Jangan Terlalu Sibuk dengan Ukuran Sepatu Orang Lain

Suatu ketika si bos bertanya, “Kerjaanmu ngapain aja? Sampai tugas-tugas yang saya kasih minggu kemarin belum juga selesai.”

Tentu saja aku kelabakan menjawabnya. Kenyataannya memang tugas-tugas itu belum rampung. Sudah kukerjakan, tapi memang belum selesai. Akhirnya aku hanya meringis sambil garuk-garuk kepala.

Mau ngeles, tapi takut kena semprot lebih parah. Ah, dengerin aja apa kata si bos. Entar lama-lama kalau sudah capek paling juga berhenti ngomelnya.

“Hoi! Kamu dengerin saya ngomong, enggak? Ditanya kok, diam saja.”

“A … anu, Bos. Eh, Pak. Tinggal finalisasi saja, kok. Beri saya waktu sehari lagi. Besok saya serahkan di meja bapak.”

“Ok, saya tunggu sampai besok pagi.” Si bos tampak tanpa senyum. Kemudian mempersilakan aku meninggalkan ruangannya.

Aku berlalu meninggalkan ruangan si bos. Begitu di depan pintu, aku teringat sesuatu. Maka, pintu kubuka lagi. “Maap, Bos. Tugasnya saya kumpul besok siang aja, ya?”

“Besok siang gundulmu! Pokoknya pagi harus sudah ada di meja saya. Titik!”

Kali ini si bos tampaknya marah beneran. Ya sudah, apa boleh buat. Kerjakan saja semampunya.

Aku kembali ke meja kerjaku. Membuka kembali folder laporan yang diminta si bos. Ah, sebenarnya bukannya aku tak mampu menyelesaikan kerjaan ini, tapi kenapa enggak si Fulan saja yang dikasih kerjaan ini. Dia kan lebih paham dan banyak nganggurnya. Jadi kan, bisa lebih cepat diselesaikan. Aku juga enggak harus repot lembur buat ngerjain laporan.

Kalau aku lihat nih, memang sepertinya si bos rada pilih kasih. Terutama sama si Fulan. Buktinya dia enggak pernah nagih kerjaan ke Fulan. Seringnya nagih ke aku. Padahal kan, aku sama si Fulan posisinya sama. Sama-sama bawahan dia. Cuma beda divisi saja.

Contohnya kayak kerjaan yang kemarin itu, yang lain suruh bikin laporan dan presentasi, tapi si Fulan enggak tuh. Dia belum nyelesein laporan, enggak presentasi, tapi tetap aman saja. Kelihatan banget kan, kalau si bos pilih kasih?

Nah, untuk memastikan kalau si bos memang pilih kasih, maka aku sengaja mengulur-ulur waktu penyelesaian laporan. Karena aku tahu si Fulan juga belum menyelesaikan laporan yang minggu kemarin. Dan, sekarang aku semakin yakin kalau si bos memang pilih kasih. Karena cuma aku yang dipanggil ke ruangannya, si Fulan enggak.

Sepertinya memang paling enak kalau bisa dekat dengan bos. Seperti si Fulan itu. Enggak pernah dimarahi, dapet kerjaannya juga yang ringan-ringan, mau izin juga gampang. Beda banget sama aku dan karyawan lainnya. Kerja, tapi rasanya seperti dikerjain. Kerjaan seolah-olah enggak pernah ada benarnya. Selalu saja ada yang salah.

Kalau aku bikin laporan, pasti revisinya bisa berkali-kali. Tetapi kalo si Fulan, enggak pernah revisi tuh. Kan aneh banget.

Nasib, sepertinya sampai kapan pun hidupku akan berjalan seperti ini. Selama bosnya masih sama dan si Fulan ada sebagai stafnya. Mau enggak mau harus kujalani.

Ah, laporan ini harus selesai besok pagi. Bagaimana mungkin? Data-datanya saja masih banyak yang kurang. Duh, aku harus bagaimana nih? Kulanjutkan menyiapkan laporan yang diminta si bos.

***

Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa betapa repotnya jika kita mengurusi urusan orang lain. Merasa iri dengan kondisi orang lain. Bahkan membanding-bandingkan antara yang dinikmati orang lain dengan diri kita.

Seringkali seseorang lupa bahwa setiap kita memiliki ukuran yang berbeda-beda. Nyaman buat kita, belum tentu nyaman buat orang lain. Baik buat kita, belum tentu baik buat orang lain.

Begitu juga mengenai sesuatu yang buruk. Bagi kita mungkin tampak buruk, tapi kita tak pernah tahu jangan-jangan ukuran itu memang pas untuk orang lain.

Hal-hal seperti ini paling sering kita temui di lingkungan kerja. Kita pikir rekan kerja kita tidak bekerja dengan baik. Padahal kita tak pernah tahu kalau sebenarnya mereka bekerja keras menjalankan tugas dengan segenap kemampuannya.

Kita pikir bos telah bersikap tidak adil kepada kita. Memberi kelonggaran kepada karyawan lain, dan memojokkan kita. Padahal sebenarnya kita tak pernah tahu kalau si bos sangat paham kapasitas karyawannya. Mana pekerjaan yang bisa deselesaikan dengan baik oleh karyawannya. Dan, mana pekerjaan yang bakal hancur jika diserahkan kepada karyawan.

Tentu saja kita tidak bisa mengukur sepatu orang lain dengan ukuran kaki kita. Mereka lebih tahu ukuran sepatu yang pas dan nyaman untuk mereka. Bukan kita. Begitu juga dengan urusan dalam hidup.

Kita tidak bisa menilai orang lain dengan parameter subjektif diri kita. Sebaiknya memang melihat berbagai sudut pandang sebelum menilai diri orang lain.

Bukankah akan lebih bermanfaat kalau kita gunakan waktu kita untuk introspeksi diri? Ketimbang mengurusi orang lain yang belum tentu suka dengan campur tangan kita.

Coba kita kembalikan kepada diri kita sendiri. Apakah kita suka jika ada orang lain yang mencampuri urusan kita? Tentunya kita tidak akan suka. Kecuali memang kita membutuhkan pertolongan orang lain untuk menyelesaikan urusan kita.

Berprasangka baik sajalah dengan urusan orang lain. Tak perlu cari-cari kesalahan, lalu mempermasalahkannya untuk mencari perhatian. Sebenarnya tanpa dicari kesalahannya pun seseorang akan menyadari sendiri. Merenunginya, kemudian menjadikannya sebagai bahan untuk memperbaiki diri.

Biarkan urusan ini menjadi urusan personal antara individu dengan Tuhannya. Biarkan mereka lebih intens berkomunikasi dengan Allah ketika menyadari masalah yang sedang dihadapi.

Mari kita urus diri kita sendiri. Fokus saja pada penyelesaian tugas kita sebaik-baiknya. Insyaallah orang lain akan melihat kebaikan dalam diri kita tanpa mencari-cari keburukan untuk dipermasalahkan.

Nah, mari sekarang kita merenung sejenak. Ingat-ingat kembali, pernahkah kita merasa iri dengan pencapaian orang lain? Pernahkah kita merasa diperlakukan tidak adil oleh orang lain? Pernahkah kita merasa ingin membalas keburukan orang lain?

Kalau iya, lepaskan, relakan, ikhlaskan. Karena kita semua diciptakan dengan takaran kebahagiaan yang berbeda-beda.

Oleh: Seno Ners.

Tinggalkan Balasan