Belakangan ini, aku menjadi sulit tidur. Mungkin karena patah hati yang masih belum kunjung sembuh setelah hubunganku berakhir, dua bulan lalu. Belum lagi, aku harus wisuda tanpa pendamping. Teman-temanku sudah lebih dulu mengejek, “Wisuda atau ambil raport, kok yang datang orang tua doang?”

Sungguh kesal rasanya! Padahal wisudaku masih bulan depan, siapa yang tahu, kalau tiba-tiba ada yang melamarku. Tapi memang posisiku sedikit bully-able. Di antara kedua sahabat baikku yang juga akan wisuda, memang aku saja yang single. Single, bukan jomlo. Catat.  

Dua tahun terakhir aku berpacaran dengan seorang senior di jurusanku, Kak Ilham namanya. Saat berpacaran denganku, dia sedang menjadi ketua BEM Fakultas. Sebelumnya, dia pernah menjadi asisten dosen mata kuliah favoritku. Kami menjadi dekat lantaran aku adalah koordinator mahasiswa untuk praktikum mata kuliah yang diasisteni oleh Kak Ilham. Tidak lama setelah mata kuliah itu selesai kuambil, Kak Ilham mengajakku berpacaran. Tanpa ragu aku menerimanya.

Kisah kami berakhir tak lama setelah aku menyelesaikan KKN, Kak Ilham telah lulus dan sedang bekerja di kampus untuk seorang dosen. Karena ternyata, kepala desa Bangunjaya –lokasi KKN-ku– adalah teman lama ayahku. Setelah meminta kontak Ayah dariku, Pak Kades menghubungi ayahku. Tanpa kuketahui, beliau berniat menjodohkanku dengan keponakannya. Maka sepulang KKN, ayah menanyakan keseriusan Kak Ilham padaku. Di luar dugaan, Kak Ilham sama sekali belum memasukkan pernikahan ke dalam rencana hidupnya.

Kejadian itu, membuat Ayah tak menyetujui berkanjutnya hubunganku dan Kak Ilham. Saat Kak Ilham datang menjemputku untuk pergi menonton film, Ayah memulai pembicaraan.

“Ilham, saya sungguh keberatan mengizinkan kamu berpacaran dengan putri saya sekarang. Sudah dua tahun, kamu sudah bekerja dan Dinda sudah tinggal wisuda tapi kamu belum siap menikah?”

Kak Ilham hanya diam, seperti hendak menjawab namun ia penuh ragu.

“Sudah ada seorang laki-laki yang berniat serius, sebetulnya saya tidak ingin Dinda pacaran. Agama tidak membolehkan. Maka, kalau kamu masih belum berniat serius, silakan tinggalkan putri saya.”

Kemudian Ayah berjalan masuk ke ruang tengah. Kami berdua, akhirnya tidak jadi keluar. Kak Ilham memutuskan untuk segera pulang tanpa berkata apa pun kepadaku.

Sehari berselang, Kak Ilham mengirim chat kepadaku. Ia mengutarakan keputusannya untuk mengakhiri hubungan denganku dengan alasan panjang lebar. Menikah, baginya adalah keputusan terburu-buru sedangkan ia sama sekali belum memiliki apapun. Dalam rencana Kak Ilham, ia akan menikahiku jika sudah bisa membeli rumah dan mobil. Yang mengecewakan, ia bahkan tidak bisa memastikan kapan hal itu bisa ia wujudkan. Maka, dengan tegas aku menyetujui keputusan berpisah. Aku tidak ingin menunggu terlalu lama.

***

Aku patah hati.

Aku betul-betul kecewa, ternyata dua tahun bersama tak membuatku mengenal Kak Ilham. Aku pikir, ia yang mantan ketua BEM bisa berani menikah muda. Apalagi, aku tahu pendapatan dari hasil bekerja di kampus dan membantu proyek dosen sudah cukup menghidupinya. Bulan ini, dia sudah bisa membeli cash sebuah laptop dan membuka usaha kecil bersama dengan temannya dengan uang yang ia dapat. Apakah aku ini tidak pantas untuk mendampinginya dari bawah? Haruskah aku menunggunya ke puncak? Apakah harta yang lebih utama?

Tapi masih beruntung, Ayah tak memaksaku menyetujui tawaran perkenalanku dengan keponakan Pak Kepala Desa hingga aku menolak tanpa pikir panjang. Aku beralasan, masih ingin menenangkan diri supaya sakit hatiku hilang. Setelahnya, Ayah tak pernah lagi membahas. Katanya, Ayah sudah memberi pengertian kepada Pak Kepala Desa dan beliau bisa memahami. Aku sangat lega, tidak henti kuucapkan terima kasih pada Ayah. Seperti biasa, Ayah mengelus rambutku sambil berkata, “Ayah tidak ingin salah meletakkan tanggung jawab kepada laki-laki.”

***

Sabtu pagi ditemani sinar matahari yang masih mengintip, aku berkebaya hijau muda dengan riasan tipis. Aku sudah siap dipanggil ke mimbar untuk menerima ijazah sarjana dengan predikat lulusan terbaik fakultas. Bersyukur sekali, obat patah hati pertama yang kudapat adalah rasa bangga yang kupersembahkan untuk orang tua.

Setelah dua kali pindah jurusan, akhirnya kubuktikan bahwa jurusan yang aku minati memang membuatku serius dalam belajar. Ya, aku sempat pindah kampus, mengikuti seleksi nasional satu kali lagi dan juga pernah transfer jurusan. Jadi, aku menghabiskan masa kuliah selama 5 tahun lebih 5 bulan. Itu juga alasan kenapa aku ingin menikah setelah wisuda.

Tak disangka, di hari Sabtu pekan berikutnya datang seorang tamu laki-laki muda yang mecari Ayah. Kebetulan Ibu yang membukakan pintu, saat aku berada di ruang tengah. Sambil membaca sebuah novel karangan Asma Nadia, aku bisa mendengar percakapan Ayah dan tamu itu dari ruang tengah. Apalagi, televisi sedang dimatikan.

Adikku, Afa yang masih tujuh tahun sudah tertidur pulas setelah pagi tadi diajak berenang oleh Ayah. Aku kaget bukan main, ketika laki-laki yang mencari Ayah memperkanalkan diri dengan nama Arfan. Ia kini, bekerja di sebuah perusahaan di Tangerang. Tidak jauh dari tempat tinggalku.

Aku yakin, dia adalah temanku. Aku mengenali suaranya. Kami pernah sama-sama kuliah di sebuah universitas swasta ternama di Bandung sebelum akhirnya aku pindah. Tapi, ketika itu aku sangat membencinya. Ia sama sekali tidak punya teman, selalu menyendiri dan egois. Aku pernah membentaknya sekali, di ruang kelas. Waktu itu, dia tidak bersedia mengajari teman satu kelas untuk mengerjakan tugas kalkulus yang sulit. Padahal ia sudah mengumpulkan lebih dulu. Ia beralasan tak punya waktu lebih, hingga aku marah dan menganggapnya pelit.

Setelah memperkenalkan diri dan menceritakan bagaimana kehidupannya sekarang, Arfan mengutarakan maksud kedatangannya hari itu. Dengan sedikit terbata, ia mohon izin kepada Ayah untuk melamarku. Ayah belum menjawab dan aku terus mendengarkan pembicaraan mereka. Tidak kutahu selama ini, ternyata Arfan telah kehilangan Bapaknya setahun sebelum ia kuliah. Aku mendengarkan sambil menyesal, kenapa aku tak coba bertanya padanya, dulu. Aku hanya bisa menilai seseorang dengan emosiku.

Sebagai anak pertama, ia harus membantu Ibunya yang hanya seorang Ibu rumah tangga. Bagi Arfan, kuliahnya adalah tanggungannya sendiri. Maka, selama kuliah ia juga harus bekerja. Itu yang membuatnya tidak mengenal berorganisasi di kampus, tidak memilih untuk bermain dengan teman dan hal lain selain kuliah. Karena sepulang kuliah, ia harus melakukan dua pekerjaan sekaligus. Hatiku seperti bergetar mendengarnya, tidak tahu apakah ini rasa iba atau benci yang meluntur.

Kudengar Ayah mengakhiri percakapan, “Saya harus mempertimbangkan keputusan anak saya dulu. Saya akui, kamu santun dan sepertinya penuh tanggung jawab. Seminggu lagi, silakan kembali ke sini. Insya Allah, saya akan berikan jawaban.”

Aku duduk gemetar, kututup novel yang kubaca. Dalam hati, aku merasakan hal yang aneh. Dia yang kubenci, mendatangi Ayahku.

Oleh: Hapsari TM.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: