menyertakan tanda tangan dengan nama akun instagramnya. Seketika aku menoleh ke arah Rury. Sudah kuduga, pasti ia langsung berselancar mencari informasi tentang lelaki itu dari akun instagramnya.

“Apa yang kamu temukan tentangnya, Rur?” tanyaku dengan nada datar tanpa sok ingin tahu urusannya.

“Dia mahasiswa UMY.” Jawabnya sambil memfokuskan pandangan di atas layar HP yang ia bawa.

“Lalu apa lagi?”

“Aku enggak tahu, lihat saja!” Ia menyodorkan HP-nya yang masih terpampang akun instagram lelaki itu.

Aku tak menerimanya, karena aku tak mau ikut campur urusan sepele ini. Kedua temanku langsung merebut Hp Rury dan mulai penasaran mencari semua jawaban dari pertanyaan yang sedang tersimpan di benak masing-masing.

“Wahh … Secret Admiror, Rury.” Teriak Nita dengan mengguncang tubuh Rury.

“Iya, Rur, benar sekali. Dia pengagum rahasiamu! Wah hebat! Sejak kapan ya kira-kira dia memperhatikanmu? Apa sejak kali pertama kamu datang di kafe ini? hingga ia pun hafal jadwal kamu berkunjung di kafe.” Timpal Lili, perempuan paling heboh diantara kami.

Rury meraih kembali HP dari kedua tangan teman yang duduk tepat di depannya. Ia pandangi lagi wajah layar HP itu. Tiba-tiba wajahnya memerah tersipu malu tampak jelas karena wajah putih yang ia miliki.

“Hey, kamu kenapa senyum-seyum sendiri?”

“Dia langsung Follback aku, Nis. Coba nih lihat! Ia beri like semua postingan aku.” Jelasnya dengan wajah berbinar penuh kebahagiaan.

“Maklum …, pengagum rahasiamu, kan?” godaku membuat Rury semakin tersipu.

***

Malam berikutnya, Rury memaksa kami untuk menikmati makan malam di kafe lagi. Kali ini dengan suasana yang berbeda. Tampaknya ia sedang menyembunyikan sesuatu. Sedangkan kami tidak menolak ajakannya. Yang terpenting bagi kami disaat lapar ialah adanya makanan halal dari manapun kita memperolehnya.

Aku terkejut melihat sosok lelaki yang kemarin hadir dan menghilang tanpa alasan. Kini aku memergokinya lebih dulu daripada Rury. Ia tak meleset dari pandangan tajam mataku, dan iapun langsung bangkit beralih posisi di bagian meja kosong tanpa kawan satu orang pun. Ia tenggelam bersama buku yang sedang ia kencani.

Aku langsung duduk mengambil posisi, alih-alih menjadi penyelidik sang lelaki misterius. Satu menit aku melewatkan drama romantis darinya. Ah, seolah menyalahkan diri sendiri karena kegagalan yang sedang aku hadapi.

“Nisaaaa …. tahu tidak. aku tadi enggak sengaja lewat di sebelahnya, lalu temannya memanggilku dan menunjukkan si Rifki yang lagi baca buku!” Teriak Rury histeris diantara kebisingan yang pasti siapa pun tak akan mampu mendengar ucapan Rury selain diriku.

“Benarkah? Lalu bagaimana tanggapannya ketika melihatmu? Apakah sedingin malam yang telah berlalu?”

“Ia tersenyum menatapku, lalu kembali terhanyut dengan buku bacaannya. Ah kamu, Nis. Memang ia terlihat dingin, mungkin karena sikap malunya. Tapi dia itu kalau sedang chattingan, konyol dan ah, apa ya … sebuh saja, romantis!” Candanya diantara tawa ringan yang membuatku ikut tertawa.

“Ah, masak sih, Rur?”

“Iya, benar Nisa. Coba deh baca chatnya semua!”

Kami memang sahabat, suka duka dirasakan bersama. Bahkan, ia pun tidak malu jika aku dan sahabat lainnya tahu masalah pribadinya. Atau anggap saja ketika ia sedang kasmaran seperti hari ini.

“Tapi, kamu perlu lebih hati-hati dengan lelaki ya, Rur. Jangan terlalu percaya dengan rayuan manisnya. Apalagi yang baru kenal! Kamu pun tidak tahu watak sebenarnya.” Ujarku ketika baru selesai membaca semua percakapannya.

Mataku dengan penuh curiga melirik ke arah Rifki. Lelaki misterius yang berhasil membuat Rury heboh dan baper karenanya. Pikirku menduga yang macam-macam. Segera kutepis perasaan berdosa ini. Kualihkan dengan canda tawa bersama para sahabatku.

Pesanan datang menengahi meja tepat pada saat kami sedang asyik bercerita tentang kisah romantisnya selama di Jogja ini. hah? Kisah romantis apaan? Ya, semacam pertemuan dengan para fansnya itu. Ini tentang mereka semua, berbeda dengan aku yang masih menjadi pemerhati setia.

“Nis, Li, Nit. Aku ingin photo sama dia. Kali aja ini menjadi kunjungan terakhirku.” Ucap Rury memecah hening tatkala kami sedang menikmati hidangan makan malam.

“Yakin? Sama lelaki berkumis itu?” Seloroh Nita dengan nada menggoda.

“Ih, apaan sih, Nit. Ya serius lah. Dia baru saja komen story aku, loh!”

“Emang komen apaan?” tanyaku menyelidik.

“Dia ingin ikut nimbrung ke sini, tapi malu sama kalian.”

“Halah, sini biar aku panggil dia. Sok malu di luaran, di dunia maya minta ampun dah rayuannya.” Sergah Lili.

Lili bangkit dari tempat duduknya mendatangi Rifki yang duduk termangu tak jauh dari meja kami. Ia mengikuti langkah Lili lalu duduk tepat di samping Rury. Aku berpindah ke meja lain dan mempersilahkan Lili untuk duduk di kursi yang baru saja kusinggahi.

“Boleh aku poto kalian berdua?” Nita membuka pembicaraan dengan akting yang tak pernah disangka-sangka membuat Rury dan Rifki saling pandang dan tersipu malu.

“Sebentar, saya harus mandi dulu.” Candanya seraya bangkit dengan berniat menepis rasa malu.

“Tak perlu, sudah di sini saja.” Timpal Rury.

Tak sampai sepuluh menit mereka hanyut dengan canda tawa yang baru, seorang pelayan dengan rambut panjang sebahu menghampiri.

“Hey, Rifki. Ganti lagi ceweknya? Si Lisa mana?” Rifki terdiam, menolehkan pandangan ke arah Rury. Semua mengangkat bahu arti tak paham.

“Lisa siapa?” tanya balik Rifki dengan memasang wajah polos arti tak mengerti apapun.

“Yang biasa kencan sama kamu itu? Kok sekarang beda lagi ceweknya?”

“Ah, aku tak paham maksudmu. Dah pergi sana!” usir Rifki sembari melirik Rury yang sedari tadi tertunduk dan terdiam.

Aku bangkit dan memberi isyarat teman-teman untuk mengikuti langkahku. Sudah kuduga tentang semua ini. Semua hanyalah pertunjukan semata. Kami pergi menjauhi kebisingan kafe.

“Untukmu, Rur. Jangan terlalu mudah menaruh hati karena baper. Meski banyak rayuan gombal atau dramatisasi dari seorang lelaki. Percayalah! Bahwa lelaki terbaik itu mereka yang tak pernah membuat para wanita baper.”

“Iya, Nis. Aku kecewa dan merasa bersalah. Sejak dulu aku ingin berdamai dengan hati, namun nyatanya susah karena banyak yang menawan hati yang rapuh ini.”

“Sssttt …, sudahlah. Lupakan semuanya. Sebelum adanya dramatisasi episode selanjutnya. Semua jadikan pelajaran untuk kita ya.”

Oleh: Sayyidatina Anzalia.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: