Mas, maaf, Mamak belum biso transfer nih.

Pagi ini, aku cukup dibuat kaget setelah mendapatkan SMS seperti itu, karena enggak biasanya Mamak sampai telat transfer jatah bulanan. Pasti terjadi sesuatu ini, pikirku. Aku pun hanya bisa menghela napas, lalu membalas SMS dari Mamak.

 Iyo, Mak. Dak papo. (Iya, Mak. Enggak apa-apa)

Aku terhenyak begitu menyadari, kalau nasi telur yang semalam adalah dari uang lembaran terakhir di dompet. Aku memastikan ulang dengan menengok isi dompet, kosong. Terus mencoba meraih beberapa celana panjang yang tergantung di balik pintu, merogoh tiap kantung yang ada berharap dapat lembaran uang, ternyata nihil.

Duh, mana belum sarapan.

Bang Tegar—senior di kampus—masuk ke kamar, biasa … nonton. Ada hasrat untuk mengutarakan, Bang pinjem uang, dong. Namun enggak terucap.

“Man, ada duit enggak? Abang pinjem dulu, nanti kalau mamahku transfer, ta balikin,” selorohnya dengan pandangan tetap menatap layar kaca.

Seketika itu aku terbahak, “Hahaha.” Otomatis bikin Bang Tegar kesal, alhasil bantal mendarat dengan kuat di mukaku.

“Orang mau pinjem duit malah diketawain, lho,” ucap laki-laki berbadan besar itu.

“Maaf-maaf, bukan gitu. Aku tuh tadi sudah berencana mau pinjem duit Bang Tegar, eh malah Bang Tegar duluan yang bilang.” Aku meraih gelas, lalu mengisinya dengan air dari galon. “Aku juga telat ditransfernya, Bang.”

“Yaah, sudah sarapan?”

Aku menggeleng.

Kami diam untuk beberapa detik. Aku melihat ada beberapa koin yang tersebar, di depan televisi, di lantai, kulihat lagi di atas lemari, ada. Dengan tatapan tajam, aku berkata, “Inilah saatnya!” Tangan kanan mengepal ke udara, lalu berputar sampai pergelangan di depan dada. “Berubah! Pemburu Koin!” Enggak, itu berlebihan. Hahaha.

Dengan sigap, aku mengangkat, memindahkan, menggeser, barang-barang yang ada di kamar. Menemukan koin seratusan, senangnya, eh terus mencari dan mendapatkan koin lima ratusan, senangnya … apalagi begitu mata ini melihat koin seribuan, senangnyaaa! Yeay!

Inilah uang koinku, kasihan sekali ia, kecil sendiri, sering ditelantarkan. Begitu enggak punya duit, sampai di kolong lemari pun diambil. Dirasa sudah enggak ada tempat lagi untuk para koin bersembunyi, aku menyudahi pencarian kali ini.

Kricing, kling, kling, kling.

Ada banyak recehan yang kujatuhkan di lantai. Dibantu oleh Bang Tegar, kami pun mulai menghitung satu demi satu dan berharap cukup untuk sarapan hari ini.

“Tujuh ribu dua ratus, tujuh ribu tiga ratus, tujuh ribu empat ratus! Man ada segini  uangnya,” ucap Bang Tegar.

“Alhamdulillah, lumayan juga. Ya udah, yuk beli nasi telur dibungkus, nasinya dibanyakin dua ribu, ntar makannya di sini aja, lauknya bagi dua.”

Kami pun pergi ke burjo—sekarang lebih dikenal warmindo—terdekat, setelah Bang Tegar melayangkan pujian dan ucapan terima kasihnya.

Ya, Allah, rasanya nikmat sekali sarapan kali ini. Padahal dengan nasi dan lauk yang sama dari tempat yang sama juga dari biasanya. Namun, sensasi yang dihasilkan itu yang membuat lidah senang bukan kepalang bisa merasakan telur dadar ini. Lumayan bisa untuk menyambung hidup, pikirku.

Sarapan sudah, saatnya siap-siap untuk berangkat ke kampus.

***

Tiga SKS, mata kuliah kalkulus pula. Energi yang dihasilkan oleh nasi telur tadi pagi, rasanya cepat sekali hilang. Belum lagi matahari yang terik, membuat tenggorokanku kering bak Gurun Sahara. Aku percepat laju sepeda. Bayangan air dalam galon sudah memenuhi pikiranku.

Akhirnya sampai indekos, langsung kuparkirkan sepeda dengan cepat, lalu mengeluarkan kunci dari kantung celana, masuk dan yang pertama kuraih adalah gelas, siap membasahi tenggorokan. Kalau megang duit aja, dari tadi sudah beli es.

Aku merebahkan diri setelah menyalakan televisi. Ada acara Upin & Ipin, acara yang asyik untuk dinikmati pada siang yang melelahkan begini. Kenapa, mau ngeledek? Aku memang lebih suka acara kartun, sih. Apa saja yang penting kartun. Hahaha.

Hemm. Sedapnya ayamnya goreng.

Ipin berhasil membuat ludahku melumer saja. Ya, Allah … ternyata aku salah. Menonton Upin dan Ipin pada saat lapar begini sangat tidak mengayikkan. Duh, jadi pengin.

“Man, makan siang nanti kita gimana, ya?” tanya Bang Tegar yang berdiri di ambang pintu.

“Duh! Iya, ya, mana recehan sudah habis. Recehanmu, Bang?”

“Sudah kepake kemarin.”

“Yaaah.”

Nada tanda SMS masuk terdengar. Aku langsung menyambar ponsel itu, dan melihat pada layar tertulis satu pesan dari Mamak, kabar sudah transfer, kabar sudah transfer, batinku sebelum membukanya.

Mas, maaf, mamak belum sempat transfer. Ini lagi di rumah sakit, mbah sakit.

Aku terdiam saking kagetnya. Ternyata Mbah kambuh.

Ya, Mak. Semoga cepat sehat untuk mbah, aamiin, balasku.

“Mbah masuk rumah sakit, jadi mamakku belum bisa transfer.”

Innalillahi, ya kita cari cara lagi, nih. Gimana ya?”

Surat kabar lama. Batrei lama.  

Siapa mau jual? Saya beli maaa.

Suara Uncle Ah-Tong dengan aksen China yang khas terdengar nyaring, seketika itu juga memberiku ide. “Jual kertas!” teriakku.

Bang Tegar pun merespon ucapanku dengan segera berlari ke kamarnya. Aku langsung melihat pada tumpukan kertas tak terpakai di samping printer, kemudian mengambilnya. Lalu aku menengok ke rak buku, makalah-makalah tugas semester satu, sampai proposal yang gagal pun jadi sasaran.

Bang Tegar kembali ke kamar dengan membawa kertas sebanyak satu dus mi instan.

“Abang seriusan?”

“Iyalah, enggak kepake juga.”

Aku mematikan televisi, kemudian mengumpulkan kardus dan botol bekas yang ada di sekitar indekos. Terkumpul … ya, lumayanlah. Aku melihat sampah-sampah itu, sudah membayangkan nasi telur yang enak! Kami yang sama-sama enggak punya motor, langsung menuju ke kamar salah satu teman yang punya. Ya, mau pinjam motor tentunya.

Motor dapat, kami pun segera membawa sampah-sampah ini. Belum juga berangkat, temannya Bang Tegar datang.

“Mau diapain, Gar?”

“Dijual, kenapa?”

“Rugi kalau kamu campur gitu.”

Sontak dahiku berkerut mendengar hal itu. “Rugi kenapa, Mas?” tanyaku.

“Itu yang kertas hvs, dipisahkan saja dari kertas atau buku lainnya. Paling tinggi itu harganya,” jelas orang itu.

Aku ber-oh, baru paham dan mengerti. “Ya sudah, tunggu apalagi, Bang? Ayo, pisahin, haha.” Aku mulai menyusun kertas-kertas menjadi dua jenis, yang berbahan hvs, dan bukan hvs.       

Bang Tegar bangkit dari kamar. Dia mengambil ponselnya, kemudian mencoba menghubungi seseorang.

“Kamu di mana? Ada kertas-kertas yang enggak terpakai? Oh, ya sudah aku ke sana.” Bang Tegar mendekat ke arahku. “Man, kunci motornya mana? Aku mau ke tempat temen, ambil sampahnya mereka. Hahaha.”

Aku mengulurkan kunci padanya. Aku melanjutkan memisahkan kertas-kertas itu. Oalaah, duit-duit, demi sesuap nasi, nih. Setelah ini memang kudu bisa mulai kerja, deh. Aku berjanji sama diriku sendiri, ya supaya bisa lebih mandiri juga, jadi enggak terlalu bergantung sama uang transferan.

Bang Tegar kembali dengan membawa kertas dengan dua dus mi instan.

“Alhamdulillah, banyak banget ini.”

Kami langsung saja mengeksekusi kertas-kertas itu menjadi dua bagian. Melihat hasilnya lumayan banyak. Ini enggak bisa sekali angkut, pikirku. Setelah ditumpuk, dan dinaikkan di atas motor, ternyata benar harus dua kali angkut. Enggak masalah.

Sesampai di tempat pembelian sampah setelah angkutan kedua, sampah-sampah itu ditimbang.

“Ini kertas hvs, per kilonya dua ribu, ya,” ucap pengepul sampah.

Mendengar hal itu, wah perut ini bukan lagi membayangkan nasi telur yang cuma lima ribu, tapi mi rebus pakai telur. Sudah enggak sabar untuk dapat ‘upah’. Hahaha. Hasil berat dari kertas hvs diperoleh sebelas kilo, yang berarti dikali dua ribu jadi dua puluh dua ribu. Belum uang dari kertas lainnya dan beberapa botol plastik.

“Semuanya dua puluh delapan ribu.”

Aku menerima uang itu dengan hati yang berbunga. Kami pulang, yang bawa motor Bang Tegar. Aku seketika bengong begitu dia melewati burjo langganan kami.

“Burjonya kelewatan, Bang.”

“Siapa mau ke burjo? Rumah Makan Padang, dong.”

Aku tertawa mendengarnya.

“Tenang, tadi mamahku ngabarin kok kalau sudah transfer.”

“Alhamdulillah, kalau gitu pakai uang Abang aja, ya. Uang ini disimpen untuk saat mendesak.”

“Aman, tenang aja. Makan enak kita hari ini.”

Kami terbahak di atas motor.

Begini, deh, kalau hidup hanya mengandalkan uang transferan. Begitu uang habis, kiriman telat, perut lapar, otak bekerja lebih aktif bagaimana caranya bisa makan. Setelah kejadian itu, aku mulai mencari informasi seputar pekerjaan part time. Ya, hitung-hitung nambah pengalaman dan belajar mandiri.

Sungguh, pengalaman yang luar biasa saat itu. Lagian sudah menjadi risiko yang harus ditanggung sendiri, kenapa lebih memilih indekos daripada tinggal sama keluarga di Yogya. Namun, dengan memilih tinggal di indekos, aku bisa belajar banyak hal, salah satunya kemandirian.

Oleh: Nurwa R.

Ilustrasinya dari sini.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: