Ilustrasi dari Google Image.

Jodohku, Haruskah Sebegitu Bersyarat, Ayah?

Malam itu, gerimis masih jatuh di luar. Mas Adi tak sebentar pun ingin menunggu reda, ia segera pamit. Sambil tersenyum tipis dan mengucapkan kata maaf, ia menyalami Ayah yang bersikap dingin. Aku diam seperti patung, tak mampu berbicara apapun. Aku takut melawan Ayah. Aku takut menjalani hidup tanpa ridha Ayah.

Setelah pintu tertutup dan bayangan Mas Adi hilang, aku berlari menuju kamar. Aku tak peduli Ayah akan berkata apa setelah ini, aku hanya ingin segera merebahkan badan. Aku malas berbincang dengan Ayah yang keras kepala, tidak pandai aku melawan argumennya. Kuharap Ayah membicarakan ini semua, esok atau lusa ketika aku sudah bisa menerima keputusan Ayah.

***

Kuceritakan peristiwa semalam kepada Adel. Adel kaget ketika tahu bahwa Ayahku menolak lamaran Mas Adi. Adel kenal dengan Mas Adi karena pernah bekerja di kantor yang sama dengan kami. Mas Adi pernah menjadi atasan kami sebelum menjalankan bisnis sendiri membuka toko sambil melanjutkan hobi fotografinya. Adel tahu, soal keuangan, Mas Adi tentu bukan orang yang patut diragukan. Akhlaknya baik, sosok pemimpin yang cukup amanah, meskipun belum bisa berlepas diri dari merokok karena seringnya ia butuh teman begadang.

 “Meskipun dia bukan orang Jawa, tapi kan dia sudah lama hidup di Jawa, Mbak.” Kata Adel, sependapat denganku.

“Itulah, Del. Mas Adi bahkan sudah menyampaikan niatannya untuk membawa orangtuanya tinggal di Jawa kalau usahanya sudah mapan. Tapi, Ayah masih saja pengin menantu yang Jawa tulen.”

“Padahal, perempuan mana sih, Mbak yang enggak mau sama Mas Adi? Pintar, berbakat jadi orang sukses, selalu rapi dan wangi. Aku juga kalau dilamar Mas Adi kayaknya mau deh, Mbak. Hahahaha …” Adel iseng menggodaku

“Kamu sama Mas Adi itu kayak ponakan sama Omnya!” Aku menjawab dengan sedikit senyum.

“Perempuan itu kalau kelamaan nggak menikah kan, bahaya ya, Mbak? Nanti kalau hamil tua kan banyak risikonya.” Kata Adel ceplas-ceplos.

“Ya, aku enggak mau nikah tua juga, Del. Tapi gimana ya, keinginan Ayahku itu susah dipahami. Aku udah nyerah.” Jawabku.

“Jadi, sekarang Mbak enggak pengin usaha cari sendiri, nih?” Adel menggodaku.

“Ya, gimana lagi, Del? Enggak ada satu pun yang cocok buat Ayahku. Beberapa kali ta’aruf juga enggak ada yang jadi. Mending biar Ayahku aja yang cari menantu sendiri, deh.”

Percakapan dengan Adel membuatku sedikit lega, meskipun Adel jauh lebih muda dariku dan bicaranya ceplas-ceplos, ia selalu menjadi teman yang mau mendengarkanku. Mungkin karena dia masih jomblo dan punya banyak waktu untuk bertukar cerita denganku.

Sedangkan teman sebayaku di kantor, semuanya sudah menikah. Kadang aku jadi tidak nyambung dan merasa kurang nyaman bersama mereka yang topik obrolannya sebagian besar mengeluh soal suami, arisan atau anak.

***

Dua bulan lagi usiaku kepala tiga. Rasanya, aku sudah benar-benar diambang keputusasaan. Kalau wajahku sudah mulai berkerut, pria mana lagi yang mau melamarku? Sekali ada yang mau denganku, Ayah dengan tegas menolak lamarannya. Sulit sekali mencari sosok yang aku suka dan Ayah mau menerima.

Mas Adi adalah pria kedua yang ditolak lamarannya. Sebelumnya pernah ada mantan pacarku, seorang polisi dan kebetulan lebih muda satu tahun dariku. Kata Ayah, boleh saja menikah dengan yang lebih muda, tapi jangan dengan polisi atau tentara, nanti aku akan banyak pindah tempat tinggal kalau suamiku dipindah tugas. Itu mengancam karierku, kata Ayah.

Kucoba lewat jalan ta’aruf, menitipkan biodata kepada seorang guru ngaji di dekat kantor. Kupikir ini akan solutif karena aku jelas bisa menuliskan kriteria laki-laki yang Ayah minta. Ternyata, sampai sekarang belum juga ada yang cocok. Sudah lebih dari lima kali, setelah berhasil sampai nadzor, Ayah tidak mengizinkanku melanjutkan ta’aruf. Alasannya hampir sama, ada yang karena bukan orang Jawa, ada juga yang karena ia tidak bekerja di Jawa. Ada juga yang memilih mundur duluan.

Rumit sekali kisah pencarian separuh agamaku. Apa karena aku ini terlalu banyak berdosa? Belakangan aku memang jadi lebih banyak mendekatkan diri kepada Allah, memohon supaya Dia menguatkan hatiku dari ujian restu Ayah. Atau jika aku tidak kunjung menemukan takdirku, semoga aku bisa tetap bersyukur dengan keputusan-Nya.

***

Aku kembali menjalani hari-hariku setelah memutuskan hubungan dengan Mas Adi. Lebih tepatnya, saling menjauh karena kami memang tidak pernah berpacaran. Sekali Mas Adi datang mendekat padaku, ia mengungkapkan keinginan untuk segera menikah. Perempuan mana yang tidak bahagia dengan perlakuan laki-laki yang seperti itu?

Tapi, mungkin aku sudah mulai terbiasa dengan kerasnya sikap Ayah. Tak butuh waktu lama untuk melupakan Mas Adi. Barang kali, Allah menegurku yang masih sangat santai dalam ibadah.

Bagaimana mau berumah tangga, kalau ibadah saja masih santai. Kalau nanti punya anak, bagaimana akan memberi contoh? Begitu pikirku.

Belakangan, aku mulai mencari kajian-kajian untuk mendalami agama. Setidaknya, kalau tak kutemukan jodohku, aku bisa menemukan tenang dalam hatiku. Andai yang terburuk adalah sendiri sampai ajal datang, aku tidak kehilangan keimananku. Karena itu jauh lebih kutakutkan. Dalam rentang hampir enam bulan, aku izin pada ustadzahku untuk tidak menerima ajakan ta’aruf dari siapa pun, sampai aku merasa siap menerima penolakan Ayah kembali. Ah, aku tetap belum bisa berpikir positif dengan sikap Ayah!

***

Suatu malam, datang tetanggaku menemui Ayah. Hendak meminta surat keterangan untuk mengurus kepindahan. Bang Hadi, pria asal Lampung itu telah hampir 8 tahun menetap di sini. Kali ini, ia berniat kembali ke kampungnya membawa anak perempuan semata wayang.

“Wah, saya kehilangan warga teladan …” Ucap Ayah sembari membubuhkan tanda tangan di secarik kertas.

“Sebetulnya saya ingin di sini saja, tapi neneknya Andin ini khawatir saya tidak bisa mengurusnya, apalagi saya juga punya tugas piket malam, enggak ada yang jaga dia.” Jawab Bang Hadi sambil mengelus rambut anak berusia 7 tahun itu.

“Harusnya kalau Papa lagi kerja, Andin bisa di tempat Pak RT saja. Ya kan?” Ayah sedikit menggoda Andin.

Anak kecil itu menggelengkan kepala sambil menatap Papa-nya. Ayah dan Bang Hadi lalu tertawa ringan.

“Ya sudah, Nak. Semoga ini yang terbaik untuk Nak Hadi dan Andin. Saya doakan semoga Nak Hadi bisa tabah melalui ini semua dan menjadi Bapak yang baik.”

“Terima kasih, Pak Yadi. Saya mohon maaf bila ada kesalahan selama menjadi warga dan tetangga. Maaf, saya dan almarhum istri sering merepotkan keluarga Bapak.”

“Tidak, Nak. Sudah jadi kewajiban saya sebagai tetangga dan RT di sini, tidak merepotkan.”

***

Senin sore, dua hari sebelum bulan Ramadhan, Bang Hadi datang kembali menemui Ayah. Entah untuk urusan apa. Mereka cukup lama mengobrol, akhirnya kubuatkan teh hangat dan kuantarkan ke ruang tamu.

Ndhuk, duduk dulu sini …” Ayah memintaku duduk di sampingnya.

Aku duduk dengan ekspresi sedikit heran, untuk apa Ayah memintaku menemaninya? Lalu, Ayah mempersilakan Bang Hadi bicara. Tanpa kuduga, ia memintaku untuk menjadi istrinya, menjadi Ibu sambung bagi Andin, yang masih terlalu belia untuk hidup tanpa seorang Ibu.

“Apa Andin memang menginginkan Ibu baru?” Tanyaku.

“Saya sudah kasih pengertian untuk dia. InsyaAllah, dia mengerti.”

“Biar Ayah saja yang memutuskan. Saya ikut apapun keputusan Ayah.” Aku menjawab, pasrah. Terpikir dalam benakku, mana mungkin Ayah menerima menantu seorang polisi, duda pula. Pun ia bukan laki-laki Jawa.

“Saya mengizinkan. Kalau Reni bersedia, segera saja kalian menentukkan tanggal akad. Biar Reni bisa ikut ke Lampung.” Ayah memegang tanganku. Jantungku berdebar.

***

Akad berjalan lancar dan penuh hikmat. Hari kesepuluh bulan Syawal itu menjadi sebuah babak baru bagi hubunganku dengan Ayah. Seusai akad dan melakukan sungkeman, Ibu membisikkanku pesan panjang sambil meneteskan air mata haru. Aku memegang erat tangannya.

Ayah, kali ini, untuk pertama kali aku melihatnya menangis. Laki-laki keras kepala dan tegas itu memelukku erat, tidak ada sepatah kata yang keluar dari bibir berkumis itu. Aku sesenggukan, lirih berkata, “Ayah, terima kasih.”

Hari itu, aku tahu bahwa Ayah tak sedikit pun lepas menjagaku, anak satu-satunya. Ternyata, syarat calon menantu itu tidak berlaku, dirobohkan oleh seorang tetangga yang lama dikenalnya, lawan main catur Ayah di pos ronda. []

Oleh: Hapsari TM.

Tinggalkan Balasan