jomblo adalah prinsip bukan nasib

Jomblo, Bersiaplah! Kamu Memasuki Musim Nikah

“Tuh, tuh. Doi datang,” celetuk Mela sambil menaik-turunkan alisnya.

Aku mengarahkan pandangan mataku ke pintu masuk kafe. Kudapati seorang perempuan yang wajahnya tak lagi asing. Perempuan itu melambaikan tangan setelah menyadari keberadaan posisi duduk kami, aku dan Mela.

“Aaaak. Akhirnya kita ketemuan juga, girls!” suara Anya terdengar nyaring.

“Halah, baru bulan lalu kita kumpul.” Celetuk Mela sambil menerima pelukan dari Anya.

“Eh, jangan salah. Sebulan itu lama loh. Cukup banget untuk mencari cinta, kaya lagunya Sheila on Seven: 30 Hari Mencari Cinta. Apalagi buat jomblo macam lo. Hahhaaha.” Ledek Anya.

“Permisi, Neng. Butuh kaca?” Balas Mela.

“Hahhaa. Tenang, Sayang. Sesama jomblo dilarang saling mempermalukan.” Aku menimpali.

“Eh, jangan salah. Jombloku ini, jomblo yang berprinsip. Bukan karena nggak laku.”

“Ya Rabbi, masih aja dibahas. Kita sama-sama tahu, kok.”

“Hahahaa.” Kami mengawali perjumpaan hari ini dengan tawa bahagia. Bahagia karena selalu berhasil menertawakan diri kami sendiri. Eh ralat, menertawakan kejombloan yang selalu tetap bisa happy.

Kami berpelukan, memanen rindu yang sudah kami tabung dari bulan lalu. Selalu ada haru ketika bertemu dengan sahabat rasa saudara seperti ini. Ya, aku, Anya, dan Mela selalu menyempatkan diri untuk berkumpul, setidaknya dua bulan sekali. Hari ini, meskipun belum genap 40 hari, kami sudah berada di koordinat yang sama lagi.

“Nih, undangan buat kalian.” Anya mengeluarkan dua lembar undangan pernikahan dari dalam tas merahnya.

Tertulis nama Anjas, saudara kembar Anya. Meski mereka kembar, mereka nggak mirip sama sekali mungkin selain karena beda jenis kelamin–Anya perempuan, Anjas laki-laki– mereka juga beda sel telur.

“Eh, beneran kembaranmu nikah duluan? Tega bener.” Goda Mela.

“Lah, undangannya barusan gue kasih ke lo. Tega dari mana? Ya nggak lah, itu rezeki dia. Dia sudah menemukan perempuan baik, keluarganya juga baik. Yang penting, calon ipar gue nggak rese’ kayak lo.” Jawab Anya sambil memilih menu minuman yang akan ia pesan.

“Hahaha, kasian bener dia. Punya ipar kamu.” balas Mela sambil memukul bahu Anya tanpa menimbulkan rasa sakit.

Perempuan baik, dua kata itu tiba-tiba mengingatkanku pada firman Allah di surat An-Nur, di mana Allah telah menjamin bahwa perempuan baik untuk laki-laki baik dan laki-laki baik untuk wanita baik, pun sebaliknya. Aku jadi teringat juga kisah seorang teman, dia batal menikah karena calonnya ketahuan melakukan sesuatu perbuatan yang melanggar aturan Allah. Nadzubillah.

Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs. An-Nur:26)

***

“Eh, ingat adek angkatan kita yang mirip Jojo, angakatannya 2 tahun di bawah kita? Pekan lalu dia nikah.” Kataku sambil membuka undangan dari Anjas yang bewarna ungu.

“Seriusan? Sama siapa? Keduluan lagi deh kita.” Cerocos Mela.

“Eh, biasa aja kali. Nikah itu kan bukan suatu perlombaan. Bukan cepet-cepetan. Bukan siapa duluan, tapi justru siapa yang paling lama bertahan” jawab Anya kalem.

Paling lama bertahan? Ah iya, bosan itu pasti. Ombak-ombak kecil yang mengajak bercanda selama mengarungi bahtera rumah tangga pasti ada. Badai siap menyapa kapan saja. Bahkan adakalanya, orang terdekat menjelma menjadi gunting dalam lipatan.

Pernikahan, suatu perjanjian yang tidak hanya dilakukan antara dua manusia tapi manusia dengan Tuhannya. Allah menyebut pernikahan sebagai Mitsaqon Gholidzo, perjanjian yang kokoh dan berat. Perjanjian yang mengguncangkan Arsy-Nya dan disaksikan oleh para malaikat Allah. Perjanjian yang Allah samakan dengan perjanjian para nabi dan rasul.

Allah menyebut kata Mitsaqon Gholidzo hanya 3 kali di dalam Al-Quran, yaitu saat membuat perjanjian dengan Nabi Nuh a.s, Nabi Ibrahim a.s, Nabi Musa a.s, Nabi Isa a.s, dan Nabi Muhammad SAW. Kemudian saat Allah mengangkat Bukit Tursina di atas Bani Israel dan menyuruh mereka bersumpah setia kepada Allah. Terakhir, saat Allah menyatakan hubungan pernikahan yang suci. Mashaallah.

By the way, ini tanggal nikahannya Anjas samaan dengan tanggal nikahnnya Sekar.” Kataku sambil kembali melipat undangan dan memasukkannya ke wadah seperti semula.

“Hahhaha, benar rupanya. Musim di Indonesia itu nggak hanya dua tapi tiga. Musim kemarau, musim hujan, dan musim nikahan. Dan sekarang kita mulai memasuki musim nikahan. Hahahaha.” Mela kembali tertawa.

“Sepupuku dari pihak ayah, besok nikah. Pekan lalu, sepupu dari pihak ibu. Seperti biasa, pertanyaan basa-basi terlontar. Kapan Mbak Mela nikah? Kapan kamu nikah? Kapan? Kapan? Kapan? Nggak bosen apa, tanya dengan pertanyaan yang sama tiap kali jumpa.”

“Trus kapan?” Goda Anya.

“Uhmm, bagiku menikah itu tidak lagi tentang menua bersama, tapi bersama dengan tujuan yang sama. Gimana, udah keren belum?”

Ngomong-ngomong tujuan, niat adalah tujuan. Tujuan pernikahan adalah untuk ibadah, membentengi diri dari perbuatan dosa. Dengan pernikahan, yang mulanya dosa menjadi pahala. Yang tadinya haram menjadi halal. Niatkan menikah untuk ibadah.

“Barang siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, maka Allah tidak akan menambahkan baginya kecuali hinaan. Barang siapa yang menikahi seorang wanita karena kekayaannya, maka Allah tidak akan menambahkan baginya kecuali kefakiran.

Barang siapa yang menikahi wanita karena kemuliaan nasabnya, maka Allah tidak akan menambahkan baginya kecuali kerendahan. Dan barang siapa yang menikahi seorang wanita dan ia tidak menginginkan kecuali supaya dapat menundukkan pandangan dan menjaga kemaluannya atau menyambung tali silaturahmi, maka Allah akan memberkahi mereka berdua.” (HR. Thabrani)

“Mblo, Mblo, kita memasuki musim nikah. Perbanyak makan, biar kuat menjawab pertanyaan: kapan nikah. Jadi bersiaplah!”

“Hahahhahaa,” Mela, Anya, dan aku tertawa bersama. Kali ini, entah menertawakan apa.

Menikah itu bukan perlombaan, bukan lagi tentang menua bersama. Tapi tentang siapa lama bertahan dengan tujuan yang sama. Bersama-sama.

Oleh: Yulia Hartoyo.

Ilustrasi dari sini.

Tinggalkan Balasan