Jodoh Itu, Nggak Cuma Sayang Sama Kamu

“Kamu kan, sudah dewasa. Sudah bekerja, menghasilkan uang sendiri. Tinggal juga sudah tidak sama orang tua. Harus lebih punya prinsip, dong!” Mas Baim masih memandangku dengan wajah manis, meski nada suaranya tiba-tiba meninggi.

Sejak awal dekat dengan laki-laki—yang sedang menjalani kuliah S2 dengan beasiswa dari kantornya itu—aku acap dibuat kagum dengan kemampuannya membaca pikiran, meski hanya dengan memandang wajahku saja. Seperti sekarang ini. Dia lanjut menjelaskan maksud perkataannya, tanpa menunggu komentar dariku. Tapi sungguh tepat, aku memang hendak bertanya,’maksudnya?’.

“Apa pun, kamu pasti bilang ‘aku tanya Ibu dulu’. Atau setiap kita membahas masa depan, kamu selalu melibatkan ibumu. ‘Kata Ibu, begini. Kata Ibu, begitu’. Aku seperti punya calon istri yang masih anak-anak.”

Aku terkejut mendengar ucapan Mas Baim. Dari mimik wajah yang terlihat geram, sepertinya dia sudah lama menahan suara hati itu. Kata seorang teman yang sudah menikah lebih dulu, laki-laki itu marahnya hanya sebentar. Jadi jangan membantah. Bicarakan lagi ketika hatinya sudah lebih baik. Itu sebabnya, aku memilih untuk mengalihkan pandangan dengan menunduk.

Meski kejadian itu sudah terlewat beberapa hari, benakku masih saja terganggu. Mungkinkah aku sudah melukai ego Mas Baim, karena kerap merespon gagasannya dengan memakai kalimat-kalimat yang aku dapat dari Ibu? Mengapa dekat dengan ibu bisa menjadi masalah untuk Mas Baim?

Sebenarnya, aku belum terlalu mengenal karakter laki-laki yang ternyata seorang anak tunggal ini. Dua bulan yang lalu, Bude—kakak dari almarhum ayahku—tiba-tiba memberitahu kalau sudah memberikan nomor ponselku pada seorang pemuda.

“Dia sudah bekerja di perusahaan bonafid, dan sekarang sedang melanjutkan S2. Dia malas cari pacar. Katanya, mau cari calon istri saja. Cocok toh, sama kamu yang nggak mau pacaran?” Kalimat Bude yang berapi-api membuatku geli, juga girang. Harapanku seperti sedang dipupuk, hingga tumbuh begitu suburnya.

Tak lama, sebuah pesan singkat masuk ke ponselku. Sebuah sapaan yang sangat sopan. ‘Salam. Dik, boleh berkenalan?’

Anehnya, aku langsung merasa cocok dengan Mas Baim. Bukan cocok dengan pribadinya secara keseluruhan, tapi dengan gayanya. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuat aku merasa tak asing lagi. Mungkin karena dia seumur dengan kakak laki-lakiku yang sudah berumah tangga dan sekarang tinggal di Bandung dengan keluarganya.

Sampai suatu hari, Mas Baim bertanya padaku tentang Ibu. “Dik, Mas Baim mau tanya sesuatu. Boleh, ya?”

Sebelumnya Mas Baim belum pernah bertanya seserius itu. Tapi setelah aku mendengar apa yang ditanyakannya, aku pun paham. Dia merasa sungkan tapi dia tekan demi rasa ingin tahunya.

“Kamu, setiap bulan kasih uang ke ibumu?”

Itu pertama kalinya aku merasa terintimidasi dengan perhatian-perhatian Mas Baim yang menurutku aneh. Meski begitu aku tetap mengiyakan, dan tetap menjawab dengan baik ketika dia bertanya lebih detil lagi. Aku seperti sedang mempraktikan salah satu strategi kungfu, yaitu memanfaatkan kekuatan lawan untuk memaksimalkan serangan dengan tenaga yang minimal. Aku terbuka dengan semua pertanyaan Mas Baim dengan maksud menyelami cara pikirnya. Setelah itu aku akan pikirkan langkah apa yang akan aku ambil. Tapi, baikkah ini? Ketika aku memposisikan calon suamiku sebagai ‘lawan’?

Ternyata pendapat Mas Baim membuat aku kecewa. “Kalau sudah menikah nanti, kebutuhanmu akan lebih banyak. Kamu nggak bisa kasih ibumu segitu lagi.”

Susah payah aku mengatur ekspresi wajahku supaya tampak baik-baik saja. Aku belum ingin mengkonfrontasi pendapat Mas Baim. Masih terlalu dini. Aku ingin menjaga baik hubungan ini. Mengingat usia yang seolah berlari mendekati angka 30, aku tidak ingin gegabah sehingga kehilangan kesempatan untuk menikah.

Mungkin sambil berjalannya waktu, aku bisa memberi pengertian pada Mas Baim. Bahwa ibuku hanya mendapat pensiun bulanan dari bapak, yang tak seberapa. Ibu hanya punya anak-anak yang diandalkan untuk membantu keuangannya. Berbeda dengan Mas Baim yang ayah ibunya masih aktif bekerja.

Tapi kemudian Mas Baim juga menyarankan—secara tersirat—supaya aku tidak terlalu dekat dengan ibu. Aku kembali mengungkitnya suatu hari, supaya tidak menjadi ganjalan di hati.

“Mas, orang tuaku tinggal satu, ibu. Selama ini aku dekat dengan Ibu karena aku memang sangat butuh ibu. Doa ibu itu sepanjang jalan, Mas.” Aku melanjutkan ucapanku karena sepertinya Mas Baim masih terdiam. “Pemberian bulananku untuk Ibu juga tidak seberapa, dibandingkan dengan besar kebutuhannya. Siapa lagi yang membantu, kalau bukan aku, anaknya.”

Aku artikan senyum tipis di wajah Mas Baim ketika itu sebagai tanda sepakat karena aku tidak mau repot memikirkan kemungkinan yang lain. Tapi sehari kemudian, di pagi buta, masuk satu pesan singkat dari Mas Baim. ‘Dik, Mas Baim cuma nggak suka kalau ibumu mencampuri urusan rumah tangga kita nanti.’

Kedua mataku terpejam. Astagfirullah…. Belum-belum dia sudah berprasangka pada ibuku, sosok yang belum dia kenal betul. Mas Baim belum tahu seperti apa perjalanan suka duka yang aku jalani bersama ibu. Terutama sejak ayah meninggal.

Lama aku pandangi dan kubaca ulang berkali-kali kalimat dalam layar ponselku itu. Jariku bergetar menahan segala perkataan yang ingin aku lontarkan. Berpikirlah seribu kali sebelum kau melakukan sesuatu, Lena. Atau kau akan menyesal. Suara dalam kepalaku membuat saraf-sarafku berdenyar.

Aku sangat ingin menikah. Di sisi lain, aku juga sangat menyayangi ibuku. Ya Allah, jangan sampai kemarahan yang menguasai pikiranku. Semoga pikiran sehat yang menjadi pemenangnya. Lama aku memejamkan mata meski bulir-bulir air berdesakan keluar. Seolah air mata yang tertumpah sudah lebih dulu mencuci otakku hingga bisa berpikir dengan jernih. Bismillah.

‘Kalau begitu, maaf, Mas. Aku 1000 kali lebih memilih ibu.’ Sent.

Tak sampai satu menit, sebuah panggilan masuk muncul di layar ponselku. Mas Baim. Ibu jariku reflek menekan tombol ‘decline’. Berulang-ulang, sampai akhirnya aku putuskan untuk mematikan saja ponselku. Hari itu aku berangkat kerja dengan mata sembab parah.

Ibu menekan dada dengan kedua tangannya ketika aku mengabarkan berita itu. Pulang kerja aku tidak ingin sendirian di rumah. Aku membutuhkan ibu di saat seperti ini.

“Aku tidak jadi menikah tahun depan, Bu.”

Kuceritakan semuanya, tanpa kecuali. Wajah ibu tampak turut menyesal. Kami berpelukan dan menangis bersama.

“Aku tidak bisa bersama seseorang yang tidak menyayangi ibuku. Aku tidak mau pernikahanku justru menjauhkan aku dengan Ibu,” kucium punggung tangan yang banyak kerut namun sejuk itu dan melekatkannya di pipiku,”aku tidak ingin ada yang tersakiti oleh pernikahanku. Kita semua harus bahagia bersama-sama, Bu.”

Perjalanan menjemput jodohku kembali berlanjut. Mungkin masih entah berapa lama lagi, atau bisa jadi hanya menunggu hari berganti. Tapi yang pasti, laki-laki yang terpilih itu, tidak hanya cinta padaku, tapi juga harus sayang pada keluargaku.

Oleh: Oky E. Noorsari.

Tinggalkan Balasan