Aku melihatmu dari jauh. Ketika masih berada di dalam mobil travel, yang melaju di jalanan kampung tempat kelahiran kita. Kamu mengenakan kaus hitam, kulot hitam, duduk di teras dan memandang ke langit.

Memang langit tampak sedang menghimpun hujan untuk dijatuhkan, tapi aku yakin kamu bukan sedang memintanya untuk tidak menurunkan hujan. Karena begitu aku turun dari mobil, kamu buru-buru menyembunyikan bekas genangan di sudut matamu.

Kamu juga merapikan kertas-kertas yang berserakan. Meletakkan ponsel yang biasa kamu pakai untuk menuliskan ide-ide yang tergambar di kertas itu. Ah, semoga kedatanganku tidak membuyarkan ide-ide novel yang sedang kamu tulis.

Aku mendekatimu dengan ketidakberdayaan menahan pilu. Ketakmampuan untuk tegar bertemu dengan ibu, juga mendengar kenyataan darimu. Hingga perlahan bulir yang kutahan pun jatuh berjejalan dari sudut mataku. Aku tidak peduli lagi akan terhapusnya rona pipi yang sedari tadi kujaga. Kusiapkan agar tampak lebih kuat di hadapan ibu.

Akhirnya aku limbung dan begitu lemah hingga butuh bahumu untuk menitipkan beban. Kamu mendekapku erat, semakin erat menenggelamkan kepalaku dalam lapang bahumu.

Sungguh, Kak. Seingatku kita belum pernah berduka sedalam ini. Hingga terpaksa menghabiskan air mata tanpa sepatah kata. Kamu hanya bicara melalui telapak tangan yang diusap berkali-kali ke punggungku. Seraya mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

“Maafkan aku, Kak.”

“Enggak apa-apa, Ndhuk. Ayo masuk dulu, kamu pasti capek,” bisikmu dengan suara sedikit bergetar.

“Bagaimana dengan ibu, Kak?”

“Ibu ada di dalam. Temuilah, dia sangat kangen sama kamu.”

Tidak ada yang berubah dengan rumah ini. Hanya sedikit terasa lengang, tidak seperti biasa. Ketika aku dan bapak masih bersama. Satu set meja kursi tua yang dibebat anyaman rotan, sebuah asbak miniatur Borobudur, dan sebongkah kenangan masih begitu lekat menghiasi ruang tamu.

Di dinding itu juga masih tertempel foto wisudamu. Ada aku juga di sana. Kita berdua tampak tersenyum, diapit oleh bapak dan ibu yang wajahnya sedikit haru. Ketika itu aku masih kelas dua SMA dan sangat mengidolakanmu, Kak.

Sempat membayangkan jika kelak aku bisa menulis novel dan laris seperti karya-karyamu. Mungkin biaya kuliah selama ini bisa kubayar dari royaltiku sendiri. Tidak harus merepotkanmu, menghabiskan royalty dari novel-novelmu.

Aku ingat momen itu, selesai berfoto kamu bilang sama bapak dan ibu, “Kelak Ratri juga akan wisuda sepertiku, Pak. Bapak dan Ibu jangan khawatir, setelah ini aku akan bekerja untuk membantu biaya sekolah Ratri.”

Kamu ingin membuat bapak dan ibu bangga dengan cara membantuku lulus sarjana. Iya, karena kamu ingin membuktikan bahwa bukan hanya anak orang kaya saja yang bisa lulus sarjana. Kita yang dilahirkan dari keluarga pemulung pun mampu. Meskipun sebenarnya aku ragu, tapi aku berusaha yakin dengan cita-citamu.

Melihat bapak di foto itu, seperti melihat karang yang lenyap tersapu ombak. Bagaimana cara kita mewujudkan cita-citamu, Kak?

Kita baru saja kehilangan bapak enam bulan yang lalu. Di saat aku baru setahun masuk kuliah. Sedangkan ibu akhir-akhir ini kamu kabarkan sering sakit. Lalu kamu berpesan agar aku lebih berhemat membelanjakan uang saku. Karena ibu butuh obat setiap minggu.

Ibu seperti kehilangan separuh semangat hidup. Hingga fisiknya menjadi lemah. Seperti yang pernah kamu bilang di telepon, ibu sering tidak berselera makan. Lebih sering mengurung diri di kamar, menangis sambil memandangi foto bapak.

Aku tidak tahu bagaimana keadaan ibu sekarang. Mungkin masih sama seperti dulu, atau malah tubuh kurusnya semakin kurus. Sungguh aku tidak sanggup membayangkan keadaan ibu sekarang. Apalagi terakhir kamu bilang, ibu sudah tidak mampu jalan-jalan sendiri.

“Ratri … temuilah ibu di kamar,” pintamu membangunkan aku dari lamunan.

“I … iya, Kak.”

Kusibak kelambu yang menutup pintu kamar ibu. “Assalaamu’alaikum, Ibu ….”

Tidak ada jawaban darinya. Kulihat ibu sedang berbaring di tempat tidur. Tanpa lampu yang menyala, aku masih bisa melihat seisi kamar, tersebab pendar sinaran cahaya dari jendela. Sepertinya ibu masih suka membiarkan jendelanya terbuka. Membiarkan sinar matahari pagi menembus sela-sela jeruji kayu.

“Ini Ratri, Bu ….” Aku duduk di sisi ranjang. Tepat di sebelah kanan badan ibu yang terbaring pulas.

Kusentuh jemari ibu, lalu kuusap lengannya untuk membangunkan. Aku berharap ibu terbangun dengan senyumannya yang teduh. Merasakan jemarinya mencubit pipiku yang cuby, tapi ternyata ibu bergeming. Dia tetap diam. Bahkan tidak menggerakkan jemarinya sedikit pun.

“Kak, apa ibu baik-baik saja?”

Perlahan kemudian ibu membuka mata. Bibirnya bergetar, seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun, suaranya seperti tertahan di tenggorokan dan tidak sudi keluar.

Tidak ada senyum sama sekali, sebagaimana yang kuharapkan beberapa saat yang lalu. Aku seperti telah kehilangan seorang ibu yang dulu selalu jenaka saat bersamaku. Kejenakaan ibu telah terenggut penyakit stroke yang dideritanya.

Dari hari ke hari kondisi ibu semakin memprihatinkan. Kamu pernah janji akan menjaga ibu dan memastikan kondisinya baik-baik saja. Lalu kamu memintaku untuk fokus menyelesaikan kuliah di kota. Dan, sekarang bagaimana kamu akan menjelaskan tentang semua ini, Kak?

***

“Apa tidak ada jalan lain, Kak? Kalau rumah ini dijual, Kakak dan ibu akan tinggal di mana?”

“Kita akan tinggal sama-sama di kota. Mengontrak rumah sederhana.”

“Hidup di kota enggak semudah itu, Kak!”

“Ratri, aku juga pernah tinggal di kota. Di sana aku bisa lebih mudah cari kerjaan. Ibu juga akan lebih dekat jika hendak berobat.”

“Apa sebaiknya aku berhenti kuliah saja dan membantu merawat ibu di rumah, Kak?”

“Tidak, Ratri. Kamu harus tetap kuliah.”

“Kak ….”

“Sudah, sebaiknya kamu berkemas. Pakde akan mengantarmu ke terminal. Besok aku kabari jika rumah sudah terjual.”

***

Terus terang aku tidak tahu jika masalah yang kamu hadapi akan serumit itu, Kak. Aku meyesal kenapa baru tahu sekarang, setelah Pakde menceritakan semuanya. Entahlah, apa yang membuatmu tidak memberi tahuku tentang semua masalahmu.

Kamu hanya bilang, bapak terluka oleh rongsokan besi tua dan meninggal karena tetanus. Dengan mudahnya aku percaya, karena memang pekerjaan sehari-hari bapak mengumpulkan barang bekas lalu menjualnya. Tapi Pakde bilang, bapak meninggal sehari setelah dikeroyok orang.

Aku yakin kamu menyembunyikan semua ini dariku, Kak.

Pakde tidak menjelaskan apa masalah yang membelit bapak. Karena Pakde juga tidak tahu yang sebenarnya. Hanya ada kecurigaan soal bapak yang berutang entah kepada siapa.

Kurasa kamu lebih tahu semua tentang bapak. Tentang pekerjaannya mengumpulkan besi tua, juga tentang berapa tanggungan utangnya. Bukankah selama ini kamu sangat dekat dengan bapak?

Sekarang kulihat rumah kita lengang, hanya kamu, ibu dan beberapa perabotan tua. Pakde bilang, barang-barang di rumah kita habis dibawa orang satu persatu. Mereka datang membawa surat utang, lalu pulang mengangkut barang. Bahkan ada yang datang lalu pulang meninggalkan jeritan ibu yang tidak rela pekarangan hilang.

Aku tidak tahu, Kak. Apa keputusanmu menjual rumah dan memilih hidup di kota akan menyelesaikan semua masalah keluarga kita?

Aku sempat bertanya kepada Pakde, tentang utang-utang bapak. “Apa benar bapak punya utang sebegitu besar, hingga semua harta miliknya habis untuk melunasi?”

“Pakde ndhak tahu berapa utang bapakmu. Dia pernah minta tolong untuk dicarikan pinjaman 50 juta. Katanya untuk modal usaha.”

“Usaha apa, Pakde?”

“Dia bilang sejenis tanam saham.”

“Di mana?”

“Tidak tahu. Setelah dia mendapatkan 50 juta, bapakmu tidak pernah cerita soal tanam saham itu.”

“Apa uang 50 juta itu sudah dikembalikan?”

“Aku tidak tahu, tapi aku kenal beberapa orang yang datang ke rumahmu mengangkut barang-barang itu salah satu anak buah Badrun.”

“Badrun? Siapa dia, Pakde?”

“Dia rentenir yang meminjamkan uang 50 juta ke bapakmu.”

Aku setengah tidak percaya dengan apa yang diceritakan Pakde. Sepertinya tidak mungkin bapak terjerat urusan utang dengan rentenir. Bukankah selama ini usaha bapak lancar-lancar saja?

Bahkan setahuku selama ini bapak termasuk orang yang baik. Tidak pernah suka bermusuhan dengan siapa pun. Mana mungkin ada orang yang berniat mencelakai bapak.

Kak, kenapa tidak kamu ceritakan kejadian yang sebenarnya kepadaku? Aku kan juga bagian dari keluarga. Sudah seharusnya membantumu menyelesaikan masalah yang ada.

Mungkin bagimu, aku masih sangat muda untuk ikut menanggung peliknya masalah keluarga kita. Asal kamu tahu, Kak. Aku akan terus minta sama Allah untuk memberi jalan terbaik buat keluarga kita. Aku akan bantu kamu mewujudkan mimpi keluarga kita.

***

Akhirnya aku paham kenapa kamu memilih tidak kerja dan hanya merawat ibu di rumah. Padahal kamu punya ijazah sarjana dan bisa mendapatkan pekerjaan yang layak di kota. Namun, kamu memilih tetap berada di samping ibu untuk menjaganya.

Aku hargai semua jerih payahmu, Kak. Aku janji akan jadi adik yang baik dan jadi kebanggaan keluarga kita.

Oh, iya. Kapan novel Kakak terbit lagi? Teman-teman di kampus ternyata suka baca novel yang Kakak tulis. Tenang, Kak. Mereka tidak tahu kalau semua cerita di novel-novel Kakak terinspirasi dari kisah keluarga kita.

Semoga novel selanjutnya best seller lagi ya, Kak?

***

Ditulis oleh: Seno Ns.

Ilustrasi dari sini.

 

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: