Duhai, matahari, mengapa sinarmu malu-malu? Tolonglah … aku butuh kau untuk menghangatkan hati. Dari tempat Mala duduk sambil memeluk lutut, matahari seolah hanya mengintip dari balik bukit.

“Hei! Kok, nggak ikut kumpul-kumpul sama yang lain?”

Tahu-tahu aja, Bia, karib Mala di tempat kerja, muncul dari balik punggungnya. Wajah Bia yang selalu cerah ceria mendadak muram setelah melihat muka Mala yang basah.

“La, kenapa?”

Simpati dari Bia justru memancing isak yang sedari tadi sudah Mala tahan.

Lengan Bia terulur ke bahu sahabat yang sudah dia anggap sebagai adik. Pelan dia menarik hingga kepala Mala bersandar penuh di pundaknya. “Tuntasin. Setelah itu, baru kamu cerita. Oke?”

Bia, umurnya hanya dua tahun lebih tua dari Mala, tapi sifatnya yang tenang membuat gadis berusia 25 tahun itu nyaman. Sejak mereka berkenalan tiga tahun yang lalu, Mala sudah menganggap Bia sebagai kakak. Dan Mala tipikal manusia yang tidak tahan tanpa kawan. Jadi, otomatis Bia yang dia tempel atau diseret ke mana-mana. Termasuk di acara rohis kantor kali ini.

Mala menadahkan tangan. Seperti sudah bisa membaca pikiran Mala, Bia mengeluarkan tisu dari tas tangannya.

“Jam berapa ini, Bi?” tanya Mala sambil merapikan lipatan kerudung di bagian kening.

“Delapan kurang dikit. Dan kamu belum sarapan.”

Sruttt! Pasti ujung hidungku sudah memerah, pikir Mala. Duh, nggak bisa. Air mata ini masih belum mau berhenti. Bia sabar menunggu selagi Mala menyembunyikan muka dalam lipatan kedua lengannya.

“Hari ini, di kota kami, di waktu yang sama, dia sedang mengucap akad, Bi ….” Suara Mala terdengar seperti bisikan. Padahal aslinya serak karena kebanyakan menangis.

Bia menangkupkan tangan di atas pangkuannya. Kedua sudut bibirnya terangkat. Mala tahu, sahabatnya itu sedang berusaha menghiburnya.

“Mala, bukannya kamu sudah merelakan Gustaf bertahun lalu? Kamu belum ikhlas?”

Mala terdiam. Sebetulnya ada peristiwa yang belum dia ceritakan pada Bia. Dia belum tahu kalau tiga bulan yang lalu, Mala kembali menjalin komunikasi dengan Gustaf. Mala takut Bia akan mencela dan melarangnya untuk sejenak bermain-main dengan masa lalu.

Mereka tidak bertemu. Tiba-tiba saja laki-laki dari masa silam itu menelepon. Katanya, dia mendapat nomor ponsel Mala dari ibunya. Mala sendiri heran. Kenapa Ibu tidak cerita ya, kalau Gustaf datang ke rumah? Mungkinkah Ibu lupa?

Sejak Mala diterima kerja di Jakarta, tiga tahun yang lalu, dia berhenti mencari kabar tentang Gustaf. Pergi dari kota tempat mereka tinggal, menjadi semacam vonis bahwa harapan Mala pada Gustaf betul-betul tak bisa dilanjutkan. Toh, laki-laki itu sedang dalam proses ta’aruf dengan gadis pilihan orang tuanya.

Sempat setahun yang lalu, seorang sahabat Mala berkabar: ta’aruf  Gustaf dibatalkan, karena si gadis  menolak, dia masih ingin melanjutkan S2. Ada yang berdesir di dada Mala ketika itu. Tapi dia perempuan, gengsi kalau harus lebih dulu menghubungi.

Lagi pula, pengalaman sebelumnya dengan Jamal, membuat Mala lebih berhati-hati mengulurkan rasa. Dia baru akan bereaksi, kalau sudah ada aksi nyata dari si laki-laki. Kalau hanya berupa kode, atau kesan tersirat, Mala memilih untuk diam di tempat.

Telepon pertama dari Gustaf melempar ingatan Mala pada masa-masa diskusi bersama di sudut perpustakaan atau kantin fakultas. Mala menyukai cara Gustaf membahas peristiwa-peristiwa. Seolah, hanya dengar mendengarkan saja, kecerdasan Mala jadi naik satu level.

Dua insan muda itu saling berkisah tentang waktu lampau, sejak mereka tak bersama lagi, hingga hari itu. Mala—yang masih belum bisa menenangkan getar hebat dalam nada suaranya—lebih banyak mendengarkan. Cerita dari Gustaf mengesankan buat Mala, apalagi laki-laki itu tidak pernah menyinggung tentang perjodohan (yang batal) yang menjadi sebab mereka berpisah.

Sayangnya baterai ponsel Mala keburu habis. Padahal sepertinya Gustaf masih ingin cerita lebih banyak. Celakanya, Gustaf pamit dengan sebaris janji, “Besok aku telpon lagi, ya?” Duh, Gustaf sungguh tidak peka. Dia tidak tahu kalau ucapannya membuat Mala sulit tidur malam itu. Dan membuat gadis itu gelisah menunggu di hari-hari berikutnya. Ya, Gustaf  tidak menelepon di waktu yang dijanjikan.

Mala, maaf, aku belum sempat menelepon lagi.

Setidaknya dia tidak lupa memberi kabar, batin Mala sambil tersenyum kecut saat membaca kalimat itu di layar ponselnya. Dan dia sudah cukup senang, karena pesan singkat dari Gustaf tidak hanya sekali itu datang. Meski begitu, Mala masih menahan diri untuk tidak terlalu ekspresif menunjukkan warna hatinya. Dia memegang janjinya untuk lebih hati-hati. Entah mengapa, Mala merasa ada yang salah. Entah apa itu.

Firasatnya terjawab dua minggu yang lalu. Ketika ibunya menelepon di hari Sabtu, seolah ingin memastikan Mala sedang santai di kamar kosnya.

Awalnya ibu bercerita tentang banyaknya undangan yang beliau terima. “Musim nikahan ini, Mbak. Pas liburan anak sekolah.”

Mala membalas seperlunya saja. Pembicaraan tentang pernikahan, meski itu pernikahan orang lain, rentan menyebabkan hatinya tersindir. Mala tidak nyaman membicarakannya. Lebih-lebih, dia masih tanda tanya mengapa tiba-tiba ada perasaan ganjil dalam benaknya.

Tiba-tiba ibu banting setir. “Mbak, Ibu sepertinya lupa cerita, kalau … kapan itu Mas Gustaf main ke rumah. Tapi cuma sebentar. Dia minta nomor hape Mbak Mala. Nggg … dia sudah kontak belum?”

Mala menangkap nada berhati-hati dalam ucapan ibunya.

“Sudah, kok, Bu.”

Di seberang sana terdengar desah helaan napas sang ibu. “Syukur kalau begitu. Kalau ada kabar lainnya, Ibu diberi tahu, ya?” Lalu pembicaran mereka berakhir.

Malam harinya, ada panggilan masuk dari Gustaf. Mala merasakan semu di wajahnya, mengingat saat itu adalah malam Minggu. Dia teringat kebiasaan mereka dulu, kencan malam Minggu via telepon.

Laki-laki itu memulai percakapan dengan cerita bahwa tak lama setelah ta’arufnya gagal, dia kembali dekat dengan seorang perempuan, salah satu kliennya.  Mala menyimak penuturan Gustaf sambil terus menggosokkan telapak tangannya yang jadi basah setiap kali dia gelisah.

“Mala, kami … akan menikah. Aku akan sangat bahagia, kalau kamu … bisa datang. Tadi siang aku antar undangannya ke rumahmu.”

Setelah mengucapkan ‘Oh’, Mala tak ingat lagi, ucapan apa saja yang meluncur dari mulut Gustaf. Dia terkena serangan panik. Bahagia katanya? Maksudnya, bahagia di atas dukaku? Duka? Jadi kamu masih menyimpan rasa, La? Semua dialog itu bersahut-sahutan di kepala Mala. Dia butuh jalan keluar paling cepat!

“Aku … kirim doa dari sini aja, ya, Gus? Tanggal segitu aku ada acara rohis kantor di Lembang. Aku sudah terlanjur daftar.” Mala berusaha mendatarkan ucapannya dan mencoba bersikap wajar, sampai Gustaf mengakhiri teleponnya.

Bia, aku jadi ikut acara di Lembang. Tolong daftarin, ya.

Dan di sinilah dia sekarang. Diam tertunduk di bawah tatapan teduh penuh maklum dari Bia, yang baru saja mendengarkan cerita Mala tentang Gustaf.

“Sekarang kamu makan dulu, yuk!”

***

“Mala, ada yang mau kenalan.”

Bia datang bersama seorang laki-laki, yang Mala kenali sebagai ketua rohis baru, Ridho. Salah satu agenda dalam acara rohis kali itu memang pemilihan ketua baru.

Mala gegas menutup buku yang sedang dia baca dan berdiri untuk menggeser kursi yang dia duduki tadi. Laki-laki dengan perawakan sedang itu tersenyum, kepalanya mengangguk sebagai bentuk sapa, menggantikan jabat tangan. Mala membalas dengan anggukan yang sama dan memperhatikan gerak-gerik sigap laki-laki itu ketika mengambil satu bangku kosong dari meja yang lain. Mala lega, mendapati Bia ikut duduk bersama mereka.

“Suka baca novel? Saya sudah baca ‘Ayah’ juga.” Ridho membuka percakapan sambil menaruh perhatian pada buku yang sekarang ada di pangkuan Mala.

“Uh! Mala bukan cuma suka baca, Mas! Tapi … gila baca!” sergah Bia.

Berikutnya, Bia yang lebih banyak mengisi pembicaraan selagi Mala masih terlihat canggung. Sedangkan Ridho sendiri, Mala merasa pertanyaan laki-laki itu banyak mengorek tentang dirinya. Mala tidak bodoh, dan sangat peka bahwa Ridho sedang ingin mengenal Mala lebih dekat.

Mala, yang lebih hemat bicara, berusaha menilai laki-laki itu dalam diamnya. Mala cukup senang ketika tahu kalau Ridho juga hobi membaca. Bahkan Mala sempat berdecak kagum ketika tahu kalau artikel-artikel lifestyle yang suka dia baca dalam buletin perusahaan adalah tulisan pria berambut ikal itu.

Gustaf tidak suka membaca, dia lebih suka bermain basket, atau mengotak-atik mesin mobil. Mala menggelengkan kepala ketika sadar nama siapa yang baru saja melintas dalam benaknya. Kenapa sosoknya masih selalu saja datang?

Rupanya gelisah dalam gerak-gerik Mala tertangkap oleh Ridho. Dia mengisyaratkan pada Bia kalau harus kembali ke kamarnya.

“Sudah malam, selamat istirahat, Bia, Mala. Assalamu’alaikum ….”

Usai membalas salamnya, Mala menoleh pada Bia. Berusaha bertanya lewat tatapan mata. Apa itu tadi?

Bia menunggu punggung Ridho menghilang, sebelum menjelaskan pada Mala. “Sudah sejak kemarin, waktu kita baru sampai, dia menanyakan kamu. Katanya, dia sudah memperhatikan kamu sejak di dalam bus. “Tangan Bia bergerak merapikan kerudung yang terlipat di bahu Mala. “Ridho serius, La. Dia curhat banyak sama aku. Aku juga tahu dia seperti apa. Dia teman kuliah suamiku dulu.”

Mala mendesah, “Entahlah, Bi. Aku … masih harus membereskan perasaanku. Harus aku buat nol dulu, sebelum aku bersiap untuk mengenal Ridho.”

Bia tersenyum, satu tangannya memeluk pinggang sahabatnya dari belakang. Mala membalasnya dengan melingkarkan lengan di bahu Bia. Bersyukur dia memiliki sahabat sebaik Bia. Masih sambil berangkulan, mereka kembali ke kamar, melewati restoran yang masih terlihat ramai oleh hiburan live music.

Lantunan vokal sang biduan mengiringi langkah dua sahabat itu. Bila berat … melupakan aku. Pelan-pelan … saja …. []

Oleh: Okie Noor.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: