“Yah … susunya thole hampir habis. Paling cuma cukup buat persediaan sehari lagi. Beras juga udah menipis. Meteran listrik dari kemarin teriak-teriak melulu, gimana ini?”

“Bunda masih ada uang enggak? Aku tinggal ada lima puluh ribu. Buat jaga-jaga beli bensin. Bulan ini kalendernya sampai tanggal 34, Bun. Tanggal tiga puluh satu hari Jumat, otomatis gajian hari Senin.”

“Sama, Yah. Penunggu dompet tinggal dua lembar Sam Ratulangi. Padahal Ahad besok ada undangan manten. Duh, pusing, Yah.”

Begitulah balada pasmud abas, pasangan muda anak baru satu. Satu sisi aku bahagia dengan banyaknya anugerah dari Allah. Namun, di sisi lain, biduk rumah tangga yang masih ijo begini ternyata banyak dinamikanya. Salah satunya masalah kantong kempes alias tongpes.

Sore itu, pulang dari kerja, masih sama-sama capek, istri lapor tentang keadaan amunisi rumah kami. Stok kebutuhan hampir habis di sana-sini. Sementara daya beli kami sudah menurun drastis. Waktu gajian yang kami nantikan, enggak kunjung datang. Seperti extra time di pertandingan sepak bola. Bagi tim yang sudah unggul, tambahan waktu singkat, akan terasa amat lama. Begitu pula buat kami. Seminggu menanti gajian serasa setahun. Lebay? Biarin.

Kebutuhan bensin enggak mau ditawar. Tangki motor harus terisi agar si kuda besi mau jalan, membawaku mengarungi jalan. Apa iya, mau jalan kaki dari pantai selatan ke kaki Merapi? Capek dong. Aku tinggal di bagian selatan Yogyakarta, sementara tempatku bekerja ada di kaki Merapi. Setali tiga uang denganku, istriku pun begitu. Meski enggak sejauh jarak tempuhku, tapi kan, motor tetep butuh bensin juga walaupun cuma sampai kota kabupaten.

Kalau motor butuh bensin agar mau berjalan, penunggangnya tentu enggak beda kan? Beda dong! Aku butuh makan, bukan bensin. Istriku pun demikian. Begitu pula anak lanang kami. Apa bisa seminggu enggak makan? Aku kira itu berat, aku enggak akan kuat, biar kamu aja.

Ketika sedang pening memikirkan kebutuhan hidup, ditambah dengan keadaan kantong yang  kempes, tiba-tiba istriku datang menyapa. Cuma menyapa saja? Lha iya, apa mau bawain bakso plus es campur, gitu? Ingat, lagi enggak ada dana, lho.

“Yah, di grup jual beli barkas Jogja, ada yang mau beli rongsokan elektronik dengan harga tinggi.”

“Hmmm … terus kenapa, Bun?” Aku bergaya sok cuek, padahal sedang menahan lapar.

“Ya kita tawarin aja itu CPU, printer, sama HP yang udah matot. Siapa tahu laku. Kan, bisa buat mempertahankan hidup sampai gajian.”

“Ide bagus itu, Bun. Coba difoto terus kirim ke yang mau beli tadi.”

“Heem. Bantuin, Yah.”

Kegiatan tambahan malam itupun kami lakukan. Onggokan CPU, printer, dan beberapa HP jadul yang sudah mati total aku bersihkan. Barang-barang tersebut adalah perangkat kerjaku dari zaman kuliah dulu. Kini barang-barang itu sudah tergantikan oleh perangkat lain yang lebih canggih.

Rumah serangga yang menempel di mana-mana aku hilangkan. Agar tampak lebih mulus, enggak lupa aku lap pakai kanebo yang kubasahi dengan sedikit air. Pakai air? Iya, sedikit saja, jangan disiram, apalagi dicelupin kayak Oreo.

Hasil memulung malam itu, kami mendapat dua buah CPU, tiga buah HP, dan satu printer. Semua kondisinya bekas dan mati total. Banyak kenangan bersama mereka, tapi malam itu keputusan besar harus kami ambil. Mereka harus kami relakan, demi kemaslahatan rumah tangga.

Setelah semua tertata rapi dan bersih, aku siapkan gadget untuk memfoto barkas tersebut. Jepret, jepret, jepret. Selanjutnya giliran istriku yang beraksi. Dibukanya aplikasi Facebook, lalu log in, terus search dengan keyword Barkas Jogja. Terpampanglah berbagai dagangan barang-barang bekas. Ada yang masih bagus, ada pula yang udah enggak mbejaji (berharga).

Setelah menemukan iklan dari akun yang siap membeli barang elektronik bekas, dikirimlah foto-foto barkas kami. Satu menit, lima menit, sepuluh menit enggak ada balasan di kotak masuk. Bayangan akan terjadi bencana kelaparan, berkelebat di kepalaku. Akibatnya, pusing melanda, badan terasa sedikit lebih hangat dari biasanya. Mata berkunang-kunang dan badan menjadi sedikit gemetar juga. Ternyata itu tanda-tanda kelaparan.

Saat putus asa sudah hampir sampai di gerbang perasaan, tiba-tiba ada notifikasi pesan masuk. Klunthing ….

Total ada berapa barangnya, Mbak? Kalau lebih dari sepuluh saya ambil besok. Tapi kalau belum ada, lain waktu aja. Agak jauh soalnya kalau harus ke Kretek.

“Aduh, Yah. Masnya enggak mau kalau barangnya kurang dari sepuluh. Gimana ini? Barkas kita cuma enam. Gimana ini, Yah?”

Duh Gusti paringana (Ya Tuhan berikanlah) sabar. Kita cek lagi dulu, Bun. Siapa tahu masih ada barang bekas lain. Malam ini harus dapat, biar besok bisa jadi uang untuk beli susunya thole.”

Malam itu, kami kembali bergerilya. Lemari, gudang, laci-laci buffet, semua kami periksa. Berharap ada HP rusak, charger, atau apapun, asal bisa menjadi uang.

“Yah, kamera punya siapa ini?” Istriku menyodorkan benda kotak seukuran wadah sabun, berwarna hitam sudah kelihatan usang banget.

“Coba lihat, Bun. Ini camdig punyaku dari zaman SMA dulu. Pensiun dari tugasnya mengabadikan momen-momenku karena terpaksa renang, pas aku piknik ke Pantai Sadranan. Sip, semoga laku juga. Tapi masih kurang tiga lagi, ya? HP Bunda pertama hasil menabung zaman SMA dulu boleh enggak kalau dijual?”

“Hmmm … penuh kenangan itu, Yah. Masih hidup juga, lho, Yah. Cuma minta ganti baterai aja kok.”

“Bisa laku lebih mahal dong, Bun. Ikhlas enggak nih, benda penuh kenangan dijual buat beli susu sama beras? Hahaha.”

“Ukh, Ayah ki lho. Ikhlas banget. Udah move on kok, Yah, ha-ha-ha. Udah punya yang baru. Hi-hi-hi.”

Malam itu gerilya berhasil. Sebuah camdig, beberapa charger mati, dan juga HP milik istri yang sudah enggak dipakai, sepakat akan kami jual. Sepuluh barkas seperti yang diminta oleh calon pembeli sudah terkumpul. Malam itu, ada setitik asa, bahwa besok tidak ada kelaparan melanda.

Sesuai kesepakatan, calon pembeli mau datang ke rumah, karena barkas kami ada sepuluh buah. Namun, setelah dicek, ternyata charger dan camdig tidak laku, barang tersebut tidak jadi dibeli.  Dua CPU, satu printer, dan tiga HP mati total diangkut juga meski enggak ada sepuluh barang. Rugi ongkos jalan kalau tidak jadi dibeli, katanya.

“Semua ada enam barang, ya, Mas, Mbak. Ini CPU-nya masing-masing dua puluh lima ribu, printer lima belas ribu, HP-nya tiga dua puluh ribu. Totalnya delapan puluh lima ribu, ya.”

“Waduh, tak kira bisa lebih mahal, Mas. Aku beli CPU dulu dua juta lho, Mas. Tahun lalu masih bisa nyala itu. Mosok cuma dihargai segitu,” aku coba menawar.

“Dua juta itu dulu, Mas. Sekarang, ya segitu kalau mau dijual. Nanti cuma saya lebur terus diambil kandungan emasnya itu, Mas.”

“Nah, itu malah ada emasnya. Segram berapa sekarang? Kalau dapat segram aja udah banyak to, Mas. Padahal itu ada dua CPU. Ditambah dong, Mas.”

“Ya udah semua saya hitung seratus ribu deh, Mas. Saya udah mepet itu dapatnya nanti. Belum ongkos bensin buat ke sini juga banyak, kan?”

Hari itu, akhirnya kami dapat uang seratus ribu dengan menjual enam buah barang bekas. Uang segitu baru cukup untuk membeli susu empat ratus gram ditambah beras lima kilo. Lha pulsa listriknya bagaimana? Bingung lagi deh. Alhasil, meski sudah bisa sedikit bernapas lega, tetapi malam itu, kami masih harus berpikir keras. Bagaimana agar mendapat uang lagi untuk membeli pulsa listrik? Bagaimana pula nanti acara hari Ahad?

HP yang sudah tidak digunakan oleh istri, jadi kami jual. Seorang teman SMP yang mempunyai usaha konter, aku hubungi. Malam itu pula, temanku datang. Setelah basa-basi sebentar, kami masuk ke pokok persoalan.

“Ini HP-nya, Bro.” Aku sodorkan HP lawas dengan kondisi yang masih lumayan bagus.

“HP jadul, to. Kirain android je. Ini masih hidup enggak?” tanya temanku agak kecewa.

“Kata istriku, sih masih hidup. Cuma minta ganti baterai aja. Dicek aja, Bro. Bawa baterai yang cocok enggak?”

“Oke, ada kok ini.”

Alhamdulillah, setelah dicek, ternyata HP tersebut masih bisa digunakan. Kabar baiknya, oleh temanku, HP tersebut dihargai seratus ribu. Tanpa menawar seperti saat menjual barkas, aku langsung menyepakatinya. Uang sebanyak itu sangat berarti untuk kami yang sedang dilanda tongpes, padahal pos kebutuhan sudah menanti di mana-mana. Lega, malam itu kami bisa tidur nyenyak.

Siang harinya, istriku langsung beraksi, membelanjakan uang hasil penjualan barkas semalam. Susu untuk thole, beras, dan pulsa listrik adalah sasarannya. Enggak lupa, harus menyisakan uang minimal bergambar Ir. Djuanda untuk mengisi amplop di acara hari Ahad lusa. Nikmatnya hidup.

“Alhamdulillah, Yah. Kita udah bisa beli susu buat thole. Kantong beras juga udah terisi. Listrik aku isi lima puluh ribu aja, ya. Biar ada sisa buat kondangan besok.”

“Lha lauk malam ini apa, Bun?”

“Di kulkas masih ada telur dua butir. Enggak apa-apa ya, Yah?”

“Oke, deh, Bun. Prihatin. Senin besok kita belanja yang enak-enak buat nggantiin prihatin kita hari ini.”

Saat sedang asyik mengobrol, tiba-tiba terdengar suara pintu rumah diketuk. Aku meminta istriku untuk membuka pintu. Aku mendengar suara seorang perempuan berbicara dengan istriku. Enggak lama kemudian mereka berdua masuk ke rumah. Aku ikut menemui tamu kami tersebut.

“Oh, ada Mbak Wari. Mari silakan. Dibuatkan minum dulu, Bun,” pintaku pada istri.

“Enggak usah, Pak. Saya cuma sebentar kok, ini,” tolak Mbak Wari halus.

“Ada, apa, Mbak? Kok tumben sore-sore begini datang ke rumah.”

“Sebelumnya mohon maaf, Pak, Bu. Saya utusan dari rekan-rekan Karang Taruna datang kemari untuk silaturahim. Yang kedua berkenaan dengan akan diadakannya kegiatan untuk memeriahkan peringatan HUT RI, kami memohon bantuan dana. Ini proposalnya, Pak, Bu.”

Aku dan istriku saling pandang sejenak. Lalu istriku mengambil proposal yang disodorkan Mbak Wari. Dilihatnya daftar penyumbang di bagian belakang proposal. Tertulis di situ angka-angka yang tidak kecil. Rp100.000, Rp50.000, paling sedikit Rp20.000.

Aku menelan ludah dengan sedikit kesulitan. Proposal ganti aku pegang. Aku minta pulpen dari Mbak Wari. Lalu kutuliskan namaku di daftar penyumbang. Istriku ikut melihat dengan pandangan yang sulit aku artikan. Di kolom besar sumbangan, aku tulis angka Rp50.000,00. Proposal kukembalikan bersama dengan keluarnya uang bergambar Ir. Djuanda dari kantong istriku.

Baru merassa lega sebentar, bingung kembali datang. Akan diisi apa amplop kondangan esok? Namun, Allah Maha Sayang kepada kami. Di tengah kebingungan, ibu masuk ke rumah membawa uang seratus ribu lalu diberikan kepada istriku. Uang hasil penjualan kertas-kertas makalah tugas murid istriku ternyata laku. Terima kasih, ya Allah.

***

Oleh: Wawan Murwantara.

Ilustrasinya dari sini.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: