Nok, besok pagi aku ada jadwal mengulang ujian skill lab keperawatan. Doain, ya? tulisku di papan pesan SMS yang kutujukan padanya.

Aneh sekali memang. Entah apakah itu karena perasaan cinta, atau yang lainnya. Kalau benar itu cinta, apa iya bisa menjangkiti hati seseorang yang belum pernah jumpa sebelumnya? Aku tak peduli apakah itu cinta atau bukan. Hatiku terlanjur mabuk dan tak terpikir untuk mencari tahu tentang itu.

Iya, semoga mendapatkan hasil terbaik. Jaga diri baik-baik, ya? Met bobok, balasnya dengan cepat.

Barangkali lebih tepat dibilang bahwa, aku sedang gila. Tanpa hadirnya canda, aku bisa tertawa. Tiada peluknya aku bisa bermanja. Tak pernah melihat wajahnya pun aku mampu melukis sebentuk senyum perempuan yang ingin kucinta.

Cukup dengan saling berkirim kata, kami tumbuhkan sejuta rasa. Kala itu Nokia 8250 menjadi perantara kegilaanku. Setiap waktu berkirim kata melaluinya, memuja perempuan yang sedang merantau di seberang sana. Meskipun tak ada detail lain yang kutahu dari perempuan itu selain nama, daerah tempat tinggal, dan daerah tempatnya bekerja. Namun, perantara Nokia membuat kami dekat tanpa ada sekat.

Mmuuaach …. Kuletakkan handphone di samping bantal. Setelah kukirimkan satu kata tanda (semacam) kecupan di keningnya. Pukul 00.15 malam, waktu di pojok Nokia 8250. Tentu saja dengan meletakkan harapan esok hari akan lebih indah daripada hari ini. Semoga usahaku belajar malam itu sudah cukup sebagai bekal menghadapi ujian ulang skill lab keperawatan.

Bismika allahumma ahya wabismika aamuut.

***

Nyatanya kita tak mampu memastikan bahwa hari esok harapan kita akan benar-benar terkabul. Bahkan, bisa jadi jauh lebih pedih dari keindahan yang kita harapkan.

“Dox! Kodox … Gempa! Cepat keluar dari kamarmu.” Teriakan itu bersumber dari luar kamarku.

Aku kenal suara itu. Itu suara Barno, teman satu kontrakan. Rasanya seperti mimpi. Kudapati diriku masih terbaring di kasur. Memang terasa seperti ada yang menggoyang-goyang tubuhku, tapi kupikir itu hanya perasaan setengah sadar semata.

Betapa kagetnya aku ketika remah pasir menghujaniku. Butiran-butiran itu menerobos sela-sela atap plafon yang meregang akibat guncangan. Semakin lama, remahan itu semakin memenuhi kepalaku. Aku baru yakin bahwa ini bukan mimpi setelah kepalaku penuh dengan gerusan tembok yang retak.

“Ini kiamat! Astagfirullah … Astagfirullah … Astagfirullah …”

Kubalik badan, berlindung menutupi diri pakai kasur. Ya Allah … jika memang hari ini nyawaku kau ambil, aku ikhlas.

Guncangan itu terus kunikmati. Kuabaikan panggilan orang-orang yang memintaku segera keluar. Kudiamkan remah tembok yang terus mengucur menghujaniku. Pun, kulupakan sosok perempuan yang selalu membuatku gila dan rindu. Lisan dan hatiku hanya mampu menyebut, Astagfirullah berulang tiada henti.

Cinta, sama sekali tak terlintas sedikit pun di kepala. Apalagi soal nama, atau kesempurnaan orang-orang yang kusuka. Senyum ibu pun kulupa. Padahal dialah yang paling besar memberiku rasa cinta. Dia pula yang menyimpan surga di kakinya. Namun, rasa takut yang luar biasa telah memenggal pikiran-pikiran tentang mereka. Hanya satu hal yang saat itu ada dalam pikirkanku, yaitu kematian.

Aku tak akan selamat. Sekuat apapun imanku, sehebat apapun kesaktianku. Kiamat akan merenggut hidupku. Maka, aku ikhlaskan semuanya.

Brak Brak Brak! Seseorang menggedor jendela kamarku. Berulang-ulang.

“Dox, Cepat keluar!”

Ah, sepertinya sudah berhenti. Kusibak kasur yang mengemuli tubuh. Aku segera bangkit. Handel pintu kuputar, lalu kutarik. Namun, pintu tak bisa kubuka. Gerendel pintu kulihat tidak sedang terkunci, tapi pintu sangat susah dibuka.

Ada retakan tembok bermuara pada sudut puntu kiri atas. Barangkali guncangan gempa itu telah membuat gawang pintu sedikit bergeser. Sehingga mengubah beberapa inci ukurannya. Itulah yang membuat daun pintu susah dibuka. Daun pintu itu terhimpit gawang yang telah bergeser.

Aku kembali mencoba membuka pintu kamar. Kujejak beberapa kali, berharap daun pintu itu bergerak dan lebih mudah dibuka. Tapi bergeming. Justru remah tembok yang retak semakin deras berjatuhan. Membuat retak itu semakin menganga.

Kutarik handel pintu dengan menghentak berkali-kali. Sekuat tenaga. Brak! Alhamdulillah terbuka.

Aku keluar kamar. Berjalan cepat menuju pintu belakang. Pintu terdekat untuk keluar dari rumah kontarakanku. Kulihat atap plafon berlubang di mana-mana. Pecahan genteng berserakan di lantai. Kututupi kepalaku menggunakan lengan. Menjaganya agar tidak bocor jika tertimpuk genteng yang menghujan.

Begitu sampai di pintu, aku melihat tembok pagar belakang rumah roboh ke arah dalam. Aku berdiri tepat di lubang pintu. Mengamati sekitar, memastikan aman. Puing-puing dan batu bata berceceran. Hanya sumur tua dan dua buah tiangnya yang masih terlihat utuh. Sedangkan dua kamar mandi di sampingnya pun hanya menyisakan satu sisi tembok yang retak.

Teman-temanku tertawa, ketika kukibas-kibaskan rambut menggunakan tangan. Menghilangkan remah bangunan yang memenuhi kepala. Kalau saja saat itu aku bercermin, barangkali penampilanku mirip monster pasir yang baru muncul dari dalam tanah. Aku menghampiri mereka.

Pekok tenan kowe ki1. Berkali-kali kupanggil suruh keluar, diam aja. Untung tembok kamarmu enggak roboh. Lihat itu.” Barno menunjuk ke atas, ke arah rumah itu.

Aku terbengong melihatnya. Bangunan rumah kontrakan tua itu retak di bagian tembok segitiga, penyangga blandar2. Kalau saja gempa itu berlangsung beberapa detik lebih lama, pasti tembok itu akan roboh.

Kamarku letaknya paling pinggir, tepat di bawah bangunan segitiga itu. Dan, aku tidur tepat di bawah tembok yang retak tersebut. Andai tembok itu roboh, jelas cerita ini tak akan terposting di trenlis.co.

Subhanallah, tak kuragukan kuasa Allah.

***

“Coba dibawa ke rumah sakit lain saja, Mas. Di sini sudah penuh. Kami tak mampu menangani lagi,” ujar seorang perawat berseragam hijau di IGD RS PKU Yogyakarta.

“Tapi, Mas ….” Perawat itu berlalu tak peduli denganku.

Jerit tangis, teriakan pedih, dan kebisuan yang bungkam oleh kematian. Di antaranya peluh para dokter dan perawat berseragam hijau bercucuran. Tangan mereka berlumuran darah. Berkali-kali menyulam vena dan nadi yang putus menyemburkan darah. Tangan mereka pula yang merapatkan luka-luka yang menganga.

Seorang anak tergeletak di pangkuan ayahnya. Kepalanya bersimbah darah. Matanya terpejam, mulutnya bungkam, dan ayahnya histeris tak keruan. Di dekat sepasang ayah dan anak yang malang itu, tergeletak seorang pemuda berdada bidang. Dia diam, sendirian. Lengan dan kakinya terbebat verban. Seperti baru saja ditinggalkan perawat yang beralih menangani korban lain.

“Wan, kita ke RS Ludira saja. Barangkali di sana rada sepi.”

Iwan, teman satu atap di rumah kontrakanku terluka di dagunya. Sobek akibat tertindih reruntuhan pagar rumah belakang saat dia berlari keluar menyelamatkan diri. Aku mengantar Iwan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

Sesampainya di RS Ludira, suasana tak jauh beda dengan RS PKU. Di setiap sudut bergelimpungan pasien luka-luka. Mereka menjerit, menangis, meronta meminta pertolongan. Sebagian yang lainnya membisu, menunggu lepasnya nyawa yang menggantung di ubun-ubun.

Aku dan Iwan merangsek ke dalam. Mencari petugas yang bisa memberi pertolongan. Namun, tak satu pun petugas yang nganggur. Sedangkan darah terus merembes ke luar dari dagu Iwan yang sobek.

“Sini, Wan tak bersihin aja lukamu.”

Iwan duduk di teras, kemudian kuguyurkan cairan infus sambil kugosok lukanya pakai kassa. Masa bodoh, meskipun aku belum lulus jadi perawat, tapi aku tahu cara bersihin luka.

“Tsunami! Tsunami! Airnya sudah sampai jalan Parangtritis!” teriak orang-orang di halaman rumah sakit.

Sontak para penunggu yang ada di rumah sakit berhamburan ke luar. Berlarian, tumpah ke jalan, semua mengarah ke utara. Orang-orang menyemut di jalan arah Wirobrajan menuju ke utara. Barangkali hanya aku dan para korban yang tak sanggup berlari yang tinggal di rumah sakit itu. Pasrah.

“Ayo, Dok mlayu ngalor3,” ajak Iwan.

“Udah di sini aja, Wan. Kalau memang udah saatnya mati, mau lari ke mana aja juga pasti bakal mati.”

Aku dan Iwan hanya bisa menyaksikan kepanikan orang-orang berlarian menuju utara. Pun menyaksikan perih para korban yang ditinggal tunggang-langgang sanak saudaranya. Bukankah mereka sering kali menunjukkan rasa cintanya. Antara ayah dengan anaknya, kakak dengan adiknya, suami dengan istrinya, sahabat dengan temannya, atau antara pacar dengan soulmate-nya.

Cinta … Masih adakah cinta di antara kita, Ketika maut sudah di depan mata? Masih adakah cinta, jika saat itu kiamat benar-benar terjadi tanpa kenal permisi dan nanti-nanti?

Kuambil Nokia 8250 dari saku celana. Kutatap layar kuningnya. Tak ada daftar panggilan, tanpa pemberitahuan pesan masuk. Bahkan tanda keberadaan signal pun tak tampak.

Jangankan jaringan telepon, bagi Allah sangatlah mudah memutus ikatan cinta, bahkan ikatan antara raga dan nyawa kita. Masihkah pantas bagi kita mengagungkan cinta kepada dunia di atas makrifat kepada-Nya?

Note:

  1. Bodoh benar kamu ini.
  2. Istilah orang jawa untuk menyebut kayu yang dipasang membentang sebagai bagian utama dari konstruksi penyangga atap rumah.
  3. Lari ke utara.

Oleh: Seno Ners.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: