Kaulah yang terakhir bagiku

Engkaulah hidup dan matiku

Jiwa dan ragaku untukmu

Aku sangat menyayangimu

Izinkan aku memelukmu

Aku takut kehilanganmu

Tak bisa hidupku tanpamu

Karena kaulah terang dalam gelapku

Lagu itu dinyanyikan Wahyu untuk pujaan hatinya. Kanaya Putri, salah satu guru di PAUD Inklusi Bina Karya Bangsa—tempatnya bekerja sebagai fisioterapis. Hampir setahun mereka saling kenal. Bersama Aya dan ketiga terapis lain—Hendra, Rara, Tia—Wahyu sering menghabiskan waktu. Persahabatan mereka berlima kerap kali menimbulkan kecemburuan dari sekitar. Beberapa guru protes karena jarang diajak nongkrong bareng.

Tetapi mau bagaimana lagi, mereka telah nyaman satu sama lain. Pun tak ingin ada yang mengusik kenyamanan itu. Wahyu yang selalu menolak setiap Aya mau mengajak guru lain untuk bergabung. Lalu didukung Rara atau Hendra.

Sepulang kerja, mereka biasa mampir ke indekos Aya untuk masak bersama. Atau, kadang ngopi selepas isya’ di kafe favorit mereka. Ngobrol, diskusi, saling curhat, aah … waktu yang senantiasa menumbuhkan bunga-bunga asmara dalam hati Wahyu.

Baginya, Aya bukan hanya teman atau sahabat. Sudah lama ia menyimpan rasa pada gadis bertubuh mungil itu. Sikap-sikap lembut Aya saat bersama murid-murid luar biasanya, membuat hati Wahyu kian bergemuruh. Malam ini, ia sengaja menunjukkan perasaan melalui lagu yang ia nyanyikan. Meski mungkin semua orang tahu tentang perasaan Wahyu, entah kenapa ia merasa perlu mengungkapnya pada Aya.

Aya sering membawakan sarapan untuknya, mendengar keluh kesah tanpa protes atau menyela, memberikan masukan-masukan cerdas untuk masalah yang ia hadapi, dan yang paling jelas, Aya menjadi sosok pendamping yang Wahyu cari.

Namun akhir-akhir ini, Wahyu mencium gelagat aneh dari Aya. Ia sedikit menjaga jarak darinya. Karena itulah ia mencoba untuk mengatakan perasaan melalui lagu yang ia nyanyikan. Wahyu dan Aya sepakat dengan anti pacaran. Tak ada pacaran dalam islam kecuali setelah menikah. Sayangnya, Wahyu masih banyak alasan dalam penggenapan setengah Dien ini. Jadi satu-satunya hal yang bisa ia lakukan sekarang adalah secara tersirat meminta Aya untuk menunggu.

“Cieeee … jadian ajalah kalian!” celetuk Hendra memecah perhatian.

Ia hanya nyengir lebar. Sedangkan Aya, justru menekuk wajahnya berlipat-lipat. “Kamu, kenapa Ay? Sakit? Atau bad mood karena aku nyanyi barusan?” Wahyu bertanya tanpa basa-basi.

“Aku mau pulang!” jawab Aya ketus.

“Lah, kita kan, baru datang?” Rara kaget mendengar ajakan Aya.

“Ya terserah kalian kalau mau tetap di sini.” Aya melangkah pergi, menyertakan tanda tanya besar dalam benak Wahyu juga yang lain.

Wahyu mencoba mengejar Aya, membujuk untuk tidak pulang. Namun Aya tetap bersikeras. Akhirnya, Wahyu hanya bisa menatap lesu punggung Aya yang semakin menjauh.

***

Pukul satu dini hari, mata Aya masih terang menyala. WhatsApp dari Wahyu, belum ia buka. Ia bingung bagaimana cara menjauh dari rekan kerjanya itu. Sekilas, tak ada masalah. Tetapi, Aya mulai curiga dengan pernyataan-pernyataan Tia kemarin. “Dia menyukaimu, Ay, lebih dari sekadar teman biasa. Dia selalu minta pendapatmu saat ada masalah, itu menunjukkan kamu penting buat dia.”

Awalnya, Aya menampik semua perkataan Tia. Namun, yang terjadi sore tadi di Km 0 tidak bisa ia abaikan. Di tengah-tengah ramainya pengunjung Malioboro, tiba-tiba Wahyu memetik gitar, menyanyikan sebuah lagu sambil berlutut di hadapannya. “Lagu ini untukmu, Ay,” katanya sambil tersenyum penuh arti. Ini gila.

Tak ada hubungan sehat antara laki-laki dan perempuan selain pernikahan. Sebagai sahabat, kakak-adik atau apa sajalah. Berulang kali Aya memutar otaknya, tetap itu kesimpulan yang ia dapatkan. Persahabatannya dengan Wahyu telah salah sejak awal. Ia berusaha sedemikian rupa agar tak baper pada sahabatnya. Namun fitnah tetap menjeratnya. Ia bisa menjaga hatinya, tapi tidak hati Wahyu.

Matanya belum bisa terpejam. Kecemasan-kecemasan yang tak beralasan lagi-lagi membuat insomnianya kambuh. Apa yang harus ia lakukan besok ketika mereka berjumpa? Haruskah ia tetap memasak sarapan untuknya? Jika tidak, alasan logis apa yang bisa ia berikan? Ia paham betul Wahyu tidak sempat sarapan di indekos. Sebab itu, Aya tak pernah lupa menyiapkan bekal untuknya.

Sekarang harus bagaimana? Aya takut apa yang dikatakan Tia benar, perhatian-perhatian Aya selama ini membuat Wahyu merasa spesial. Padahal itu hanya bentuk perhatian sebagai sahabat. Ia juga sering masak untuk Tia, Hendra dan Rara. Meski tak membawakan sarapan karena mereka biasa makan dari rumah.

 Selain itu, Aya hanya ingin berbagi sedikit kebaikan lewat diskusi, obrolan ringan yang biasa mereka lakukan. Namun sungguh, niat baik tak bisa mengubah sesuatu yang salah menjadi benar. Selalu ada dosa yang mengintai interaksi berlebihan antara laki-laki dan perempuan bukan mahram. Lalu dosa itu dapat memperberat langkah keduanya di masa depan bila mereka tidak segera bertaubat.

Tidak, Aya tidak mau itu terjadi. Terlebih, akan ada yang datang melamarnya beberapa hari lagi. Cepat atau lambat, kedekatan mereka memang harus diakhiri. Aya tak mau berpikir panjang. Memang. ada kemungkinan Wahyu bisa mengerti dan tetap bersikap biasa, atau marah kemudian berbalik membencinya. Ia harus siap menghadapi apa pun resikonya. Bukankah satu kutipan mengatakan, terkadang jujur terlihat tak termaafkan, tetapi kejam justru lebih manusiawi?

Jadi mulai pagi nanti, ia akan mengurangi intensitas komunikasinya dengan Wahyu. Sebelum ia mulai cuti untuk mengurus pernikahannya.

***

Wahyu berulang kali membolak-balik hp-nya, belum ada balasan WhatsApp dari Aya. Semalam, mungkin Aya sudah tertidur. Tetapi pagi ini, mustahil Aya belum membuka hp. Ada apa sebenarnya? Kenapa Aya tak menjawab pertanyaannya? Kenapa tadi malam tiba-tiba ia minta pulang setelah Wahyu selesai bernyanyi lagu untuknya? Bermacam-macam prasangka membuat Wahyu tetap terjaga bakda subuh. Tidak seperti biasanya.

Pukul tujuh lebih tiga puluh, ia berangkat ke tempat kerja. Setengah jam lebih awal, ini kemajuan. Tak lama, Wahyu sampai di depan gedung bercat biru muda dengan taman bermain di halaman depan. Masih sepi, lumrah, sebab pembelajaran dan terapi dimulai jam delapan. Itu pun kadang molor, karena anak-anak autism bisa datang sangat terlambat atau sebaliknya.

Wahyu menegur ramah penjaga PAUD yang sudah membuka pintu-pintu ruang kelas. Ia keliling ke sekitar untuk menghilangkan rasa khawatir. Seperempat jam berjalan-jalan, ia melihat motor Aya telah tertata rapi di parkiran. Wahyu tergesa-gesa menuju ruang Aya mengajar.

Assalamu’alaikum, Bunda,” sapa Wahyu yang menyandarkan tubuhnya di pintu.

Wa’alaikumussalam.”

Aya tak bergeming. Suasana menjadi sunyi. Wahyu pun jadi canggung. Ia urung menanyakan alasan-alasan Aya. Apalagi bertanya remeh tentang sarapan. Wahyu mengembuskan napas berat.

Wahyu jadi kikuk. Aya lebih ganjil lagi, menumpuk ulang buku-buku yang sudah tersusun teratur. Ada yang tak beres pada keduanya.

Assalamu’alaikum, Bunda. Kok ada Mas Wahyu di sini?” Pengasuh Kafka—siswa PAUD—menyapa santun dan bertanya pada Fisioterapis yang tidak stay di ruangan.

Wa’alaikumussalam, sayang.” Aya tampak berbinar menyambut kedatangan Kafka kemudian memeluk muridnya itu.

“Hehehe … belum ada yang menunggu saya, Mbak.”

“Belum ada gimana? Itu Yura sudah datang dari tadi loh, Mas.”

Wahyu bergegas ke ruangannya.

Jarum panjang dan pendek sudah menunjuk angka dua belas. Itu tandanya, aktivitas di PAUD Bina Karya Bangsa sudah selesai. Aya tak sabar ingin segera pulang. Rasanya tak sanggup berpapasan dengan Wahyu lagi. Mengakui atau tidak, Aya yang membuat Wahyu menyimpan angan tentangnya. Lalu kini, ia harus memutus harapan itu, tentu Wahyu akan terluka. Parahnya, ia sama sekali tak bisa menghibur kali ini.

“Kita enggak ke mana dulu, gitu Ay? Sama Tia juga.” Wahyu sengaja menunggu Aya di parkiran. Berharap bisa membicarakan masalah semalam dengan Aya.

“Ke mana gimana? Aya kan sibuk mau beli oleh-oleh. Ciee … yang sebentar lagi meninggalkan status jomblo.” Tia menyenggol Aya yang tersipu malu di sampingnya.

Wahyu terbelalak menatap tajam ke arah Tia. Kemudian dengan suara sedikit bergetar ia bertanya, “Aya mau menikah?”

Aya menunduk, memberi jeda sebelum menjawab pertanyaan Wahyu barusan. Ia tak membuka suara sejak pagi karena merasa bersalah pada sahabatnya itu. Tetapi sekarang ia tak dapat mengelak lagi, dari awal ia tidak tegas memberi batas pada hubungan mereka berdua. Ini saatnya ia bertanggung jawab atas kesalahannya, dengan berkata jujur pada Wahyu.

“Iya, belum ditetapkan tanggalnya. Tapi insyaallah sesegera mungkin.”

“Alhamdulillah. Kami dapat seragam, kan?” Wahyu menarik kedua sudut bibirnya ke atas dengan sangat terpaksa untuk menutupi keterkejutan.

“Tunggu, ya! Mohon doanya semoga segalanya lancar!” ucap Aya sambil memundurkan motor.

“Insyaallah. Aamiin.”

Aya mengucapkan salam, meninggalkan Wahyu yang tengah hancur. Tia memandang iba pada Wahyu lalu ikut menyusul Aya pulang. Wahyu sendiri masih terpaku. Dadanya panas, napasnya tercekat, ia baru saja patah hati. Tubuhnya lemas, ia tak bergairah melakukan apa-apa. Bahkan rasa lapar karena belum makan dari pagi hilang dalam sekejap.

Dalam keadaan seperti ini ia tidak ingin sendirian di indekos. Ia memutuskan pergi ke Masjid Nurul Ashri untuk menghadiri kajian, dengan harapan, hatinya bisa jauh lebih tenang sepulang dari sana nanti.

“Kita hanya akan dipertemukan dengan apa yang kita cari. Istilahnya apa ya, satu frekuensi. Jadi pastikan saja apa yang kita cari adalah sebuah kebaikan, insyaallah bakal dikumpulkan Allah dengan orang-orang baik. Misalnya ada yang pergi dari hidup kita, ikhlaskan saja! Toh itu hanya menunjukkan dia tidak baik untuk kita. Bukan berarti dia buruk, tidak. Dia baik, tetapi untuk orang lain bukan kita.” kata ustaz pengisi materi pengajian.

Di antara puluhan jamaah pengajian sore itu, Wahyu merenung, mengingat lagi kebersamaan-kebersamaannya dengan Aya. Tidak ada yang istimewa. Aya memang pribadi yang hangat. Bukan cuma padanya, Hendra, Tia, Rara juga diperlakukan sama. Ia saja yang menyalah artikan perhatian Aya.

Ia yang sering mencari-cari alasan untuk mengajak Aya diskusi, meminta pendapat Aya setiap ada masalah, memberi perhatian melalu pesan-pesan yang ia kirimkan, bahkan sengaja tak sarapan agar Aya selalu membawakan ia makan. Ternyata ia salah mengira, Aya bukanlah wanita yang mudah baper pada cinta semu yang ia ciptakan.

Wajar jika kini Aya akan menikah dengan laki-laki lain. Sebab, memang bukan Wahyu kebaikan yang Aya cari. Mereka tidak berada di frekuensi yang sama. Aya berbagi cahaya karena Dia. Sedangkan Wahyu, menjalani hidup untuk manusia—Aya. Dalam bara api yang perlahan mulai mati, Wahyu berucap lirih, “Jika aku dan kamu tidak ditakdirkan menjadi kita, semoga kamu selalu bahagia bersama-Nya. Aamiin.”

Oleh: Fitri Ayu Mustika.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: