kisah sedih seorang guru nasib guru zaman now

Kalau Ingin Bebas, Jangan Jadi Guru

Kalau kamu bilang apakah menjadi guru itu membatasi gerak, maka bisa kujawab “ya.” Banyak aturan yang baik tertulis maupun tidak tertulis yang membatasi seorang guru. Bahkan pemerintah pun menerbitkan Undang-undang Guru dan Dosen untuk mengatur hal tersebut.

Guru harus diatur dan “dikendalikan” sehingga ia bisa berjalan sesuai harapan pemerintah. Bahkan dalam UU Guru dan Dosen, pasal 40 ayat 2 disebutkan “Pendidik berkewajiban memberi teladan dan menjaga nama baik lembaga, profesi dan kedudukan sesuai kepercayaan yang diberikan kepadanya.”

Itu artinya apa?

Itu artinya kita (baca: guru) harus selalu berhati-hati di setiap langkahnya. Sebab langkah kita adalah cerminan diri. Kita akan menjadi teladan bagi anak didik. Langsung atau tidak langsung, kita wajib membimbing peserta didik. Dalam kode etik guru Indonesia dikatakan, “Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa Pancasila.”

Hum, tambah beban dan pekerjaan saja. Dengan kata lain, semakin berat saja tugas dan kewajiban guru tersebut. Tugas guru bukan hanya mengajarkan materi, tetapi juga mendidik akhlak kepribadian siswa. Lalu pertanyaan selanjutnya adalah bila demikian berat tugas guru, mengapa masih banyak orang yang iri dengan tunjangan sertifikasi guru?

Padahal menjadi guru di Indonesia itu berat sekali. Kita wajib menjaga segala gerak-gerik kita. Bahkan apa yang keluar dari mulut kita, harus kita jaga dan berhati-hati mengeluarkannya. Paling tidak ada 3 (tiga) hal yang perlu kita jaga saat menyandang profesi guru agar sesuai harapan pemerintah dan masyarakat:

Pertama, penampilan. Ya, penampilan kita. Jangan dikira menjadi seorang guru itu bisa seenaknya saja berpakaian. Jangan membandingkan dengan guru atau dosen di luar negeri. Para guru dan dosen di luar negeri, mereka bebas berpenampilan, tidak seperti kita.

 Namun perlu kita sadari bahwa kita hidup di Indonesia, di negara yang masih menjunjung tinggi adat ketimuran. Sehingga soal penampilan sangat dijaga dan tetap mengindahkan nilai kesopanan. Pakaian guru ada kriteria tertentu, biasanya lebih feminim dan kebapakan. Guru tidak bisa berpakaian seperti orang lain yang hidup bebas dan glamour.

Kalau mau jujur menjadi guru itu serba salah. Memakai jeans dianggap tidak sopan. Memakai baju agak ketat, dikira tidak tahu aturan. Memakai baju longgar dituduh menganut aliran kiri. Lalu seperti apa yang diinginkan? Apakah sesuai aturan pemerintah? Aturan pemerintah yang mana? Bukankah pemerintah tidak mengatur ketat, longgar atau ukuran baju para guru kan?

Yang mereka atur hanya soal warna dan bentuk seragam guru, bukan tentang style bajunya. Tetapi okelah, kami terima dan ikuti kemauan warga masyarakat. Meskipun kadang ingin mencoba memakai baju yang di luar kebiasaan. Itu baru masalah baju, belum aksesoris yang lain seperti gelang, jam tangan, sepatu dan lain-lain. Bila dipakai, pasti ada yang salah atau kurang.

Yang kedua, gaya hidup atau life style. Guru itu manusia biasa. Kita itu mempunyai keinginan tertentu. Pun saat pergi, kita ingin pergi ke tempat yang nyaman. Tempat yang belum pernah kita jamah, tempat yang penuh hiburan dan kesenangan. Namun apakah itu kita lakukan? Tidak. Kalau kita lakukan pasti dengan sembunyi-sembunyi atau dengan jantung berdebar-debar.

Misalnya, bukankah kita, para guru, juga berhak duduk nongkrong di kafe bersama teman-teman SMP atau SMA? Atau mungkin kita bersama teman-teman sebuah komunitas. Bukankah kafe itu tempat umum, tempat yang rilek dan mengasyikkan? Tetapi apa yang kita dapat seandainya kita ketahuan ber-haha hihi di kafe? Pasti banyak orang yang mencibir dan negatif thinking.

Padahal kafe itu sebuah rumah makan biasa yang sedikit nge-pop. Tidak seratus persen untuk makan dan minum saja. Di tempat itu, kadang disajikan live music atau tontonan yang lain. Meskipun begitu para pengunjung bisa bertukar pikiran dan berdiskusi di tempat itu. Jadi apa salahnya, para guru nongkrong di kafe? Lagian para guru berada di kafe bukan pas jam sekolah.

Mereka tahu kok kapan saat yang tepat untuk datang ke kafe dan kapan tidak. Karena pikiran-pikiran negatif itulah yang membatasi kita untuk berjumpa dengan kolega atau rekan sekolah dulu. Kita cukup bertemu teman-teman di rumah saja atau di sekolah. Padahal kita juga ingin suasana baru yang lebih enak dan tidak enek.

Ketiga, ucapan. Ucapan pun kita dibatasi. Bukan kita ingin berucap yang kasar atau jelek-jelek, bukan. Tetapi kita malah berhati-hati untuk mengeluarkan kata-kata. Bahkan untuk berkata yang umum saja kita perlu menyaring agar tidak ada salah persepsi. Jangan sampai apa yang kita sampaikan bermakna ganda bagi para siswa. Sebab hal tersebut tidak hanya membingungkan para siswa, namun bisa juga menyesatkan mereka.

Mungkin hal tersebut terlihat klise dan mengada-ada. Namun saat kamu merasakan menjadi seorang guru, maka hidupmu bukan lagi milikmu. Hidupmu sudah milih orang banyak; ya keluargamu, lingkunganmu dan para siswamu. Oleh karena itu, saran saya bila kamu masih ingin merasakan kebebasan dalam hidup, tunda dulu menjadi guru.

Ingat adigum guru itu digugu lan ditiru, guru itu menjadi panutan dan suri tauladan bagi siapa pun. Untuk menjadi panutan dan suri tauladan tersebut maka kebebasan guru menjadi taruhannya. Sebab tanpa pengorbanan diri seorang guru, menjadi panutan dan suri taulaan itu mustahil terwujud.

Ditulis oleh: Joko Sulistya.

Ilustrasi dari sini.

Facebook Comments

Tinggalkan Balasan