kisah para pedagang online

Jualan Online Boleh (Anti) Baper

Maaf, Mbak, pesanan clody-nya jadi?

Setelah muncul centang dua, yakin pesan itu terkirim, aku lanjut memisahkan barang dagangan sesuai orderan pembeli. Sesekali telunjukku mengaktifkan layar ponsel. Siapa tahu pesanku tadi berbalas. Ternyata belum juga, meski sudah bertanda centang biru.

Buat kita, ibu-ibu yang nyambi onlineshop-an gini, alokasi waktu sangatlah penting. Maksudku, kalau memang pesanannya jadi, saat itu mau sekalian aku bungkus. Mengirimnya tentu saja menunggu pembayarannya masuk. Nggak mau dong, kalau setelah barang dikirim ternyata pembeli ingkar untuk membayar. Tapi balasan pesan tak kunjung datang. Oke, Mang Thoriq—tukang sayur andalan—sudah datang. Sesi packing selesai, lanjut belanja untuk dapur, dan memasak.

Sambil menunggu air mendidih, mondar-mandirlah aku, sambil membereskan ini itu dan sesekali menengok ponsel. Sip, sudah ada balasan dari pembeli yang tadi. Klik!

Maaf, Mbak … clody-nya nggak jadi, ya. Kata suami nggak perlu beli lagi, karena terpakainya hanya sebentar.

Tarik napas … embuskan …. Begitu kira-kira, sampai tiga kali berulang. Reaksi yang cukup wajar, kan? Tidak perlu sampai menebah dada dan memeragakan adegan sesak napas seperti di sinetron-sinetron.

Oke, Mbak. Terima kasih, ya.

Tidak lupa aku tambahkan emoji smile. Meski kecewa (sedikit saja, jujur dan wajar, to?), kita harus tetap ramah, semua harus diakhiri dengan baik-baik. No hard feeling, be positive thinking. Berarti barang daganganku belum berjodoh dengan orang tersebut. Selalu ada yang pertama kali, bertemu dengan pembeli PHP begini. Ya, Pemberi Harapan Palsu. Tapi apa memang selalu begitu, pembeli yang batal bertransaksi bisa kita kata-katai PHP? Atau istilah keminggrisnya: hit and run.

Well, seorang teman baik pernah berkata padaku seperti ini: dalam setiap situasi, cobalah untuk ‘melihat’ yang tidak terlihat. Maksudnya makhluk halus? Hal ghaib? Bukan! Maksudnya, kita harus bisa memikirkan kemungkinan-kemungkinan di luar dugaan kita, di luar batas pikir kita.

Pertama-tama, setelah tarik dan embus napas, coba kita resapi alasan pembeli tadi. Nah, ada benarnya juga, sangat rasional. Diterapkan ke diri sendiri ya mbak-mbak, ibu-ibu, kita memang suka banget lihat yang lucu-lucu, apalagi buat anak, duh … royal gilak! Andai di supermarket, tangan pasti sudah comat-comot ya, lalu siuman belakangan, di kasir. Apalagi suami yang menempel ketat sambil tangan siap cabut dompet di saku belakang celana, mukanya macam kekurangan oksigen. Mau ngurangin item belanjaan di depan mbak kasir? Tengsin lah yau.

Kalau belanja online? Dalam beberapa kasus, filternya ada saat minta uangnya ke suami. Ketika rasionalitas bekerja (yang umumnya jarang terjadi pada ibu-ibu), potensi untuk batal belanja besar sekali. Lebih ‘tega’ karena ada jeda ruang dan waktu, sungkan bisa ditekan. Toh, tak perlu menatap muka penjualnya juga. Baik, sampai di sini aku bisa mengerti. Paham sekali. Ikhlas sudah.

Lagi pula, nggak mesti melulu soal izin dari pasangan–walau jarang kejadian bapak-bapak batal pesan. Bisa saja kan, ada sesuatu yang mendadak, yang membutuhkan dana juga. Misal: anggota keluarga sakit, ada musibah, atau ketika musim kemarau panjang seperti kemarin sumur jadi kering, lalu terpaksa ‘nyuntik’ alias diperdalam lagi. Itu kan, pengeluaran tak terduga dan lebih penting dari sekadar belanja buku, misalnya. Jadi, pembeli bukan bermaksud untuk PHP, tapi memang priority-nya yang berganti. Sampai di sini paham ya, Buibu? Bhaaa, ini curhat apa tausyiah sebenernya?

Oke, kita perbaiki proses, supaya nggak sering-sering ketemu yang model begini. Tapi tetap senyamannya, sih. Ada penjual yang sudah pasang rule saklek di awal. Misal: 2 x 24 jam tidak bayar, kelar! Eh, enggak ya … itu tadi iseng biar berima, hee ….

Jadi bila 2 x 24 jam belum transfer, dianggap batal. Kalau aku lebih nyaman dengan memberi keleluasaan. Nggak pakai galak-galak, wong aslinya juga nggak bakat untuk tegas. Asal masih bisa ditanya, dan dijawab dengan baik, nggak main blokir lalu menghilang, maka toleransi bisa dipanjangin sampai 2 pekan. Ketahuan ya, kalau warungnya nggak ramai-ramai amat.

Eh Bu, kalau nggak tegas nanti disepelein loh …. Biarin, sudah lazim bukan, ketika maksud baik tidak selalu direspon dengan baik. Kembali ke orientasi masing-masing. Jika yang dicari adalah menjalani usaha dengan tenang, hati akan ikut senang, nggak perlu sangar-sangar macam ngajak perang. Prinsip.

Tapi pernah ya, duh … mungkin kali ini memang perlu sampai menebah dada. Karena nyesek banget. Sambil nyengir wagu bila perlu. Ketika aku bertemu dengan pembeli yang nawarnya afgan nian, lalu di ujung rekapan masih ada yang tanya yang tertinggal. Mbak, ongkos kirimnya gratis, ya?

What! Andai yang punya ekspedisi masih saudaraku pun, nggak bakal boleh cuma-cuma juga kali. Kalau diskon masih mungkin, sebagai reward loyal customer gitu, tapi nggak mungkin diskon sampai 100% alias gratis. Huh! Tapi itu dalam hati, yang keluar di layar percakapan tetap emoji senyum malaikat. Maaf, belum bisa. Duh, jadi semacam lain di bibir lain di hati ya.

Cuma gitu aja nyeseknya? Haaa, belum. Itu masih tergolong receh. Gimana kalau ini. Setelah nawar afgan, akhirnya deal, bayar dan barang dikirim. Berikutnya, ketika repeat order dia bilang: Mbak, boleh minta kontak suppliernya nggak?

Heu … heu … butuh lima menitan buat lega menjawab. Hati yang kesal hanya akan mengeluarkan kata-kata yang asal. Oke, ketik dengan pelan, Maaf Mbak, belanja lewat saya saja. Harga dari saya sudah termasuk murah, loh. Eh, emang iya, kok.

Tapi saya pengen bisa lebih murah lagi mbak.

Bisa nggak kalau beli di mbak, tapi disamain harganya dengan supplier?

Lalu aku hanya dapat terima kasih dan lelahnya saja, ya? Pahala mungkin hangus, wong jadi nggak ikhlas. Eh, iya nggak sih?

Kali ini jawabnya nggak butuh waktu lama.

Maaf Mbak, saya nggak bisa kasih. Dari pada nggak berkah karena saya susah untuk ikhlas. Coba Mbak browsing aja, saya dulu nyari supplier juga pakai usaha sendiri. Salam, semoga sukses.

Setelah itu tinggal rasa lega yang ada. Beneran, bebas dari satu sumber penyakit hati. Mungkin akan ada yang mbatin dan berpendapat, kenapa nggak dikasih saja? Jadi pahala, menjadi jalan rezeki buat orang lain. Haaa …. Ya, mungkin level ikhlasku yang masih tiarap. Sama dengan level bahagia. Indikator bahagiamu apa? Kalau aku, sederhana saja. Indikatornya di sini *nunjuk dada. Kalau masih ada gelisah, berarti ada yang belum jujur dalam ucapan maupun perbuatan. Selama hati masih gelisah, selamanya belum bisa merasa bahagia. Jadi sedikit saja merasa nggak enak hati, gelisah atau galau apalah, segera cari sebabnya, selesaikan. Karena bagaimana pun semua kita pasti menginginkan bahagia. Ya, nggak?

Oke, balik lagi ke urusan drama online shop. Kadang nggak selalu tentang kecewa dan nyesek. Tapi ada juga kok, yang bisa jadi hiburan. Mungkin pengalamanku kurang lebih sama dengan yang pernah teman-teman baca di selintasan sosial media. Misalnya seperti: Pak Pos-nya suruh pas jam istirahat saja nganternya, Mbak. Lah! Kocak.

Gatel gitu pingin balas dengan: setahu saya jam segitu pak posnya juga istirahat, Mbak. Jadi dijawab dengan wajar saja ya, tahan hasrat untuk ngeledekin pembeli. Kalau sudah dengan ekspedisi, saya nggak bisa tahu mau diantar jam berapa Mbak. Perkiraan dua atau tiga hari sampainya, tunggu aja di depan pager. Wohooo … enggak, yang terakhir hanya diketik di dalam hati.

Oya, pernah nggak mamak-mamak yang jualan online ini ditanya orang: sarjana kok terima cuma jualan, Mbak? Atau, sekolah tinggi-tinggi, apa gunanya? Pernah? Nah, kalau kita sok sedap stay cool gitu, bisa loh kepikir jawaban kayak gini: ternyata, gunanya kuliah dulu itu adalah untuk bergaul, nyari teman baik, yang akhirnya bisa jadi target pasar kita, Jeung ….

Ya memang, 50% pelangganku (ya, pelanggan, very loyal customer, karena sudah belanja berulang kali) adalah teman-teman masa sekolah, kuliah, bahkan mantan teman sekantor. Tuh, menjadi doa kita selalu, bukan? Bahwa kita ingin selalu diberikan kesadaran, untuk bisa menangkap nikmat yang Allah berikan, sekecil apa pun, sesamar apa pun, yang tersirat maupun tersurat.

Oya (lagi), mungkin setelah membaca tulisan ini, pembaca jadi bertanya-tanya. Mbaknya ini jualan apa, ya? Hmmm, boleh loh stalking. Jangan mudah menyerah kalau nggak dapat-dapat.  Jadi, fix ya, yang nulis ini memang sok sedap. Tapi semoga curhat olshop ala-ala ini bermanfaat. Paling nggak bisa mengurangi potensi baper kalau digituin pembeli.

Oke, selamat beraktivitas. Semoga selalu dapat memberi manfaat. Barakallah. Salam. []

Oleh: Okie Noor.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan