Ilustrasi dari popbela.

Jujur Ya, Sudah Sampai Level Mana Sih Puasa Kita?

Ramadhan sudah separuh jalan. Apa pencapaian kita? Bolehlah bermuhasabah bersama. Bagaimana puasanya? Sudah bolong atau belum? Buat para cewek wajarlah jika ada bolongnya, tapi buat para cowok kalau sampai bolong ya malu lah yaw.

Bagaimana ngajinya, sudah dapat berapa juz? Atau sudah khatam berapa kali? Tarawihnya bagaimana? Bolong-bolong atau rapat? Sudah-sudah, pertanyaan yang tidak perlu dijawab. Cukup kita dan Allah saja yang tahu. Soal amal itu rahasiakanlah, jangan diumbar, sayang kan kalau pahalanya gugur?

Nah, berbicara soal puasa, yang terlintas pasti adalah menahan lapar dan haus serta segala yang membatalkannya dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Adapun amalan lain yang tersebut di atas tadi adalah amalan yang tidak hanya dilaksanakan di bulan ramadhan namun akan menjadi istimewa jika dilaksakan di bulan puasa.

Istimewa karena pahalanya akan dilipatgandakan. Nah, sebenarnya bagaimana sih kualitas puasa atau level puasa itu? Emang ada levelnya ya puasa itu?

Menurut Imam Ghazali dalam kitabnya yang sangat masyhur Ihya Ulumuddin disebutkan bahwa level puasa itu ada tiga. Apa saja itu, simak ulasannya berikut ini:

Puasa umum.

Puasa umum ini diartikan sebagai puasa yang dilakukan oleh umumnya umat muslim. Menahan lapar dan haus, menahan syahwat dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Inilah level pertama puasa yang ternyata banyak dilakukan oleh umat muslim.

Sedari sahur hingga bedug maghrib asal tidak makan, tidak minum, tidak melakukan hubungan suami istri dengan suami atau istrinya atau bahkan suami atau istri orang lain. Nah puasa ini lah yang banyak dilakukan. Dan ternyata menurut Imam Ghazali ini adalah puasa level terendah.

Puasa khusus.

Apa itu puasa khusus? Puasa khusus ini diartikan sebagai puasa seperti yang dilakukan pada puasa umum tadi, tetapi diikuti dengan puasa indera kita dari segala konsumsinya yang tidak baik.

Mata berpuasa dari pandangan yang membangkitkan syahwat. Hidung tidak untuk mencium aroma yang dapat memantik syahwat, telinga tidak mendengarkan lantunan suara atau lagu dari biduan-biduan yang mampu menggugah syahwat.

Tidak pula menggunakan telinga untuk nguping pembicaraan orang lain yang sedang membicarakan aib orang lain. Kaki tidak digunakan untuk melangkah ke tempat-tempat maksiat. Lidah tidak digunakan untuk membicarakan kejelekan orang lain baik secara terang-terangan apalagi secara sembunyi-sembunyi.

Inilah level puasa yang kedua menurut Imam Ghazali. Konon puasa seperti ini dapat dilakukan oleh para ulama atau minimal para alim yang memiliki kedalaman ilmu.

Puasa paling khusus.

Level tertinggi puasa adalah puasa paling khusus. Selain mampu menjaga perut, kemaluan dan panca inderanya, puasa paling khusus ini hati dan pikiranya semata hanya tertaut pada Allah Swt saja. Hati dan lisannya senantiasa berdzikir, mengagungkan asma Allah.

Puasa level ini memposisikan para pelaku puasa senantiasa bercengkerama dengan Allah Swt secara mesra. Bahkan saking mesranya memikirkan makanan apa yang akan digunakna untuk berbuka puasa saja tidak akan dilakukan. Jika sampai hal itu dilakukan, maka puasanya mereka anggap batal.

Jika sampai hati dan pikiran tidak mengingat Allah, maka puasanya juga dianggap gagal. Sungguh berat bukan? Puasa pada level ini hanya dapat dilakukan oleh para Nabi Allah.

Nah, dari tiga level tadi, di manakah level puasa kita? Silakan dijawab sendiri-sendiri. Yang jelas, kita sebagai manusia biasa kemungkinan besar berada pada level pertama. Apabila kita sungguh melaksanakan puasa secara sepenuh hati, maka level kedua insya allah akan dapat kita gapai.

Hitungan secara kasar saja tampak, bahwa sebenarnya puasa itu tidak sekadar menahan nafsu perut dan kemaluan saja. Wajar, banyak orang bisa melakukannya. Bahkan anak kecil saja sudah banyak yang kuat menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Pertanyaannya apakah kita sebagai orang dewasa cukup hanya menahan lapar dan dahaga serta kemaluan saja?

Level kedua dari puasa menurut Imam Ghazali dapat saya katakan sebagai hakikat puasa bagi kita sebagai manusia biasa. Kita akan dapat mencapainya. Namun, tantangan untuk dapat sukses di level yang lebih tinggi tentu saja jauh berbeda jika dibandingkan dengan tantangan di level pertama.

Menahan mata dari pandangan yang menggoda syahwat tidaklah mudah. Apalagi bagi para pelaku puasa sekaligus pekerja di tempat umum. Sosialisasi dengan berbagai macam karakter orang akan menjadi tantangan tersendiri. Tidak mungkin pandangan kita hanya mengarah pada aspal terus padahal kita sedang berkendara. Beristighfar adalah yang dapat kita lakukan ketika kita “dipaksa” harus memandang susuatu yang tidak layak dipandang.

Menjaga lisan dari tutur kata yang buruk apalagi sampai menggunjing orang lain adalah tantangan yang lebih berat lagi. Saat bersosialisasi dengan orang lain baik di tempat kerja, di tempat umum pasti akan terjadi perbincangan.

Nah, jika tidak berhat-hati, perbincangan itu akan dengan mudah ditumpangi setan menjadi sebuah pergunjingan. Naudzubillah. Seringkali tidak disadari perbincangan yang awalnya biasa saja berujung pada membicarakan aib orang lain.

Telinga adalah indera berikutnya yang harus kita tahan nafsunya dari berbagai godaan. Lantunan biduan yang tidak dipungkiri bisa menggugah syahwat, saya kira di bulan penuh nikmat ini sedikit terkontrol. Baik televisi maupun media lain sudah mengondisikannya sedari sebelum ramadhan. Namun demikian suara gunjingan dari orang lain seringkali lewat di telinga kita.

Awas jika telinga sampai menangkap dan menikmatinya itu harus segera kita hentikan. Istilah Bahasa Jawa kita harus bisa melakukan “ana catur mungkur”. Ketika ada pembicaraan yang bermaksud menggunjing, maka kita harus segera pergi dari tempat itu. Semoga kita bisa melakukannya.

Lalu kaki kita dengan landasan iman yang kuat insya allah di bulan ramadhan ini akan kuat menahan godaan untuk tidak melangkah ke tempat-tempat maksiat. Namun hati-hati, di akhir ramadhan seringkali kaki kita lalai. Godaan diskon seringkali mengajak kita untuk melangkah melihat pakaian baru yang seringkali menjadikan kita boros dengannya.

Untuk indera penciuman kita, hidung, asalkan kita niat untuk berpuasa tentu tidak akan ada perbuatan membau sesuatu hanya sekadar memperoleh kesenangan. Apalagi membau parfum yang digunakan oleh seorang wanita yang tidak sengaja menyalip kita di jalan atau berjalan di dekat kita.

Dari beberapa godaan itu, banyak hal kadang muncul dari media sosial yang saat ini sedang ramai sekali pergerakannya. Mata, telinga, jari-jemari harus ikut berpuasa dari kenikmatan-kenikmatan media sosial yang menawarkan godaan-godaan dalam bentuk baru. Gunjingan via medsos, tayangan lewat medsos, suara-suara di medsos dan lain-lain.

Semoga puasa kita tidak hanya berada di level pertama. Dan yang paling utama semoga puasa kita diterima oleh Allah Swt sehingga Dia pun ridho kepada kita. Aamiin ya rabbal alamiin.

Oleh: Wawan Murwantara.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan