Kadang, Hawa Nafsu Menyamar dalam Kebaikan

Semua kita telah dibekali oleh Allah secara otomatis bukan hanya “nurani” (rohani) yang selalu membisikkan kebaikan-kebaikan tetapi juga hawa nafsu yang selalu menggumamkan keburukan-keburukan.

Kerap kita mendengar istilah “human is between angle and demon” untuk menggambarkan kondisi fitriah itu. Untuk apa, ya?

Liyabluwakum ayyukum ahsan ‘amala, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya,” begitu tutur al-Qur’an.

Dengan bekal adil tersebut, maka adil jugalah bila lalu ada Hari Pembalasan (Yaumul Hisab), suatu masa yang pasti datang sebagaimana dijanjikan al-Qur’an untuk memutuskan apakah kita termasuk golongan hambaNya ataukah musuhNya.

Dan, Allah lah Sang Maha Penentu itu, dengan keputusan yang adil-seadilnya. “Wa la tudhlamuna qalilan, dan kalian takkan dizalimi sedikit pun.”

Ihwal hawa nafsu, al-Qur’an telah menerakan peringatan kepada kita:

Innan nafsa la-ammaratun bis su-i illa ma rahima rabbuh, sesungguhnya hawa nafsu selalu mendorong kepada keburukan kecuali yang diridhai oleh Tuhan ….

Mengapa ya hawa nafsu selalu disebut sebagai pendorong (sumber) bagi segala perilaku (termasuk pikiran) negatif, buruk, merusak kita?

Pertanyaan tersebut akan tampak ambigu alias kontradiktif bila lebih lanjut dikaitkan dengan narasi-narasi besar atau kebiasaan-kebiasaan umum yang kita anut dan geluti hari ini.

Umpama, time is money, no gain without pain, life is hard so take it so hard, hingga yang bernada kebajikan-kebajikan, misal qulil haqqa walau kana murran (katakanlah yang benar walau itu pahit). Dan masih banyak lainnya lagi.

Bekerja kita tahu merupakan salah satu fitrah hidup kita. Setidaknya, kita akan sepakat membenarkannya kalau dihadapkan pada wujud kewadagan kita yang membutuhkan asupan-asupan material yang bisa kita penuhi melalui uang dan uang itu kita dapat dari bekerja. Ia adalah kebaikan tentu saja.

Tetapi, adakah di antara kita yang menjadikan kegiatan kerja yang mulanya fitri itu malah membawa madharat, keburukan, dan kerusakan?

Banyak. Misal, orang yang bekerja keras sampai alpa pada kewajiban sosialnya, apalagi ibadahnya. Atas nama kerja keras, demi pendapatan yang lebih besar, lalu dengannya bisa meraih banyak hal yang dibutuhkan diri dan keluarga, alpalah kita pada waktu.

Inilah tamsil bekerja yang telah dikuasai oleh hawa nafsu. Hawa nafsu untuk menumpuk harta, misal. Menjadikan kita serakah, yang tabiat bawaannya adalah pelit.

Ternyata, bekerja yang mulanya fitrah itu jadi busuk kalau sudah dibelenggu oleh hawa nafsu.

Kalau mau tamsil yang kasat mata, mudah sekali kita mengenalinya. Misal memperturutkan berahi melalui pergaulan bebas dan zina, tidak mengeluarkan zakat dan sedekah karena kikir, atau memutus persahabatan karena perbedaan pandangan.

Setan dan iblis senantiasa bekerja di posisi hawa nafsu itu, merangsang dan mendorong kita untuk mengikutinya, melanturkannya, sehingga ujungnya kita jatuh pada perbuatan-perbuatan yang tidak etis, negatif, dan merugikan.

Bagaimanapun caranya dan seperti apa pun bentuknya, setan akan terus selalu mengeksploitasi “bekal hawa nafsu” kita sedemikian rupa. Dari yang vulgar macam mabuk-mabukan dan judi hingga yang halus, samar, dan abu-abu macam perasaan berbuat baik.

Ya, inilah sisi paling sulit bagi kita untuk melawan serangan setan. Inilah sisi legam jiwa kita yang samar sekali sehingga rawan betul kita terjatuh ke jurangnya.

Istighfar itu bagus, sudah pasti.

Kita semua sepakat. Katakanlah pada suatu malam yang gulita, seorang diri, kita menekuk kepala beristighfar pada Allah hingga air mata kita menetes ke pipi, terasa hangat. Lembaran dosa-dosa kita terkuak satu-satu di pelupuk mata.

Itu adalah amal kemuliaan. Imam Sufyan as-Tsauri dalam Hilyatul Auliya’ sampai mengatakan bahwa tangisan hamba yang takut kepada Allah Swt lebih mulia nilainya dibanding sedekah segunung emas.

Namum, tak lama berselang, lamat-lamat kita merasakan gemelesir mulia, suci, bersih, di dalam jiwa. Kita merasakan diri ini telah sangat bersih, dekat sama Allah, bertaubat padaNya. Kita merasa diri ini adalah hamba Allah yang saleh/salehah.

Inilah gemelesir kesombongan yang berhasil ditiupkan setan untuk menggoyangkan hati kita, condong kepada geliat hawa nafsu. Hasilnya adalah keburukan. Hati kita merasa lebih bersih dibanding orang lain yang sedang tidur atau begadang.

Ibn Athaillah mengingatkan: kesombongan paling sombong ialah merasa telah berbuat kebaikan.

Modus-modus lain tentunya banyak kita kenal dan mungkin rasakan sendiri. Sebutlah ada suatu kesalahan yang dilakukan seseorang dan kita tahu perkara itu pada suatu hari. Di Facebook, kasus itu sangat viral. Sejumlah orang mengambil posisi yang tidak lagi bisa dimafhumi sebagai kritik keilmuan, atau keadaban, tetapi menghujat.

Bahwa perbuatan itu buruk, iya. Bahwa ada banyak pihak yang dirugikan olehnya, iya. Bahwa pelakunya harus mendapatkan sangsi atas kesalahannya dan jadi pembelajaran bagi generasi berikutnya untuk tidak melakukan kesalahan yang sama, iya.

Itu dari pandangan kita kepada pelaku. Adapun dari sudut pandangan kita sebagai bukan pelaku, termasuk yang menguarkan pelbagai bentuk kritik itu, coba introspeksi: gerangan motivasi atau gemelesir apakah yang berkibar di dalam jiwa kita?

Anggap saja motivasinya adalah murni tegaknya keluhungan dan ilmu pengetahuan yang beradab. Mari tambahkan satu celah lagi untuk introspeksi: apakah kita dalam menyampaikan kritik-kritik atau perspektif-perspektif itu telah mengindahkan asas-asas keadaban, moral, etik, dan edukasi bagi pelaku?

Ataukah, kebak dengan hasrat menyerang, melemahkan, dan menista yang secara lisan kita kemas sebagai kritik produktif ilmu pengetahuan?

Waallahu a’lam bish-shawab. Hanya Allah dan kita yang tahu geliat macam apakah yang berdesir di hati kita ketika kita menyampaikan kritik-kritik, perspektif-perspektif, dan bahkan kebenaran-kebenaran dan kebaikan-kebaikan itu.

Nurani kita sudah pasti takkan pernah berdusta kepada tuannya. Jawaban nurani kita atas pertanyaan introspektif tersebut memperlihatkan langsung di posisi manakah kita berada: nurani atau hawa nafsu.

Kita lalu bisa memahami penuh kini betapa memang hanya keburukanlah yang dihadiahkan oleh hawa nafsu. Dan, sesuai ayat yang saya kutip di atas, hanyalah hawa nafsu yang diridhaiNya yang layak untuk kita miliki, yakni hawa nafsu manusiawi yang tidak bertentangan dengan syariatNya.

Begitulah titik rawannya godaan hawa nafsu yang halus, samar, dan abu-abu, yang menyaru dalam kebaikan-kebaikan ….

Oleh: Edi AH Iyubenu.

Tinggalkan Balasan