Hati-hati, rindu itu serupa bara,

Ia menghangatkan, namun adakalanya membakar.

Kadang, ia pun bagai salju,

Membuat pias dan beku.

“Wah, apik banget Dik.”

Aku menoleh, dan segera menutup buku diary dengan tergesa. Seraut wajah sumringah dengan mata gumintang tersenyum simpul.

“Eh, anu ….” Aku kehabisan kata, mendadak syaraf di wajah serasa kaku, apalagi untuk tersenyum.

“Buat siapa sih, puisinya?”

Lelaki yang tiga hari ini rutin mengirimi bubur ayam karena bibirku masih lecet, bertanya sambil meletakkan bungkusan kertas minyak di meja BEM.

“Kok bengong? Hayo ….”

Aku tersenyum, senyum yang kubuat teramat manis. Seseorang yang sekarang ada di depanku ini adalah seseorang yang sangat kukagumi.

“Ada pokoknya,” jawabku pada akhirnya dengan wajah yang entah. Mungkin ekspresiku saat itu aneh, pipi mendadak berat seakan ada buah tomat menggantung.

“Okelah kalau rahasia.” Kakak tingkatku itu memang pengertian. Ia pandai menjaga sikap dan halus perangainya.

Aku tersenyum, dan lagi-lagi, buah tomat itu seakan masih menggantung di pipi.

***

Sore itu, jalanan Jogja – Solo diguyur hujan maha lebat. Bukan hanya airnya yang meruah ke mana-mana, tapi juga tiupan angin kencang membuat ciut nyali para pengendara.

Kulihat Kak Alang menepikan motornya disusul Kak Dimas, juga teman lain. Aku pun ikut minggir berkumpul bersama mereka.

Dua senior yaitu Kak Alang dan Kak Dimas, aku beserta sahabat terbaik, Adelia, juga empat teman dari BEM Fakultas, dalam perjalanan pulang dari Kaliurang. Perjalanan survey lokasi untuk acara LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan anggota baru). Kami berdelapan menggunakan empat motor, saling membonceng.

“Berhenti aja dulu ya?” ucap Kak Alang meminta persetujuan.

“Iya, deres banget, bahaya.” Kak Dimas menimpali.

“Kasihan juga sama Illa dan Adel,” ujar Kak Alang sambil naik kembali ke motornya. “Kita istirahat di masjid itu aja ya,” lanjutnya sembari mengarahkan telunjuk ke masjid yang tak jauh dari tempat kami menepi.

Mendengar kata kasihan mendadak perutku mulas. Kesannya, aku cewek yang lemah. Memang sih, dalam perjalanan ini, semuanya cowok, kecuali kami berdua.

“Sekalian salat aja, ntar lanjut ba’da Maghrib,” saran Kak Dimas sebelum kami semua melajukan motor ke arah masjid dan beristirahat.

Hampir dua jam kami di masjid. Salat maghrib pun telah usai beberapa menit lalu. Tapi, hujan belum juga memberi tanda akan reda.

Aku mulai gusar, perjalanan menuju Solo masih sekitar dua jam dengan kondisi normal. Entah, kalau keadaan hujan seperti saat ini, mungkin bisa tiga atau empat jam. Padahal, jam malam kos hanya dibatasi hingga jam sembilan atau toleransi tiga puluh menit setelahnya. Dan sekarang, sudah jam enam lewat dua puluh.

Aku keluar masjid dan mengecek teman lain. Tapi, agaknya, mereka masih betah di dalam.

“Del, kamu panggil Kak Alang, gih!”

“Di-WA aja lah, malu panggil-panggil.”

Aku pun mengeluarkan HP yang hampir sekarat karena batre tinggal lima belas persen dan mulai mengetik pesan.

Kak, pulang sekarang aja yuk ….

Tidak menunggu lama, HPku berbunyi, balasan pesan dari ketua BEM itu masuk.

Serius? Masih deres, bahaya.

Aku dan Adel berpandangan saat pesan balasan itu kami baca. Iya sih, tapi, gimana ya?

Melihatku masih diam memegang HP, Adel mengambil benda mungil perantara komunikasiku dan Kak Alang.

“Sini, biar aku aja yang bales!”

Tapi ini udah malam, Kak.

Dan Kak Dimas diiringi Kak Alang pun menghampiri kami di pelataran masjid.

“Serius mau lanjut?” Kak Alang bertanya dingin.

Kami mengangguk serius. Ya, iyalah! Masa mau nginep di masjid!

“Emang udah malem sih Lang, pulang tapi pelan-pelan aja, mungkin lebih baik.” Bijaksana Kak Dimas memberi saran.

Kami pun kompak menyetujui.

“Mau gantian mbonceng nggak?” Kak Dimas bertanya padaku sewaktu kami bersiap memakai mantol di parkiran. Ah, dia perhatian sekali!

Aku melirik Adel, Kak Dimas pun paham. Adel memang berbeda denganku, dia ‘lain’ dari cewek pada umumnya. Cewek sekretaris bidang kesenian itu tak pernah mau boncengan dengan laki-laki, ya apalagi membonceng, salaman aja ogah. Padahal, sahabat baikku itu tidak bisa mengendarai motor. Tapi ya, tetep aja pilih-pilih supir, dan aku yang jadi korbannya. PP Solo-Jogja sendirian nyetir tanpa bisa gantian.

Sebetulnya, tak jadi soal sih, kalau cuaca cerah. Aku yakin kuat membonceng sahabat lemah-lembut itu sendiri tanpa ada yang gantiin. Tapi karena hujan dan jalanan bertambah ramai di malam hari, aku mulai khawatir.

“Nggak usah, aku kuat kok.” Senyum sok kuat kusuguhkan pada Kak Dimas dan teman lain. Akhirnya, kami pun kembali ke jalanan diiringi deras hujan.

“Makasih ya,” bisik Adel di telingaku.

Aku mengangguk dan kembali konsentrasi mengikuti motor Kak Alang dan teman lain yang berada di depan. Kami memang berjalan beriringan, Kak Alang sebagai penunjuk jalan berada paling depan disusul teman lain, kemudian aku dan Adel, barulah di paling belakang ada Kak Dimas dan satu teman yang mengawal.

Beberapa menit awal semua berjalan lancar. Meski pelan, motor kami tetap melaju ditengah guyuran hujan. Sampai di ringroad utara hujan mulai reda. Hanya gerimis kecil yang tetap membuat embun menghalangi pandangan di kaca helm.

Aku yang memang ingin segera sampai kos, memacu motor lebih kencang. Kutinggalkan motor teman dan menjejeri Kak Alang sembari memencet bel dua kali.

“Agak cepet ya Kak!” teriakku setelah helm terbuka.

Kak Alang menoleh, “Ya,” jawabnya dengan berteriak juga dan segera memacu motor lebih cepat.

Tak mau ketinggalan motor Kak Alang, aku pun memacu motor semakin cepat. Tanpa sadar, jalan di depan dibagi menjadi dua (jalur mobil dan motor dipisah).

“Kanan mobil!” teriak Adel dari belakang

Aku pun segera mengarahkan stang ke kiri. Tapi naas, kecepatan motor di atas delapan puluh, rupanya membuat motor oleng dan menggesrek trotoar.

“Astaghfirullah!!” hanya teriakan itu yang kudengar. Selebihnya aku lupa apa yang terjadi. Tahu-tahu, motor sudah tergeletak di jalan. Aku terpelanting sembari duduk. Entah di mana Adel.

Orang-orang berkerumun, aku dibopong Kak Dimas ke bahu jalan. Setelah duduk, kuterima air putih dan meminumnya.

“Kamu nggak apa-apa?” tanya Kak Dimas khawatir.

Meski masih bingung, aku mengangguk. Duh, kepala kok rasanya berat. Tangan juga perih.

“Wah, dahimu memar Dik. bibirmu juga berdarah.” Lagi-lagi Kak Dimas memberikan perhatian yang detail padaku. Tangannya sigap mengelap ujung bibirku dengan slayer BEM yang ia pakai. “Teman-teman coba deh minta es batu di warung!”

Aku, antara sadar dan tidak, merasa sangat spesial dengan perhatian dari Kak Dimas. Dengan gerak cepat, akhirnya dahiku dikompres es batu. Sementara ujung bibir yang lecet karena aspal hanya dibersihkan lalu dikucur dengan betadin. Oh, ya, ternyata Adel terpelanting juga. Tapi ia tidak memar atau pun apa. Sebuah keajaiban kurasa. Sementara itu, motor yang kukendarai mengalami bengkok pada rem belakang. Kaca spion sebelah kiri pecah dan tebeng pecah.

Bersama beberapa teman mengecek kondisi motor, Kak Alang geleng-geleng dan menasihati, “Makannya, nggak usah ngebut!”

Aku cemberut nggak terima nasihatnya. Iih! Bikin BT denger ketua BEM itu bicara. Ini kan gara-gara dia juga!

“Motor aman sih kalau dipakai pelan,” lapor Kak Alang pada yang lain. “Lagian, jam segini bengkel pastinya udah pada tutup.”

“Sudah, sebaiknya kita cari makan aja dulu, kelihatannya semua sudah lapar.” Kak Dimas membantuku berdiri dan menunjuk arah angkringan.

Ide cari makan itu sepertinya mampu membuat kami kembali akur. Pecel lele di pinggir jalan menjadi menu teramat istimewa bagi kami. Sayangnya, kondisi bibir yang memar membuatku tak bisa banyak makan. Padahal perut rasanya sangat lapar. Huh!

“Nanti deh kita mampir cari roti,” ujar Kak Dimas begitu melihatku kepayahan makan nasi.

Aku kembali tersenyum, kembali merasa spesial.

Selesai dengan pecel lele, kami pun bergegas menuju motor untuk melanjutkan perjalanan.

“Gimana, bisa nyetir?”

Kulirik Adel, dia diam, pasrah. “Gimana baiknya, ya?” tanyaku meminta saran.

“Sebaiknya mbonceng aja, biar yang nyetir laki – laki,” ucap Kak Dimas hati-hati. “Kan Illa habis jatuh, bahaya kalau nyetir sementara tangan kanan lecet kena aspal. Motor juga kondisinya setengah sehatt. Allah pasti tahu kok ini darurat.”

Aku tahu Kak Dimas alumni pondok di Jawa Timur, ilmu agamanya banyak. Ya, meskipun aku juga tahu kalau dia masih suka nongkrong di BEM meski iqamah telah berkumandang. Tapi, apa yang dikatakan Kak Dimas menurutku benar.

“Gimana Del?” tanyaku meminta kepastian.

Adel menatapku ragu, tapi akhirnya ia mengangguk. “Iya deh,” ucapnya lirih.

Setelah musyawarah, akhirnya Adel mbonceng teman satu bidang dan aku mbonceng Kak Dimas. Duh, hatiku tiba-tiba kebat-kebit, apalagi pas menciumi aroma jaket Kakak tingkat super baik itu, hmm … aroma teh melati semakin membuatku tentram.

***

 “Kakak mau minta tolong boleh ya?” Mahasiswa semester akhir itu memecahkan sunyi yang beberapa saat lalu mengepung interaksi kami.

“Boleh, boleh, Kak,” jawabku masih kaku sembari terus memegangi buku diary.

“Bikinkan aku puisi kayak di buku itu.” Kak Dimas tersenyum, aku semakin salah tingkah. “Yang romantis,” lanjutnya.

“Untuk?” Dengan debar tak karuan aku bertanya, memastikan kemungkinan yang saat ini tiba-tiba muncul dalam hati. Jangan – jangan Kak Dimas tahu kalau puisi itu kubuat untuknya. Duh ….

Kak Dimas tersenyum dan membisikkan sebuah nama. Mendengar nama itu, dadaku longsor dan dengan susah payah kucoba tidak syok.

Perihal rasa, Aku telah melipatnya.

Menitipkannya pada kenang, yang melebur bersama secangkir rindu.

Oh, alangkah betapa,

Rindu bagai bara, menjelma abu kesedihan.

Oleh: Sri Bandiyah.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: