Sumber gambar: dailymoslem.co

Kalau Jodoh Tenang Aja, Pasti Akan Datang Kok

Dulu setelah lulus kuliah, impian saya adalah bisa bekerja sesuai bidang pendidikan dengan gaji yang layak dan kemudian menikah dengan pria idaman. Alhamdulilah untuk impian pertama dikabulkan tak lama setelah saya menerima ijazah. Sedangkan untuk impian kedua sepertinya saya masih harus menunggu.

Bukan karena belum ada pria idamannya. Pria idamannya ada, tapi belum siap jika harus menjalani hubungan serius. Apalagi dia harus bekerja di Jakarta, sedangkan saya di Surabaya.

Tidak mungkin bisa menjalani hubungan jarak jauh saat menikah nanti, saya pun mempersiapkan diri dengan mencari pekerjaan di Jakarta dengan maksud supaya ketika nanti “diajak” menikah saya nggak bingung cari kerja lagi. Tapi setelah dapat kerja di Jakarta ternyata justru saya ditugaskan untuk menghandle cabang di Surabaya sampai batas waktu yang belum diketahui.

Seiring berjalannya waktu, baik saya dan si pria idaman yang saya panggil mas ini akhirnya sibuk dengan kegiatan masing-masing. Saya pun tidak terlalu mempermasalahkan jarak yang jauh dan hubungan yang masih jalan ditempat.

Sampai akhirnya suatu ketika salah seorang teman dikantor berkata ada seseorang yang ingin mengajak saya untuk ta’aruf.

“Siapa mbak yang mau ngajak ta’aruf?” Tanya saya

“Itu temannya bapak yang kemarin sore main ke kantor, katanya habis lihat kamu pamitan sama bapak sebelum pulang kantor dia langsung mau ngajak ta’aruf.” jawab rekan sekantor saya.Kaget? Jelas. Bahkan saya nggak ingat wajah si teman bapak bos yang dimaksud.

Dalam hati saya berpikir mungkin orang itu nggak serius, mana mungkin baru melihat beberapa detik langsung terpikir untuk menjalani hubungan serius kan.

Tapi kemudian tawaran ta’aruf ini datang lagi dari rekan sekantor yang selama ini memang sering berkomunikasi dengan saya. Dan hal ini kemudian saya ceritakan pada si mas yang ada jauh di Jakarta saat telepon.

Sayang nya tanggapannya waktu itu masih sama, belum siap kalau harus menikah sekarang.

Saya jadi berpikir sepertinya ada yang salah dengan hubungan saya dan si mas. Bagaimana mungkin si mas yang sudah mengenal saya lebih dari 8 tahun dan “katanya” serius dengan saya, ketika tau ada pria lain yang berniat mengajak saya serius dia sepertinya pasrah. Bahkan seperti merelakan saya dengan orang lain.

Saya sedih, marah, dan gondok tentu saja. Padahal saya bersusah payah juga mencari kerja di Jakarta supaya bisa dekat dengan si mas.

Sampai akhirnya saya menceritakan masalah ini pada ibu. Dan beliau mencoba menenangkan saya dengan nasehat “Kalau memang dia jodoh kamu, pasti dia akan datang ke ayah kalau waktunya sudah pas. Mungkin sekarang dia masih ingin fokus dengan karier. Sekarang berdoa saja sama Allah yang maha mengatur.”

Ya sudahlah akhirnya saya pasrah saja.

Sampai akhirnya menjelang akhir tahun 2012, ayah memanggil si mas dan menanyakan keseriusannya dengan saya.

“Saya serius Om, tapi belum bisa kalau menikah dalam waktu dekat. Mungkin 2-3 tahun lagi saja menikahnya.”

“Lho kenapa? Kan sudah sama-sama kerja. Apa yang ditunggu? Karier? Jabatan? Sekolah lagi? Kalau nunggu semua mapan, bisa sampai tua dong nggak nikah. Semua itu proses. Menikah itu mendatangkan rezeki. Kalau memang secara lahir dan batin sudah siap kenapa ditunda? Menikah itu proses dan berjuang. Berproses dan berjuang berdua, bukan sendiri-sendiri.”

Saya bisa melihat wajah si mas yang mulaikebingungan mencari alasan lain untuk mendebat pernyataan ayah. Sepertinya simas mulai kehabisan alasan untuk mendebat dan akhirnya mulai menerima nasihat-nasihat ayah saya.

Dan diskusi antara si mas dan ayah saya tadi ditutup dengan kalimat, “Oke Om, akhir tahun nanti saya siap datang ke rumah dengan keluarga besar saya untuk silaturahmi sekaligus lamaran ya.”

Oleh: Noriko Reza.

Tinggalkan Balasan