Sahabat until Jannah, aku sering mendengar kalimat itu. Kamu juga pernah mengucapkannya padaku. Hampir dua tahun kita saling mengenal. Dulu, ketika pertama bertemu, aku hanya membatin, dia cantik.

Kamu, perempuan dengan paras paling ayu (cantik) di kelas pascasarjana psikologi. Aku yang berjenis kelamin sama denganmu saja, mengakui itu. Apalagi kaum Adam yang melihatmu. Pastilah terpesona.

Tak butuh waktu lama untuk kita saling akrab. Lebih-lebih setelah aku memutuskan untuk berpindah indekos yang lebih dekat denganmu. Kita mulai sering menghabiskan waktu bersama. Tidak berdua memang. Ada Lulu, Delisa, Intan dan Puput yang juga sering bergabung dengan kita.

Menyenangkan, ya? Buatku, sih, sepertinya tidak untukmu.

Kita sering cerita tentang banyak hal. Aku yang ingin segera menikah, selalu gembar-gembor akan membelikan seragam untuk kalian. Sekalipun hanya kaos bertuliskan jogja yang harganya tidak lebih dari lima belas ribu. Hahaha …

Lulu selalu manyun setiap aku bicara akan membelikan kaos Jogja untuk seragam kalian di acara pernikahanku, yang belum tahu kapan.

Kamu cukup mengerti bagaimana sifat dan karakterku. Emm … bukan, bukan hanya kamu, kalian sangat memahamiku.

Begitulah yang kupikirkan. Kita pernah berseteru lumayan keras. Namun ternyata hanya sebuah kesalahpahaman. Lalu kita berbaikan kembali. Bahkan nginep bareng di indekosnya Lulu yang letaknya jauh dari kampus kita. Kita Salat berjamaah, ngobrol, masak, seru sekali.

Kebiasaanku yang ini, pasti kamu sudah hafal. Membawa buku kemana-mana sebelum benar-benar selesai membacanya. Mencuri-curi waktu untuk merampungkan satu buku di antara jeda perkuliahan. Kamu tahu, apa yang sekarang sedang kubaca, Jihan?

Buku Allah, Jangan Biarkan Aku Sendiri yang ditulis oleh Mas Dwi Suwiknyo, penulis idolaku.

Aku tersenyum lebar ketika membaca judulnya. Ya, Dia tidak pernah membiarkanku sendirian. Ketika aku jauh dari orangtuaku, ada kalian, keluarga kedua yang selalu menemaniku, bagaimana pun keadaannya. Ada bagian yang megingatkanku padamu,

Allah, aku sudah melewati banyak kejadian yang semakin melemahkan sekaligus menguatkan hatiku (halaman 13).

Kata-kata itu, pas sekali untukmu. Setelah melewati patah hati yang tidak hanya sekali, kamu tampak kuat. Meskipun awalnya terlihat lemah dan menyebalkan. Bagaimana tidak? Kamu pernah nangis histeris pada tengah malam di indekosku, hanya karena laki-laki yang sama sekali tak pantas untuk kamu tangisi.

Kami—aku, Delisa, Lulu dan yang lain—susah payah membujukmu move on. Mulanya kamu begitu keras kepala. Beberapa kali aku ngambek karena kamu melupakan janji kita demi pergi dengan pacarmu. Tetapi semuanya terlewati dengan indah. Kamu berkerja keras untuk melupakannya. Hingga menjelma menjadi wanita anggun yang semakin memesona. Aku bangga dengan perubahanmu.

Kita mulai sering ke kajian bersama. Akhlakmu semakin meneduhkan. Lagi-lagi aku melihat bukti dari tulisan,

Ya Allah yang mengarahkan hati, arahkan hati-hati kami untuk taat kepada-Mu (halaman 21).

Semuanya berjalan normal. O, iya, selain dengan geng mungils—Kita, Lulu, Delisa, Intan dan Puput—ada Mbak Hapsari Dian Saputri yang senantiasa menjadi tempat curhat kita. Biasanya kita memanggilnya Mbak Dian. Beliau begitu sabar menghadapi rengekan kita—adik-adiknya yang manja.

Suatu malam, kita pernah datang mengganggunya yang sedang kencan dengan Mas Pandu—suaminya. Namun beliau menyambut kita dengan senyum paling ramah.

Hahaha … adik macam apa kita ini? Tak tahu diri.

Waktu berjalan biasa, tetapi kita jarang menghabisakan waktu bersama lagi. Kesibukanku bertambah saat mulai jualan juga menulis, sedangkan aktivitasmu padat dengan teman-teman komunitasmu.

Aku memang menemukan sahabat baru. Namanya Hapsari Titi Mumpuni. Hampir mirip dengan nama Kakak kita—Mbak Hapsari Dian Saputri. Suatu saat, aku pengin menceritakan tentang dia padamu dan yang lain. Betapa dia begitu sabar mengajariku tentang menulis, berbagi ilmu, juga pengalamannya yang luar biasa.

Aah … seandainya kalian mengenalnya, pasti juga akan suka. Sayang, kita sedang fokus dengan dunia kita masing-masing sekarang.

Namun, ternyata prasangkaku selama ini salah, salah besar. Kamu tidak pernah memasukkanku ke dalam daftar sahabatmu. Siang itu, tiba-tiba saja Delisa men-share foto pernikahanmu ke grup kelas kita. Aku sangat kaget, marah dan terluka. Bukan karena aku iri melihatmu lebih dulu memiliki seorang pendamping. Tidak, insyaallah aku tidak sepicik itu.

Hanya saja, aku sungguh tidak menyangka, kamu merahasiakannya dariku. Ada apa sebenarnya? Bukankah hubungan kita baik-baik saja, Han?

Aku tak berkomentar apa pun di grup saat foto pernikahanmu terpajang. Tetapi kukirimkan pesan doa padamu.

Aku: Barakallahu lakuma wa baroka ‘alaikuma, wajama’a bainakuma fii khair, Han.

Kamu: Terima kasih Mbak Tika

Yang membuatku kian sesak, Han, jawabanmu semakin menguatkan bahwa aku bukanlah sahabatmu. Jawabanmu begitu singkat dan tak seperti biasanya. Aku pun mengirim WhatsApp penuh kemarahan pada Delisa.

Aku: Gitu ya, kalian? Cukup tahu aja.

Delisa: Aku cuma menjalankan amanah Jihan, Mbak. Dia minta untuk dirahasiakan dari Mbak Tika. Kalo butuh penjelasan, biar dia sendiri yang menjelaskan ya, Mbak. Maaf banget.

Tadinya aku tak mau membalas pesan Delisa. Tetapi setelah berpikir sejenak, dia tidak bersalah. Memang seharusnya dia menjaga amanah darimu.

Hehehe … aku bercanda kok Del, santai Sis!

Sekitar tiga hari kemudian, aku bertemu dengan Delisa dan Intan, di tempat kita biasa makan bersama. Aku tak menanyakanmu. Rasanya tak pengin membahasnya. Tapi Delisa mendadak nyeletuk,

“Mbak, maaf ya kemarin, aku enggak bermaksud nyembunyiin dari Mbak Tika. Aku juga udah nasehatin Jihan biar bilang ke Mbak tentang pernikahannya. Tapi, dia tetap keukeuh enggak mau Mbak tahu, entah apa alasannya.” ucapnya dengan nada penuh sesal.

“Kamu enggak salah, Del.” Aku mencoba mengalihkan perhatian pada pempek yang tersaji di hadapanku.

“Nanti, biar Jihan sendiri yang menjelaskan ya, Mbak!”

Aku berhenti makan, “Apa yang mesti dijelaskan, Del? Enggak mungkin dia mau ngejelasin. Memangnya aku ini siapa? Hahaha ….” jawabku sambil tertawa getir.

“Rasanya aku bertepuk sebelah tangan, Del. Jika nanti aku menikah, aku pengin kalian yang pertama tahu. Tetapi dia, justru menyembunyikannya dariku.” Aku tersenyum pahit.

Kami lanjut ngobrol panjang lebar. Tidak membicarakanmu. Kubilang, aku tak ingin mendengar mereka bercerita tentangmu. Sudahlah, aku akan berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Cukup tahu saja, kalau kamu memang mengganggap aku bukan sahabatmu.

Bibirku tersenyum, tetapi hatiku tidak. Aku tertawa, tetapi sebenarnya hatiku bersedih (halaman 52).

***

Keesokan harinya, aku ke kampus dan ketemu dengan Mbak Dian. Setelah bersenda gurau lumayan lama, akhirnya Mbak Dian bertanya,

“Kamu masih marah sama Jihan, Dek?”

Kurasa Mbak Dian tahu semuanya tentang kita, “Hahaha … marah apanya, Mbak?” Aku masih sok tegar.

“Jangan gitu, Dek, ikhlas! Supaya hatimu bersih, jadi enggak mengganggu langkahmu ke depan.” Mbak Dian menasihatiku.

“Apanya yang perlu diikhlaskan, Mbak? Mbak pernah merasa dibuang? Nah, begitu yang kurasakan sekarang. Mau aku ngapain juga, sesuatu yang sudah enggak berguna ya tetap saja dibuang. Jadi ya aku biasa saja. Enggak apa-apa.” Aku tetap sok-sokan dan sombong.

Tak selamanya apa yang tampak dari diriku adalah diriku yang sebenarnya. Aku membohongi orang-orang, dimulai dari membohongi diriku sendiri (halaman 52).

“Kamu beneran enggak apa-apa, Tik?” tanya Mbak Dian memastikan.

Aku menggeleng sambil menunduk. Tak berani menatap mata Mbak Dian. Beginilah kalau orang sedang berbohong, tidak mampu berkontak mata.

***

Namun, sebaik-baiknya kita menyembunyikan bangkai, tetap terciumya, Han?

Aku gelisah tidak jelas ketika sendirian di indekos. Kuraih buku yang belum selesai kubaca kemarin Allah, Jangan Biarkan Aku Sendiri agar galauku teralihkan. Aku malah menemukan kata yang jleb di hati.

Allah, Engkau tahu apa yang tersembunyi di dalam hatiku. Meski aku tersenyum, Engkau sangat tahu hatiku bersedih (halaman 30).

Duh, kenapa buku ini malah menyindirku?

Aku tak jadi melanjutkan baca. Aku perlu melepaskan unek-unekku. Aku menelpon Mbak Dian. Aku kesal dengan diriku sendiri yang memelihara luka.

Assalamu’alaikum, ngopo, Nduk (Kenapa, Dek)?” sapa Mbak Dian.

“Mbak, sibuk ya? Aku mau curhat.” ucapku sedikit memelas.

“Enggak, Nduk. Curhatlah!” Mbak Dian mempersilakan.

“Kok aku merasa hatiku buruk banget ya, Mbak? Aku masih kesel sama Jihan, sakit rasanya dibuang.”

“Hemm … kan tadi Mbak sudah bilang, lepaskan kekesalanmu! Kalau kamu bisa lega dengan menangis, menangislah! Kalau pengin teriak, teriaklah! Jangan menyimpan racun di hatimu! Ia akan menginfeksi seluruh amal baikmu. Sebenarnya kamu seperti ini karena saking sayangmu sama dia, kok.” jelas Mbak Dian.

Aku tak dapat menahan airmata mendengar kalimat terakhir, “Mbak tahu sendiri betapa sayangnya aku pada Jihan. Sampai seandainya dia berjodoh sama mantan yang dulu menyiksa batinnya kemarin, aku enggak rela. Tetapi kenapa justru di hari bahagianya aku enggak dikasih tahu? Apa aku akan merusak kebahagiaannya, Mbak? Aku salah apa, Mbak?” kataku terbata di antara tangis.

“Nduk, jangan mau kalah sama musuh! Kamu harus menang! Kalau kamu terus menyimpan amarah, setan akan senang, kamu kalah.”

Bagaimana seharusnya aku bertindak? Jika musuh menyelinap di celah tulang igaku (halaman 97).

Aku membenarkan semua perkataan Mbak Dian. Aku yang salah meletakkan harapanku padamu. Sekarang, ketika kamu telah hidup bahagia bersama suamimu, bukankah seharusnya aku pun bahagia?

Terlepas kamu memberitahuku atau tidak. Aku mulai merenungi kalimat di halaman akhir buku Allah, Jangan Biarkan Aku sendiri.

Tidak ada lagi kekhawatiranku atas semua yang ada di dunia ini. Sebab telah Engkau gariskan untukku rezekiku. (halaman 163)

Kini aku mengerti, bertemu dan bersahabat denganmu adalah rezekiku. Jika memang Dia telah memutuskan kita tidak bisa sedekat dulu, tentu itu salahku, bukan kamu. Sebab apa yang kudapatkan hari ini, merupakan hasil dari perbuatanku kemarin, kan?

Kamu melakukan ini padaku karena Allah tahu, aku pantas diperlakukan begitu. Insyaallah aku sudah tidak menyimpan luka lagi, Han. Meski kamu tak menganggap aku sebagai sahabatmu, kamu tetap sahabatku.

Allah memang luar biasa. Ketika hatiku begitu pekat dengan dosa dan tak bisa merasakan kehadiran-Nya, Dia hadirkan Mbak Dian dan buku yang ditulis oleh Mas Dwi Suwiknyo, agar aku tak pernah merasa sendiri.

Nanti, jika aku terluka karena salah berharap lagi, aku akan kembali membuka buku ini. Insyaallah.

Judul Buku: Allah, Jangan Biarkan Aku Sendiri

Penulis: Dwi Suwiknyo

Penerbit: Trenlis

Cetakan: Pertama, November 2018

Tebal: 168 halaman

ISBN: 978-602-52799-1-1

***

Oleh: Fitri Ayu Mustika.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: