KALI ini gue mau cerita tentang hari apes gue. Jangan bilang bahwa semua hari itu baik, tidak ada hari yang jelek apalagi hari apes. Okelah, gue mau cerita hari sial gue. Masih enggak boleh? Baiklah, gue mau ngomongin tentang hari ketidakmujuran gue hari ini. Yah, hari ini. Dengerin ye?

Hari ini, hari Jumat seperti biasa gue jemput anak perempuan gue di boarding school. Dia memang sekolah di sana dan pulangnya tiap hari Jumat. Itu pun, kalau dia ingin pulang dan kalau tidak ingin pulang, ya tidak dijemput. Namun selama ini dia selalu ingin pulang. Meskipun tidak selalu boleh menginap oleh Mujanibah atau pengasuh.

Hari ini dia ingin pulang dan itu sudah dikabarkan sejak hari Kamis. Jadi pas Kamis sore, dia ke warnet yang menyediakan WA gitu, terus ngabarin kalau mau pulang. Meskipun ini menambah pengeluaran–sebab dia harus bayar untuk kirim WA—namun masih mending daripada anak mainan HP melulu.

Gue sangat bersyukur anak sulung gue mau sekolah di sana. Harapannya enggak muluk-muluk sih, paling tidak kelakuan dan aklaknya lebih baik dari babenya. Ha..ha. Selain itu biar dia mendoakan orangtuanya selalu. Eaa.

Pagi ini pukul 5.30, gue sudah stand by. Pakai celana panjang, jaket dan slayer. Kadang pula memakai kacamata. Sepeda motor sudah dikeluarin dan siap berangkat. SIM, STNK lengkap (tepatnya STNK bini), oke deh cap cus. Pagi itu gue berkendara dari Bantul ke Yogyakarta. Biasanya perjalanan membutuhkan waktu antara 30-40 menit dengan kecapatan 60km/jam. Lha, apal bener gue ya? Jelas dong. Wong setiap Jumat wira-wira Bantul-Yogya.

Hari ini agak beda. Jalanan terlihat lengang. Ada beberapa sepeda motor menerobos lampu merah. Godaan menghampiri. Nerobos, enggak. Nerobos, enggak. Ya, Allah. Setan kok giat amat menggoda gue. Bismillah. Alhamdulillah, gue kuat menghadapi godaan nerobos setan. Meskipun beberapa kali terhenti di traffic light, akhirnya sampai juga di asrama anak.

Begitu sampai di asrama anak dan gue tinggal nunggu. Wong tadi sudah pesan temannya yang masih di luar untuk memanggilkan. Tik tok tik tok, 5 menit, 10 menit telah berlalu. Gue sudah enggak sabar kenapa nih bocah lama banget. Tidak seperti biasanya semangat kalau diajak pulang. Apa dia masih ketiduran? Atau jangan-jangan dia masih sarapan.

Selidik punya selidik, ternyata di asrama ini ada dua anak yang mempunyai panggilan sama. Pantesan lama. Oke deh minta dipanggilin lagi. Tak berapa lama si anak nongol. Wajahnya biasa saja. Datar. Tidak tampak sumringah bertemu bapaknya. Ah, sudahlah. Emang anak zaman sekarang begitu, kurang menghargai perjuangan orangtua menembus dinginnya pagi hanya untuk menjemputnya. Eits, gue kok terkesan enggak ikhlas ya?

Langsung saja gue ajak dia meluncur ke Bantul. Di perjalanan pikiran gue bercabang. Apakah gue langsung pulang atau ke kantor dulu? Kalau pulang dulu tentu, gue akan telat pergi ke kantor. Ya, sudah. Gue mau mampir ke kantor terlebih dulu. Paling tidak, gue mau cap jempol dulu.

Biasalah sebagai abdi negara gue mesti taat terhadap finger print. Meskipun gue mengajarnya nanti siang, tetap saja gue mesti presensi pagi hari. Dan tidak boleh melebihi pukul 7 pagi. Tidak boleh lebih semenit pun. Kalau lebih itu artinya gue telat dan itu termasuk tidak disiplin. Konon katanya sanksi bagi orang yang sering indisipliner, akan diturunkan pangkatnya.

Sepeda motor sudah gue pacu dengan kencang agar tidak terlambat. Sampailah gue di sekolah dan ternyata tralala … listrik mati. Itu artinya finger print juga mati. Itu artinya tidak ada cap jempol pagi ini. Dan itu berarti gue sia-sia mruput ke sekolah. Sia-sia sudah gue berpacu dengan waktu. Ya … Allah.

Akhirnya gue pun berencana pulang.

“Yah, beli bubur ya?” pinta anak gue.

“Ya.”

Gue tidak jadi pulang namun mampir dulu ke penjual bubur. Sesampai di depan penjualnya, gue buka dompet. Ya … Allah tinggal dua ribu rupiah. Mana cukup untuk beli dua atau tiga bungkus bubur?

Thing. (Tanda bohlam lampu menyala). 

Gue ingat kata-kata bini gue tadi pagi.

“Yah, STNK-nya ada di dompet. Dompetnya di jok motor.”

Aha. Secercah asa muncul. Segera kubuka jok sepeda motor. Benar saja ada sebuah dompet kotak berwarna biru di jok sepeda motor. Dengan menahan rasa deg degan–maklum gue jarang-jarang ambil duit bini—gue mengambil uang dua puluh ribuan. Kemudian uang itu gue berikan kepada anak gue.

Hujan masih turun dengan deras. Tangan gue pun masih basah dan basahan tangan tadi menempel di dompet bini. Duh, gimana nanti kalau ketahuan? Pikir gue. Cepat-cepat dompet gue masukkan ke jok dan berharap dompet yang kena air tadi cepat kering. Ada baiknya gue ganti uang yang gue ambil, batin malaikat yang ada di tubuh gue.

Enggak usah. Duit isti juga duit lue juga, teriak setan di telinga.

Perang kebaikan dan kejahatan terus belanjut dalam otak gue. Biarlah. Gue memutuskan nanti kalau ada uangnya saja.

Setelah si anak menerima tiga bungkus bubur, gue mengajaknya ke ATM terdekat. Tak terasa, sampai juga di ATM Bank terbesar di Yogyakarta itu. Gue melepas jas hujan dan masuk ke bilik ATM. ATM kumasukkan. Namun …

Ya, Allah. Gue baru ingat kalau ATM gue kemarin diblokir gara-gara gue lupa password. Kan kemarin, pas mau ambil uang, mesin ATM itu meminta gue untuk mengganti password. Gue sudah mengganti password. Namun pas gue coba password itu, eh gue lupa sendiri. Ha … ha … dasar.

Gue masih penasaran. Gue coba masukkan ATM lagi dan di layar mesin ATM muncul tulisan.

ANDA TELAH MELAMPAUI BATAS PENGGUNAAN PASSWORD.  

Sialan! (Eh, mengumpat boleh enggak sih? Sensor ye?)

Baiklah baiklah. Gue masih punya uang dua ribu rupiah plus uang di dompet bini. Ha … ha … semoga dia tidak baca kisah ini sebab sampai tulisan ini selesai gue belum mengganti uangnya.

Bip. Bip.

Tanda bensin berbunyi. (Sebetulnya tidak berbunyi sih, tapi emang mati-nyala gitu).

Ya Allah, terpaksa gue harus ambil duit bini lagi. Lha, kalau enggak ambil uang lagi nanti kalau bensin habis betulan, gue harus dorong dong.

“Kak, kamu punya uang,” tanya gue.

“Tidak, Yah.”

“Dua puluh ribu saja?”

“Enggak ada. Duit di asrama semua.”

Ya, Allah ini. Anak ini kok pinter banget. Kalau pulang ke rumah, kok enggak pernah bawa uang jadi uangnya aman dan utuh.

Lampu oranye terus berkedip. Wah, harus segera ke POM Bensin nih. Gue segera mengarahkan sepeda motor ke pengisian bensin. Antrean kendaraan tidak terlalu banyak, gue langsung memilih jalur Pertamax. Meskipun baru miskin, tetapi kebutuhan rutin sepeda motor tidak boleh ditinggalkan.

Tibalah giliranku. Kembali dengan perasaan cemas gue buka jok dan mengambil uang dua puluh ribuan lagi. Meskipun di dompet bini ada lembaran kertas berwarna merah dan biru, tetap saja gue tidak tergoda. Gue tetap konsisten mengambil sesuai kebutuhan. Ya, walaupun ini sepeda motor bini juga. Namun itu bukan alibi yang bagus kan untuk mengambil uang lebih?

Gue tetap mengambil uang warna hijau itu dan memberikan kepada pelayan pengisian bensin. Selesai sudah pengisian bensin dan gue berencana pulang. Syukurlah tidak ada drama mendorong sepeda motor di tengah hujan rintik ini.

Tanpa punya agenda yang lain, gue mengendarai sepeda motor menuju rumah. sekitar 15 menit sampailah di rumah. Di depan rumah sudah menunggu bini dengan muka ditekuk. Mukanya masam dan tampak menyimpan kemarahan. Namun naga-naganya, dia marah karena mau berangkat kerja. Sebab dia sudah berpakaian dinas.

“Kenapa telat … bla … bla  … bla.”

Gue sudah tidak dengar semua yang diucapkan.

“Tadi aku ke kantor dulu, setor jempol.”

“Kalau cuma jempol bla … bla ….”

Kata-katanya lebih panjang dari yang pertama. Sampai gue tinggal masuk rumah dan ke luar lagi, dia masih ngomong terus. Padahal kalau dia langsung berangkat, mungkin tidak akan terlambat. Namun mungkin memarahi suami itu kenikmatan yang tidak terhingga. Ya Allah.

Oleh: Jack Sulistya.

Ilustrasinya dari sini.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: