Hou leng a (cantik/indah sekali).” Seorang perempuan memuji keindahan senja yang biasnya menghiasi permukaan laut.

Seketika aku menoleh ke arah asal suara itu. Saat itu pula aku harus kembali menelan kecewa seperti sebelumnya. Kamu yang sejak tadi kutunggu belum juga menampakan batang hidungmu. Apa kamu lupa dengan janji kita untuk bertemu pekan ini?

Cekrek! Aku menoleh lagi. Tetap sama, aku kecewa lagi sebab perempuan yang baru saja mengambil gambar bukan kamu.

Kamu di mana, Dik? Senjanya sudah habis.

Satu per satu penikmat senja berlalu bersamaan dengan memudarnya pesona jingga. Langkah mereka perlahan menjauh diiringi gemuruh ombak kecil laut petang itu. Kukirim lagi pesan kepadamu dengan harapan kita jadi bertemu.

Dik … aku masih di sini nungguin kamu, di kursi kayu tempat biasa kita bertemu.

Suasana lengang dan semakin petang. Senja telah usai tiga puluh menit yang lalu, tapi kamu tidak juga datang. Apa yang terjadi denganmu, Dik? Bukankah kamu yang membuat janji temu di Kampung Nelayan ini? Kenapa kamu ingkari tanpa secuil pesan?

Byur! Hantaman ombak kecil terdengar begitu jelas. Baiklah, aku pun harus beranjak dari Kampung Nelayan ini segera agar bisa mengejar bus terakhir menuju kota.

Koko (Kakak)!” teriak perempuan berkulit putih. “Liko pei lei (ini untukmu).” dia menyerahkan sebuah amplop biru muda yang dia simpan di kantong celemeknya.

“Oh … thank you,” ujarku sedikit bingung.

Perempuan itu mengangguk dan tersenyum, kemudian berlalu menuju kedai kebab tempatnya bekerja. Aku pun melanjutkan langkah menuju terminal bus dengan kepala penuh tanda tanya. Untuk menghilangkan rasa penasaran, aku menarik lipatan kertas dalam amplop itu.

Kita pernah bahagia sebelum pertemuan itu ada

Kita pun semakin bahagia setelah pertemuan itu tercipta

Dan, di sinilah kita sekarang, saat kebahagiaan mungkin hanya bisa terjaga lewat doa

Tiba-tiba dadaku bergemuruh dan sesak. Ingin rasanya aku kembali ke kedai kebab menemui Man Tsz, memintanya untuk menjelaskan isi surat yang kamu tulis. Ah, tapi tidak, toh dia tak akan cerita apa-apa. Sudah pasti dia bungkam dan pura-pura tidak tahu.

 Apakah ini pertanda hubungan kita berakhir? Kamu menyudahi apa yang telah kita mulai dua tahun lalu hanya dengan tiga kalimat. Ini tidak adil, Dik.

***

Pagi itu, saat aku tergesah-gesah dan terjebak dalam kebingungan memilih pintu exit Sheung Wan Station, aku memberanikan diri mendekati dua perempuan berkerudung hijau tosca.

“Indo, ya, Mbak?” tanyaku hati-hati setelah mengucap salam.

“Iya. Ada yang bisa kami bantu, Mas?” Perempuan di sebelahmu balik bertanya.

Aku mendesah lega. “Kalau mau ke Sun Mui Hall arahnya ke mana, ya, Mbak?”

“Masnya mau ikut seminar?” tanyamu.

Aku hanya mengangguk dan menunggu kelanjutan penjelasanmu.

“Lewat exit B2, Mas. Nanti ada taxi stand, Masnya bisa naik taksi itu. Cuma 15 dolar, kok,” jelas temanmu sambil ibu jarinya mengarah ke pintu exit B2.

Aku pun berlalu dari hadapan kalian setelah mengucapkan terima kasih. Sialnya, hampir dua puluh menit aku menunggu tak juga ada taksi yang datang. Namun, di balik kesialan itu ada sebuah keberuntungan untukku. Kita bertemu lagi.

“Belum naik ke Sun Mui, Mas?” tanyamu tiba-tiba.

Aku menggeleng. “Dari tadi enggak ada taksi.”

“Ya sudah kita barengan aja. Kebetulan kami panitia seminar kesehatan dan halal food.” Kamu memberi tawaran sambil melambai, memberhentikan taksi yang baru saja menurunkan penumpang.

Dari pertemuan itu kita saling mengenal dan semakin dekat. Kamu yang mengaku anak nggunung dan sedang memburu puing dolar berhasil mencuri hatiku. Hati seorang calon dokter muda yang bisa kuliah di negara ini karena beasiswa. Kamu banyak mengenalkanku tempat-tempat indah di negara ini. Kamu berhasil membuatku tergila-gila terhadap senja. Kamu juga sukses membuatku menjadi pemburu senja sepertimu setiap hari Minggu.

Entah ini pertemuan kita untuk yang keberapa kalinya. Yang jelas sudah hampir dua tahun kita saling mengenal dan selama itu pula menyemai asa. Kehadiranmu berhasil mengalihkan duniaku yang sesak oleh tekanan orangtua–perihal perjodohan sepihak salah satunya.

Sore itu usai jam sekolahmu, kamu memintaku untuk menemanimu menghabiskan waktu libur di dermaga. Katamu sedang malas untuk berburu senja. Seperti daerah dan kota lainnya di Hong Kong, Sheung Wan pun selalu ramai. Elegan, eksotis dan modern membuat lingkungan tua Sheung Wan tidak pernah sepi dari kunjungan wisatawan. Kita pun melangkah di antara langkah-langkah pelancong menuju dermaga.

“Di sini juga bisa lihat senja. Senjanya enggak kalah cantik dari di Star Ferry–Tsim Sha Tsui.”

Aku menanggapi kata-katamu dengan mengangguk. “Gimana tadi belajarnya? Katanya ulangan. Bisa semua kan?”

Kamu menggeleng lemas. “Enggak bisa ngerjain yang cash flow. Konsentrasiku buyar gara-gara ….”

“Gara-gara apa?” selidikku.

Kamu menggeleng lagi. “Nggak apa-apa.”

Sore itu aku sempat kehilangan dirimu. Kamu yang biasanya selalu ceria meskipun capek bekerja mengurus lansia entah sedang berlibur ke mana. Kamu yang biasa banyak cerita mendadak bungkam.

“Kamu capeknya, Dik, kerja sambil kuliah?”

Kamu menghempaskan napas dengan kesal. Tidak menjawab pertanyaanku. Ah, tidak apa, aku tetap cinta kok.

“Minggu depan aku enggak ada kelas. Mas mau enggak kalau kita ke Tai O, ke Kampung Nelayan lagi. Aku kangen senja di sana.”

“Boleh.” Kuiyakan ajakanmu dengan semangat.

Apasih yang enggak untuk membuatmu bahagia? Aku yang telanjur jatuh hati dan klepek-klepek padamu siap menemanimu berburu senja. Ke mana pun kamu mau.

Tai O, menurutku adalah Kampung Nelayan yang sangat ramah. Pertama kali aku menjejakkan kaki di sana saat enam bulan mengenalmu. Kamu benar-benar perempuan lincah yang tidak menyia-nyiakan kesempatan. Di luar jadwal kerjamu sebagai TKW, kamu menyempatkan diri melanjutkan sekolah. Bebas dari jadwal sekolah di hari libur kerjamu, kamu menggunakannya untuk travelling. Mengenal sudut-sudut Hong Kong dari pulau terkecil nan jauh.

“Bisa buat inspirasi nulis, Mas. Kapan lagi jelajah Hong Kong kalau enggak sekarang. Buat sengaja liburan ke sini itu mahal.” Begitulah alasanmu saat kutanya apa enggak mending liburannya buat istirahat di rumah.

***

Janji temu di Tai O telah tiba. Sesuai kesepakatan melalui telepon, kita berangkat sendiri-sendiri. Aku sengaja berangkat lebih awal dari jam yang kita sepakati. Kurang lebih satu jam perjalanan dari Tung Chung Station telah kutempuh menggunakan bus nomor 11.

Seperti katamu, siapa yang datang lebih dulu harus menunggu di kedai kebab langganan kita. Dan aku berada di sini sedari tadi. Sampai pantatku mengakar. Hampir dua jam sudah setelah aku tiba tapi kamu tidak juga datang. Ponselmu pun tidak aktif. Ada kejutan apa untukku, Dik? Aku berpamitan pada temanmu yang keturunan Hong Kong–Indo, Man Tsz setelah mengirim pesan padamu.

Aku tunggu kamu di taman dekat penginapan ya, Dik? Nanti langsung ke sana aja. Kebab dan jus mangga kesukaanmu juga sudah kubelikan.

Ini adalah pertama kalinya kamu terlambat pada pertemuan kita. Keterlambatan yang fatal karena sampai senja usai dan hari gelap kamu tidak juga datang. Aku harus bagaimana sekarang, Dik? Marah? Sedih … atau …?

Aku pusing, galau tingkat dewa gara-gara tiga kalimat yang kamu tulis. Aku benar-benar tidak mengerti maksudmu. Apa artinya keindahan senja yang kamu kenalkan padaku jika akhirnya begini?

Dia ada di airport. Temui dia segera sebelum terlambat. Pesawatnya terbang jam sembilan lebih lima belas.

Aku menelan ludah membaca pesan dari Man Tsz. Dia yang dimaksud pasti kamu. Aku gegas keluar dari barisan orang-orang yang menunggu bus, mencari taksi supaya lekas sampai airport. Persetan dengan ongkos yang mahal.

Namun, lelucon apa ini? Man Tsz tidak mengatakan dengan jelas posisimu di mana. Nomermu, nomernya tidak ada yang aktif. Lalu pada siapa aku harus bertanya? Kakiku telah lelah menyisir barisan dan kerumunan orang di setiap gate. Namun hasilnya nol. Tidak kutemukan sosokmu.

Aku hanya ingin bertemu, sebentar saja. Jelaskan padaku maksud puisimu di dalam amplop biru itu. Kakiku telah lelah mencarimu di luasnya bandara ini.

Sengaja kukirim pesan melalui inbox fb. Toh, SMS percuma kalau nomormu tidak aktif pesan yang kutulis tak akan sampai.

“Mas ….”

Spontan aku mengalihkan pandangan dari layar ponsel.

“Maaf, ya, sudah bikin bingung. Aku nggak tahu mesti gimana? Maafin juga aku sudah ingkar dan membiarkan Mas sendirian di Tai O.”

Aku menarik amplop dari saku celana. “Ini maksudnya apa, Dik? Aku bukan penulis yang bisa faham dengan tiga kalimat itu.”

“Kita sudahan. Hubungan kita sampai di sini saja. Aku tahu Mas Fuad sudah dijodohkan dengan perempuan lain. Anak mitra bisnis orangtua Mas Fuad. Bukankah mereka sudah menetapkan tanggal pernikahan kalian?”

“Siapa yang bilang?!”

“Mbak Khusnul. Kami sudah berteman cukup lama di facebook. Perempuan itu sering cerita tentang perjodohan kalian. Dia ada di Hong Kong, Mas.” Kamu menyeka air mata yang mulai tumpah dari sudut matamu. “Seminggu yang lalu, sebelum aku ikut ujian dia menemuiku. Dia cerita semua tentang perjodohan kalian.”

“Percaya sama aku, Dik. Aku mencintai kamu, bukan Khusnul. Aku sudah menolak perjodohan itu berulang kali.”

“Cinta kamu bilang? Cinta seperti apa kalau masih ada kebohongan di dalamnya? Sudahlah, Mas. Jangan durhaka kepada orangtuamu gara-gara aku.” Kamu tergugu, air matamu semakin deras. “Toh, aku juga akan menikah dengan laki-laki pilihan orang tuaku, Mas. Kita pastinya akan bahagia dengan pasangan masing-masing.” Lanjutmu lirih.

“Bahagia katamu? Bagaimana bisa bahagia kalau menikah tanpa cinta? Aku ….”

“Aku akan bahagia kok, Mas. Insyaallah.”

“Tapi, Dik … aku itu maunya berjodoh sama kamu. Sudah dua tahun kita sama-sama berjuang. Kenapa sekarang kamu menyerah?”

“Mungkin aku sanggup melawan apa pun di dunia ini, tapi aku nggak sanggup melawan takdir Allah, Mas.” Ujarmu menahan isak kemudian berlari menuju pintu imigrasi.

Aku bisa apa sekarang selain memandangi punggungmu yang kian menjauh dari pelupuk mata? Aku bersungguh mencintaimu tak peduli status kita berbeda. Kepribadianmu telah mengalihkan duniaku selama ini. Berawal dari kekagumanku karena keberanianmu merantau di usia belia.

Ah, Dara … keputusanmu mengacaukan taman di hatiku. Taman yang keindahannya kamu ciptakan sendiri. Belum pernah aku merasakan sakit hati seperti ini. Belum pernah aku terpukul dan menangis di tengah keramaian seperti ini.

Jika dia takdirmu, maka aku akan bahagia untukmu.

Dua bulan berlalu sejak perpisahan malam itu. Kesibukan kampus nyatanya tidak bisa mengalihkan pikiranku darimu. Bahkan, aku tidak pulang ke tanah air untuk memenuhi permintaan orangtuaku. Bukan aku durhaka kepada mereka, aku hanya tak yakin bisa hidup bahagia dengan perempuan selain kamu, Dara.

***

Oleh: Isti Syarifah.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: