Sudah setahun hubunganku dengan Hamdan berjalan. Kekasih sekaligus teman kerjaku di rumah sakit. Sejauh ini, hubunganku dengannya baik-baik saja. Jarang ada masalah serius, apalagi sampai berantem atau diem-dieman berhari-hari. Enggak pernah. Aku dan dia pun saling menjaga kesetiaan. Tak pernah terbersit untuk mendua. Kabar-kabaran dan makan bareng menjadi agenda rutinku dengannya. Yaaa sekadar buat menjaga ritme hubungan saja sih.

Sebatas itu saja? Iya, meski bukan akhwat dan ikhwan yang alim, tapi aku dan dia sangat menjaga perihal interaksi kami. Bergandengan tangan pun enggak pernah kami lakukan. Aku dan dia sepakat, bahwa sebelum halal, enggak akan melakukan hal-hal yang dilarang agama. Ketika makan bareng, urusan begini kami lakukan di tempat ramai. Bukan dengan berkhalwat alias berduaan di tempat sepi yang bisa mengundang setan tentunya.

Kami sering mengobrol tentang mimpi membangun rumah tangga. Yaaa, sebatas obrolan sepasang remaja yang sedang dimabuk cinta tentunya. Belum terbersit keinginan untuk memintanya melamarku. Aku masih ingin menikmati kebersamaan ini sebagai pasangan remaja yang sedang dimabuk asmara. He-he-he.

***

Hamdan ini adalah pria hebat menurutku. Bukannya sombong, dulu ada banyak lelaki yang sering bertandang ke rumah untuk meluluhkan hatiku. Ada teman zaman kuliah, ada pula rekan kerjaku yang lain, bahkan teman kantor papa juga ada. Dari beberapa pria yang sering ke rumah, Hamdan lah yang bisa meluluhkan hati papa, mama, dan tentu saja hatiku.

Sebenarnya banyak cerita tentang cowok yang suka main ke rumah. Tapi, aku enggak akan ceritakan semua. Fokusku ke Hamdan saja. Dia anaknya asyik. Pas pertama datang ke rumah, papa sama mama yang langsung menemui. Seperti biasa, interogasi awal oleh papa dan mama terjadi. Nama, alamat, pekerjaan, status, pendidikan terakhir, orang tua, dan lan-lain ditanyain deh sama mereka. Papaku itu perwira TNI, kalau mamaku guru BK. Jadi, pas, peran interogator mereka lakukan.

Banyak lho pria yang keder menghadapi interogasi dari papa dan mamaku. Nah, Hamdan ini satu-satunya cowok yang lolos dan suskes melewati tahap itu. Pertanyaan mama papa berhasil dijawab dengan santai. Bahkan sering habis jawab pertanyaan dia balas bertanya kepada papa dan mama. Waktu itu aku cuma nguping di balik kamar tamu. Dia bisa ngadepin papa mama dengan kalem.

Saat papa dan mama udah ngerasa gagal membuat ciut nyali tamunya, bosanlah mereka. Maka disuruh keluarlah aku. Itulah pengalaman pertama Hamdan bertamu ke rumahku. Papa dan mama langsung ngasih izin aku buat jalan dengannya. Dan hari itu juga Hamdan nyatain cintanya padaku.

***

Setahun jalan dengan Hamdan, papa dan mama kelihatannya kalem-kalem saja. Tapi beberapa malam yang lalu, selepas pulang jaga pagi aku diinterogasi sama mereka.

“Rhe, kamu sama Hamdan gimana kabarnya?” Mama memulai basa-basinya kepadaku.

“Baik Ma, lancar tanpa kendala, he-he-he,” balasku sok asyik. Padahal waktu itu aku merasa grogi. Enggak biasanya papa dan mama basa-basi tentang hubunganku sama Hamdan.

“Lama ya, dia enggak main ke rumah. Sibuk pekerjaan atau malu ketemu papamu ya, Rhe?” giliran papa membuka suara.

“Mmm … minggu ini dia full jaga. Minggu depan ada pelatihan ke Bandung. Papa kangen ya, kok tumben tanya kabar Hamdan?” Aku suguhkan muka manyun. Aku mulai curiga. Jangan-jangan ada udang di balik batu, nih.

“Kalian udah sama-sama gedhe, Hamdan udah 28 tahun, kamu sendiri udah 25 tahun. Belum adakah niat kalian buat ngelanjutin hubungan kalian ke arah yang serius?”

Bener kan? Aku terkejut dikasih pertanyaan kayak gitu sama papa. Aku cuma diam, enggak berani jawab barang sepatah kata pun. Masih dalam posisi diam, eh datang serangan lain dari mama yang enggak kalah pedes.

“Udah banyak cowok yang kamu tolak kan, Rhe. Giliran papa dan mama udah ngrestuin hubungan kalian, kenapa malah berlama-lama. Mama udah pengin nimang cucu lho, Rhe.”

Aku masih diam.  Takut mau jawab ngasih respon. Aku ngerasa ini obrolan cukup serius. Jadi, kayaknya ini bukan basa-basi lagi. Mungkin, mereka memang beneran udah pingin aku serius sama Hamdan kali, ya?

“Oke, Pa, Ma. Rheina akan bilang ke Hamdan. Semoga dia juga paham sama maksud Papa dan Mama. Makasih banget Pa, Ma. Selama ini Papa dan Mama udah sangat ngertiin Rheina.” Aku berusaha santai, padahal hatiku galau berat aslinya. Sebenarnya aku masih ingin mengejar karier. Namun, papa dan mama punya kehendak lain. Entah bagaimana aku harus ngomong hal ini sama Hamdan nanti.

“Baguslah kalau kamu juga sepakat dengan Papa dan Mama. Cepetan aja kamu minta Hamdan datang ke rumah. Papa dan Mama cuma mau tanya keseriusannya sama kamu. Kamu kasih tahu dia dulu enggak apa-apa, biar nanti dia lebih siap pas ketemu Papa dan Mama. Oke?” Papa terlihat sumringah ngomong begitu.

“Siap, Pa, Ma. Rheina akan bilang ke Hamdan masalah ini. Beri Rheina waktu buat diskusi dulu, ya Pa, Ma.” Dengan muka cemberut aku langsung ngeloyor ke kamar. Aku enggak peduli gimana reaksi papa dan mama waktu itu.

***

Meja kecil berukuran satu kali satu meter aku tempati bersama Hamdan. Jilbab pink bermotif bunga sakura kupakai buat nglengkapi tunik merah jambu selutut. Legging hitam bentuk pensil jadi pelengkap penampilanku malam itu. Penampilan malam itu kusempurnakan dengan ransel kecil berwarna hitam yang menggantung di punggung. Di depanku, duduk seorang pria dengan tinggi kurang lebih 180 cm. Hem biru muda dengan lengan digulung hampir sesiku berpadu dengan celana jins hitam dikenakannya. Wajah sumringah tersaji malam itu.

Sepasang lilin yang menyala membuat syahdu malam itu. 20 buah meja enggak ada yang kosong. Semua terisi oleh pasangan remaja maupun orang tua yang sengaja datang buat nikmati suasana malam pantai selatan. Sepiring seafood dengan didampingi minuman hangat wedang serai terhidang di meja. Suasana dinner malam itu terasa amat spesial dengan hadirnya bulan purnama.

 “Ham, kemarin malam papa, mama nanyain kabarmu.”

“Oh ya? Tumben papa, mama nanyain aku.”

“Mereka berdua nanyain keseriusan hubungan kita. Kamu kapan bisa ke rumah buat bahas hal itu? Gimana, Ham? Papa mama udah nanyain hal itu terus, Ham?” Aku mendesaknya.

“Beri aku waktu, Rhe. Percaya deh, rencana-rencana kita pasti dapat terwujud. Kamu sabar dulu. Tolong bilang ke papa dan mama, setelah dari Bandung aku akan datang.”

Malam itu, suasana hatiku tak seenak seafood yang aku nikmati. Minuman serai yang biasa menghangatkan tubuhku, berubah seperti es batu. Dingin dan tak berasa. Selesai acara makan malam, aku diantar pulang. Hamdan langsung pergi tanpa pamitan sama papa dan mama.

Di kantor, banyaknya pasien membuatku jarang berkomunikasi dengannya. Apalagi minggu ini dia ada tugas ke Bandung. Selama tugas luar kota, komunikasi lewat WhatsApp jarang kulakukan. Beberapa pesan yang kukirim, baru dibacanya ketika malam datang. Kegiatan yang padat jadi alasannya. Aku bosan dibuatnya.

Ketika aku bertanya perihal hubunganku dengannya, dia cuma jawab kalau akan segera datang ke rumah. Hal kayak gini berlanjut sampai dia pulang dari Bandung.  Siang hari, saat tiba jam rehat kantor, ada sebuah pesan masuk ke gadget-ku.

+ Sayang, kutunggu di kantin ya. Ada oleh-oleh dari Bandung untukmu, nih.

– Iya. Bentar. Tunggu aja di situ.

Dengan langkah gontai aku menuju kantin. Kulihat dia sudah menungguku. Aku duduk di depannya. Dia tersenyum seperti biasanya, seakan tidak ada masalah sama sekali. Padahal bagiku, keadaan ini sudah tidak nyaman lagi. Ketidakjelasan hubungan inilah yang membuatku lesu.

 “Ini oleh-oleh dari Bandung semoga kamu suka ya, Sayang.” Boneka panda besar warna pink, sepatu high heel branded, tas pesta bermerk, dan sepasang kaos raglan couple bertuliskan namaku dan namanya disodorkan kepadaku.

“Makasih.” Jawabku sekenanya.

“Kamu enggak suka? Ada apa sih, tumben pasang muka cemberut gitu. Ada masalah?”

“Papa dan mama nanyain kamu. Kapan kamu bisa ke rumah?”

Hamdan diam. Raut mukanya tampak kebingungan. Aku kesal dengan sikapnya ini. Apa dia belum memiliki jawaban atas pertanyaanku beberapa waktu yang lalu?

“Rhe, akhir pekan ini aku akan mudik. Beri kesempatan ku untuk meminta restu dan pertimbangan dari orang tuaku. Mereka telah mengenalmu. Bahkan kamu sudah sangat akrab dengan mereka. Aku juga merasa orang tuaku sudah cocok denganmu. Hanya restu yang belum aku minta. Doakan akhir pekan ini aku dapat membawa berita bagus untuk hubungan kita ini.”

Aku enggak merespon pernyataannya. Semua oleh-oleh kutinggalkan begitu saja. Kutinggalkannya tanpa sepatah kata pun.

***

Sepekan berlalu, dia enggak memberi kabar padaku. Aku berusaha cuek dengan enggak hubungi dia. Meski kalau boleh jujur saat itu aku begitu berharap ada kabar darinya. Aku menunggu kabar perihal perkataannya di kantin rumah sakit pekan lalu. Tiga hari pascamudik dia tak menghubungiku. Aku mulai geram. Di rumah, papa dan mama selalu menanyaiku dengan pertanyaan yang sama. “Mana Hamdan, kenapa belum jadi datang?” enggak hanya sekali, entah berapa kali, aku sampai lupa.

Di hari keempat pasca dia mudik aku mencarinya di bangsal tempatnya bertugas. Beberapa teman kutanyai, tapi tidak ada yang memberitahu keberadaannya. Kepala bangsal akhirnya yang memberitahuku kalau dia sedang mengambil cuti karena ada keperluan di kampung halamannya. Aku kaget, sedikit tak percaya, dia telah membohongiku. Akhirnya kuputuskan untuk menghubunginya.

Assalamualaikum. Ham, kenapa kamu membohongiku. Katamu mudik sehari dan akan langsung kembali membawa jawaban atas pertanyaanku. Mana janjimu?

Waalaikumsalam. Rheina, maafkan aku. Aku ada kepentingan mendadak, akhirnya mengambil cuti. Maaf sekali, aku belum bisa menjawab pertanyaan itu. Percayalah, sekembaliku nanti, aku akan langsung menemui papa dan mama. Kamu jangan khawatir.

Udah lah, Ham. Kamu selalu mengulur waktu. Aku jadi paham kalau kamu memang tak ada niat serius kepadaku. Bahkan sampai papa dan mamaku yang meminta, kamu tetap saja tak mau datang. Kuberi waktu seminggu. Kalau kamu serius, datanglah ke rumah. Sampaikan keseriusannmu kepada papa dan mama. Aku tak mau lagi ditanyai hal ini oleh mereka, sedangkan aku tak bisa memberi jawabannya.

Telepon kututup.

Satu minggu aku enggak menghubunginya. Berharap ada kabar baik darinya. Namun, aku enggak mau berangan-angan terlalu jauh juga. Takut, jatuh makin dalam, dan malah bikin stres. Dalam penantianku, berdoa kepada Allah yang selalu aku lakukan. Doaku cuma memohon agar diberikan yang terbaik menurut-Nya.

Seminggu berlalu, ternyata doaku dijawab oleh-Nya. Hamdan datang bersama kedua orang tuanya. Tanpa memberi kabar padaku sebelumnya. Terima kasih ya Allah.

***

Oleh: Wawan Murwantara.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

This is a demo store for testing purposes — no orders shall be fulfilled. Dismiss

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: