“Rima, ada murid baru dari kota di kelas kita!” Mia langsung menyerbuku dengan berita panas hari ini begitu sampai di sekolah.

“Tahu dari siapa?”

“Kemarin, sih, kamu enggak datang kumpulan rohis. Dia datang sore buat lihat-lihat sekolah. Makanya kita tahu.”

Aku nyengir kuda. “Namanya juga sakit, mana bisa datang.”

“Bang Ridho malah kemarin yang ngajakin dia cerita. Bang Ridho enggak cerita?” tanya Mia. Aku mencebik.

“Bang Ridho, mah, pulang-pulang langsung nyuruh aku minum obat.”

***

Berita soal anak baru itu memang menyebar dengan cepat. Semua anak rasanya sudah tahu dan jadi trending topik. Di mana-mana murid membicarakannya. Di lorong, di kantin, di mushola. Mau tidak mau, kehebohan itu membuatku penasaran juga.

Anak baru itu sekarang sedang berdiri di depan kelas kami di jam pertama. Simbol di lengan kirinya belum dilepas, jadi kami tahu kalau dia pindahan dari salah satu SMA Negeri paling terkenal di Medan. Dia melihat ke seluruh penjuru kelas dengan senyum lebar yang bersahabat.

“Halo, nama saya Fadli. Baru pindah ke sini seminggu lalu karena Ayah saya dimutasi ke sini. Semoga kita bisa berteman akrab, ya!”

Seluruh penjuru kelas langsung riuh. Aku juga ikutan tepuk tangan dan tertawa bersama kawan-kawan yang lain. Mata anak baru itu menangkapku yang sedang tertawa dan senyumnya makin lebar. Waktu melewati mejaku untuk duduk di kursi kosong barisan belakang, Fadli Si Anak Baru berhenti untuk menanyakan namaku.

“Rima,” jawabku pelan. Fadli tersenyum dan berseru, “Salam kenal, Rima,” dengan keras. Membuat kami disoraki satu kelas. Aku menutup muka dengan tangan karena malu.

***

Aku dan Fadli langsung akrab di minggu pertama aku masuk. Awalnya, Fadli meminta untuk diajak keliling sekolah olehku. Aku, sih, mau-mau saja. Soalnya dia minta tolong dan kebetulan aku juga sedang piket. Aku mengadakan tur kilat yang berujung pada obrolan ngalur ngidul dan memancing keakraban antara kami berdua.

Lama kelamaan, aku dan Fadli, bersama Mia juga, menjadi sahabat dekat. Tapi rasa-rasanya hubunganku dengan Fadli lebih dari sahabat. Soalnya dia sering mengirimi chat padaku secara pribadi kalau kami sudah pulang sekolah.

Chat biasa saja, sebenarnya. Tapi, semua itu mampu membuatku senyum-senyum sendirian di kamar.

Fadli: Siang, Rima. Sudah makan, belum?

Aku membuka chat yang dikirimkan Fadli ketika makan siang di rumah. Otomatis bibirku tersenyum sambil mengetikkan balasan.

Aku: Siang juga, Fadli. Ini aku lagi makan. Kamu udah makan?

Fadli: Belum, nih. Kamu selamat makan, ya. Biar tambah gembil.

Balasan dari Fadli datang seketika membuat senyumku makin mengembang. Pesanku yang langsung dibalas padahal belum ada satu menit terkirim ini membuatku merasa diutamakan dan diperhatikan.

Mau tidak mau jantungku berdebar kencang dan perutku melilit dengan rasa menyenangkan. Aku jadi bersemangat sekaligus rindu untuk melihat Fadli esok harinya di sekolah.

 “Makan, ya, makan aja. Jangan sambil main hape apalagi senyum-senyum gak jelas gitu,” tegur Bang Ridho yang baru pulang les langsung duduk di sebelahku.

Aku nyengir mendengar tegurannya lalu menyembunyikan ponsel di saku rok. Rasanya tidak sabar untuk menyelesaikan makan siang dan kembali berbalas pesan dengan Fadli di kamar nanti!

***

Semakin hari aku jadi semakin dekat dengan Fadli. Keberadaan Mia di antara kami pun semakin tersisihkan. Soalnya Mia menjabat sebagai ketua seksi acara untuk menyambut maulid Nabi di sekolah. Dia jadi super sibuk dan tidak bisa kumpul bersama.

Aku jadi lebih sering ke perpustakaan bersama Fadli, ke kantin bersama Fadli, pokoknya ke mana-mana hanya ada aku dan Fadli. Fadli juga jarang bersama-sama kawan laki-laki di kelas. Hanya aku. Mendapati dia mendahulukan aku daripada teman-temannya, membuatku tersanjung juga.

***

“Dek, kamu sudah nyapu halaman?” tanya Bang Ridho dari pintu kamar setelah mengetuk pintu.

Aku yang baru selesai teleponan dengan Fadli langsung mengernyit. Memangnya ini sudah jam berapa? Perasaan tadi baru selesai dzuhur.

Aku mengintip ke luar jendela dan mendapati matahari sudah demikian condong ke barat. Aku langsung melompat dari tempat tidur dan menatap Bang Ridho dengan panik.

Astaghfirullah, Bang. Aku lupa.”

Bang Ridho merengut, melihatku dari atas ke bawah dan bertanya lagi, “Kamu udah shalat ashar?”

Aku menepuk jidat. “Astahgfirullah! Belum juga!”

Kali ini Bang Ridho menggelengkan kepalanya prihatin.

“Ya udah, kamu shalat aja sana. Biar abang yang nyapu halamannya. Jangan lupa, habis itu mandi. Bisa pingsan temen semejamu besok kalau kamu lupa mandi.”

Aku tersenyum malu menanggapi sindiran halus yang dilontarkan Bang Ridho.

***

“Rim, nanti tolong bantu aku kontak Ustadzah Nurul, ya? Kemarin aku udah kontakin terus, tapi enggak bisa,” kata Mia padaku dengan wajah frustasi pada suatu siang.

Maulid tinggal seminggu lalu, tapi pengisi acaranya belum bisa dihubungi.

“Yah, Mi, aku enggak bisa. Ada janji dengan Fadli,” kataku menolak dengan perasaan tidak enak. Mia merengut, tapi langsung mengangguk.

“Ya sudah, deh. Nanti aku minta tolong sama Bang Ridho aja.”

Belakangan ini, aku dan Fadli sering jalan bareng. Secara diam-diam, memang. Soalnya, Bang Ridho biasanya akan cerewet kalau aku jalan dengan teman laki-laki. Jadi, aku sering berbohong demi bisa jalan dengan Fadli. Rasanya senang bisa menghabiskan waktu berdua dengannya.

Meskipun begitu, setiap kali jalan dengan Fadli aku semakin merasa bersalah dan tidak tenang. Aku selalu gelisah. Jalan dengannya pasti membuatku lupa waktu. Ini membuatku semakin merasa tidak enak. Tapi, aku tetap melanjutkan hang out berdua dan melupakan banyak kewajibanku.

“Dek, Abang perhatikan sekarang kamu jarang sholat dzuhur di mushola,” tegur Bang Ridho suatu malam saat aku sedang chattingan dengan Fadli di ruang tamu.

Aku langsung menyembunyikan ponsel dari pandangan Bang Ridho dan merasa salah tingkah.

“Iya, Bang. Lagi dapet,” kataku berkilah.

“Dapetnya dua minggu?” tanya Bang Ridho langsung.

Aku menelan ludah. Memang aku sudah tidak pernah lagi shalat dzuhur kalau di sekolah. Mengobrol dengan Fadli rasanya enggak pernah bisa selesai! Lagi pula, kami mengobrolkan soal buku-buku yang kusuka.

“Abang juga enggak pernah lihat kamu hadir di halaqah ilmu di rohis.”

“Iya, Bang. Sibuk,” kataku semakin merasa bersalah.

“Sibuk apa? Kamu, kan enggak ambil bagian di acara Maulid minggu depan. Tadi aja kamu nolak temeni Mia ke Ustadzah Nurul tapi tetap pulang sore. Ke mana?” tanya Bang Ridho mulai menginterogasi.

Aku diam saja. Bang Ridho menghela napas. “Jalan sama Fadli?”

Aku terkesiap. “Abang tahu dari mana?”

“Tadi sore enggak sengaja ketemu kalian di jalan,” jawab Bang Ridho. “Kalian pacaran?”

Aku langsung menggeleng. “Enggak kok, Bang. Beneran.”

Bang Ridho tersenyum lesu melihatku gelagapan dan mengacak rambutku. “Abang bukannya mau menghalangi kebahagiaan remajamu, Dek. Tapi, kamu itu tanggung jawab Abang dan Bapak. Kamu perempuan. Kalau ada apa-apa sama kamu, yang dihisab duluan sama Allah itu Abang dan Bapak. Kamu ngerti, kan?”

Aku mengangguk pelan, “Ngerti, Bang.”

“Jangan sampai manusia menjauhkanmu dari-Nya, Dek. Jangan sampai cinta membuatmu lupa pada Yang Maha Mencintai. Kalau menjauhkan, maka tinggalkan saja. Apalagi, Abang lihat Fadli bukan orang yang rajin ibadah. Jangan sampai kamu ikut-ikutan.”

***

Pesan dari Bang Ridho selalu terngiang-ngiang di telinga. Aku masih sering jalan dengan Fadli. Aku juga sering bertanya-tanya, benarkah Fadli tidak rajin shalat? Aku tidak pernah memperhatikan.

Sore itu ketika waktu jalan-jalan bersama Fadli dan menunjukkan waktu ashar, aku coba-coba mengajaknya shalat. Fadli tertawa keras mendengar ajakanku.

“Buat apa, sih? Nanti aja di rumah shalatnya. Di sini repot.”

“Tapi nanti di rumah akan kehabisan waktu.”

“Enggaklah. Lagian lagi berduaan gini disuruh shalat, nanti kita tomat, dong. Habis tobat, langsung maksiat,” kata Fadli lalu terbahak.

Aku terkesiap dibuat jawaban Fadli. Tidak menyangka, laki-laki semanis dia akan mengatakan hal seperti itu. Bang Ridho benar. Bukan soal Fadli yang jarang shalat meskipun yang itu juga benar, tapi soal jangan sampai menjauhkan dari-Nya.

Bersama Fadli memang indah dan membuat hatiku jadi berjuta rasanya, tapi aku juga jadi semakin lalai. Lupa pekerjaan rumah, lupa shalat, sering bohong hanya supaya bisa bertemu Fadli di luar sekolah.

Aku juga mendadak tahu kenapa hatiku mengganjal setiap jalan dengan Fadli. Karena ini tepatnya! Karena aku sudah lalai dan membiasakan diri buat lalai. Bukannya berubah menjadi baik, bersama Fadli justru berubah menjadi buruk!

Lebih parah lagi, aku merasa tertampar oleh kelimat Fadli. Habis tobat, maksiat lagi. Memang, sih, aku enggak ngapa-ngapain bersama Fadli, tapi kalimatnya memang bener. Berjalan berduaan gini juga, kan dosa. Apalagi Fadli bukan mahramku.

Aku jadi teringat kalimat Bang Ridho semalam. Kalau ada apa-apa sama kamu, yang dihisab duluan sama Allah itu Abang dan Bapak.

Ya Allah, aku enggak mau orang-orang yang kusayangi kena getah dari apa yang kuperbuat.

Aku berhenti berjalan, membuat Fadli keheranan. “Rim? Kenapa?”

“Maaf, Fad. Aku mesti shalat,” kataku padanya. “Kalau kamu enggak mau shalat, ya udah. Aku duluan.”

“Hei-hei, Rim!” Fadli mengejarku. “Kenapa jadi ngambek. Kemarin-kemarin enggak shalat juga gak apa-apa, kan?”

“Ya justru karena kemarin-kemarin enggak shalat! Aku sadar, sejak dekat sama kamu, aku jadi lalai sama kewajibanku dan aku enggak mau begitu! Udah, aku mau shalat dulu. Kamu kalau mau pulang, ya pulang aja,” kataku pada Fadli. Fadli tampak tersinggung, tapi diam saja.

Rupanya Fadli menungguiku selesai shalat dan mengantarku pulang. Sepanjang jalan, kami diam saja. Baru ketika aku mau masuk rumah, aku bicara lagi pada Fadli.

“Fadli, aku enggak mau hubungan kita ini membuat kita jauh dari Allah. Kita sadar kalau ini salah. Cinta belum waktunya ini salah.”

Fadli tidak menyahut dan langsung pergi. Ada rasa sakit melihat Fadli murung begitu. Juga rasa kehilangan ketika chat-chat darinya tidak lagi masuk ke ponselku. Atau merasa ditinggalkan waktu Fadli tidak mengacuhkanku di sekolah padahal sebelumnya kami seperti buku dengan sampulnya; tidak bisa dipisahkan sama sekali. Tapi dibalik itu semua, aku merasa lega luar biasa.

Benar kata Bang Ridho, jangan sampai cinta membuatmu lupa pada Yang Maha Mencintai. Kalau seseorang itu menjauhkanmu dari-Nya, maka tinggalkan saja.

***

Oleh: Dina Pertiwi.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: