kisah pengagum rahasia

Jujur, Aku Menyesal Karena Mengaguminya

Hatiku terhenyak kaget melihat foto Fahri bersama seorang wanita berjilbab merah muda. Desiran halus menyeruap di hati. Aku terus memandangi foto itu, semakin dalam terselip rasa cemburu. Ini salahku, salahku karena pernah mengaguminya.

Aku menutup handpone, mengingat kenangan bersama Fahri. Seorang lelaki peramah dan suka tersenyum. Ini bukan lagi senyum biasa yang dilontarkan untuk semua orang. Tapi senyum khas khusus ketika ia tak sengaja menoleh ke arahku atau sebaliknya. Lesung di pipi dan mata sipit yang khas membuatku tak mampu menatap wajahnya.

Sejak perpisahan itu, kuakui bahwa aku pernah mengagumi seseorang yang bernama Fahri. Entah mantra apa yang telah dibuatnya. Seolah aku mati kutu jika sedang asyik chattingan dengan Fahri.

Aku suka ketika melihatmu memakai kerudung merah muda.” Tulisanya dalam pesan singkat yang tertulis di WhatsApp.

Kalau mau kerudung merah muda, aku masih punya, ambil saja.” Ledekku membalas pesannya.

Yah, bukan kerudungnya atuh, tapi orangnya!” Logat khas orang Bandung halus terbayang suaranya di telinga.

Aku terdiam, sudah kuduga alur pembicaraannya berniat menggoda. Aku terus membelokkan pembahasan itu. Kutepis rasa yang ada, aku takut, aku khawatir jika aku mengaguminya.

Aku tahu kamu orangnya cerdas, rajin, dan ulet dalam melakukan apa pun. Bahkan, kau pun bisa jika mendadak harus menjawab pertanyaan dari gurumu. Tidak seperti aku yang sedikit lola, ya ini bukan murni keinginanku, entah mengapa akhir-akhir ini aku merasa punya banyak pikiran hingga tidak fokus melakukan apa pun. Untungnya skripsi sudah kelar dan sudah diwisuda, cukup melegakan.” Ia berniat mencairkan suasana atau mencoba mencari pembahasan agar aku masih membalas Chattingannya.

“Kamu bukan orang yang lola Fahri, buktinya kamu bisa menyelesaikan sarjanamu dengan usia yang sangat muda. Harusnya kamu sama seperti aku sekarang, duduk di semester tiga. Tapi nyatanya kamu sudah selesai wisuda S1, itu menakjubkan!” Aku berusaha menyela agar ia tidak terus menganggapku sebagai orang yang cerdas.

“Mungkin ini suatu keberuntunganku, Adinda. Ketika aku sekolah di tingkat SMP dan SMA alhamdulillah hanya dua tahun masing-masing kujalani. Pun dengan kuliah S1 cukup dengan masa tiga setengah tahun saja, segala puji bagi Allah atas semuanya.”

“Lalu sekarang kamu lanjut kuliah, atau?” tanyaku tak meneruskan pertanyaan.

“Iya, aku sudah daftar kuliah Pascasarjana di UIN Bandung, alhamdulillah sudah di terima, besok sudah mulai OSPEK. Wah ketika dulu di kuliah S1 teman sekelasku rata-rata dua sampai empat tahun lebih tua dariku, sekarang teman sekelasku tujuh sampai sepuluh tahun lebih tua dariku, Adinda. Bayangkan! Mereka sudah Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, dan aku merasa seperti anak dari mereka.” Keluhnya masih dalam bentuk chattingan.

“Tak apa, justru itu menjadi motivasi untukmu dan teman sekelasmu. Kamu mahasiswa Pascasarjana termuda harus tak boleh kalah semangat dengan yang sudah berkeluarga.” Tuturku sok dewasa.

“Kau sosok wanita idaman!”

Mataku terbelalak membaca pesan tersebut. Debar hatiku semakin kencang hingga aku tak tahu bagaimana cara menghentikannya. Tuhan, ujian yang paling berat bagiku ialah ketika terbesit di hatiku rasa kagum terhadap orang yang belum tentu halal untukku, jauhkanlah rasa ini jika bukan yang terbaik.

“Idaman siapa?” sengaja aku pancing dengan pertanyaan ini.

“Idaman para lelaki.” Balasnya.

“Jika begitu, kau pun idaman para perempuan!”

Ia terbahak dalam bentuk emoticon dan tulisan. Mungkin ia merasa konyol jika aku balik keadaan ini. Tentu itu hal wajar, tidak mungkin kan Fahri idaman para lelaki atau aku idaman para perempuan? Itu pesan yang aku maksudkan untuknya, dan ku kira ia memahami.

“Semoga suatu saat Allah menghadiahkan seorang bidadari sepertimu.” Lanjutnya dalam balasan setelah terbahak-bahak.

Aku tak mengiyakan doa itu, namun melebihkannya. “Semoga jauh lebih baik dariku!” Balasku sekenanya.

Ia hanya membalas dengan tersenyum, kuakhiri pesan itu, kurasa tak ada hal lain yang perlu aku balas untuknya. Hanya akan menambah rasa perih di hati saja. Beberapa jam kemudian, ketika aku membuka handphone melihat sebuah pesan teks dari kontak yang tertulis atas nama Fahri. Aku menghela napas sedikit kesal, aku tak mau masuk jurang dan berakhir kecewa.

“Kau tahu Adinda, mengapa aku selalu refleks tersenyum jika sengaja atau bahkan tak sengaja melihatmu? Sialnya kamu sering cuekin aku, dan seketika itu pun senyumku luruh, kecewa karena kau tak melihatku.” Tulisnya ditambah dengan emoticon sedih.

“Justru itu, Fahri. Aku tak mampu melihatmu dengan senyuman itu, sorry, aku sungguh tak mampu!” Balasku.

“Aku tak tahu seberapa lama lagi waktu untuk menunggu kita berjumpa. Mengapa kita harus kenal dengan waktu yang sungguh singkat? Ini benar-benar menyiksa!”

Aku pun begitu, Fahri. Andai kamu tahu, tapi cukup. Aku tak mau berharap kepada siapapun, termasuk terhadapmu. Jawabku dalam hati.

***

Hari berganti hari, hingga genap satu tahun. Semula aku yang hidup di daerah Jawa Timur, Allah memberi kesempatan untuk pergi ke Bandung. Kebetulan ada delegasi acara kampus. Waktunya cukup lama, satu minggu. Chattingan bersama Fahri sudah berakhir lama, bahkan aku pun berusaha keras melupakannya, melupakan segala gombalan dan rayuannya.

Nyatanya di tanah Bandung ini, bayangan Fahri selalu menghampiri. Entah mengapa ketika aku tengah pergi menaiki KRL, gojek online ataupun kendaraan lainnya bersama temanku, seolah ada saja seseorang yang mirip dengan Fahri. Terkadang aku bertanya dengan perasaanku sendiri, adakah Fahri di ruang hatiku? Tapi itu perih sekali untuk mengakuinya.

Hingga kurun waktu yang hanya satu minggu itu berlalu secepat kilat. Dan nihil, aku tak melihat sosok Fahri yang sebenarnya, Fahri yang dulu sempat kukagumi, apakah masih sama dengan sekarang? Ah, kukira tidak! Tukasku dalam hati.

Satu bulan, dua bulan, sampai tiga bulan telah berlalu. Aku berusaha melupakan sosok yang bernama Fahri. Lelaki berwibawa dengan penuh pesona lahir dan batin. Kedewasaan dan keramahannya yang kala itu tak dimiliki oleh lelaki lain yang kukenal.

Air mataku tak sengaja menetes, ya untungnya hanya satu tetes saja. Ketika melihat kabar yang cukup menghujam perasaanku. Kabar yang cukup perih untuk aku terima secara mendadak ini. Oh Tuhan? Inikah jawaban atas semuanya? Jawaban atas segala perasaanku yang tanpa jawaban dan engkau menjauhkannya dariku? Kuhempaskan tubuhku dalam sujud syukur penuh derai air mata.

Ini benar-benar Fahri. Lelaki berwibawa dengan senyum termanisnya. Sedangkan di sisinya ada seorang wanita cantik dengan dress putih bersih dari ujung kaki hingga tangannya. Kerudung lebar berwarna putih lebar menutupi dada. Namun, kecantikannya semakin bertambah dengan balutan hijab lebarnya. Fahri menikah!

Kabar ini kudapatkan dari salah satu grup belajar kami. Sahabat dekatnya yang juga dekat denganku memberi kabar ini di grup. Namun, Fahri tak sedikit pun ikut berkomentar di grup itu. Bahkan hingga sekarang ia tak pernah berkomentar sama sekali, padahal teman di  grup banyak yang mengucapkan selamat dan mendoakannya. Sesekali aku cek inboxnya, dia online!

Sejak itu, hati yang merasa hancur, kecewa, perih dan sejuta syukur bercampur menjadi satu. Ini adalah wujud kasih sayang Allah. Ia tak membiarkan aku terlanjur lebih dalam mengaguminya bahkan hingga terwujud rasa cinta. Alhamdulillah tidak sampai pada titik itu.

Dan kini aku hanya tersenyum bahagia melihat foto Fahri bersama wanita cantik dan sholihah yang jauh lebih baik dariku. Foto di akun Instagram Fahri, ia bersama wanita berkerudung merah muda. Doa itu terkabul!

Oleh: Sayyidatina Anzalia.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

1 thought on “Jujur, Aku Menyesal Karena Mengaguminya”

Tinggalkan Balasan