Judul Apa yang Cocok untuk Kisah Nyata Ini?

Menjelang akhir kelas tiga SMA, semua temanku sudah menentukan perguruan tinggi mana yang akan dituju untuk melanjutkan perjuangan demi meraih cita-cita. Bagaimana denganku. Belum juga pengumuman kelulusan ibuku sudah membombardirku dengan mantra-mantra “nanti setelah lulus kursus saja bon A bon B terus kerja”.

Hatiku bergejolak. “Kerja? Usiaku juga baru tujuh belas. Aku kan masih kecil.” Tapi akal sehatku juga tak menampik kenyataan di depan mata. Bapakku hanya seorang buruh. Buruh ngarit. Bapakku menyediakan tempat untuk kandang sapi seorang jagal di desaku. Otomatis sapi yang ditiipkan di kandang juga harus dirawat, diberi makan, diberi minum. Bapakku biasa berangkat ngarit di pagi buta untuk pulang jelang semburat lembayung menggelantung di ufuk barat.

Tapi saat aku kelas dua SMA, bapakku di PHK tanpa pesangon. Artinya sejak itu bapakku tidak memiliki penghasilan. Sawah memang punya. Tapi hanya ditanami padi untuk makan sehari-hari. Lalu bagaimana untuk keperluan pendidikan anak-anaknya? Untuk sekadar memberi sedikit uang saku saja mereka kesulitan. Maka untuk menopang berbagai-bagai kebutuhan itu ibuku pun membuka kedai bakso di samping rumah pak Win yang berprofesi sebagai orang pintar yang katanya sanggup menyembuhkan berbagai macam keluhan penyakit yang mendera pasien yang berkunjung.

Aku kebetulan hobi bermain ke rumah pak Mukadi, guru Matematikaku. Masih bujangan. Ganteng? Mungkin. Beliau mengontrak sebuah rumah di kampungku. Namun beliau tidak sendiri. Ikut bersama beliau ada dua adik, Mursid dan Mursidah serta satu keponakan, Dewi namanya. Mursidah dan Dewi kebetulan satu angkatan denganku meski berbeda kelas. Sedangkan Mursid adik kelasku.

Sepulang sekolah sering aku mampir ke rumah beliau. Sekadar ngobrol dengan Mursidah dan Dewi. Mursidah bersikap keibuan. Tak pernah meja dibiarkan kosong, gembus goreng atau bakwan selalu dihidangkan untukku. Di sore hari pun aku masih suka bertandang ke rumahnya. Biasanya kalau ada PR Matematika. Aku akan meminta tolong pada pak Mukadi untuk membantuku menyelesaikan soal matematika yang diberikan oleh bu Rohani, guru Matematika yang mengajar di kelasku. Pak Mukadi hanya mengajar satu semester di kelasku ketika bu Rohani datang.

Bila pak Mukadi belum pulang, aku akan membantu Mursidah dan Dewi memasak di dapur. Bukan membantu sebenarnya. Ngobrol lebih tepatnya. Yang unik Mursidah ini memasaknya pakai kayu bakar sementara orang lain sudah menggunakan kompor minyak tanah. Bila aku hendak beranjak pulang pak Mukadi akan mencegahku untuk sholat Maghrib berjamaah terlebih dahulu dan makan malam baru aku diizinkan pulang. Maka rumah pak Mukadi sudah menjadi rumah kedua bagiku.

Sore itu satu hari jelang penutupan pendaftaran UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri) ketika aku bermain ke rumah pak Mukadi. Tiba-tiba aku didudukkan di ruang tamu. Aku ditanya sudah mendaftar kemana? Aku hanya diam. “Kamu itu pandai. Sayang kepandaian kamu kalau kamu tidak melanjutkan.” Beliau mulai menceramahiku. Aku hanya terdiam. Tak terasa air mataku meleleh. “Kuliah di Perguruan Tinggi biayanya lebih murah dibandingkan sekolah di SMA swasta. Nanti kamu kuliah di jurusan Matematika saja. Buku-buku bisa pinjam saya.”

“Saya lebih suka Bahasa Inggris Pak. Nilai saya cuma enam kalau Bahasa Inggris kan dapat delapan,” tiba-tiba aku memiliki keberanian untuk menyampaikan pendapatku.

“Ya ya, terserah. Nanti daftar di IKIP Semarang.” Belum juga beliau menyelesaikan kalimatnya sudah aku potong. “Tapi jurusan bahasa Inggris yang bagus IKIP Jogja, Pak.”

“Sudah, ga usah tinggi-tinggi mikirnya. IKIP Semarang saja ambil D2 biar cepat lulus dan cepat kerja,” lanjutnya menimpali.

Aku belum tahu kemana arah pembicaraan pak Mukadi ini. Bilakah aku menyampaikan keinginanku ini kepada orang tuaku yang sudah jelas-jelas melarangku untuk kuliah karena keterbatasan biaya. Aku terdiam. Pikiranku diliputi kegalauan. “Saya ga berani bilang ke orang tua saya, Pak. Mereka tidak ingin saya kuliah”

“Kapan pendaftaran terakhir?” tanya beliau seakan tahu jalan pikiranku.

“Besok, Pak” kataku tanpa berani menatapnya.

“Hmmm, oke. Besok pagi-pagi sekali sebelum saya berangkat mengajar kamu ke sini. Berapa biaya pendaftarannya?”

“Lima belas ribu, Pak,”

Sepulang dari rumah pak Mukadi aku tidak bisa memejamkan mata. Pikiranku liar menjelajah tak tentu tujuan. Belum juga aku memicingkan mata ketika sayup-sayup kudengar suara azan Subuh di kejauhan. “Ga boleh tertinggal pak Mukadi,” bisikku. Segera aku bergegas. Solat Subuh, bantu-bantu ibu dan segera melangkah menuju rumah pak Mukadi.

Gorden jendela masih tertutup rapat. Apakah aku terlambat? Aku mengintip pintu kaca yang tidak ditutup gordin. “Assalaamualaikum?”

Pintu terbuka. Pak Mukadi menyilakanku masuk. “Ini ada uang dua puluh ribu untuk pendaftaran UMPTN. Ga usah dipikirkan bagaimana mengembalikannya. Sudah cepat sana pulang dan segera daftar biar tidak terlambat,” ucapnya tergesa sambil berjalan menuju pintu untuk menguncinya. Aku mengikutinya dan kuucapkan terima kasih sebelum berlalu.

Uang dua puluh ribu kugenggam erat-erat. Aku bersuka. Ibuku demi mengetahui apa yang terjadi padaku segera menguntai doa. Bismillah dengan ditemani Muna temanku, aku berangkat ke Auditorium IKIP Semarang untuk mendaftar.

Dua bulan berikutnya saat pengumuman hasil UMPTN Mursidah menyambutku di depan pintu dengan memberitahuku bahwa aku diterima di jurusan Pendidikan Bahasa Inggris D3 IKIP Semarang. Aku belum percaya. Mursidah tak memiliki koran yang memuat hasil pengumuman itu. Bagaimana dia tahu kalau aku diterima.

Aku pun berkeliling dari satu penjual koran ke penjual yang lainnya. Sudah habis, begitu jawabnya. Mungkin semua butuh koran tersebut sehingga tak satu pun tersisa di agen-agen penjualan. Aku melanjutkan pencarianku hingga kulihat seseorang tengah membaca koran di sebuah toko kain. “Boleh ikut membaca korannya, Bu?” tanyaku. “Silakan, silakan,” jawab ibu penjual kain sambil menyerahkan korannya padaku.

Kubuka lembar demi lembar. Kuurutkan satu demi satu nama-nama yang tertera di jurusan Pendidikan Bahasa Inggris D3 IKIP Semarang. “Alhamdulillaah Ya Allah. Aku diterima. Subhanallah.”

Hatiku membara karena bahagia.

Pertolongan Allah selalu ada di saat kita mau berusaha dan tak pernah putus asa di dalam doa.    

Oleh: Lestari Ambar.

Tinggalkan Balasan