PUKUL 22:55.

Kereta berhenti di Stasiun Tawang. Aku menegakkan punggung, membenahi dudukku. Aku ingin terlihat rapi di mata siapa saja yang nanti akan duduk di bangku sampingku. Jari telunjukku berkeliaran dari satu sudut mata ke sudut lainnya. Tentu tidak akan terlihat cantik kalau ada kotoran semungil apapun bertengger di sana. 

Meski bersiap, aku sebetulnya tak berharap kursi sebelah akan terisi. Semoga tetap kosong sampai Gambir nanti, gumamku dalam hati. Jadi aku leluasa menggerakkan tangan dan badan tanpa khawatir menyenggol penumpang di sebelahku.

Aku memutuskan untuk mencoba tidur lagi. Toh, aku tidak terlalu suka ritual basa-basi macam, ‘Mau ke Jakarta, Mbak?’  atau ‘Jakartanya di mana, Mbak?’ Selimut sudah kutarik setinggi dagu, mata pun mulai kupejamkan.

***

Laki-laki di sebelahku ini sepertinya naik dari stasiun Pekalongan, karena aku mulai merasakan keberadaannya—dari siku kami yang saling beradu—sejak kereta belum lagi berhenti di Stasiun Tegal.

Sebetulnya aku lebih suka tetap diam, seolah tidurku tidak terusik oleh sepasang petugas kereta yang melintas di lorong sambil menawarkan makanan dengan suara yang cukup nyaring. Volume musik dari headset yang tidak menyumpal sempurna membuat suara lantang mereka bebas menerobos ke dalam telingaku.  “Kopi … teh panasnya … nasi goreng …!”

Mau tidak mau aku beringsut, merapikan selimut sembari mengerling pada laki-laki berjaket flannel yang rupanya sudah menyiapkan seulas senyum untukku.

Tangannya mengulurkan sebuah buku.

“Ini punya Mbak?”

Ah, iya. Pasti terjatuh dari sandaran kursi depan ketika aku mengambil botol minuman tadi. Segera aku mengambil novel tebal itu dari tangannya.

“Terima kasih.”

“Saya belum baca novelnya, tapi sudah pernah lihat versi layar lebarnya. Bagus.”

Aku mengetuk-ketuk novel di pangkuanku itu dengan jari-jariku. Menimbang apakah perlu melanjutkan perbincangan dengan kawan seperjalananku ini. Tapi aku belum pernah melakukan itu sebelumnya. Ngobrol. Ya, aku terbiasa menghabiskan waktu perjalananku dalam diam.

Satu senyum samar. Itu saja yang bisa aku berikan sebagai tanggapan. Rasanya kurang nyaman kalau harus bercakap dengan orang asing yang baru beberapa menit aku temui. Dan aku belum bisa tenang sebelum laki-laki ini jatuh tertidur atau aku yang lelap terlebih dahulu.

“Sudah pernah lihat filmnya? Kalau tidak salah judulnya Sang Penari, ya?”

Duh, mana mungkin aku tidak menjawabnya?

“Iya, Sang Penari. Saya sudah menonton filmnya.”  Katakan pendapatmu, jangan malu.  Dorongan itu berdentum di dalam benakku. “Tapi … masih lebih bagus versi novelnya.”

Seiring dengan kekeh tawa yang aku dengar, seperti ada batas yang meleleh. Dan kalimat demi kalimat di antara kami pun mengalir.

“Tentu saja logat mereka terdengar aneh, paling hanya beberapa bulan saja mereka mempelajari logat Banyumasan itu.”

Novel yang menjadi jembatan penghubung itu sudah berpindah dari pangkuan ke dalam dekapanku.

“Mungkin karena asal keluarga saya dari Banyumas, makanya sensitif dengan dialek pas-pasan itu, Mas.”

“Jangan-jangan malah … Mbak lebih cocok jadi Srinthil. Nggak kalah cantik dengan Pia Nasution.”

Wajah laki-laki ini berhiaskan senyuman tertahan, bukan hanya di tarikan garis bibirnya, tapi juga di dalam matanya yang kini lekat menatapku. Mata yang tersenyum. Entah karena sorot pandangan matanya, atau karena ucapannya yang terakhir, seketika aku merasakan dada ini menghangat.

Aku ingin menganggap ucapan itu hanya gurauan, dan mengeluarkan tawa kecil untuk menyamarkan debar. Dan berhasil. Kami kembali larut membicarakan seputar novel-novel yang diangkat ke layar lebar. 

“Bagas. Panggil saja saya Bagas.” Tiba-tiba laki-laki itu menyebutkan namanya dengan ekspresi wajah yang sulit aku pahami artinya. Setelah percakapan yang mengalir tadi, mengapa dia terlihat canggung? Aku sendiri terserang malu, karena meski telah berbincang akrab, baru aku sadar kalau kami bahkan belum berkenalan. Tapi … perlukah?  

Mungkin karena melihat mulutku yang bungkam dan tanganku yang tetap bersidekap, Bagas jadi enggan mengulurkan tangan untuk bersalaman seperti lazimnya dua orang yang saling berkenalan.

Diamku bukan tanpa sebab. Ada alarm berdering dalam kepalaku yang menyadarkan bahwa momen seperti ini pernah terjadi sebelumnya. Apa aku akan mengikuti arus saja?  Meski tanpa ada jaminan bahwa peristiwa menyakitkan—sekaligus memalukan—itu tidak akan terulang lagi. Aku harus waspada kalau-kalau sang Cupid kembali beraksi.

Dan diamku yang begitu lama membuat Bagas berdiri, lalu pergi setelah dengan lirih mengucapkan, “Saya permisi sebentar.”

Sudut mataku mengikuti ke mana perginya Bagas, sampai punggungnya menghilang di balik pintu geser gerbong. Marahkah dia? 

Kualihkan pandanganku pada jendela yang hanya menyajikan gelap dan aliran air hujan di balik kacanya. Bayanganku sendiri tercetak nyaris sempurna, andai tidak ada penerangan yang sesekali tampak di luar sana. Kemudian aku melihat pantulan sosok Bagas yang tiba-tiba tampak di kaca dengan sesuatu di kedua tangannya.

“Kopi, mau, kan?” Dia mengangsurkan gelas di tangan kanannya saat aku membalikkan badan.

“Bening,” kataku singkat.

“Apa?”

“Namaku, Bening.”

Perlahan Bagas menjatuhkan badannya hingga kembali duduk sejajar denganku, lalu menoleh.

“Sebenarnya aku sudah tahu namamu, dari halaman depan novelmu. Maaf, ya ….”

Kernyitan aneh di wajah Bagas mau tidak mau membuat senyumku melebar menjadi tawa. Aku bisa mendengar suara alarm yang melemah hingga akhirnya menghilang tak terdengar. Sepertinya Bagas menjadi perkecualian dari pertahanan ketatku selama ini. Janji yang selama ini aku sepakati sendiri, mungkin akan terlanggar kali ini.

Dulu aku memang pernah ceroboh, hanya satu kali, tapi  luar biasa rasanya. Sakit hati, malu, marah dan sedih menyergap hidupku di satu waktu.

Namanya Dion. Kami menumpang kereta yang sama kurang lebih tiga tahun yang lalu. Aku tidak melihat dia sebelumnya, namun kami bersisihan ketika menyeberangi peron menuju pintu keluar. Badannya yang tinggi tegap membuat langkahnya lebih lebar dan dengan segera aku tertinggal di belakangnya.

Toh, akhirnya kami kembali bersisihan sesampainya di halte dan rupanya kami menunggu bus yang sama. Dia memberikan jalan supaya aku naik terlebih dahulu, kemudian dia memilih tempat duduk di deretan seberang.

“Istriku ….”  Tiba-tiba Bagas bicara tanpa memandangku.

Aku tersentak. “Maaf?”

Tangan Bagas masih menggenggam gelas kopi yang sudah tinggal ampasnya saja. Sementara aku gemetar, kejadian bersama Dion kembali menghantam ingatanku.

Ban bus yang bocor, tangan kukuh Dion yang membantu mengangkat travel bag-ku ketika kami harus pindah ke bus pengganti, lengan kami yang bersinggungan di tengah sesaknya penumpang, hingga kami saling bertukar nama dan nomor telepon.

Kami bagai dua teman lama saat bercakap di telepon, akrab dan hangat. Sampai suatu pagi, aku berkirim pesan singkat untuk menanyakan rencana pertemuan kami di sore hari sepulang kerja. Rupanya, setelah dua bulan kami hanya sebatas membuat janji: kapan mau telepon lagi?— kali ini Dion ingin kami bertemu untuk kedua kali.

Tapi … tanpa firasat apa pun sebelumnya, aku mendapatkan kejutan itu. Pesan penuh harap yang aku kirim untuk Dion berbalas deretan kalimat makian dan hinaan yang memerah padamkan muka, dari seseorang yang mengaku sebagai istri Dion.

Apakah sekarang kejadian itu sedang terulang?

Aku berdehem sebelum melempar batu untuk memecahkan kesunyian, dengan suara yang lebih mirip gumaman, “Istrimu kenapa, Bagas?”

Tentu saja aku tidak bodoh, sudah sedari tadi mataku mencuri pandang menelusuri jemarinya yang memang bersih tanpa lilitan cincin kawin.

“Kopi itu, kamu menyukainya?”

Melihat anggukanku, Bagas berdehem pelan sebelum melanjutkan, “Aku khusus minta dibuatkan seperti racikan istriku.” Dia mencondongkan bahunya, lebih rapat padaku. “Aku menyukai kedekatan kita ini Ning, tapi sesampainya di Gambir nanti, kita harus kembali jadi dua orang asing. Istriku … sangat pencemburu.”

Kualihkan pandanganku dari wajah yang tampak menyesal itu dan meletakkan gelasku pada meja sempit di depanku. Aku tidak berselera untuk menghabiskannya.

Ada apa dengan laki-laki di muka bumi ini? Sedemikian perlukah menyapa seorang gadis tak dikenal, mengajaknya berkenalan dan bahkan bermanis-manis dengannya? Apakah mereka, para pria ini, sengaja atau itu semua spontan saja mereka lakukan?

Atau, ada apa di wajahku? Apakah tertulis di dahiku, frase ‘jomblo tulen’? Atau mungkin aku harus menyalahkan Cupid? Semua ini karena dia senang bermain-main dengan panah kecilnya.

Aku kembali bersandar dan menaikkan selimutku.

“Tidak ada masalah. Memang seharusnya kita tetap menjadi orang asing sejak awal tadi. Belum terlambat juga untuk memulainya sekarang.” Aku kembali menikmati gelap di balik jendela. “Dan, kalau masih butuh teman untuk ngobrol, Anda bisa pergi ke restorasi.”

“Maaf, Ning ….”

Aku sudah berpaling sedari tadi, rasanya aku tidak perlu lagi menjawab ucapan Bagas.  Dari pantulan kaca jendela, aku melihatnya kembali berdiri dan pergi.

Bagas dan Dion, mereka serupa kupu-kupu jantan, yang dengan sayap kekarnya sanggup terbang jauh dari peraduan mereka. Mereka akan singgah sejenak setiap melihat bunga yang kelopak dan putik sarinya tampak memikat. 

Kadang aku cukup pintar. Aku sanggup mengatupkan mahkota bungaku hingga menutup sempurna, memberikan sinyal pada para mantan ulat itu untuk jangan menghampiri lebih dekat lagi.

Aku bukan orang yang dengan mudahnya jatuh cinta, apalagi pada suatu perjalanan singkat dengan kereta seperti sekarang ini. Dan tidak mudah pula terpikat pada satu paras yang elok dan tubuh tegap penuh perlindungan. Aku tidak sedangkal itu.

Tapi, aku seringkali naif dan terkecoh pada uluran sikap yang manis, karena aku menikmatinya. Mungkinkah karena usia? Wajarkah bila seorang wanita lajang di usia kepala tiga menjadi rentan pada segala bentuk perhatian dari lawan jenisnya? 
Aku harus berdiri lebih tegak lagi, menghalau putus asa yang sering datang tanpa aku sadari.

“Sampai ketemu lagi ….”

“Semoga tidak,” sergahku tanpa perlu menoleh lagi.

Bagas mematung sedetik dua sebelum mengambil tasnya dari rak di atasku, dan aku tidak melihatnya lagi semenjak itu.

***

Guncangan lembut di bahu membuatku terbangun.

“Selimutnya, Mbak,”  ramah petugas kereta menyapa.

Jakarta sebentar lagi.  Lega kuhela napas. Aku melirik kursi di sebelahku, seorang ibu duduk di situ. Kami saling menganggukkan kepala dan tersenyum. 

Pertemuan dengan Bagas pada perjalananku yang terakhir kali memang masih menyisakan gentar. Namun tidak membuatku berhenti berjalan.[]

***

Oleh: Okie Noor.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: