Akhir-akhir ini menikah di usia muda seakan menjadi trend. Tapi pada kenyataannya trend menikah mudah sudah terjadi sejak lama. Hanya saja tak se-fenomenal sekarang. Sebut saja kisah Siti Nurbaya yang harus menikah di usia yang terbilang cukup muda. Tapi … Siti Nurbaya kan menikah karena terpaksa. Yups, tapi ending-nya nikah muda juga kan?

Menikah muda seakan sudah dianggap hal biasa di kalangan masyarakat. Berbagai alasan dan spekulasi pun bermunculan. Terlebih bagi masyarakat desa, memang sih nggak semua. Dan masih banyak yang menganut prinsip ‘Anak perempuan yang sudah menginjak usia 20-an harus segera menikah.’ Pun demikian dengan masyarakat sekitarku. Dan benar saja, sebagian besar anak gadis tetanggaku lebih memilih untuk menikah muda. Menikah setelah lulus SMA atau bahkan yang masih baru lulus SMP. Ketimbang harus merasakan lelahnya menempuh pendidikan tinggi dengan segala macam tantangan untuk mengembangkan kemampuan diri. Bahkan anak gadis yang lebih memilih melanjutkan pendidikan tinggi sering kali dianggap hal tabuh bahkan dijauhi. Sungguh itu bukan hal baru bagiku. Emmm … anehkan? menurutku pun demikian.

Menikah … sudahlah pasti setiap orang ingin merasakan indahnya sebuah maligai pernikahan. Menjalani bahtera rumah tangga seperti dalam impian. tak terkecuali pula denganku. Karena menikah adalah ibadah, sunah Rasul dan yang pasti sebagai penyempurna agama.

Tapi … ketika perempuan lebih memilih untuk menempuh pendidikan tinggi, kenapa banyak yang nyinyir ya?

Menikah dan menuntut ilmu. Dua hal yang tak bisa disamakan ataupun disetarakan. Karena keduanya memiliki porsi yang berbeda. Jika dalam menikah ada batas yang ditentukan untuk berapa kalinya dan pada usia berapa diperbolehkan untuk menikah. Namun, tidak demikian dengan menuntut ilmu. Menuntut itu dimulai sejak dalam buaian ibu sampai terputusnya semua amal kita yaitu dengan kematian. Jadi, menurutmu mana nih yang harus menjadi prioritas utama?

Menikah dulu, setelah itu menuntut ilmu dan belajar memantaskan diri bareng-bareng. Atau … menuntut ilmu dulu baru setelah itu menikah?Karena untuk menikah pun kita juga butuh ilmu, bukan hanya sekedar cinta.

Jika kata orang kamu harus segera menikah hanya karena faktor usia. Coba tanyakan dulu pada hatimu yang paling dalam, ‘Sudah siapkah kamu untuk berganti status dan menerima tanggung jawab baru sebagai seorang istri dan ibu bagi anak-anakmu ? atau malah sebaliknya.

Menikah itu bukan hanya sekedar mengejar target usia. Bukan pula ikut-ikutan trend anak muda zaman sekarang yang mengatas namakan nikah muda. Karena menikah itu tujuannya mulia. Apalagi jika hanya terburu oleh nafsu hingga kita lupa hakikat menikah yang sesungguhnya.

Begitupun dengan menuntut ilmu. Carilah ilmu sebanyak-banyaknya selagi kita mampu. Karena menuntut ilmu itu tidak hanya kita peroleh di bangku sekolah. Setiap apa yang ada di keliling kita, pun akan menjadi ilmu yang sangat bermanfaat jika kita bisa mengambil hikmah darinya. Belajar bersyukur dan bersabar untuk menjadi hamba yang lebih baik. Menuntut ilmu sebelum menikah itu wajib hukumnya. Agar kita paham dan mengerti bagaimana cara untuk bisa membina sebuah rumah tangga yang sesuai dengan anjuran Nabi dan Rasul-Nya. Saat ini pun juga sudah semakin marak dengan pendidikan ‘Pra Nikah’ yang bisa kita temui.

***

Kapan nikah?

Pertanyaan itu datang untuk kesekian kali. Begitupun dengan jawaban yang sama, berkali-kali aku sampaikan. Ah, malas rasanya untuk menjawab pertanyaan itu kesekian kalinya. Ekspresi malas pun kerap kali aku tunjukkan sebagai bentuk protes akan pertanyaan yang bagiku bukan hak mereka untuk menanyakannya.

“Sudahlah itu rahasia Allah. Stop jangan ulang lagi pertanyaan yang sama. Atau bahkan sampai kalian mengusik hidupku hanya karena hal yang sepele. Sudahlah, jika sudah waktunya, undangan yang akan berbicara,” gerutuku dalam hati.

Nduk, jangan marah ya,” pinta ibu.

“Marah kenapa bu?” jawabku untuk meminta penjelasan. Namun, sepertinya aku paham alur pembicaraan ini selanjutnya.

Ekspresi dan kata-kata ibu mengingatkanku pada beberapa bulan yang lalu. Seseorang datang dan tiba-tiba mengungkapkan niatnya untuk meminta izin ibu meminang anaknya. Entah itu kabar baik atau kabar buruk bagi beliau. Yang jelas bukan kabar baik bagiku.

“Lah wong masih anak ingusan, kok ya ditawari nikah. Ya moh lah …” sanggaku saat itu.

Kali ini, ekspresi itu pun muncul kembali. Seakan aku harus siap-siap mempersiapkan jawaban yang terbaik untuk kesekian kalinya. Atau harus siap-siap mencari topik pembicaraan lain untuk mengalihkan pembicaraan dengan topik yang menurutku kurang menarik.

“Tadi siang ibu ketemu temen ibu pas SMA dulu. Tapi jangan marah ya,” pinta ibu untuk kesekian kalinya. Dengan pandangan ke arahku memastikan ekspresi dan responku terkait pembicaraan kami selanjutnya.

Aku hanya menggelengkan kepala, sebagai pertanda bahwa aku tak akan marah.

“Ada yang nanyain lagi?” tanyaku dengan ekspresi datar.

“Nanyain Linda untuk dijadikan istri?” jawabku dengan ekspresi yang tak bisa menahan tawa. Jujur saja, hal ini seakan aku anggap sebagai hal lucu. Bagaimana tidak, coba deh bayangkan, tanpa tahu siapa dan bagaimana rupanya tiba-tiba main mau ambil anak orang. “Mana bisa seperti itu?” gerutuku dalam hati.

Tiba-tiba teringat sebuah chat yang masuk ke Instagram-ku beberapa hari lalu. Tanpa ada hujan atau angin tiba-tiba pesan aneh bertengger di kotak masuk. Agak jengkel juga sih, tapi ya sudahlah … anggap saja angin lalu dan yang penting tidak baperlah menanggapinya. Kurang lebih isinya seperti ini,

‘Hi Linda, perkenalkan saya Fa**s  yang sudah sejak lama menjadi pengagum rahasiamu. Bersama dengan pesan ini aku ingin mengungkapkan rasa yang Allah berikan untukku. Entah kenapa beberapa bulan ini aku sering memimpikanmu dengan senyum indahmu yang mampu memabukkan hatiku. Memang, kita sudah lama tak bertegur sapa seperti dulu, tapi aku sudah cukup lama mengenalmu, begitupun denganmu.

Melalui pesan ini aku ingin bilang, “Maukah kamu menjadi istriku, menjadi sahabat dan teman hidup di sisa usiaku. Yang akan menemani sisa hidupku”.

Nah, loh … kalau kayak gini gimana coba? Aneh bin lucu. Entah kenapa sampai punya ide seaneh itu. Mungkin anggapannya kalo nggak dibalas berarti nggak diterima dan saatnya cari yang lain. Duu …

“Nduk,” sontak suara ibu membuyarkan lamunanku.

“Tadi ibu ketemu temen ibu di pasar. Tiba-tiba dia bilang kalau keponakannya sedang mencari istri. Katanya dia baru pulang bekerja dari luar kota dan sekarang sudah mampu membeli sepeda motor sendiri. Tiba-tiba nawarin dia untuk jadi mantunya ibu,”  jawab ibu dengan ekspresi malas untuk membicarakan masalah seperti ini lagi.

Ya, masalah yang sebelumnya sudah pernah terjadi. Sebenarnya keluargaku tidak terlalu ambil pusing dengan hal-hal semacam itu. Tapi terkadang yang membuat heboh ternyata para tetangga yang sering kali kepo.

“Trus, ibu jawab apa?” tanyaku dengan sedikit penasaran.

“Ya, tak jawab aja tak tanyakan anaknya dulu. Setelah itu ibu lamgsung izin pulang duluan. Malas kalo bahas-bahas masalah seperti itu.

“Emang anaknya ibu siapa? Maen ditawar-tawar ke orang segala. Lah wong ndak tahu anaknya juga kok ya langsung minta anaknya orang,” terang ibu dengan ekspresi sedikit jengkel dengan tawaran yang kurang mengenakkan itu.

“Emang ngelamar anak orang itu seperti beli trasi apa. Ndak tau rupa dan bentuknya langsung jadi dan diterima begitu saja,” tegas ibu sekali lagi.

Aku pun tertawa mendengar gerutu ibu yang demikian.

“Lah wong ibu saja ndak rela, apalagi Linda bu…” jelasku.

“Lah iya, mentang-mentang keponakannya baru pulang dari luar kota dan sudah bisa membeli sepeda motor. Orang kalo keseringan ngomong ndak dipikir itu ya kayak gitu,” jelas ibu untuk kesekian kali dengan ekspresi sedikit jengkel.

“Lagian Linda saat ini masih belum memikirkan nikah dulu bu, cita-cita Linda masih belum tercapai,” jelasku pada ibu berharap ibu pun paham dan mengerti keadaanku.

“Iya nduk, ibu paham. Apapun yang tengah kamu perjuangkan saat ini, ibu selalu mendoakan yang terbaik,” terang ibu padaku. Seakan kata-kata itu bagaikan air zam-zam yang selalu menyejukkan. Syukurlah kalau ibu paham.

Kadang saya sering heran dengan kebanyakan orang sekarang. Ketika seorang laki-laki yang sudah punya kerjaan, mampu membeli kendaraan dan dianggap usia sudah matang untuk berkeluarga, tiba-tiba langsung saja di tawarkan ke anak orang.

Emang situ beli trasi, pake ditawarkan ….

Bicara soal jodoh, kenapa sih anak perempuan yang usia sudah di atas dua puluh tahun sering kali disibukkan dengan harus menjawab pertanyaan kapan nikah? Atau yang aneh lagi pake ditawari dan dijodohkan dengan orang nggak dikenalnya. Nah loh, gimana coba … Inikan sudah bukan zamannya Siti Nurbaya.

Menikah itu ibadah dan sebagai penyempurna agama. Bukan pula karena faktor usia yang harus segera. Menikah juga bukan memandang karena dia jutawan, rupawan, dan menawan. Karena yang perempuan butuhkan bukan hanya imam yang sudah mapan secara finansial, tapi juga mapan dari segi keimanan dan ketakwaan.

Oleh: Indah Astuti Wulan.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: