ILHAM tergopoh memasuki sebuah bank yang sedang ramai oleh para nasabahnya. Dia menjinjing sebuah koper berukuran sedang. Setelah memencet mesin pencetak nomor antrean, dia langsung mengambil blangko setoran yang sudah tersedia. Diisinya slip itu, lengkap dengan nomor rekening tujuan yang akan dia kirimi uang. Selesai melengkapi blangko setoran tersebut, dia duduk di kursi untuk menunggu gilirannya tiba.

“Nabung atau mau ambil, Mas?” seorang gadis menyapanya dengan ramah.

“Ooh, mau transfer ini, Mbak. Ada transaksi dari kantor dengan nominal agak besar. Makannya kudu transfer ini. Mbaknya sendiri?” Ilham membalas dengan enggak kalah ramah.

“Sama, Mas. Ini juga mau transfer. Transaksi kantor juga, sih.”

“Ooh. Kerja di mana, Mbak?”

“CV Permata, Mas. Ekspor impor kerajinan kayu. Masnya?”

“Permata tempat Pak Anton, ya? Aku di PT Persada. Tahu, kan?”

“Iya, kok tahu bosku, Mas? Persada batu alam, kan?”

“Siapa yang enggak kenal Pak Anton, Mbak. Masih muda usahanya sudah lancar jaya. Aku ada teman lho di sana. Dona namanya. Mbaknya kenal enggak?”

“Walah, kenal bangetlah, Mas. Dona satu divisi sama aku. Kok kenal Dona?”

“Teman sekampus dulu.”

“Eh sorry, Mas, giliranku sekarang. Duluan, ya. Ini kartu namaku. Siapa tahu nanti bisa bisnis bareng. Yuk, Mas.”

“Makasih, Mbak. Eh, namanya siapa?”

“Anna.”

Dilihatnya kartu nama itu. Gadis yang ramah, supel, dan tampaknya cerdas. Ilham membatin sambil tersenyum sendiri. Raihanna Yushra, S.E., Divisi Keuangan CV Permata. Nomor telepon 08182xxx3456. Segera dia tulis nomor telepon tersebut ke dalam kontak gadgetnya. Terdeteksilah akun WhatsApp milik Anna. Foto seorang gadis berjilbab ungu dengan kacamata hitam, menyungging senyum membuatnya abai telah dipanggil untuk segera menuju customer sevice.

Antrean nomor 95, silakan menuju customer servis.

Nomor 95 silakan.”

Suara petugas CS membuyarkan lamunan Ilham. Untung dia segera tersadar sebelum gilirannya dialihkan ke nomor berikutnya.

“Iya, Mbak. Maaf.” Dijawabnya panggilan petugas CS tersebut dengan raut muka merah jambu pertanda malu.

Selesai urusan dengan bank, Ilham kembali ke kantor. Sebuah perasaan bahagia hinggap begitu saja. Saat dia mengingat Anna, perasaan itu semakin membuncah ke mana-mana. Saking senangnya sampai-sampai meja pun diajaknya tersenyum. Begitulah kalau anak manusia sedang dirundung asmara pada pandangan pertama.

***

Pascapertemuan di bank tempo hari, ternyata mereka berdua beneran nyambung komunikasinya. Berawal dari ngobrol masalah pekerjaan, akhirnya mereka menjadi dekat. Komunikasi via WhatsApp, Facebook, Instagram sering mereka lakukan. Dari sekadar berbalas komen sampai ke saling berkirim DM. intens lah pokoknya.

Wajar, sih, ya. Secara mereka kan, sama-sama anak divisi keuangan, otomatis ngobrolnya pasti nyambung. Belum lagi status mereka yang sama-sama jomblo gersang butuh siraman air kembang setaman. Nah, itu yang bikin mereka makin mudah nyambung. Awalnya ngobrol biasa, via gadget pula. Lama-lama, mulailah mereka berani ngobrol sambil makan bersama. Bersama Dona, teman mereka tentunya.

Layaknya para eksekutif muda lainnya, mereka adalah anak-anak muda terpelajar dan cerdas tentunya. Fresh graduated sudah langsung dapat kerja, di perusahaan besar pula. Pasti orangtua mereka bangga. Sayang, saking asyiknya kerja, jadi sering lupa berpikir tentang rencana berumah tangga.

Nah, Anna dan Ilham ini mulai berani sering ngobrol dan makan berdua. Enggak sama Dona lagi. Ada sesuatu, deh, mereka ini. Di kantornya, Anna ini dikejar-kejar sama seorang laki-laki. Heem, seorang saja, tapi udah bikin dia pusing tujung keliling. Sampai-sampai puyer bintang tujuh aja enggak mempan buat ngobatin pusingnya. Tahu enggak apa obatnya? Ternyata Ilham adalah obat mujarab kiriman Tuhan sebagai penangkal pusing itu. Nah, terbukti, kan, mereka memang ada sesuatu.

Pak Rudi nama cowok yang suka mengejar-ngejar Anna ini. Seorang lelaki paruh baya kepala tiga yang hampir kadaluwarsa. Meski sudah agak tua, tapi jiwanya masih sangat muda. Apalagi kalau urusan mengejar-ngejar Anna. Entah kenapa kok enggak capek. Padahal Anna sering lho ninggalin Pak Rudi pake motor, tapi tetep aja Pak Rudinya ngejar-ngejar enggak kenal lelah. Kenapa juga enggak diuber apa digojek gitu, ya? Berat di ongkos mungkin, ya?

“Aku males ah mau balik kantor. Nanti biar dijempolin Dona aja.” Anna tampak cemberut di depan Ilham.

“Yeee, sama pria idaman jangan males gitu, lah,” goda Ilham kepada Anna.

“Idaman kamu bilang? Haduh, boro-boro idaman. Dia tuh suka maksa. Kadang kalau di kantor suka deket-deket. Tanya-tanya enggak penting gitu. Males pokoknya kalau ketemu dia. Beruntung kalau ada Dona atau Hakan. Mereka bisa jadi alasan buat ngejauh dari si bapak tadi.”

“Ooh. Siapa Hakan?” Ilham penasaran dengan nama cowok yang disebut Anna.

“Temen satu divisi juga. Aku, Dona, sama Hakan itu satu tim. Kalau di kantor ya bertiga itu bersibuk rianya.”

Ilham tampak enggak suka mendengar Anna menyebut nama Hakan. Perasaan cemburu tiba-tiba menjalar ke hati dan segenap perasaannya. Sebuah proses alami dari seorang yang sedang merasa dekat. Akan muncul sebuah rasa yang sering disebut cemburu manakala lawan bicara menyebut orang lain, sedangkan mereka sedang dalam kedekatan. Ini beneran lho.

Aku sudah empat tahun bekerja. Usiaku kini sudah memasuki seperempat abad. Rasulullah dulu menikah dengan Sayyidatina Khadijah pada usia 25 tahun. Aku harus bisa seperti Kanjeng Nabi. Kira-kira Anna mau enggak ya aku lamar. Kalau Ibu dan Bapak, aku yakin akan setuju. Hmmm ….

Hari-hari Ilham kini penuh dengan lamunan tentang Anna. Kedekatan mereka memang belum jelas muaranya. Namun, di antara mereka berdua tampak ada getar-getar cinta yang tidak bisa disembunyikan. Anna terlihat sangat nyaman ketika berhasil menumpahkan kekesalannya dikejar-kejar Pak Rudi kepada Ilham. Ilham sendiri melihat keterbukaan Anna sebagai sebuah sinyal bahwa Anna memang memiliki perasaan serupa dengan dirinya.

Sajian senja akhir pekan itu menjadi saksi sepasang anak manusia yang sedang melepas lelah di sebuah kedai kopi. Temaram sinar mentari menerobos, memenuhi ruangan tinggi di samping Kali Code. Dua buah cangkir berisi kopi hitam menemani sepiring piscok lumer tersaji di atas meja kecil yang dihadapi sepasang anak manusia dalam balutan asmara.

“An, aku boleh ngomong sesuatu?” Ilham membuka percakapan dengan gugup. Agak beda memang ketika ngobrol dengan materi serius begitu. Grogi adalah menu lain yang bakal tersaji selain piscok dan kopi hitam.

“Iya, Ham. Ada apa? Serius amat kamu tuh.” Anna menjawab sambil jarinya sibuk memainkan layar gawai tanpa memperhatikan Ilham.

“An, aku mau ngomong serius. Kamu perhatiin bentar, dong!”

“Iya iya. Ada apa sih. Tumben-tumbenan serius gitu? Masalah cewek ya?” Anna malah menggoda Ilham yang dari tadi tampak grogi enggak seperti biasanya.

“Kamu tuh ngerasa kita ini cocok enggak sih, An? Dari pertama ketemu kita langsung nyambung. Dari awalnya jalan bertiga sama Dona, sekarang kita sering jalan berdua.”

“Mmm … hooh ya, Ham. Dari yang dulu manggilnya Mas, Mbak, sekarang panggil nama langsung. Hihihi lucu juga ya kita ini. Kalau Dona tahu bisa gawat nih, ckckck.”

“Anna … aku serius. Aku ngerasa ada sesuatu yang berbeda di hatiku. Apalagi kalau kepalaku sedang memikirkanmu. Seakan terjadi koneksi antara hati, jatung, dan paru-paruku. Mereka mendadak bekerja lebih keras. Aku merasa nyaman bersamamu, An.”

Kata-kata Ilham mulai sedikit dipahami oleh Anna. Ada gelagat tak kasat mata yang membuat Anna curiga. Jangan-jangan Ilham telah jatuh cinta padanya. Belum habis kilasan pikiran tentang Ilham di kepalanya, ada suara yang masuk ke telinganya.

“An, andaikan aku hendak mengikat hubungan kita dalam hubungan yang lebih serius, maukah kamu menerimaku?” Memang benar kata banyak orang. Saat seseorang sedang jatuh cinta, ia akan menjelma menjadi sastrawan nan melankolis seketika. Tak terkecuali Ilham. Anna masih terdiam, belum memberi respon apa pun. Satu hal yang berubah, gadgetnya kini terabaikan di meja bersama kopi dan piscok lumer yang mengundang selera.

“Mmm … jangan tegang-tegang ah, Ham. Kopi sama piscoknya dimakan dulu, yuk. Keburu dingin lho.” Anna mencoba kalem, meski sebenarnya grogi kini telah menjalar pula kepadanya. Terlihat dari caranya mengambil piscok yang gagal berkali-kali hingga membuat Ilham tersenyum.

“Nih, tisu. Tuh cokelatnya tumpah ke meja.”

Mentari ikut tersenyum melihat tingkah polah dua insan yang sedang sama-sama dirundung grogi tersebut. Meski sinarnya semakin memudar, justru semakin indah senja yang tersaji sore itu.

“Sekali lagi, An. Izinkan aku melamarmu. Aku serus ingin membangun rumah tangga bersamamu. Tiga bulan kurasa cukup untuk kita jalan seperti ini. Enggak bagus berlama-lama dalam hubungan tanpa ikatan. Bagaimana menurutmu, An?”

“Udah hampir magrib, nih, Ham. Sorry, aku belum bisa jawab sekarang. Kasih aku waktu buat memikirkan jawaban, ya, Ham. Semoga kamu mau mengerti.”

Sore itu menjadi sangat berbeda dari biasanya. Bukan saja karena tingkah polah mereka berdua yang penuh dengan nuansa grogi. Tetapi sajian kopi hitam Ilham menjadi enggak semanis biasanya, begitu pun piscok lumer Anna, menjadi sulit untuk sekadar ditusuk garpu. Semua berubah, seiring perasaan mereka yang mendadak berubah pula.

Seminggu berlalu. Ilham mulai tak sabar menanti jawaban dari Anna. Dibuatlah janji untuk bertemu dan membicarakan masalah yang tempo hari membuat mereka sungkan satu sama lain. Ilham begitu yakin Anna akan menerima pinangannya. Sedangkan Anna, ia sedang kebingungan bagaimana menjelaskan perasaannya kepada Ilham.

Mas, izinkan aku meminta maaf sebelumnya. Izinkan pula aku memanggilmu Mas, sebagaimana pertama kali kita berjumpa. Sepulang dari kedai kopi minggu lalu, aku sampaikan pinanganmu kepada bapak ibuku. Mereka senang mendengarnya. Tapi semoga kamu bisa bersabar menerima kenyataan. Ahad siang Hakan datang ke rumah. Disampaikannya niat yang sama denganmu kepada orangtuaku.

Maafkan aku, bila selama ini enggak pernah cerita kalau Hakan dekat denganku. Orangtuaku tahu, dan setuju aku dekat dengannya. Kedekatanku denganmu juga aku sampaikan ke orangtuaku. Jujur, Mas bersamamu aku sangat nyaman. Aku bisa berkeluh kesah tentang apapun, seperti kepada kakak sendiri. Tak ada rasa canggung sama sekali. Bukan bermaksud mempermainkan perasaanmu, tapi demikianlah aku menempatkanmu di hatiku.

Janji untuk bertemu enggak lagi dibalas oleh Anna. Justru sebuah kenyataan didapat Ilham lewat sebuah pesan. Dadanya terasa terhimpit batu yang menyesakkan. Mendadak suhu meninggi dengan drastis. Sebuah kenyataan pahit menghujam relung hatinya. Harapan untuk mendapatkan gadis pujaan sirna seketika.

Terima kasih informasinya. Jujur aku kecewa, tapi sebagai kakak yang baik, aku enggak akan membuatmu kecewa juga. Semoga pilihanmu adalah pilihan terbaik dari Allah. Aku ra popo, sing penting kowe bagya mula. (Aku enggak apa-apa, yang penting kamu bahagia.)

***

Oleh: Wawan Murwantara.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: